PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
52. Kaburnya Putri Senjabirawa


__ADS_3

Begawan Ludoyo yang mengetahui putranya yaitu Kalazar berhasil mengambil pedang mustika baru dari tangan Pangeran Gunawijaya, dia sangat bangga karena dengan begitu kekuatan Pangeran Gunawijaya sudah sangat berkurang, dan begawan Ludoyo sangat lega karena Pangeran Gunawijaya sudah bukan tandingannya lagi dengan hilangnya pedang tersebut dari tangannya.


Ternyata tujuan begawan Ludoyo bukan untuk menguasai pedang tersebut, melainkan untuk menghancurkannya. Raja iblis Kalazar sangat mendukung usaha Ayahndanya tersebut, dia selalu mematuhi setiap perintahnya.


Kemudian Pangeran Gunawijaya yang telah kehilangan pedangnya yaitu pedang mustika biru, ia tak merasa sedih, justru ia bahagia sebab pamannya yaitu Maha Patih Damarwijaya bisa selamat dari ancaman Raja iblis Kalazar.


"Keponakanku Pangeran Gunawijaya, apakah seharusnya kita mencari pedang mustika biru, sebab tanpa pedang itu kekuatanmu telah berkurang", Maha Patih Damarwijaya yang merasa cemas.


"Tenanglah paman, kita selesaikan dulu tujuan kita ke giritunggal, sebab masalah ini lebih penting dari pedang tersebut", Pangeran Gunawijaya yang sangat tenang meski telah kehilangan pedangnya tersebut.


Lalu beberapa hari kemudian rombongan Ratu Kencanawangi sedah tiba di kerajaan giritunggal, dan rombongan tersebut disambut dengan sangat terhormat karena rombongan itu adalah tamu Agung dari keluarga Wijaya. Setelah itu kedua belah pihak yaitu keluarga Birawa bersama keluarga Wijaya saling bertegur sapa dan kemudian membicarakan tentang masalah perjodohan antara Putri Kumalawijaya dengan Pangeran Sutabirawa didalam istana giritunggal.


Ternyata setelah pihak keluarga Wijaya menjelaskan bahwa mereka menggagalkan perjodohan tersebut dengan alasan yang begitu jelas bahwa Putri Kumalawijaya malah akan menikah dengan Raden Mahesasangkala yang kini telah menjadi Adipati di kadipaten karang menjangan, sebab tidak ada pilihan lain akan perjodohan tersebut yang dibatalkan karena Putri Kumalawijaya telah mengandung anak dari Raden Mahesasangkala.

__ADS_1


Mendengar penjelasan tersebut Pangeran Sutabirawa marah besar, dia tidak terima dengan itu semua, dia merasa bahwa keluarga Wijaya telah melecehkan harga dirinya. Maka dari itu untuk membayar ini semua, Pangeran Sutabirawa akan membunuh Putri Kumalawijaya.


Mendengar hal tersebut dari mulut Pangeran Sutabirawa, Pangeran Gunawijaya sangat geram melihat kelakuan Pangeran Sutabirawa yang sangat arogan, padahal keluarga Wijaya sudah meminta maaf atas kejadian tersebut, tapi kenapa Pangeran Sutabirawa malah bertingkah seperti itu didepan banyak orang.


Kemudian Pangeran Gunawijaya yang tidak terima mendengar adiknya tersebut akan dibunuh, lalu ia segara menantang Pangeran Sutabirawa untuk bertarung hidup atau mati.


Pangeran Sutabirawa menyanggupi tantangan tersebut dari Pangeran Gunawijaya, karena itu semua demi harga dirinya sebagai Pangeran giritunggal.


Melihat kejadian tersebut Maha Patih Damarwijaya melerai mereka berdua dari keadaan yang sangat kacau tersebut. Kemudian suasana yang nampak kacau itu pelan pelan mulai membaik, dan obrolan pun mulai dimulai kembali dengan tujuan yang sudah direncanakan oleh pihak dari keluarga Wijaya.


Sebab ini semua demi kebaikan dari kedua belah pihak keluarga, supaya tidak terjadi kesalah pahaman, maka dari itu Ratu Kencanawangi meminta dengan sangat agar Putri Senjabirawa bersedia menerima lamaran tersebut.


Sebenarnya pada dasarnya Putri Senjabirawa sudah menyukai Pangeran Gunawijaya, ia merasa jatuh Cinta padanya saat berada di padepokan lawang sewu milik Sanjaya, tapi hal itu ia pendam karena tidak mungkin perasaan cintanya bisa terwujudkan pada Pangeran Gunawijaya. Ternyata alam berkehendak lain, diluar dugaan tiba-tiba ia dilamar oleh pria yang selama ini ia idam idamkan, pria tersebut yaitu Pangeran Gunawijaya.

