
Kemudian setelah mendapat peringatan dari suryaloka, Adipati Burhansangkala mulai memikirkan peringatan itu, dia nampak bimbang setelah diperingati oleh pihak suryaloka? Lalu didalam kebimbangannya, dia cenderung memikirkan perdamaian ketimbang pemberontakkan. Disamping itu putrinya yang bernama Putri Galuhsangkala juga menasehatinya akan dampak yang akan terjadi jika Ayahnya tetap melakukan pemberontakkan bakal terjadi banjir darah di karang menjangan.
Putri Galuhsangkala berpesan pada Ayahnya untuk mengurungkan niatannya tersebut, karena lebih baik berdamai pada pihak suryaloka dari pada melawannya.
Setelah mendengar saran putrinya, Adipati Burhansangkala sempat berfikir sejenak akan tujuannya itu, tapi senopati Kolomonggo yang juga mendengar saran dari Putri Galuhsangkala, dia merasa tidak terima, akhirnya dia berusaha menghasut Adipati Burhansangkala untuk tetap kokoh dengan pendiriannya tersebut yaitu pemberontakkan pada suryaloka. Akhirnya Adipati Burhansangkala termakan hasutan senopati Kolomonggo kembali, dan ia menghiraukan saran dari putrinya tersebut.
Hari mulai malam, ditenda peristirahatan Maha Patih Damarwijaya beserta bala punggawa-punggawanya sedang berdiskusi masalah penyerangan besok pagi jika pihak Adipati Burhansangkala tetap pada pendiriannya tersebut yaitu pemberontakkan. Tak lama kemudian disaat para punggawa-punggawa suryaloka sedang berdiskusi, datanglah putri Galuhsangkala yang secara diam-diam keluar dari kadipaten karang menjangan untuk menemui kandanya yaitu Raden Mahesasangkala yang sedang ikut berdiskusi juga bersama bala punggawa-punggawa suryaloka.
"Kanda Mahesasangkala, saya ingin menyampaikan kabar penting yang telah saya ketahui dari Ayahnda Burhansangkala?", kata Putri Galuhsangkala dengan raut wajah yang cemas.
"Ada kabar apa sebenarnya dinda Galuh, kenapa kau berani keluar dari puri kadipaten malam-malam begini?", jawab Raden Mahesasangkala dengan penuh penasaran.
Akhirnya Putri Galuhsangkala menjelaskan tentang kabar tersebut pada kandanya yaitu Raden Mahesasangkala, ia menjelaskan bahwa Ayahndanya yaitu Adipati Burhansangkala tetap akan melakukan pemberontakkan pada suryaloka karena Beliau termakan hasutan senopati Kolomonggo yang selalu mendesak Beliau untuk menuruti sarannya. Setelah Raden Mahesasangkala mendengar penjelasan dari Adiknya tersebut, ia memutuskan untuk kekarang menjangan memperingati Ayahndanya tersebut, tapi ia dicegah oleh Pangeran Gunturwijaya yang kebetulan ia juga berada disitu.
"Berhenti Raden Mahesa, jangan kau bertindak gegabah dengan niatanmu itu, meskipun kau putra mahkota karang menjangan, tapi kau sekarang adalah musuh mereka, jika kau memaksa untuk pergi kesana, saya sebagai pangeran suryaloka akan menghalangimu karena keselamatanmu sekarang adalah tanggung jawab kami", kata Pangeran Gunturwijaya dengan nada berwibawa dan tegas.
__ADS_1
Raden Mahesasangkala tak bisa berbuat apa-apa setelah mendengar peringatan dari Pangeran Gunturwijaya, ia hanya terdiam diri setelah mendengar peringatan tersebut. Lalu Putri Galuhsangkala juga berkata pada kandanya yaitu Raden Mahesasangkala?
"Benar apa yang dikatakan oleh Pangeran Gunturwijaya, jika kanda Mahesa sampai pergi ke karang menjangan, pasti akan ada hal buruk yang bakal menimpa kanda disana karena kanda sekarang ini adalah buronan karang menjangan".
Setelah itu akhirnya Raden Mahesasangkala mengurungkan niatannya untuk pergi ke karang menjangan dengan alasan-alasan tertentu. Dan akhirnya setelah itu Putri Galuhsangkala segera bergegas kembali ke karang menjangan dengan menunggangi kudanya, tapi apa yang terjadi, ditengah perjalanan, Putri Galuhsangkala dihadang oleh senopati Kolomonggo beserta kedua pengawal setianya, dia mengetahui waktu kepergian Putri Galuhsangkala dari puri kadipaten karang menjangan, maka dari itu senopati Kolomonggo berusaha mengikuti dan menghadangnya ditengah perjalanan saat Putri Galuhsangkala akan kembali ke puri kadipaten karang menjangan.
"Ada apa senopati Kolomonggo, kenapa kau menghadangku, apa maksud tujuanmu senopati?", kata Putri Galuhsangkala dengan sangat penasaran.
"Maaf Putri, hamba mengikuti Putri Galuh hanya ingin memastikan keselamatan Putri, karena hamba tahu sebenarnya Putri Galuh akan pergi kemana malam-malam begini" jawab senopati Kolomonggo.
