
Kamudian Pangeran Jatiwijaya beserta para kesatria kesatria tersebut telah berangkat menuju ke suryaloka.
Didalam perjalanannya itu, Pangeran Jatiwijaya banyak memberikan bimbingan pada Marlan.
Marlan yang sangat senang sekali bisa berada pada posisi yang benar saat ini, dirinya merasa menemukan kehidupan yang baru bersama para kesatria kesatria tersebut.
Kini Marlan telah diangkat sebagai murid oleh Pangeran Jatiwijaya.
"Terimakasih banyak Pangeran Jatiwijaya, hamba akan selalu mematuhi setiap saran dari Pangeran", Marlan yang merasa bangga mempunyai guru sebaik dan sehebat Pangeran Jatiwijaya.
"Dan hamba tidak tahu harus bagaimana cara membalas Budi kebaikan Pangeran Jatiwijaya yang telah diberikan pada hamba", Marlan yang merasa sangat berhutang Budi pada Pangeran Jatiwijaya.
"Tidak usah kau pikirkan Marlan tentang balas Budi tersebut, aku hanya meminta dirimu jadilah manusia yang baik dan berguna bagi sesama", jawab Pangeran Jatiwijaya.
Kemudian ki Maung juga ikut menasehati Marlan, kata dia, Marlan adalah seorang pemuda berbakat, pemuda yang hebat, untunglah sekarang dirinya berada pada pihak yang benar, maka dari itu jangan sia siakan masa mudanya untuk selalu berlatih kemampuan beladiri dan kanuragan agar nanti bisa jadi seseorang yang hebat.
Marlan pun juga berterimakasih kepada ki Maung atas nasehatnya tersebut, dan dia berjanji akan selalu bersemangat dalam berlatih beladiri maupun kanuragan, sebab keinginan dia sangat kuat yaitu ingin segera mungkin menyempurnakan jurus pukulan naga api nya yang masih belum sempurna.
Dan Marlan sangat berharap bimbingan dari seorang Pangeran Jatiwijaya.
Lalu mendengar perkataan Marlan tersebut, Pangeran Jatiwijaya menganggukkan kepala sembari tersenyum dihadapan Marlan.
Beberapa hari kemudian, tak terasa waktu sudah semakin sore, rombongan Pangeran Jatiwijaya yang berjalan kaki sudah keluar dari wilayah giriseta, dan kini mereka semua akan segera memasuki kawasan kerajaan himalaya yang dipimpin oleh Prabu Silendrawangi yaitu paman dari Pangeran Gunawijaya.
Tiba-tiba dari tengah perjalanan, rombongan Pangeran Jatiwijaya yang sedang berjalan kaki dikagetkan oleh seorang wanita yang sedang berlari dikejar-kejar oleh beberapa orang berkuda.
Setelah wanita itu tertangkap, lalu wanita itu segera dibawanya pergi dari tempat tersebut.
"Ampun Pangeran, kenapa tadi kita tidak segera menolong wanita itu", Marlan bertanya pada gurunya yaitu Pangeran Jatiwijaya.
"Begini Marlan, menolong seseorang memang baik, tapi kita harus mengetahui pokok persoalannya terlebih dulu, jangan asal menolong", jawab Pangeran Jatiwijaya.
Lalu rombongan Pangeran Jatiwijaya melanjutkan perjalanan mereka kembali dan memasuki wilayah atau kawasan kerajaan himalaya.
__ADS_1
Setelah mereka semua akan memasuki sebuah perkampungan, rombongan Pangeran Jatiwijaya tersebut beristirahat ditepi jalan untuk melepas lelah, lagian hari juga sudah mulai malam.
Kedasih, Sanjaya dan juga Mandala sedang mengumpulkan kaya bakar untuk dibuat api unggun dalam peristirahatan mereka.
Sedangkan Jatmiko, Harun dan Marlan, mereka mencoba berburu binatang yang bisa dimakan disekitar daerah tersebut.
Beberapa saat kemudian mereka semua sudah datang dan berkumpul kembali ditempat peristirahatan mereka.
Kedasih, Sanjaya dan Mandala berhasil mengumpulkan kayu bakar.
Sedangkan Jatmiko, Harun dan Marlan berhasil membawa dua ekar ayam hutan untuk dijadikan makan malam mereka semua.
Lalu canda gurau menyelimuti para kesatria kesatria tersebut disaat mereka melepas lelah dalam perjalanan.
Marlan yang tersipu malu saat didekati dan diajak ngobrol sama Kedasih sigadis manis tersebut.
Lalu Kedasih bertanya pada Marlan, kenapa harus malu, sebab sekarang kita semua adalah sebuah tim pembela kebenaran.
