PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
94. Adipati Mukasbarada dengan kesombongannya


__ADS_3

Beberapa hari kemudian di kerajaan suryaloka, semua pembesar suryaloka dikumpulkan untuk mengadakan rapat darurat bersama putra mahkota suryaloka yaitu Pangeran Gunawijaya.


Tak ketinggalan juga adipati Mahesasangkala yaitu suami dari Putri Kumalawijaya, dia juga datang ke kerajaan suryaloka untuk menghadiri rapat darurat tersebut.


Pangeran Gunawijaya pada saat itu sangat berwibawa dan gagah sekali, dengan balutan pakaian ala kerajaan Jawa dan memakai sebuah mahkota yang menandakan bahwa ia adalah putra mahkota suryaloka.


Saat itu para pembesar suryaloka saling memberi hormat padanya yaitu kepada Pangeran Gunawijaya.


Dalam rapat darurat tersebut, pada mulanya Pangeran Gunawijaya menceritakan tentang bagaimana kehebatan dan kesaktian begawan sakti Ludoyo yang akan menghancurkan tanah Jawa ini secepatnya.


Maka dari itu, dari isi rapat darurat tersebut ialah, Pangeran Gunawijaya memerintahkan pada para pembesar suryaloka untuk meningkatkan kemampuan perang mereka dan menambahkan latihan khusus pada para pasukan di tiap-tiap wilayah kadipaten maupun di wilayah pusat yaitu di kerajaan suryaloka itu sendiri.


Sebab menurut informasi dari Raja para dewa yaitu Dewa Indra pernah berkata pada Pangeran Gunawijaya, bahwa begawan sakti Ludoyo sedang menyiapkan bala kekuatan besar yang dia punya untuk menghancurkan tiap-tiap kerajaan yang berada di tanah Jawa ini.


Waktu itu adipati dari kadipaten Mayang yaitu adipati Mukasbarada yang bertubuh kekar berkata, apakah perkataan dari putra mahkota suryaloka dapat dipercaya sepenuhnya, sedangkan suryaloka itu adalah salah satu negri paling terkuat setanah Jawa.


Mendengar perkataan dari adipati Mukasbarada, Mahapatih Damarwijaya langsung naik pitam.


"Hentikan perkataanmu adipati Mukasbarada!, lancang sekali kau beranggapan seperti itu pada putra mahkota suryaloka, itu sama dengan kau tidak patuh pada titah sang Maharaja suryaloka!, sekarang juga saya Mahapatih Damarwijaya bisa saja mencabut gelarmu sebagai adipati mayang atas tindakanmu yang seperti ini kepada calon Maharaja suryaloka", amarah Mahapatih Damarwijaya ditengah rapat darurat tersebut.


Kemudian Pangeran Gunawijaya meredam amarah pamannya tersebut yaitu Mahapatih Damarwijaya dengan cara memberi omongan yang bijak pada semua orang yang berada di kerajaan itu.


Pangeran Gunawijaya tidak merasa marah atau pun tersinggung atas komentar pedas dari seorang adipati Mukasbarada penguasa kadipaten mayang.


Justru Pangeran Gunawijaya berusaha memberikan pengertian pada semua para pembesar suryaloka, agar mereka tidak meremehkan sesuatu hal yang akan terjadi karena ulah begawan sakti Ludoyo.


Tapi adipati Mukasbarada masih saja ragu akan kebenaran dari adanya begawan sakti Ludoyo.


Jika pun ada, dia sendiripun sangat sanggup untuk mengalahkannya, ujar adipati Mukasbarada dengan sombongnya.

__ADS_1


Kesombongan adipati Mukasbarada disebabkan oleh ajian lembusekilan yang dia punya, dia merasa sudah tak ada lagi senjata dan kekuatan yang sanggup melukainya.


Kemudian melihat kesombongan adipati tersebut, Mahapatih Damarwijaya memberi satu tantangan padanya.


Tantangan itu adalah, jika adipati Mukasbarada bisa mengalahkan kesatria pilihan dewata yaitu Pangeran Gunawijaya, Mahapatih Damarwijaya rela menaruhkan jabatannya sebagai Mahapatih suryaloka, Beliau akan berikan jabatan tersebut padanya yaitu kepada adipati Mukasbarada jika dia bisa menang melawan Pangeran Gunawijaya.


Tapi jika adipati Mukasbarada ternyata kalah melawan Pangeran Gunawijaya, saat itu juga jabatan adipati Mukasbarada sebagai penguasa kadipaten mayang akan dicabut dan diberikan kepada senopati Kuncoro yaitu senopati terbaik di kerajaan suryaloka.


Mendengar tantangan tersebut dari Mahapatih Damarwijaya, adipati Mukasbarada langsung ciut nyali.


