
Kemudian setelah pertemuan Kedasih dengan ibu Ratu Kencanawangi beserta Pangeran Gunawijaya, kini Kedasih duduk termenung sendirian ditaman kerajaan suryaloka.
Saat itu perasaan Kedasih antara sedih dan bahagia, dia merasa, bahwa dia sebenarnya tidak pantas jika bersanding dengan putra mahkota suryaloka, yaitu Pangeran Gunawijaya.
Bagi Kedasih, seorang pangeran besar seperti Pangeran Gunawijaya seharusnya bersanding dengan seorang putri Raja, bukan malah bersanding dengan rakyat biasa seperti dirinya, yaitu Kedasih.
Tapi Kedasih juga merasa bahagia, karena ibu Ratu Kencanawangi mengharapkan dirinya untuk jadi pendamping putranya tersebut, yaitu Pangeran Gunawijaya.
Sekarang ini sigadis manis Kedasih, mengalami dilema yang sangat menyiksa hatinya.
Tiba-tiba saat itu, pendekar Jatmiko menghampiri Kedasih yang sedang termenung sendiri.
Jatmiko bertanya pada Kedasih, ada apa dengan dirinya saat ini, sebab Jatmiko melihat Kedasih sedari tadi hanya termenung sendirian ditaman, tanpa adanya teman.
Kemudian sigadis manis Kedasih menceritakan perihal yang telah terjadi padanya, yaitu Jatmiko.
Saat Jatmiko mendengar cerita itu, dia merasa hatinya seperti disayat-sayat.
Ternyata sebenarnya Jatmiko sudah lama memendam hasrat pada Kedasih, tapi Jatmiko hanya berdiam diri saja, dia sengaja tidak mengungkapkan isi hatinya itu pada Kedasih, sebab Jatmiko tahu, bahwa seseorang yang dicintai oleh Kedasih hanyalah Pangeran Gunawijaya.
Maka dari itu, Jatmiko memilih mundur, demi kebahagiaan seorang gadis yang dia cintai, yaitu Kedasih.
Jatmiko meski hatinya terluka atas cerita tersebut, tapi dia tetap tegar, sebab biar bagaimanapun, dia sangat mendukung sekali jika Kedasih bisa bersanding dengan putra mahkota suryaloka, yaitu Pangeran Gunawijaya.
Sebab bagi Jatmiko, Pangeran Gunawijaya adalah figur panutannya.
Dialah yang membawa Jatmiko pada arah kebenaran, maka dari itu, janji Jatmiko, dia akan mengabdikan jiwa dan raganya pada Pangeran Gunawijaya.
Apa lagi cuma urusan Cinta, bagi Jatmiko, itu adalah urusan nomor sekian, meski hatinya sakit, tapi Jatmiko memilih tetap konsisten pada tujuannya, yaitu berjuang bersama para kesatria demi menyelamatkan tanah Jawa dari kehancuran.
"Lalu saya harus bagaimana kang Jatmiko, apa saya pantas, jika seandainya menjadi pendamping hidup Pangeran Gunawijaya", Kedasih curhat pada Jatmiko yang sebenarnya dia sangat mencintai Kedasih.
"Tidak ada yang tidak pantas, jika saling mencintai, apa lagi ibu Ratu Kencanawangi sangat menginginkan kau jadi menantunya, istri dari putranya tersebut", saran Jatmiko pada gadis yang dia cintai, yaitu Kedasih.
Kemudian tiba-tiba ki Maung mendatangi mereka berdua, yaitu Kedasih dan juga Jatmiko yang sedang berbincang bincang ditaman kerajaan suryaloka.
Kebetulan ki Maung sehabis latihan, dia jalan jalan di sekitar kerajaan suryaloka, tanpa dia duga, saat dia melintasi taman tersebut, ki Maung melihat Kedasih dan Jatmiko berada disitu, maka dari itu ki Maung menghampiri mereka berdua.
Saat tiba di taman tersebut, ki Maung bertanya pada Kedasih dan Jatmiko, ada apa sebenarnya dengan mereka berdua, kelihatannya sangat serius sekali.
__ADS_1
Lalu Kedasih, dengan meneteskan air mata, dia menceritakan masalahnya tersebut pada ki Maung.
Kedasih sangat sedih, karena meski dia sangat mencintai Pangeran Gunawijaya, tetapi kasta mereka berdua sangat berbeda jauh.
Bagi Kedasih, dirinya bersama Pangeran Gunawijaya bagai langit dan bumi.
Kedasih sangat menyadari, bahwa dirinya adalah kalangan bawah, sedangkan pria yang dia cintai adalah seorang pangeran, calon salah satu Raja besar ditanah jawa.
Akhirnya ki Maung memberikan sebuah nasehat pada Kedasih, dan nasehat itu membuat Kedasih jadi percaya diri akan cintanya tersebut.
Jatmiko merasa bahagia melihat gadis yang dia cintai bisa tersenyum kembali, berkat nasehat dari ki Maung.
Kemudian di sebuah kamar yang begitu Indah nan besar, Pangeran Gunawijaya bermeditasi meminta petunjuk pada Sang Dewa, apakah tujuan ibunya yaitu Ratu Kencanawangi itu benar, sebab beliau ingin menjodohkan dia dengan Kedasih.