Mendengar jawaban Marlan, para kesatria kesatria tersebut pada tertawa.
"Kamu beruntung sekali Marlan, Kedasih tiba-tiba mendekatimu dan mengajakmu ngobrol, karena selama ini yang sering diajak ngobrol Kedasih hanyalah Pangeran Gunawijaya saja", kata Jatmiko.
Kedasih pun tersenyum mendengar perkataan dari Jatmiko.
Lalu ki Maung bertanya pada Pangeran Jatiwijaya, apa jarak perkampungan dari tempat peristirahatan kita masih jauh.
Pangeran Jatiwijaya menjawab bahwa sekitar dua sampai tiga kilometer lagi kita akan sampai disalah satu perkampungan himalaya.
Memang untuk menuju ke suryaloka harus melewati himalaya, karena kedua kerajaan tersebut saling berdampingan.
Tapi jika ditempuh dengan jalan kaki, ya akan membutuhkan waktu lumayan lama.
Rencana mereka semua yaitu para kesatria kesatria hebat tersebut, akan meneruskan perjalanan esok hari, sebab sekarang ini waktu juga sudah semakin makin malam, jadi mereka memutuskan untuk beristirahat dulu didalam hutan himalaya.
__ADS_1
Dan malam itu ki Maung banyak mengobral dengan Pangeran Jatiwijaya tentang Pangeran Gunawijaya.
Pangeran Jatiwijaya menceritakan semua persoalan tentang Pangeran Gunawijaya pada ki Maung.
Ki Maung yang mengetahuinya sangat takjub dan terkesan sekali pada kesatria terhebat tersebut yaitu Pangeran Gunawijaya.
Selama ini ki Maung tidak pernah mengetahui kabar tentang akan kehancuran tanah Jawa, mungkin itu dikarenakan ki Maung terlalu lama hidup didalam hutan giritunggal.
Tapi dengan keluarnya ki Maung dari dalam hutan untuk mencari anak-anaknya yang telah hilang beberapa tahun yang lalu, kini ki Maung banyak mendapat informasi dari luar akan situasi yang telah terjadi di tanah Jawa.
Dan ki Maung juga sangat beruntung bisa bertemu dengan Pangeran Jatiwijaya, pada akhirnya dia dan juga muridnya yaitu Harun, bersyukur sekali bisa bergabung dengan Pangeran Jatiwijaya beserta para kesatria kesatria yang lainnya juga untuk menegakkan kebenaran di tanah Jawa ini.
Kemudian esok haripun tiba, Mentari yang mulai menyinari bumi nampak Indah dipandang mata. Udara yang begitu sejuk dan kicauan burung terdengar sangat merdu pada waktu itu.
Pagi itu nampak cerah sekali, akhirnya para kesatria kesatria tersebut segera meneruskan perjalanannya, sebab mereka semua sudah nampak bugar kembali karena sudah beristirahat semalaman.
Akhirnya dengan berjalan kaki mereka semua tiba didesa sumberan, yaitu salah satu desa yang berada di wilayah himalaya.
Mereka para rombongan Pangeran Jatiwijaya, banyak disoroti para warga desa tersebut, karena rombongan meraka kini banyak sekali sampai sepuluh orang, maka dari itu mengundang tanda tanya bagi para warga sekitar tentang rombongan Pangeran Jatiwijaya tersebut.
Dan para warga desa sumberan tidak tahu bahwa salah satu dari rombongan tersebut adalah keponakan dari Raja himalaya, Raja dari mereka semua para warga desa tersebut.
Sebab para rombongan Pangeran Jatiwijaya berpakaian layaknya masyarakat biasa, karena untuk menutupi atau merahasiakan identitasnya dari para warga warga manapun.
Kemudian ditengah perjalanan mereka saat melewati desa sumberan, ada salah satu warga bertanya, ada gerangan apa kisanak ramai ramai datang ke desanya.
Kemudian Pangeran Jatiwijaya menjawab bahwa mereka hanyalah pengembara yang sedang menuju ke suryaloka, dan kebetulan mereka melewati kawasan tersebut.
Mendengar jawaban dari Pangeran Jatiwijaya, warga tersebut akhirnya memaklumi mereka, dan mempersilakan mereka untuk meneruskan perjalanannya kembali menuju ke suryaloka.
Tapi saat mereka meneruskan perjalanan tersebut, tiba-tiba mereka melihat wanita yang kemarin dikejar-kejar oleh beberapa orang berkuda.
Kini wanita itu menangis dan berlari kearah Pangeran Jatiwijaya, lalu dia meminta tolong padanya.
__ADS_1