
Kemudian setelah itu Ki Maung beserta kedua pengawalnya segera berpamitan kepada Pangeran Sutabirawa dan juga pada para keluarga kerajaan. Saat Ki Maung beserta kedua pengawalnya akan segera bergegas pergi dari istana giritunggal, tiba tiba Pangeran Sutabirawa memanggilnya dan ia berkata bahwa dari cerita Ki Maung tentang pernah kehilangan dua anak laki-lakinya, akhirnya Pangeran Sutabirawa memberikan sedikit informasi dari apa yang pernah ia dengar.
Pangeran Sutabirawa memberitahu bahwa dulu di suryaloka pernah terjadi keributan yang kabarnya itu adalah ulah seorang anak kecil yang memiliki keanehan bisa berubah wujud.
Setelah Ki Maung mendengar cerita tersebut, dia sangat berterimakasih atas infonya, dan dia nanti akan mencoba mencari tahu kejelasan kabar tersebut ke suryaloka.
Lalu beberapa hari kemudian sampailah utusan Pangeran Sutabirawa yang membawa pesan permohonan maaf pada pihak keluarga besar Wijaya. Maha Patih Damarwijaya yang menerima pesan tersebut ia menerima permohonan maaf tersebut atas tindakan yang sangat tidak pantas yang pernah dilakukan oleh Pangeran Sutabirawa pada keluarga Wijaya saat berkunjung ke giritunggal.
Dan pesan yang lainnya yaitu merestui perjodohan adiknya yaitu Putri Senjabirawa bersama Pangeran Gunawijaya, pesan tersebut membuat Ratu Kencanawangi sangat bahagia, karena putranya yaitu Pangeran Gunawijaya akan segera menikah. Tapi Pangeran Gunawijaya tidak mau terburu-buru untuk melaksanakan pernikahan tersebut, sebab ia masih ada tugas untuk menyatukan para pendekar aliran putih untuk melawan begawan Ludoyo beserta para pasukannya yaitu para pendekar aliran hitam.
Kemudian Maha Patih Damarwijaya membalas pesan itu dengan ungkapan tersebut kepada Pangeran Sutabirawa.
Lalu keesokan harinya Pangeran Gunawijaya berpamitan pada semua keluarganya bahwa ia akan meneruskan perjalanan misinya untuk menyatukan pendekar aliran putih. Seperti biasa ia didampingi oleh beberapa pengawalnya yaitu Pangeran Jatiwijaya, Jatmiko, Sanjaya, Mandala dan juga Kedasih. Mereka semua menuju ke barat ke daerah kerajaan banyuasri yang dipimpin oleh Prabu Jayawaskita.
Dengan menunggangi kuda masing-masing, Pangeran Gunawijaya beserta para pengawalnya tersebut berangkat dengan tekad yang kuat.
__ADS_1
Kemudian di gunung Bromo, begawa Ludoyo beserta putranya yaitu Raja iblis Kalazar yang sedang dalam wujud manusia setengah iblis, mereka akan menghancurkan pedang mustika biru dengan cara akan meleburnya di kawah gunung tersebut yaitu gunung Bromo. Sebab kata Prabu Raksa, penguasa alam siluman, sekaligus mertua begawan Ludoyo, hanya kawah gunung Bromo lah satu satunya yang bisa menghancurkan pedang sakti tersebut.
Dengan ketawa penuh bahagia begawan Ludoyo yang ditemani putranya yaitu Kalazar, dia melempar pedang mustika biru kedalam kawah gunung Bromo tanpa hambatan sama sekali. Tapi tiba-tiba saat pedang tersebut baru dilempar oleh begawan Ludoyo, muncullah lima batu permata dari dalam pedang mustika biru, dan kelima batu permata tersebut kemudian melesat kencang kearah barat. Saat Kalazar akan mengejar kelima batu tersebut, begawan Ludoyo menghalanginya, karena percuma saja Kalazar mengejarnya, sebab kecepatan terbangnya tak akan mampu menandingi kecepatan terbang kelima batu tersebut.
"Ayahnda begawan, kita kehilangan kelima batu permata itu", Raja iblis Kalazar berkata pada Ayahnya yaitu begawan sakti Ludoyo.
"Kau tidak usah khawatir putraku, kelima batu itu tidak ada apa apanya bagi Ayahndamu ini!", kesombongan begawan sakti Ludoyo.
