PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
78. Kepanikan raden Bambangsuroto


__ADS_3

Kemudian raden Bambangsuroto membawa para kesatria kesatria tersebut beserta istrinya yaitu Sundari ke kadipaten paralayang, mereka semua dihukum tanpa diadili terlebih dulu.


Adipati Ganjarsuroto yang melihat kelakuan putranya tersebut sangat bangga, sebab menurut dia putranya sangat tegas dalam mengatasi setiap masalah, padahal dalam proses hukum harus ada sidang terlebih dulu, tapi nyatanya itu tidak ada.


Dengan kejadian tersebut Pangeran Jatiwijaya dituduh menculik Sundari dari suaminya yaitu raden Bambangsuroto.


Maka dengan begitu, Pangeran Jatiwijaya beserta para kesatria kesatria yang lainnya dijatuhi hukuman seumur hidup tanpa persidangan.


Mendengar keputusan hukuman tersebut, Pangeran Jatiwijaya semakin bersemangat untuk bisa menghancurkan adipati Ganjarsuroto beserta putranya yaitu raden Bambangsuroto.


Sebab jika dibiarkan, penguasa seperti mereka bisa menyengsarakan rakyat, maka dari itu mereka harus dihancurkan.


"Ampun Pangeran, apa kita harus mati didalam penjara ini seumur hidup kita", kata ki Jatmiko pada Pangeran Jatiwijaya.


"Tidak Jatmiko, sebenarnya untuk keluar dari penjara ini bagi kita sangat mudah, tapi aku punya rencana tersendiri untuk bisa memberi mereka pelajaran, kita tunggu saja tanggal mainnya", jawab Pangeran Jatiwijaya sambil tersenyum pada Jatmiko.


Para kesatria kesatria tersebut dijadikan satu dalam ruangan tahanan, sedangkan Sundari ditempatkan dipenjara wanita.


Kemudian Pangeran Jatiwijaya menceritakan tentang rencananya tersebut pada para kesatria kesatria itu, dan para kesatria kesatria itu sangat mendukung rencana tersebut.


Keesokkan harinya saat pada malam hari, Pangeran Jatiwijaya berubah menjadi manusia siluman ular merah, dengan begitu Pangeran Jatiwijaya bisa berubah-ubah jadi ular berukuran apapun.


Dengan begitu Pangeran Jatiwijaya bisa menyelinap keluar dari penjara dengan merubah dirinya menjadi ular berukuran sangat kecil.


Setibanya diluar penjara, Pangeran Jatiwijaya dengan dirinya yang menjadi ular berukuran sangat kecil, ia berusaha menyelidiki gerak gerik dan tindakan adipati Ganjarsuroto beserta putranya tersebut.


Ternyata adipati Ganjarsuroto dan putranya raden Bambangsuroto, mereka berdua melakukan bisnis terlarang yaitu jual beli para wanita kepada para lelaki kaya hidung belang.


Maka dari itu di istana kadipaten paralayang, ada ruangan khusus untuk menampung para wanita yang akan dijual pada lelaki hidung belang, termasuk Sundari juga berada ditempat tersebut untuk dijual juga.


Tapi ternyata selama ini Sundari juga sering jadi pemuas nafsu adipati Ganjarsuroto meski dia adalah istri putranya raden Bambangsuroto.


Hal itu bagi mereka berdua wajar wajar saja, karena bagi adipati Ganjarsuroto dan raden Bambangsuroto, wanita itu hanya sebuah mainannya saja.


Mengetahui kenyataan yang seperti ini, Pangeran Jatiwijaya yang dirinya menjadi ular kecil, akhir ia berubah wujud menjadi manusia kembali.

__ADS_1


Lalu Pangeran Jatiwijaya mengendap endap dalam kesunyian dan menyekap salah satu prajurit.


Prajurit itu tak bisa melawan karena Pangeran Jatiwijaya telah memberi tahu bahwa dirinya adalah salah satu pangeran suryaloka, putra dari Mahapatih Damarwijaya.


Sedangkan kerajaan himalaya dan suryaloka sangat bersahabat sekali, karena Ratu kerajaan suryaloka yaitu Ratu Kencanawangi adalah adik dari Prabu Silendrawangi penguasa kerajaan himalaya.


Dan sedangkan kadipaten paralayang adalah salah satu wilayah kekuasaan dari kerajaan himalaya.


Maka dari itu prajurit yang disekap oleh Pangeran Jatiwijaya tak berkutik saat tahu bahwa yang menyekapnya adalah salah satu pangeran suryaloka yaitu Pangeran Jatiwijaya saudara sepupu dari Pangeran Gunawijaya putra mahkota suryaloka, anak dari Ratu Kencanawangi.


Setelah itu Pangeran Jatiwijaya mengajak kerja sama pada prajurit tersebut untuk menghancurkan kekuasaan adipati Ganjarsuroto.


Dan prajurit itu sangat setuju, sebab sebenarnya para prajurit paralayang telah mengetahui akan bisnis terlarang yang dilakukan oleh adipati Ganjarsuroto beserta putranya tersebut, tapi para prajurit tersebut tak bisa berbuat apa-apa akan tindakan pemimpinnya itu.


Dengan kehadiran Pangeran Jatiwijaya yang akan melakukan tindakan tersebut, prajurit yang disekap tadi segera memberi tahu pada para prajurit prajurit yang lainnya yang jenuh dengan kelakuan pemimpinnya tersebut yaitu adipati Ganjarsuroto.


Ternyata para prajurit prajurit tersebut sangat setuju dengan aksi Pangeran Jatiwijaya yang akan menghancurkan kekuasaan adipati Ganjarsuroto.


