PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
74. Penghabisan


__ADS_3

Kemudian pertarungan ketiga siluman tersebut masih terus berlanjut.


Pak Ujang yang telah berubah menjadi buto ijo, ternyata masih sangat sulit sekali untuk dikalahkan oleh kedua kesatria tersebut yaitu Pangeran Jatiwijaya yang telah menjadi manusia ular merah dan juga Harun yang menjadi manusia harimau.


Dengan berbagai kekuatan dari kedua kesatria tersebut, pak Ujang masih sangatlah kuat bagi mereka berdua.


Kekuatan pak Ujang yang telah berubah menjadi buto ijo tidak bisa diremehkan sama sekali.


Alhasil mereka berdua yaitu Pangeran Jatiwijaya dan juga Harun dibuat babak belur oleh pak Ujang.


Mereka berdua dibanting, ditendang, bahkan sampai dilempar oleh pak Ujang.


Para kesatria yang lainnya sempat kebingungan melihat situasi tak menguntungkan bagi kubu mereka, karena kesatria sehebat Pangeran Jatiwijaya dan juga Harun dihajar habis-habisan oleh pak Ujang, apa lagi mereka.


"Kalian semua para kesatria, apakah masih punya cakra untuk kita berjuang menegakkan keadilan, karena hanya kita semua harapan para warga desa ini untuk bisa mendapatkan kedamaian dalam hidupnya kembali", kata senopati Balawarman.


"Jangankan cakra, nyawa kamipun, akan kami pertaruhkan demi menegakkan keadilan, kami semua masih sanggup bertarung sampai titik darah penghabisan", Mandala yang penuh percaya diri.


"Baiklah kalau gitu, mari kita salurkan semua cakra yang kita punya pada Pangeran Jatiwijaya dan juga pada Harun, sebab hanya mereka berdualah yang sanggup melawan pak Ujang yang telah menjadi buto ijo, maka dari itu, mari kita bantu mereka berdua dengan memberikan sisa cakra kita pada mereka", perintah senopati Balawarman pada para kesatria kesatria tersebut.


Segeralah mereka bergegas menyalurkan cakra mereka pada kedua kesatria tersebut yang sedang bertarung melawan pak Ujang.


Beberapa saat kemudian, Pangeran Jatiwijaya dan juga Harun yang sedang terkapar, tiba-tiba bangkit. Mereka berdua merasakan ada tenaga tambahan yang telah masuk kedalam tubuhnya.


Kini kedua kesatria tersebut kembali bertarung melawan pak Ujang.


Dengan hebatnya kedua kesatria itu berbalik membuat pak Ujang keteteran, sampai sampai tanduk pak Ujang yang telah menjadi buto ijo berhasil dipatahkan oleh kehebatan Pangeran Jatiwijaya yang telah menjadi manusia siluman ular merah.


Harun pun yang semakin beringas, dia berhasil mencabik-cabik dada pak Ujang dengan cakar harimau nya.


Pak Ujang semakin kuwalahan, dia berusaha menyerang dengan menyemburkan api pada kedua kesatria tersebut, tapi kedua kesatria itu berhasil menangkisnya hanya menggunakan tangannya saja.


Kemudian Pangeran Jatiwijaya memberikan pukulan yang amat kencang tepat dikepala hingga pak Ujang tersungkur.


Sedangkan Harun memegang salah satu kaki pak Ujang dan seketika itu langsung dia patahkan, pak Ujang menjerit kesakitan.


Kini pak Ujang dibuat tak berdaya oleh kedua kesatria tersebut.

__ADS_1


Pangeran Jatiwijaya dengan wujud manusia siluman ular berusaha memberikan gigitan pada leher pak Ujang, agar bisa atau racun yang ia punya dapat segera membunuh pak Ujang dengan cepat.


Sedangkan Harun, dia mencoba membelah dada pak Ujang dengan cakar harimau nya yang sangat tajam bagai pedang.


"Hyaaaaa... Mati kau Ujang!", Harun yang sedang membelah dada pak Ujang.


Akhirnya terbelah lah dada pak Ujang, hingga darah bercucuran kemana-mana.


Dengan kematian pak Ujang yang sangat tragis, lalu kedua kesatria tersebut berubah kewujud semula atau menjadi manusia kembali.


Dari kubu Pangeran Jatiwijaya semua nampak bahagia dengan kuamatian pak Ujang.


Sedangkan para anak buah pak Ujang, mereka banyak yang tewas dan yang sebagian kecil pada berhamburan lari.