Seketika itu adipati Mukasbarada menghela nafas panjang, dan keringat dingin bercucuran dari keningnya.


Itu menandakan bahwa adipati Mukasbarada sangat ketakutan oleh tantangan itu, sebab dia tahu bahwa Pangeran Gunawijaya adalah kesatria terhebat seantero tanah Jawa yang telah mengalahkan mendiang Pangeran Muradwijaya yang memiliki kesaktian jurus kalapati.


Dan akhirnya adipati Mukasbarada benar-benar memohon ampun atas kelancangannya tersebut, dia lepas kendali atas kesombongannya itu.


Lalu Mahapatih Damarwijaya merasa lega dengan sadarnya adipati Mukasbarada akan situasi tersebut.


Akhirnya rapat darurat itu bisa berjalan dengan damai dan tenang.


Semua para pembesar suryaloka yang saat itu hadir dalam rapat darurat tersebut, semua patuh atas perintah dari putra mahkota suryaloka yaitu Pangeran Gunawijaya.


Singkat cerita setelah usai rapat itu, adipati Mahesasangkala yang dulu biasa dipanggil dengan sebutan raden Mahesasangkala yang kini menjadi penguasa kadipaten karang menjangan, dia menghampiri Pangeran Gunawijaya untuk melepas rindu, sebab lama sekali dia tidak bertemu dengan Pangeran Gunawijaya dari sehabis perang karang menjangan berlalu.


Mereka berdua saling tegur sapa dan banyak bercerita tentang pengalaman masing-masing.


"Hamba perhatikan sekarang ini kanda Pangeran Gunawijaya semakin gagah saja ya", adipati Mahesasangkala dengan candaan nya.


Pangeran Gunawijaya tersenyum sambil berkata bahwa dirinya tak merasa bahwa ada perubahan pada dirinya.

__ADS_1


Kemudian datanglah Pangeran Gunturwijaya beserta Putri Kumalawijaya, dan mereka berdua ikut serta mengobrol dengan kedua kesatria hebat tersebut yaitu Pangeran Gunawijaya dan adipati Mahesasangkala.


Dan akhirnya mereka berempat saling bercerita satu sama lain tentang masalah pribadi dan juga pengalaman pribadi.


Mereka berempat terlihat bahagia sekali bisa berkumpul bersama lagi, setelah sekian lama tak berjumpa.


"Kanda Pangeran, kenapa waktu rapat darurat tadi, kanda Pangeran tidak marah saat adipati Mukasbarada berkata pedas terhadap kanda Pangeran", kata Pangeran Gunturwijaya kepada kakaknya yaitu Pangeran Gunawijaya.


"Tidak baik nuruti emosi dinda Gunturwijaya, sebab kanda dalam rapat itu harus berusaha bijak dalam keadaan apapun", jawab Pangeran Gunawijaya.


"Kanda Pangeran Gunawijaya memang orang yang hebat, beda dengan kita kita kanda Gunturwijaya", kata Putri Kumalawijaya dengan candaan nya.


Kemudian adipati Mahesasangkala beserta istrinya yaitu Putri Kumalawijaya berpamitan kepada keluarga kerajaan suryaloka karena mereka berdua akan segera pulang ke kadipaten karang menjangan.


Para keluarga kerajaan tersebut mengantar kepulangan mereka berdua sampai didepan gerbang kerajaan suryaloka.


Dalam pernikahan mereka berdua yaitu adipati Mahesasangkala dengan Putri Kumalawijaya, mereka berdua dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama raden Jakasangkala yang saat ini masih bayi.


"Cucuku raden Jakasangkala, semoga kau jadi orang yang hebat dan berguna ya nak, dan semoga Dewata selalu melindungimu", doa dari Ratu Kencanawangi kepada cucunya tersebut saat dia akan pulang ke kadipaten karang menjangan bersama kedua orang tuanya itu.


Lalu pulanglah mereka yaitu adipati Mahesasangkala dan Putri Kumalawijaya ke karang menjangan dengan pengawalan yang sangat ketat.


Kemudian setelah itu Pangeran Gunawijaya menemui Kedasih, mereka berdua berbincang-bincang diruang tamu didalam istana suryaloka.


Pangeran Gunawijaya berkata apakah Kedasih sudah siap dengan keadaan yang akan terjadi suatu saat, jika para aliran hitam tiba-tiba menyerang suryaloka.


Kedasih pun menjawab, apapun yang terjadi, dia akan siap membela suryaloka dengan segenap jiwa raganya.


Setelah itu, Kedasih segera kembali berlatih ditempat yang sudah disiapkan oleh Mahapatih Damarwijaya.

__ADS_1


__ADS_2