
Ketiga pendekar kembar itu bernama Kan, Kin, Kun, siapapun tidak ada yang selamat jika melawannya, mereka bergabung dengan sesosok misterius karena ingin membalas budi mereka sewaktu dulu, sebab dulu sewaktu mereka terkena kutukkan Maha Resi Brata guru dari mendiang Maha Raja Aryawijaya, yang menyelamatkan kutukkan mereka adalah sesosok misterius. Mereka dikutuk tak bisa menggunakan kedua tangannya karena dulu meraka adalah penjahat kelas kakap yang suka membunuh, merampok, memperkosa dan lain-lainnya, akhirnya setelah mereka dikalahkan dan dikutuk oleh Maha Resi Brata, mereka tak berdaya dan tak bisa berbuat kejahatan lagi. Kutukkan tersebut membuat lumpuh kedua tangan mereka, dan pada akhirnya sesosok misteriuslah yang memulihkan kedua tangan mereka bertiga, itulah sebabnya kenapa Kan, Kin, Kun menjadi pengikut sesosok misterius.
Kemudian pertarungan senopati Balamarwan melawan Kan dan Kin sangat menegangkan, senopati Balamarwan berusaha mengimbangi serangan tombak mereka dengan menggunaka trisula kembarnya, tapi meski Kan dan Kin menyerang bertubi-tubi dengan senjata tombaknya tapi senopati Balamarwan masih terbilang hebat melawannya dengan trisula kembarnya. Lalu Pangeran Jatiwijaya yang menghadapi Kun, ia sangat bersemangat melawannya, serangan tombak Kun belum juga berhasil mengenainya tapi serangan cumeti Pangeran Jatiwijaya benar-benar membuat Kun kuwalahan.
"Kin, orang ini ternyata hebat juga, serangan tombak kita selalu dipatahkannya?", kata Kan yang sedang melawan senopati Balamarwan.
"Iya kanda, ternyata orang ini tidak bisa diremehkan!", jawab Kin yang juga melawan senopati Balamarwan.
"Jangan banyak bicara kalian, ayo maju!", tantangan senopati Balamarwan pada Kan dan Kin.
__ADS_1
Akhirnya Kan dan Kin langsung menyerang senopati Balamarwan dengan sekuat tenaga karena senopati Balamarwan tak mudah dikalahkan, dengan kejelian matanya senopati Balamarwan dapat mematahkan setiap serangan tombak bayangan Kan dan Kin menggunakan trisula kembarnya. Kan dan Kin akhirnya mempercepat serangan tombak bayangannya itu, dengan serangan yang ini senopati Balamarwan sempat kuwalahan, tapi ia tak menyerah begitu saja dengan serangan brutal tombak bayangan tersebut. Akhirnya terkena juga salah satu lengan senopati Balamarwan dengan serangan salah satu tombak tersebut, tombak milik Kan berhasil menggores lengan senopati Balamarwan, tapi apa yang terjadi pada lengan senopati Balamarwan, Kan sangat terkejut melihatnya.
"Ha!, kenapa lengannya tidak berdarah, padahal serangan tombak bayanganku tepat mengenai lengan dia, siapa dia sebenarnya?", Kan sangat terkejut dan penasaran melihat senopati Balamarwan yang tak bisa berdarah meski lengannya terkena serangan tombak bayangan.
"Kin, hati-hati dengan orang ini, sepetinya dia bukan manusia!", Teriak Kan pada saudara kembarnya.
"Iya kanda, saya mengerti!", jawab Kin dengan lantang.
Ketiga pendekar kembar itu memilik karakter yang aneh tingkah lakunya seperti orang konyol, kadang didalam gerak-geriknya mereka bertiga, Kan, Kin dan Kun selalu tertawa-tawa tidak jelas, tapi didalam sikapnya yang seperti itu mereka berdua adalah pendekar haus darah. Sesosok misterius tertarik padanya karena mereka bertiga memiliki sifat haus darah, maka dari itu sesosok misterius berani merengkrutnya untuk dijadikan alat pembunuh. Kan, Kin, Kun termasuk bagian dari tangan kanan sesosok misterius, dengan para tangan kanan yang lainnya, mereka semua tunduk patuh pada perintah sesosok misterius.