Lalu tak disangka, dengan kemampuan pemulihan yang sangat luar biasa, pak Ujang yang sudah mati, kini bangkit kembali dengan wujud buto ijonya yang semakin besar.


"Tamatlah kita", Harun berkata.


"Kenapa ini bisa terjadi", Senopati Balawarman.


"Mungkinkah dia mahluk abadi", senopati Sumitro.


"Disaat kita semua kehabisan cakra, hanya keajaiban yang bisa membantu kita", Pangeran Jatiwijaya yang sudah merasa pesimis dengan kebangkitan pak Ujang kembali.


"Baiklah!, meski nyawa sebagai taruhan, kita harus tetap melawannya", perintah Pangeran Jatiwijaya.


"Daulat Pangeran!", semua para kesatria menjawab dengan bersamaan.


Semangat mereka meningkatkan kembali walau mustahil untuk bisa mengalahkan pak Ujang dengan sisa cakra yang ada.


"Bersiaplah kalian!, seraaaaang.... ", Pangeran Jatiwijaya.


Tiba-tiba muncul lah sesosok cantik nan jelita tepat didepan para kesatria kesatria tangguh tersebut.


Ternyata sesosok cantik itu adalah Nyi Roro Kidul.


Seketika itu para kesatria kesatria tersebut langsung menghaturkan sembah pada Nyi Roro Kidul atau Ratu pantai Selatan.

__ADS_1


"Sudah tidak banyak waktu lagi, dimana keris pusaka naga sasra itu yang berhasil kalian rebut", kata Nyi Roro Kidul.


"Sendiko Gusti Ratu, ini kerisnya", senopati Balawarman memberikan keris tersebut pada Nyi Roro Kidul.


Lalu Nyi Roro Kidul segera mencabut keris pusaka naga sasra dari wadahnya.


Kemudian Beliau memanggil naga sasra menggunakan keris tersebut.


Keluarlah naga sasra dari dalam keris itu, sebab hanya Nyi Roro Kidul yang bisa memanggilnya.


"Naga sasra, ku perintahkan kau, hancurkan buto ijo itu sekarang juga", Nyi Roro Kidul.


Disaat buto ijo jelmaan dari pak Ujang akan segera menyerang, naga sasra segera membakarnya dengan menyemburkan api pada buto ijo tersebut.


Akhirnya buto ijo itu kelojotan akibat terbakar api semburan dari naga sasra. Dia mengerang kepanasan oleh semburan api tersebut.


Dan beberapa saat kemudian, buto ijo itu kembali kewujud semula yaitu pak Ujang yang sudah tak berdaya lagi.


Saat mengetahui akan hal itu, Pangeran Jatiwijaya segera mengambil sebilah pedang yang berada didekatnya, ia berlari dan akan membunuh pak Ujang yang masih sekarat.


Tiba-tiba tindakan nya itu di cegah oleh Nyi Roro Kidul.


"Hentikan Pangeran Jatiwijaya, seorang kesatria pantang untuk membunuh lawannya yang sudah tak berdaya", Nyi Roro Kidul.


"Orang itu atau pak Ujang sudah tidak punya kesaktian lagi, karena api semburan dari naga sasra sedah menyerap seluruh kesaktian yang dia punya", Nyi Roro Kidul.


"Jadi biarkanlah hukum yang akan mengadilinya atas tindakan kejahatan yang pernah dia lakukan selama ini, serahkan dia pada Raja Dasabirawa, agar Raja Dasabirawa bisa menjatuhkan hukuman padanya", perintah Nyi Roro Kidul.


Kemudian Pangeran Jatiwijaya menyuruh pasukannya untuk mengikat pak Ujang dan akan segera dibawa ke kerajaan giriseta untuk diserahkan pada Raja Dasabirawa agar segera diadili.


Lalu saat semua masalah sudah selesai, Nyi Roro Kidul segera pamit dan para kesatria kesatria tersebut memberikan ucapan terimakasih pada Beliau atas bantuannya.


Dengan kekalahan pak Ujang, warga desa sentong bisa hidup dengan damai dan aman sejahtera dikemudian hari.


Kemudian saat itu juga Pangeran Jatiwijaya beserta para pasukannya segera membawa pak Ujang ke kerajaan giriseta.


Mereka semua sudah berlega hati karena kejahatan pak Ujang bisa dihancurkan juga oleh mereka.

__ADS_1


__ADS_2