PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
163. Bangkitnya para Raja


__ADS_3

Dengan memotong rambut tersebut, kini Begawan Ludoyo akan unjuk kesaktian.


Kengerian jurus kala murka akan dia tunjukkan kepada semua orang atau lawan-lawannya tersebut.


Kemudian Begawan Ludoyo mengambil setiap bagian dari rambutnya yang telah dipotong itu.


Lalu dia masukkan kepada para pasukan manusia tanah yang terpilih.


Ada enam pasukan manusia tanah yang terpilih itu, dan masing-masing dari mereka telah dimasuki oleh rambut dari Begawan Lodoyo yang telah dipotong tersebut.


Tiba-tiba dalam sekejap mata para pasukan manusia tanah yang telah dipersiapkan itu, satu persatu mereka berubah wujud menjadi keenam Ksatria tangguh.


Keenam Ksatria itu ialah, Maharaja Sabda Wijaya, Maharaja Arya Wijaya, Pangeran Murad Wijaya, Prabu Jaka Birawa, Prabu Dasa Birawa dan yang terakhir adalah Prabu Jaya Waskita.


Kini keenam Ksatria tersebut telah dibangkitkan dari kematiannya, oleh Begawan Sakti Ludoyo.


Mereka dibangkitkan secara sempurna dengan kesaktian maupun senjata pusakanya.


Sontak semua para Ksatria, punggawa maupun pasukan, semua nampak tercengang dan heran akan kejadian tersebut, yaitu dibangkitkannya para raja raja yang telah meninggal.


"ini tidak mungkin", kata patih warangga seta.


"sasakti itukah Begawan Ludoyo, sampai dia bisa membangkitkan orang yang sudah meninggal", kata Patih Lindu Aji.


"kurang ajar, sampai Ayahku juga kau bangkitkan", Pangeran Kasim Wijaya berkata.


Kemudian Pangeran Guna Wijaya yang melihat kejadian tersebut, Dia segera menyuruh pamannya yaitu Mahapatih Damar Wijaya, agar segera membantu para Ksatria yang sedang menghadapi Begawan Ludoyo.


Sebab Pangeran Guna Wijaya merasa, situasi sekarang ini semakin sulit.


"Baiklah ponakanku, Jaga dirimu baik-baik, karena kita semua sangat mengandalkanmu", kata Mahapatih Damar Wijaya kepada Pangeran Guna Wijaya.


"baik paman, sebentar lagi cakraku akan segera pulih", jawab Pangeran Guna Wijaya.


"tenang ayah, serahkan padaku untuk menjaga Kanda Pangeran Guna Wijaya", kata Pangeran Jati Wijaya kepada ayahnya ya itu Mahapatih Damar Wijaya.


Kemudian singkat cerita, saat para Ksatria tersebut sudah bersiap untuk menghadapi para raja-raja yang telah dibangkitkan oleh Begawan Sakti Ludoyo, para Ksatria itu segera menyusun rencana untuk bisa memenangkan peperangan tersebut.


Lalu saat itu Kusuma yang sedang terluka parah, saat ini dia sedang ditolong oleh Mandala.


Mandala mencoba mengobati Kusuma dari lukanya tersebut, dan ternyata Mandala bisa menguasai ilmu pengobatan dari Sanjaya yang saat ini dia sudah meninggal.


Mandala tahu bahwa Kusuma saat ini sangat dibutuhkan karena kesaktiannya, maka dari itu Mandala berusaha keras untuk menyembuhkan Kusuma dari luka-lukanya yang telah dia alami.

__ADS_1


Tapi ada satu kendala yaitu patahnya kedua tangan Kusuma.


Ternyata hal itu tidak jadi masalah bagi Mandala, sebab saat ini Mandala mempunyai minyak Sakti pemberian dari Sanjaya.


Minyak Sakti tersebut bisa memulihkan tulang yang sudah patah, dengan singkat bisa pulih kembali seperti semula.


Tapi setiap seseorang memiliki satu kali kesempatan untuk bisa disembuhkan dengan minyak tersebut.


Hal itu tidak jadi masalah, justru satu kesempatan tersebut akan dimanfaatkan oleh Kusuma sebaik mungkin.


"Terima kasih Mandala, kau telah menolongku, Jasamu akan selalu aku kenang sampai kapanpun", kata Kusuma.


Kemudian saat itu Kusuma segera bergabung dengan para Ksatria tersebut, yang akan segera bertarung melawan para raja-raja yang telah dibangkitkan.


Sedangkan Mandala, dia masih harus melindungi Pangeran Guna Wijaya, sampai Pangeran Guna Wijaya selesai memulihkan cakranya.


Saat itu Begawan Ludoyo terkejut melihat Kusuma tiba-tiba pulih dari lukanya, dan bergabung dengan para Ksatria.


"Kusuma kau bisa kembali lagi, Siapa yang telah menyembuhkanmu sesingkat ini", tanya Pangeran Kasim Wijaya.


"ini semua berkat pendekar Mandala pangeran, tanpa Dia mungkin aku sekarang masih tak berdaya, kini aku mempunyai hutang Budi padanya", jawab Kusuma kepada Pangeran Kasim Wijaya.


"para Ksatria, siapkan diri kalian segera", perintah Mahapatih Damar Wijaya.


"Sandiko Mahapatih", jawab para Ksatria dengan serentak.


Pangeran Kasim Wijaya akan menghadapi Begawan Ludoyo.


