
Singkat cerita, di kerajaan giritunggal telah terjadi perpecahan antar pembesar kerajaan tersebut.
Patih Waranggaseta sangat menentang kebijakan Raja nya yaitu Raja Sutabirawa.
Sebab menurut Patih Waranggaseta, semua kebijakan yang dikeluarkan oleh Raja nya tersebut, selama ini sangat melanggar hukum keadilan yang berada di kerajaan itu.
Maka dari itu, Patih Waranggaseta segera bergegas keluar dari pemerintahan kerajaan tersebut.
Saat Patih Waranggaseta menyatakan keluar dari pemerintahan kerajaan giritunggal, hampir setengah dari para punggawa kerajaan itu mengikuti jejak Patih Waranggaseta yaitu keluar dari jajaran pemerintahan kerajaan tersebut.
Tapi melihat tindakan Patih Waranggaseta yang ingin meninggalkan pemerintahan kerajaan giritunggal, Raja Sutabirawa tak segan-segan memberikan hukuman yang setimpal padanya.
Mengetahui bahwa dirinya telah dijatuhi hukuman oleh Sutabirawa, beliau Patih Waranggaseta marah besar.
Beliau menantang Raja Sutabirawa, jika sampai Raja Sutabirawa benar-benar berani menghukumnya, Patih Waranggaseta tak segan-segan akan memberontak padanya, dengan seluruh kekuatan yang beliau punya.
Raja Sutabirawa waktu itu mengurungkan niatnya tersebut kepada Patih Waranggaseta, tapi entah kenapa, setelah penasehat kerajaan giritunggal memberikan saran kepada Raja Sutabirawa, tak lama kemudian Raja Sutabirawa langsung berubah pikiran dan memerintahkan kepada para prajuritnya untuk segera menangkap Patih Waranggaseta beserta para pengikutnya.
Lalu bergegaslah para prajurit tersebut melaksanakan perintah dari Raja Sutabirawa.
Kemudian saat mengetahui bahwa dirinya akan ditangkap, Patih Waranggaseta beserta para pengikutnya segera lari ke tengah pemukiman para warga giritunggal dengan menunggangi kuda.
Para prajurit tersebut terus mengejar Patih Waranggaseta beserta para pengikutnya, sampai akhirnya mereka semua diketemukan di tengah pemukiman para warga giritunggal.
Ternyata itu semua adalah siasat dari Patih Waranggaseta, karena para warga giritunggal semuanya sangat mendukung aksi dari Patih Waranggaseta yang ingin membebaskan para warga tersebut dari tirani kekuasaan Raja Sutabirawa.
Akhirnya terjadi pertempuran di tengah pemukiman tersebut, antara para prajurit giritunggal melawan Patih Waranggaseta beserta para pengikutnya dan juga dibantu oleh para warga sekitar.
Dengan cepat kubu dari Patih Waranggaseta bisa dengan mudah memukul mundur para prajurit giritunggal.
Lalu para prajurit tersebut kembali ke kerajaan giritunggal dan melaporkan kejadian tersebut pada Raja Sutabirawa.
Raja Sutabirawa marah besar atas kegagalan para prajuritnya tersebut yang tidak bisa menangkap Patih Waranggaseta.
Kemudian pada malam harinya, tiba-tiba di tengah tengah pemukiman warga giritunggal ada beberapa penyusup berpakaian serba hitam dan bercadar.
__ADS_1
Para penyusup tersebut membakar pemukiman warga sekitar secara diam-diam.
Waktu itu sempat ada warga yang mengetahuinya, tapi para penyusup tersebut keburu kabur saat tugasnya membakar pemukiman warga telah terlaksana.
Para warga di pemukiman tersebut semua nampak panik, kebingungan dan ketakutan, karena mereka semua menyadari bahwa yang membakar pemukiman mereka adalah ulah orang-orang suruhan dari Raja Sutabirawa.
Lalu setelah Patih Waranggaseta mengetahui hal tersebut atas pembakaran pemukiman para warga giritunggal, malam itu juga Patih Waranggaseta beserta para pengikutnya akan memberikan serangan balasan pada Raja Sutabirawa.
Tapi rencana itu dicegah oleh sesepuh desa, karena jika kita menyerang balik, bisa bisa Raja Sutabirawa akan semakin gila lagi membuat sengsara para warganya.
Kemudian mendengar perkataan dari sesepuh desa, Patih Waranggaseta mengurungkan niatnya tersebut.
Keesokan harinya Raja Sutabirawa membuat sayembara, barang siapa yang bisa menangkap Patih Waranggaseta hidup atau mati, akan diberikan hadiah besar berupa seratus keping uang emas dan sepuluh ekor kerbau dan sepuluh ekor sapi.
Kemudian Patih Waranggaseta yang mengetahui sayembara itu dari salah satu pengikutnya, beliau segera bergegas meninggalkan pemukiman tersebut beserta para pengikutnya.