Kemudian munculah niat jahat senopati Kolomonggo pada Putri Galuhsangkala, senopati Kolomonggo tiba-tiba menghadang Putri Galuhsangkala dan menyuruhnya untuk segera turun dari kuda tunggangannya. Pada waktu itu suasana ditempat kejadian nampak sepi karena mereka semua berada di sebuah padang rumput begitu luas, sumilir angin malam dan hening suasana menambah kesan buruk pada waktu itu.
"Ada apa senopati, enapa kau tiba-tiba menghadang dan menyuruhku turun dari kuda tungganganku ini?", kata Putri Galuhsangkala yang sangat kesal dengan tindakkan senopati Kolomonggo.
"Sudah lama saya memendam hasrat padamu dan sudah lama pula saya sangat menginginkan dirimu Putri Galuhsangkala, saat inilah tiba waktunya saya harus bisa mendapatkanmu Putri!", senopati kolomonggo dengan nada yang tak mengenakkan dan dengan raut wajah mesumnya dia berani berkata seperti itu pada Putri Galuhsangkala yang sangat manis dan bertubuh indah nan molek, siapapun yang melihat akan terpana dengan kemolekkan tubuhnya karena Putri Galuhsangkala sangat terkenal dengan kemolekkan tubuhnya, dan banyak para laki-laki yang sangat tertarik padanya termasuk senopati Kolomonggo.
__ADS_1
Dengan paksa senopati Kolomonggo menarik Putri Galuhsangkala dari atas kudanya, lalu Putri Galuhsangkalapun langsung menampar pipi senopati Kolomonggo yang berlaku kasar pada dirinya, tapi senopati Kolomonggo menghiraukan tamparannya dan dia malah berusaha menyeret Putri Galuhsangkala kedalam padang rumput ilalang, tanpa ragu Putri Galuhsangkala melawan tindakkan senopati Kolomonggo dan akhirnya terjadilah pertarungan antara mereka berdua. Tapi Putri Galuhsangkala bukan tandingan bagi senopati Kolomonggo, ia dapat dengan mudah di kalahkannya begitu saja oleh senopati tersebut. Disaat Putri Galuhsangkala kalah oleh senopati Kolomonggo, lalu senopati Kolomonggo berusaha menyergap dirinya dan menjatuhkannya ditengah padang ilalang.
"Kurangajar, apa yang akan kau lakukan padaku senopati!", kata Putri Galuhsangkala pada senopati Kolomonggo.
"Malam ini saya akan menikmati tubuhmu Putri, hahaha!", senopati Kolomonggo dengan tertawa riang penuh dengan kebusukkan.
Senopati Kolomonggo merobek robek pakaian Putri Galuhsangkala hingga ia kelihatan setengah telanjang. Waktu senopati Kolomonggo akan memperkosa Putri Galuhsangkala, tiba-tiba dua pengawalnya yang mengawasinya dari kejauhan, mereka berdua tiba-tiba terkapar dan mati karena dileher mereka berdua seperti terkena sayatan benda tajam. Senopati Kolomonggo yang sempat melihat terkejut dibuatnya, sambil dia tetap memegangi dan menahan tubuh Putri Galuhsangkala yang sedang berada dibawahnya, senopati Kolomonggo berusaha menoleh kekanan dan kekiri, tapi yang dia lihat hanya padang ilalang saja disekitarnya itu. Kemudian disaat senopati Kolomonggo sedang menoleh lagi kekanan dan kekiri tiba-tiba munculah seseorang tepat didepan matanya dan seseorang itu langsung memukul wajah senopati Kolomonggo yang akan memperkosa Putri Galuhsangkala hingga terpentalah senopati Kolomonggo terkena pukulan keras dari seseorang itu.
Lalu senopati Kolomonggo tidak terima dengan perlakuan seseorang itu padanya, hingga pada akhirnya terjadilah pertarungan antara senopati Kolomonggo dengan seseorang itu yang telah menolong Putri Galuhsangkala dari kejahatan senopati Kolomonggo yang akan memperkosanya. Dan disaat senopati Kolomonggo sedang bertarung dengan seseorang itu, tiba-tiba ada dua seseorang yang menghampiri Putri Galuhsangkala dan salah satu dari kedua orang itu langsung menyapa dan bertanya pada Putri Galuhsangkala?
"Dinda Galuh, bagaimana dengan keadaanmu?", ternyata yang menyapa dan bertanya itu adalah Raden Mahesasangkala, kakak dari Putri Galuhsangkala itu sendiri.
Raden Mahesasangkala telah diberi izin keluar oleh Pangeran Gunturwijaya dengan dikawal oleh kedua pendekar hebat yaitu Sanjaya beserta Mandala, karena Raden Mahesasangkala merasa tidak tega membiarkan adiknya pergi kepuri kadipaten karang menjangan sendirian tanpa pengawalan, maka dari itu Raden Mahesasangkala memutuskan untuk mengikuti dan mengawalnya secara diam-diam tanpa sepengetahuan Putri Galuhsangkala.
Dan yang membunuh kedua pengawal senopati Kolomonggo dan juga yang memukul dirinya saat akan memperkosa Putri Galuhsangkala sebenarnya adalah Mandala. Gerakkannya tak terlihat saat membunuh kedua pengawal senopati Kolomonggo, karena Mandala telah menggunakan kemampuan teleportasinya yang bisa menghilang dan muncul dimanapun sesuka hatinya, maka dari itu kehadirannya tidak disadari oleh kedua pengawal senopati Kolomonggo dan juga tidak disadari oleh senopati Kolomonggo itu sendiri.
__ADS_1