Mahapatih Damar Wijaya akan menghadapi Maharaja Sabda Wijaya dan Maharaja Arya Wijaya.


Prabu silendra wangi akan menghadapi Prabu Jaya Waskita.


Patih warangga Seta akan menghadapi Prabu Jaka Birawa.


Patih Lindu Aji akan menghadapi Prabu dasa birawa.


Dan sedangkan Kusuma akan menghadapi Pangeran Murad Wijaya.


Akhirnya mereka semua bertarung menghadapi lawan masing-masing tersebut.


Mahapatih Damar Wijaya di medan perang, Kini harus menghadapi Ayah beserta saudaranya sendiri, yaitu Maharaja Sabda Wijaya sebagai ayah dan Maharaja Arya Wijaya sebagai saudara atau kakaknya.


Kenapa Mahapatih Damar Wijaya harus menghadapi mereka berdua, karena Mahapatih Damar Wijaya hafal dengan kekuatan dan kesaktian mereka berdua tersebut.

__ADS_1


Maharaja Sabda Wijaya memiliki kesaktian dan kekuatan, bisa menyerap Cakra lawannya dan seorang pengendali elemen logam.


Sedangkan Maharaja Arya Wijaya, memiliki kekuatan Seribu Gajah dan seorang pengendali lima elemen yaitu tanah air angin api dan petir.


Jadi untuk menghadapi kedua Maharaja tersebut, Mahapatih Damar Wijaya harus bisa mengandalkan kekuatan dan kesaktiannya dengan baik, yaitu Aji Brata dan Gajah Mungkur.


Kemampuan kekuatan Aji Brata bisa mengambilkan kelima elemen alam, yaitu tanah air angin api dan petir.


Sedangkan kekuatan Aji Gajah Mungkur, adalah suatu kekuatan penghancur tingkat tinggi.


Jadi dengan kedua Kekuatan tersebut, Mahapatih Damar Wijaya, sepertinya bisa mengimbangi kekuatan kedua Maharaja tersebut.


Akhirnya terjadilah pertarungan ketiga pengendali elemen alam tersebut, yaitu Mahapatih Damar Wijaya melawan Maharaja Sabda Wijaya dan Maharaja Arya Wijaya.


Tapi dalam pertarungan itu, ada satu elemen alam yang sangat menyusahkan Mahapatih Damar Wijaya untuk bisa melawannya, yaitu kekuatan elemen logam milik ayahnya tersebut, Iyalah Maharaja Sabda Wijaya.


Saat itu Maharaja Sabda Wijaya, menggunakan kekuatan logam mulia, yaitu emas, untuk melawan putranya tersebut.


Sungguh sangat mengerikan sekali kekuatan dari logam mulia tersebut, sebab logam itu bisa menetralkan kekuatan kelima elemen alam milik Mahapatih Damar Wijaya.


"sialan, kekuatan ayah ternyata sangat merepotkanku, Baru kali ini aku bisa bertarung menghadapi kekuatan Ayahku sendiri, dan ternyata seperti ini ngerinya melawan pengguna elemen logam", kata Mahapatih Damar Wijaya yang mengakui kehebatan kekuatan ayahnya, ya itu Maharaja Sabda Wijaya.


Kemudian Mahapatih Damar Wijaya menembakkan elemen api kepada kedua lawannya tersebut, tapi kedua lawannya itu dapat menangkalnya dengan kesaktian masing-masing.


Lalu kemudian kedua lawannya tersebut, ialah Maharaja Sabda Wijaya dan Maharaja Arya Wijaya, mereka menyatukan kekuatannya, yaitu elemen pasir emas milik Maharaja Sabda Wijaya dan elemen angin milik Maharaja Arya Wijaya.


Jika kedua elemen tersebut disatukan bisa menembus segala sesuatu pertahanan apapun.


Mengetahui hal itu Mahapatih Damar Wijaya, menyatukan ketiga elemen untuk membuat benteng pertahanan, ketiga elemen itu adalah elemen tanah Air Dan Api.


Lalu ketiga elemen itu oleh Mahapatih Damar Wijaya dialiri dengan Cakra yang sangat kuat darinya.


Sehingga membentuk kubah kristal yang melindungi dirinya dari serangan lawannya tersebut.


Kemudian melesatlah kedua gabungan elemen lawannya itu, menyerang Mahapatih Damar Wijaya dengan begitu dahsyatnya.


Tapi untungnya Mahapatih Damar Wijaya sudah mempersiapkan pelindung sebuah perisai kristal, yang membentuk sebuah kubah untuk melindungi dirinya dari serangan tersebut.


Walaupun begitu, perisai pelindungan yang dibuat oleh Mahapatih Damar Wijaya, masih juga bisa tertembus oleh serangan gabungan dari kedua elemen tersebut, yaitu elemen pasir emas dan elemen angin.


Walaupun kerusakan perisai pelindung Mahapatih Damar Wijaya tidak begitu parah, tapi masih ada sebagian kecil dari gabungan kedua elemen tersebut, yang berukuran sebesar anak panah, menembus bahu sebelah kanan Mahapatih Damar Wijaya.


Sehingga membuat Mahapatih Damar Wijaya terluka oleh serangan tersebut.

__ADS_1


Kini Apakah Mahapatih Damar Wijaya bisa menghadapi kedua Maharaja tersebut sendirian.


Yang jelas Mahapatih Damar Wijaya akan tetap berjuang sampai titik darah penghabisan.


__ADS_2