Maka dari itu para prajurit prajurit tersebut siap menerima perintah apapun dari Pangeran Jatiwijaya.


Lalu keesokan harinya, Pangeran Jatiwijaya memerintahkan salah satu prajurit yang berpihak padanya untuk mengirim pesan kepada Prabu Silendrawangi penguasa kerajaan himalaya.


Mengetahui masalah tersebut dari pesan yang dikirim oleh Pangeran Jatiwijaya, Prabu Silendrawangi meradang.


Beliau segera memerintahkan Patih Linduaji beserta para pasukan himalaya untuk segera menangkap adipati Ganjarsuroto dan putranya raden Bambangsuroto.


Mereka berdua harus segera diadili dari kejahatannya yang telah memperjual belikan para wanita yang mereka sekap selama ini di istana kadipaten paralayang.


Ternyata ada ratusan wanita yang disekap oleh adipati Ganjarsuroto, semua wanita tersebut adalah ladang uang bagi adipati Ganjarsuroto.


Wanita wanita itu dia dapat dari menculik, merebut paksa dan jaminan hutang padanya yaitu adipati Ganjarsuroto.


Selama ini jika ada diantar wanita wanita itu melawan atau melarikan diri dari tempat penyekapan, adipati Ganjarsuroto beserta putranya Bambangsuroto tak segan-segan akan menghukumnya.


Maka wanita wanita itu selalu tunduk patuh pada adipati Ganjarsuroto dan putranya raden Bambangsuroto.

__ADS_1


Kemudian redan Bambangsuroto mengetahui informasi dari prajurit kepercayaannya bahwa sebenarnya dari para kesatria kesatria yang dia tahan salah satunya adalah Pangeran Jatiwijaya.


Mendengar kabar tersebut raden Bambangsuroto sangat panik, sebab prajurit tersebut juga memberi tahu bahwa Pangeran Jatiwijaya akan menghancurkan kejahatannya tersebut.


Kemudian raden Bambangsuroto segera memberi tahu tentang kabar itu pada ayahnya yaitu adipati Ganjarsuroto.


Setelah adipati Ganjarsuroto tahu tentang kabar tersebut, dia segera memerintahkan putranya itu untuk segera menghabisi Pangeran Jatiwijaya beserta para kesatria kesatria tersebut.


Karena anggapan mereka berdua agar masalah kejahatannya itu tidak bocor kemana-mana, dan jangan sampai pihak kerajaan himalaya tahu tentang hal itu.


Tapi alangkah bodohnya mereka berdua, sebab tanpa sepengetahuan mereka berdua, Pangeran Jatiwijaya sudah mengirim pesan ke himalaya, dan pesan tersebut diantarkan oleh salah satu prajuritnya yaitu prajurit dari adipati Ganjarsuroto sendiri.


Lalu raden Bambangsuroto membawa prajuritnya untuk menghabisi Pangeran Jatiwijaya dan juga kesatria kesatria itu.


Sesampainya mereka didepan tahanan, raden Bambangsuroto memerintahkan prajuritnya untuk segera memanah Pangeran Jatiwijaya dan juga kesatria kesatria tersebut.


"Sebentar lagi kau akan menyesal Bambangsuroto", kata Pangeran Jatiwijaya.


"Tidak usah banyak omong kau Jatiwijaya, sekarang juga kau akan ku kirim ke neraka", kata raden Bambangsuroto.


Lalu saat panah panah itu dilesatkan oleh para prajurit prajurit tersebut, tiba-tiba dengan cepat senopati Balamarwan mengeluarkan jurus perisai segoro kidul.


Jurus tersebut mampu menahan serangan dari ilmu maupun senjata apapun.


Saat panah panah itu tak bisa mengenai Pangeran Jatiwijaya beserta para kesatria kesatria itu, lalu Pangeran Jatiwijaya mengeluarkan cumeti banas pati dan mengubahnya jadi ular merah besar, dan kemudian ular itu menghancurkan teralis tahanan tersebut dengan hanya sekali sabetan ekornya saja teralis tahanan itu langsung hancur berantakan.


Kemudian Pangeran Jatiwijaya beserta para kesatria kesatria tersebut berhasil mengalahkan raden Bambangsuroto beserta para prajuritnya.


Lalu Pangeran Jatiwijaya dan para rombongannya segera melarikan diri dari istana kadipaten paralayang.


"Ampun Pangeran Jatiwijaya, apa tidak sebaiknya kita bebaskan dulu para wanita wanita tersebut yang ditahan oleh adipati Ganjarsuroto", kata ki Maung.


"Jangan dulu ki Maung, sebab jika kita bebaskan para wanita wanita itu, mereka semua malah jadi beban buat kita, karena tidak mungkin kita bisa melindungi keselamatan para wanita wanita itu yang jumlahnya ratusan orang, lebih baik kita sekarang menyelamatkan diri dulu, dan kita akan kembali lagi kesini dengan para bantuan dari kerajaan himalaya", jawab Pangeran Jatiwijaya.


Akhirnya beberapa saat kemudian Pangeran Jatiwijaya beserta para rombongannya berhasil melarikan diri keluar dari istana kadipaten paralayang.

__ADS_1


Mereka semua segera berlari menuju hutan paralayang agar keberadaan mereka tidak dapat diketahui oleh prajurit paralayang yang sedang mencarinya.


Untung saja mereka masing-masing berhasil mengambil kuda di istana kadipaten paralayang saat mereka akan hendak melarikan diri, jadi laju mereka semua sangat cepat saat melarikan diri menuju kehutan paralayang dengan menunggangi kuda masing-masing.


__ADS_2