Tak lama kemudian, datanglah cahaya putih yang sangat terang sekali, cahaya itu tepat didepan Pangeran Gunawijaya yang sedang bermeditasi pada malam tengah malam.
"Bangunlah dari meditasimu Pangeran", cahaya terang itu berkata demikian kepada Pangeran Gunawijaya.
Setelah Pangeran Gunawijaya bangun dari meditasinya, dia segera memberikan hormat pada cahaya tersebut.
Kemudian cahaya terang itu memberikan jawaban atas meditasinya tersebut.
Setelah cahaya terang itu memberikan petunjuk pada Pangeran Gunawijaya, lalu cahaya itu tiba-tiba menghilang dari hadapannya.
Dan ternyata cahaya terang itu adalah dewa Narada, yang menemui Pangeran Gunawijaya saat meditasi.
Sehari kemudian, Pangeran Gunawijaya membicarakan niatnya pada ibu Ratu Kencanawangi, bahwa dia secepatnya akan melamar Kedasih terlebih dulu.
Ratu Kencanawangi yang mengetahui niatan putranya tersebut, beliau sangat senang sekali.
Sebab kenapa ibu Ratu Kencanawangi meminta Pangeran Gunawijaya untuk menikah dengan Kedasih, karena Ratu Kencanawangi pernah bermimpi sampai tiga kali, bahwa suatu saat yang akan menjadi Ratu di kerajaan suryaloka adalah Kedasih.
Dan dalam mimpi tersebut, Kedasih akan melahirkan putra yang sangat hebat pada suatu saat nanti.
Itulah kenapa Ratu Kencanawangi sangat berniat sekali ingin menjodohkan putranya tersebut dengan Kedasih.
Lalu Ratu Kencanawangi, segera menyampaikan berita ini kepada seluruh keluarga Wijaya.
Bahkan Mahapatih Damarwijaya, beliau sangat setuju sekali jika keponakannya tersebut, yaitu Pangeran Gunawijaya akan segera menikah.
__ADS_1
Tapi yang jadi persoalan sekarang adalah tentang kasta.
Disitu Mahapatih Damarwijaya mengalami sedikit perdebatan dengan Ratu Kencanawangi akan masalah tersebut.
Tapi pada akhirnya, Mahapatih Damarwijaya memakluminya, dan tidak mendebatkan lagi tentang masalah kasta.
Sebenarnya Ratu Kencanawangi sebelumnya juga memikirkan tentang masalah kasta antara putranya tersebut dan Kedasih, tapi berhubung beliau diberi petunjuk oleh Sang Dewa melalui tiga kali berturut-turut mimpi yang sama, maka Ratu Kencanawangi tidak lagi menghiraukan tentang masalah kasta.
Akhirnya dalam beberapa hari saja, kabar tentang perjodohan yang akan dilakukan oleh Pangeran Gunawijaya pada sigadis manis Kedasih, sudah tersebar luas diseluruh wilayah suryaloka, sebab perjodohan tersebut, bukanlah perjodohan yang setara tentang kasta.
Kabar itu akhirnya jadi buah bibir di kalangan masyarakat suryaloka.
Disitu para masyarakat suryaloka ada yang pro dan kontra, tentang menyikapi kabar tersebut.
Mendengar dari omongan para masyarakat, membuat Kedasih jadi sedih kembali akan nasibnya.
Sebab para masyarakat menganggap perjodohan itu adalah perjodohan yang tidak setara.
Tapi juga banyak para masyarakat suryaloka yang sangat simpati kepada keluarga besar Wijaya, karena keluarga Wijaya bisa menerima kalangan bawah untuk menjadi bagian dari keluarga besarnya.
Tapi untung saja, ki Maung selalu memberikan nasehat kepada Kedasih, maka dari itu, Kedasih tidak terlalu sedih dengan kondisi yang dia hadapi saat ini.
Bukan cuma ki Maung saja, Jatmiko kadang juga selalu menasehati Kedasih, agar Kedasih bisa tegar menjalani hidupnya.
Beberapa saat kemudian, Pangeran Gunawijaya mencoba menemui Kedasih, Kedasih nampak gugup waktu Pangeran Gunawijaya menghampirinya.
Saat itu Pangeran Gunawijaya hanya ingin memastikan, apakah Kedasih benar-benar yakin dan siap untuk menjadi pendamping hidupnya.
Sebab jika Kedasih tidak yakin dan tidak siap, maka Pangeran Gunawijaya tidak akan memaksanya.
Akhirnya saat itu juga Kedasih menjawab, bahwa apapun yang terjadi, dia yakin dan siap untuk menjadi pendamping hidup Pangeran Gunawijaya.
Mendengar pernyataan dari Kedasih tersebut, Pangeran Gunawijaya sangat lega, karena pernyataan itulah yang dia harapan dari Kedasih.
Untuk mengungkapkan rasa bahagianya, akhirnya Pangeran Gunawijaya tiba-tiba memeluk Kedasih dengan erat.
Kedasih pun, tersipu malu, dan tak terasa air matanya menetes membasahi pipinya yang kemerah merahan.
Dia tak menyangka bahwa Pangeran Gunawijaya juga sangat mencintainya, dan dia pun sampai terharu dibuatnya.
__ADS_1