Sebab dengan banyaknya hadiah yang ditawarkan dalam sayembara tersebut, bukan tidak mungkin, pasti banyak orang yang akan memburu Patih Waranggaseta.
Maka dari itu, Patih Waranggaseta memutuskan untuk pergi dan bersembunyi didalam hutan giritunggal bersama para pengikutnya untuk menghindari sayembara tersebut.
"Tenanglah kalian semua, tidak lama lagi kita akan terbebas dari ini semua", Patih Waranggaseta.
Kemudian Patih Waranggaseta mengutus dua pengikutnya untuk segera meminta bantuan ke kerajaan giriseta, dan menceritakan tentang hal ini semua kepada Raja Dasabirawa.
Singkat cerita, saat kedua utusan Patih Waranggaseta tiba di kerajaan giriseta, mereka segera menceritakan semua hal tentang yang terjadi di giritunggal.
Lalu Raja Dasabirawa yang mendengar cerita tersebut segera memberikan bantuan pasukan pada Patih Waranggaseta.
Menurut Raja Dasabirawa, keponakannya yaitu Raja Sutabirawa sudah tidak bisa dibiarkan seperti itu terus terusan, karena jika dia tetap berkuasa di giritunggal dengan cara seperti itu, bisa bisa warga giritunggal bisa habis dibunuhnya suatu saat.
Lalu waktu itu Raja Dasabirawa juga mengirimkan pesan kepada kerajaan suryaloka.
Pesan tersebut dikirimkan lewat udara yang diterbangkan oleh burung rajawali pilihan, sehingga pesan tersebut cepat sampai di kerajaan suryaloka.
Beberapa waktu kemudian tibalah pesan tersebut pada malam hari di kerjaan suryaloka.
__ADS_1
Oleh para prajurit pesan itu segera diserahkan kepada Mahapatih Damarwijaya.
Kemudian Mahapatih Damarwijaya menyuruh prajuritnya untuk memanggil begawan Winara.
Lalu pada beberapa saat kemudian berkumpulah para kesatria suryaloka yaitu Mahapatih Damarwijaya, begawan Winara, Pangeran Gunawijaya, Pangeran Gunturwijaya, Pangeran Jatiwijaya dan juga Pangeran Kasimwijaya.
Mereka semua membahas tentang isi pesan yang dikirim oleh Raja Dasabirawa.
Isi pesan tersebut menceritakan tentang kemelut yang terjadi pada giritunggal.
"Dengan kondisi dan situasi yang seperti ini, apakah kita seharusnya mengirim pasukan bantuan pada Patih Waranggaseta", tanya Mahapatih Damarwijaya pada penasehat kerajaannya yaitu kanjeng Abdi pranata suryaloka atau biasa dipanggil dengan sebutan begawan Winara.
"Menurut hamba, memang seharusnya kita mengirim bantuan pasukan pada Patih Waranggaseta", begawan Winara berkata.
"Memang benar apa yang dikatakan oleh begawan Winara, sebab menurut apa yang saya lihat saat ini, suryaloka benar-benar memiliki kekuatan yang sangat besar dari segala lini", Pangeran Gunawijaya berkata pada paman nya yaitu Mahapatih Damarwijaya.
Kemudian para kesatria kesatria tersebut yang sedang berkumpul membahas masalah giritunggal, akhirnya mereka menyusun strategi untuk bisa menyelamatkan giritunggal dari kemelut tersebut.
Lalu Mahapatih Damarwijaya memerintahkan begawan Winara untuk mengirimkan seratus pasukan bantuan kepada Patih Waranggaseta.
Dalam keseratus pasukan bantuan tersebut, begawan Winara memasukkan kedua pengawal setianya yaitu Soma dan Wiryo.
Soma ditunjuk menjadi ketua bagi para pasukan bantuan tersebut.
Lalu Mahapatih Damarwijaya memerintahkan Pangeran Kasimwijaya dan senopati Kuncoro yang didampingi oleh dua puluh pasukan khusus prajaloka untuk melaksanakan misi pembebasan Putri Senjabirawa dari tahanan giritunggal.
Dan yang ditunjuk sebagai ketua pasukan pembebasan tersebut adalah senopati Kuncoro.
Kemudian dari semua pasukan yang dikirim oleh suryaloka, mereka semua harus dalam mode penyamaran.
Harus menghilangkan semua yang berbau suryaloka pada diri mereka semua.
Dan akhirnya mereka semua berpakaian serba hitam, dan hanya memakai tanda dengan mengikatkan sehelai janur kuning dilengan kiri mereka semua.
Sebab apa yang mereka lakukan sama dengan yang dilakukan oleh pasukan bantuan dari giriseta, cuma para pasukan bantuan dari giriseta mereka mengikatkan sehelai janur kuning dilengan kanan nya.
__ADS_1