Lalu setelah itu mereka berdua yaitu begawan Ludoyo dan Kalazar pergi dari gunung Bromo dan akan menuju ke goa lowo untuk menemui para pendekar aliran hitam yang sedang berkumpul di sana atas perintah begawan Ludoyo.
Kemudian setelah begawan Ludoyo beserta Kalazar tiba di goa lowo, lalu begawan Ludoyo memanggil semua tangan kanannya untuk segera menghadap dirinya. Kemudian datanglah semua tangan kanan tersebut yaitu Saka pendekar mata dewa, Prayoga pendekar api hitam dan pendekar tombak bayangan yaitu Kin dan Kun, sedangkan saudara Kin dan Kun yang bernama Kan sudah mati.
"Mohon ampun begawan Ludoyo, menurut hamba lebih baik kita bunuh saja Pangeran Gunawijaya selagi dia tanpa senjata sakitnya itu", kata Prayoga pendekar api hitam.
"Menurut hamba ada benarnya juga apa yang dikatakan Prayoga, begawan", kata Saka pendekar mata dewa pada begawan sakti Ludoyo.
__ADS_1
"Saran yang bagus wahai Abdi setiaku, kalau begitu aku perintahkan pada kalian berdua, Prayoga dan Saka, cari dan habisi Pangeran Gunawijaya secepatnya", perintah begawan sakti Ludoyo.
Kemudian berangkatlah mereka berdua yaitu Prayoga dan Saka yang membawa seribu pasukan aliran hitam untuk segera mencari dan membunuh Pangeran Gunawijaya. Ternyata begawan Ludoyo mengikut sertakan putranya yaitu Raja iblis Kalazar untuk turut serta menghabisi Pangeran Gunawijaya yang sudah tidak memiliki pedang mustika biru.
Begawan Ludoyo tahu bahwa Prayoga dan Saka beserta seribu pasukannya tak akan mampu membunuh Pangeran Gunawijaya meski ia sudah tak memiliki pedang mustika biru. Maka dari itu kelemahan Pangeran Gunawijaya hanyalah Kalazar, sebab dulu Pangeran Gunawijaya sempat kerepotan waktu melawannya. Akhirnya Raja iblis Kalazar pun ikut serta dalam misi membunuh Pangeran Gunawijaya.
Kemudian di keraton segoro kidul, Nyi Roro Kidul telah mengetahui rencana begawan sakti Ludoyo dari kaca sakitnya yaitu kaca benggala. Maka dari itu Beliau segera mengutus kedua senopatinya yaitu senopati Balawarman dan juga senopati Balamarwan untuk mengawal dan menjaga keselamatan Pangeran Gunawijaya.
Dan Maha Resi Brata guru dari Pangeran Gunawijaya merasakan bahwa akan ada sesuatu yang sangat membahayakan bagi keselamatan muridnya tersebut. Maka dari itu Beliau mencoba menemui muridnya tersebut yaitu Pangeran Gunawijaya. Beberapa saat kemudian tiba-tiba Maha Resi Brata muncul didepan Pangeran Gunawijaya saat ia sedang ada dalam perjalanan menyatukan para pendekar aliran putih.
"Hentikan sebentar perjalananmu Pangeran", kata Maha Resi Brata yang tiba-tiba muncul didepan Pangeran Gunawijaya beserta para pengawalnya tersebut.
"Salam hormat saya Maha Resi Brata, ada perlu apa tiba-tiba guru menghentikan perjalanan saya ini?", jawab Pangeran Gunawijaya pada gurunya yaitu Maha Resi Brata.
"Saya merasa akan ada hal buruk yang akan menimpamu, maka dari itu berhati-hati lah muridku Pangeran Gunawijaya", kekhawatiran seorang guru yaitu Maha Resi Brata pada muridnya tersebut.
__ADS_1
"Kalau boleh saya tahu, kira-kira hal buruk apa yang akan menimpa saya guru?", kata Pangeran Gunawijaya dengan rasa penasaran.
Sebelum Maha Resi Brata menjawab pertanyaan dari Pangeran Gunawijaya, tiba-tiba datanglah kedua senopati yaitu senopati Balawarman beserta senopati Balamarwan yang tiba-tiba muncul didepan Pangeran Gunawijaya. Kemudian setelah itu senopati Balawarman menjelaskan sesuatu hal yang akan terjadi padanya, maka dari itu senopati Balawarman dan juga senopati Balamarwan diutus oleh Nyi Roro Kidul untuk mengawal dan menjaganya kembali.