
Singkat cerita setelah kemenangan itu, Pangeran Guntur Wijaya segera mengembalikan ajian Pamungkas, milik para Ksatria tersebut yang telah dipinjamkan kepada dirinya, untuk menghancurkan lawannya yaitu Maharaja Sabda Wijaya.
Lalu para Ksatria tersebut yaitu, Mahapatih Damar Wijaya, Pangeran Guntur Wijaya, Begawan winara, Senopati bala Warman dan juga punggawa Kusuma, mereka berlima segera membantu para Ksatria yang lainnya, yang masih berjuang melawan musuh-musuhnya.
Mengetahui hal tersebut, tanpa disadari oleh Pangeran Murad Wijaya dan juga Pangeran Kasim Wijaya, lawannya yaitu Begawan Sakti Ludoyo, membelah sukmanya menjadi empat Sukma.
Sukma yang pertama tetap berada di dalam tubuh Begawan Sakti Ludoyo, Karena itu adalah Sukma yang utama.
Dan tiga Sukma diantaranya, masing-masing masuk ke dalam tubuh dari tiga raja, yaitu Raja Jaka Birawa, Raja Dasa Birawa dan Prabu Jaya Waskita.
Sebab Begawan Sakti Ludoyo mengetahui, ketiga raja tersebut yang telah dia bangkitkan, tidak akan mungkin bisa menandingi kekuatan para Ksatria yang akan bersatu untuk melawannya.
Maka dari itu Begawan Sakti Ludoyo memasukkan ketiga sukmanya ke dalam tubuh tiga raja tersebut, agar tiga Raja itu mendapatkan kekuatan tambahan yang luar biasa Dahsyat, untuk menghadapi para ksatria-ksatria tersebut.
Dan para semua ksatria tidak ada yang menyadari akan hal tersebut, yang dilakukan oleh Begawan Sakti Ludoyo.
"Kenapa Prabu Jaya Waskita menjadi sangat kuat sekarang, padahal sedari tadi aku membuat dia terdesak oleh setiap seranganku", Prabu silendra wangi heran dengan apa yang terjadi pada lawannya tersebut.
Dan saat itu Prabu silendra wangi dihajar habis-habisan oleh Prabu Jaya Waskita, kini kekuatan Prabu silendra wangi jauh di bawah lawannya itu.
Tapi saat ini bukan cuma Prabu silendra wangi yang jadi bulan-bulanan olah lawannya tersebut.
Patih Lindu Aji dan juga Patih warangga Seta, juga jadi bulan-bulanan oleh lawannya masing-masing.
Saat itu patih lindu Aji menghadapi Raja dasa Birawa, sedangkan Patih warangga Seta menghadapi Prabu Jaka Birawa.
Dalam pertarungan tersebut, kedua Patih itu sampai terbunuh oleh lawannya masing-masing.
Dan tinggal Prabu silendra wangi, yang masih bertahan dalam pertarungan tersebut.
Tapi keadaan Prabu silendra wangi sudah sangat memprihatinkan, karena beliau benar-benar dibuat tak berdaya oleh lawannya tersebut, yaitu Prabu Jaya Waskita.
Untung saja Mahapatih Damar Wijaya beserta para Ksatria yang lainnya, tidak terlambat menolong Prabu silendra wangi.
Kemudian Mahapatih Damar Wijaya menyuruh keponakannya, yaitu Pangeran Guntur Wijaya agar membawa Prabu silendra wangi pergi dari tempat tersebut.
Sebab Prabu silendra wangi, beliau sebenarnya juga Paman dari Pangeran Guntur Wijaya.
Kalau Mahapatih Damar Wijaya adalah saudara dari sang ayah Pangeran Guntur Wijaya, kalau Prabu Silendra wangi adalah saudara dari sang ibu.
Jadi keduanya yaitu Mahapatih Damar Wijaya dan Prabu silendra wangi, adalah paman dari pangeran Guntur Wijaya.
"Baiklah paman Mahapatih, akan segera kubawa pergi Paman Prabu silendra wangi", kata Pangeran Guntur Wijaya.