__ADS_1


Raut wajah Putri Senjabirawa sangat senang saat mendengar bahwa Ratu Kencanawangi akan melamarnya dan dijodohkan oleh Pangeran Gunawijaya. Tapi ada sedikit kendala dalam hal tersebut yaitu Pangeran Sutabirawa tidak merestui perjodohan tersebut dengan alasan itu hanya akal akalan keluarga Wijaya untuk menutupi malu atas kejadian pembatalan perjodohan antara Putri Kumalawijaya beserta dirinya yaitu Pangeran Sutabirawa, sebab terjadinya batalnya perjodohan tersebut karena Putri Kumalawijaya mempunyai aib yang membuat keluarga Wijaya tercoreng mukanya.


Didalam acara tersebut Pangeran Sutabirawa terus menerus menghina keluarga Wijaya didepan banyak orang dengan perkataan yang tak pantas. Dengan kejadian itu Maha Patih Damarwijaya naik pitam, Beliau berdiri dan menunjuk muka Pangeran Sutabirawa dan berkata?


"Jaga ucapmu Pangeran Sutabirawa, jika tidak memandang kebaikan mending Ayahndamu Raja Jakabirawa, sudah ku cabik mulut kotormu itu!", Maha Patih Damarwijaya yang sangat kecewa dengan kelakuan Pangeran Sutabirawa.


"Cukup hentikan perkataanmu kanda Pangeran Sutabirawa, keluarga Wijaya jauh-jauh datang kesini untuk meminta maaf dan menawarkan kebaikan, tapi kenapa kanda malah bersikap tidak pantas seperti ini sebagai putra mahkota giritunggal", kata putri Senjabirawa kepada saudaranya tersebut.


Dengan kejadian tersebut Pangeran Sutabirawa memutuskan hubungan antar kerajaan giritunggal bersama suryaloka. Maha Patih Damarwijaya yang mengetahui hal itu sangat menyayangkan tindakan dari Pangeran Sutabirawa sebab selama ini gjritunggal sangat baik hubungan antar kerajaan bersama suryaloka. Kemudian Maha Patih Damarwijaya segera berpamitan dan kembali pulang ke suryaloka, dan Beliau berkata pada Pangeran Sutabirawa bahwa suatu saat suryaloka tak akan segan-segan untuk menghancur giritunggal dari kekuasaan pemimpin yang arogan seperti dirinya yaitu Pangeran Sutabirawa.


Mendengar perkataan tersebut, Pangeran Sutabirawa merasa cemas dan khawatir akan perkataan Maha Patih Damarwijaya, tapi mau gimana lagi, sebab ibarat nasi sudah menjadi bubur.


Sehari kemudian Putri Senjabirawa yang sangat kepikiran dengan ucapan dari Maha Patih Damarwijaya, ia diam diam keluar istana giritunggal untuk mengejar rombongan keluarga Wijaya yang masih dalam perjalanan pulang sehabis berkunjung atau sowan ke kerajaan giritunggal. Niatan Putri Senjabirawa berbuat hal sedemikian untuk meminta maaf pada Maha Patih Damarwijaya atas perlakuan saudaranya tersebut yaitu Pangeran Sutabirawa dan memohan suyapa Maha Patih Damarwijaya mencabut ucapannya untuk tidak menghancurkan giritunggal suatu saat nanti, sebab Putri Senjabirawa tak ingin terjadi pertumpahan darah antara kedua kerajaan tersebut.

__ADS_1


Saat itu Pitri Senjabirawa yang cantik jelita mengejar rombongan keluarga Wijaya dengan menunggangi kuda kesayangannya. Dengan sangat kencang ia memasuki hutan giritunggal yang terkenal angker, tapi bagi Putri Senjabirawa hal itu tidak jadi alasan untuk tetap mengejar dan menyusul rombongan keluarga Wijaya. Tak disangka ditengah perjalanan didalam hutan tersebut, Putri Senjabirawa terkena musibah, kuda kesayangannya yang ia tunggangi terjatuh karena terkena sebuah perangkap, otomatis Putri Senjabirawa pun terlempar jatuh dari kuda tersebut.


Ternyata Putri Senjabirawa sengaja melewati jalan pintas untuk bisa dengan cepat menyusul rombongan keluarga Wijaya, tapi ternyata malah ia terperangkap didalam hutan tersebut. Ia menjerit minta tolong karena salah satu kakinya ada yang patah saat ia terlempar dari atas kudanya dan tak sengaja salah satu kakinya menghantam sebongkah batu besar yang berada didalam hutan tersebut.


__ADS_2