Tapi pada saat itu Prabu Jaya Waskita akan mengejar Pangeran Guntur Wijaya, yang sedang membawa pamannya tersebut pergi dari medan pertempuran.
Melihat hal tersebut, Mahapatih Damar Wijaya, Begawan winara, Senopati bala Warman dan juga Kusuma, Menghadang Prabu Jaya Waskita yang akan mengejar Pangeran Guntur Wijaya.
__ADS_1
Tiba-tiba datanglah kedua raja, yaitu Raja Jaka Birawa dan raja dasa Birawa.
Kedua Raja itu menghalangi keempat ksatria yang sedang menghadap Prabu Jaya Waskita.
Tujuan dari kedua raja tersebut, ialah agar Prabu Jaya Waskita bisa mengejar Pangeran Guntur Wijaya.
Kemudian terjadilah pertarungan antara kedua raja tersebut melawan keempat Ksatria itu.
Dan akhirnya Prabu Jaya Waskita bisa mengejar Pangeran Guntur Wijaya, dengan memanfaatkan situasi tersebut.
"berhenti keponakan, kita tak akan bisa lari dari tempat ini, jalan satu-satunya kita harus melawan Prabu Jaya Waskita", kata Prabu silendra wangi.
Ternyata saat itu Prabu Jaya Waskita berhasil mengejar Pangeran Guntur Wijaya.
"biar aku yang menghadapinya paman prabu", kata Pangeran Guntur Wijaya yang akan menghadapi Prabu Jaya Waskita.
"tidak keponakanku, tenaga dan kekuatanmu sangat dibutuhkan untuk mengalahkan Begawan Ludoyo, biar orang yang satu ini aku yang akan mengurusnya", Prabu silendra wangi akan bertarung kembali dengan Prabu Jaya Waskita.
"jangan memaksakan diri Paman Prabu, Lihatlah kondisimu sekarang sangat memprihatinkan, Biar aku saja yang akan menghadapinya", Pangeran Guntur Wijaya mencoba membujuk pamannya tersebut, agar tidak bertarung kembali melawan Prabu Jaya Waskita.
Lalu tanpa banyak bicara, Prabu silendra wangi menotok kaki Pangeran Guntur Wijaya, agar Pangeran Guntur Wijaya tidak bisa kemana-mana, dalam waktu beberapa saat.
Prabu silendra wangi berniat akan mengalahkan Prabu Jaya Waskita, dengan ajian pamungkasnya.
Dengan tertatih-tatih, Prabu silendra wangi berjalan mendekati Prabu Jaya Waskita, yang tengah menghadangnya.
Lalu dari serangan tersebut, Prabu silendra wangi berhasil menghindarinya.
Prabu Jaya Waskita semakin murka dibuatnya.
Akhirnya Prabu Jaya Waskita menyerangnya dengan bertubi-tubi. Menggunakan tendangan dan pukulannya yang sangat Dahsyat dan mematikan.
Tapi meskipun prabu silendra wangi berkali-kali jatuh tersungkur akibat terkena serangan tersebut, tidak butuh waktu lama Prabu silendra wangi segera bangkit dan bangkit lagi.
Sedangkan keponakannya tersebut, yaitu Pangeran Guntur Wijaya sangat tidak tega, melihat pamannya jadi bahan bulan-bulanan oleh musuhnya tersebut.
Tapi apa daya, Pangeran Guntur Wijaya tidak bisa menolongnya, karena dirinya dibuat tidak bisa bergerak oleh pamannya itu, dengan menotok kedua kakinya.
"sudah cukup paman, hentikan pertarungan itu dan bebaskan aku dari totokanmu, agar aku bisa membantumu bertarung melawan Prabu Jaya Waskita", Pangeran Guntur Wijaya yang memohon dan meminta pada pamannya tersebut untuk membebaskan totokannya, karena Pangeran Guntur Wijaya tidak ahli dalam ilmu pertotokan.
Tapi pamannya tersebut menghiraukan perkataan dari pangeran Guntur Wijaya.
"keponakanku Guntur Wijaya, paman sangat bangga denganmu, kau harus menjadi masa depan yang indah bagi negerimu Surya Loka, Paman berpesan kepadamu, tolong jaga keluarga paman, Paman menitipkannya padamu", pesan dari seorang raja yang hebat yaitu Prabu silendra wangi.
Mendengar pamannya berkata demikian, Pangeran Guntur Wijaya Shock, karena Pangeran Guntur Wijaya mengetahui, bahwa pamannya akan melakukan sesuatu yang sangat mengerikan.
Dan ternyata benar dugaan Pangeran Guntur Wijaya.
__ADS_1
Ternyata pamannya tersebut akan menggunakan ilmu ngelebur Jagad.
Ilmu ngelebur Jagad adalah sebuah ilmu rahasia dari Marga pamannya tersebut, yaitu Marga wangi.
Sesuai dengan nama pamannya tersebut yaitu, Prabu silendra wangi.
Tapi dalam Marga pamannya itu, tak semua garis keturunan dari keluarga wangi, bisa menguasai ilmu tersebut.
Kemudian Prabu silendra wangi menahan kedua tangan dari lawannya tersebut yaitu, Prabu Jaya Waskita saat akan menyerangnya.
Bukan cuma sekedar menahan kedua tangan itu, Prabu silendra wangi berhasil mendekap erat tubuh dari lawannya tersebut.
Dekapan Prabu silendra wangi sangat kuat dan kencang sekali kepada tubuh daripada lawannya itu, sehingga lawannya tersebut sampai tak bisa berkutik.
Saat lawannya sudah tidak bisa berkutik, di situ ilmu ngelebur Jagad Prabu silendra wangi bereaksi.
"hentikan pamaaaann!!", teriak Pangeran Guntur Wijaya yang menyaksikan pamannya yaitu Prabu silendra wangi, telah menggunakan ilmu ngelebur jagad.
Efek dari ilmu tersebut ialah, sang korban dan pemilik ilmu itu yang sudah mendekapnya, sedikit demi sedikit mulai dari ujung kaki sampai ke ujung kepala, tubuh mereka berdua akan lebur dan sirna begitu saja, tak berbekas.
Sang korban tak akan bisa lolos dari dekapan sang pemilik ilmu tersebut.
Sebab sekali pemilik ilmu itu mendekap tubuh korbannya, maka tubuh dari kedua orang tersebut akan lengket dan menyatu.
Prabu silendra wangi nekat menggunakan ilmunya tersebut, karena sebenarnya beliau ingin menyelamatkan keponakannya tersebut yaitu Pangeran Guntur Wijaya.
Sebab Prabu silendra wangi saat itu tahu dan menyadari, bahwa musuhnya tersebut yaitu Prabu Jaya Waskita, telah berubah menjadi sangat kuat melebihi kekuatan dari keponakannya tersebut.
Akhirnya Prabu silendra wangi memutuskan untuk menggunakan ilmu terlarang tersebut, demi keselamatan keponakannya yaitu Pangeran Guntur Wijaya.
Rasa Haru menyelimuti Atas kejadian tersebut.
Kedua ksatria tersebut yaitu Prabu silendra wangi dan Pangeran Guntur Wijaya, mereka berdua sama-sama meneteskan air mata.
Pangeran Guntur Wijaya sudah tak bisa berbuat apa-apa, sebab pamannya tersebut sudah terlanjur menggunakan ilmu terlarangnya itu.
Lalu saat efek totokan dari Prabu silendra wangi telah hilang, kini Pangeran Guntur Wijaya terbebas dari totokan itu.
Dan Pangeran Guntur Wijaya segera berlari untuk menyelamatkan pamannya tersebut, tapi apa daya semua itu sia-sia belaka.
Karena sebelum Pangeran Guntur Wijaya sampai kepada pamannya tersebut, pamannya beserta lawannya itu sudah lebur sirna dan tak berbekas.
Akhirnya Pangeran Guntur Wijaya hanya bisa berteriak sekencang-kencangnya, karena telah kehilangan Paman kesayangannya tersebut.
Saat itu Pangeran Guntur Wijaya berjanji, pengorbanan pamannya tersebut tak akan dia sia-siakan.
Dan hal itu telah menjadi tambahan spirit perjuangan bagi Pangeran Guntur Wijaya.
__ADS_1