__ADS_1
Kemudian didalam pertarungan itu senopati Balamarwan yang terkena serangan jurus tombak bayangan milik salah satu dari ketiga pendekar tersebut, ia segera mengeluarkan jurus trisula angin miliknya. Dengan jurus itu senopati Balamarwan bisa menghempaskan angin sekencang-kencangnya dari senjata trisula kembarnya, dan kekuatan hempasan angin itu bisa mnghancurkan benda sekeras apapun. Kan dan Kin awalnya hanya meremehkan jurus tersebut, tapi setelah mereka berdua melihat kekuatannya, gemetarlah Kan dan Kin dibuatnya, akhirnya mereka berdua sangat berhati-hati saat melawan senopati Balamarwan, dan pertarungan mereka terus berlanjut.
Dilain sisi senopati Balawarman yang menghadapi ketua para pendekar aliran hitam itu yang bernama Prayoga, pertarungan mereka masih berimbang, keduanya masih sama-sama saling serang dengan kemampuan bela dirinya masing masing, Prayoga sebagai ketua para musuh, dia termasuk salah satu bagian dari tangan kanan sesosok misterius. Prayoga sebagai ketua para musuh kemampuan dia sangat hebat lebih hebat dari ketiga pendekar kembar tersebut, dia memiliki ajian Bandung Bondowoso yang sangat tersohor dikalangan dunia para pendekar. Prayoga sebenarnya adalah saudara seperguruan Sanjaya sipendekar kujang kelana, dia bergabung dengan aliran hitam karena dia merasa terhianati oleh saudara seperguruannya yaitu sanjaya.
Dulu sebenarnya mereka berdua adalah sepasang pendekar kujang kelana karena mereka berdua dari satu perguruan yang sama, setelah mereka lulus dari perguruannya itu, lalu mereka turun gunung menjadi pembela kebenaran, mereka juga kerap jadi pengawal bayaran dari para pembesar-pembesar kerajaan, karena nama besar mereka berdua sudah sangat terkenal dikalangan dunia persilatan, soal kemampuan bela diri dan kanuragan mereka berdua tidak bisa diremehkan.
Pada mulanya hubungan Sanjaya dan saudara seperguruannya yaitu Prayoga sangat baik, mereka berdua selalu membela kebenaran bersama, nama mereka semakin tenar setelah mereka berhasil menghancurkan gembong perampok yang sangat sakti yang bernama Sulaya. Sulaya adalah perampok sakti mandraguna dia kalah bertarung melawan mereka berdua yaitu Sanjaya dan Prayoga, dan akhirnya Sulaya mati terkena serangan senjata kujang milik Prayoga.
Waktu dalam pertarungan Sanjaya berhasil melukai kaki Sulaya dengan kujangnya hingga Sulaya hilang keseimbangan untuk berdiri, disaat dia terjatuh lalu Prayoga melemparkan salah satu kujangnya tepat menancap dikening Sulaya dan pada akhirnya matilah Sulaya terkena serangan senjata kujang kembar milik Prayoga. Setelah Sulaya mati, Sanjaya yang berada didekatnya ia mencabut kujang milik Prayoga yang telah menancap dikening Sulaya dan disaat Sanjaya sedang mencabut kunjang tersebut waktu itu ketepatan ada beberapa warga yang melintas dan menyaksikannya. Dari situlah nama Sanjaya lebih terkenal dibanding Prayoga karena warga yang kebetulan melintas melihat Sanjaya mencabut sanjata kujang yang tertancap dikening Sulaya, maka dari itu para warga menyimpulkan bahwa yang membunuh gembong para perampok yang benama Sulaya itu adalah Sanjaya. Akhirnya dari situlah terjadi kesalah pahaman antara mereka berdua yaitu Prayoga dan Sanjaya, sebab Prayoga merasa kenapa yang lebih tenar namanya malah Sanjaya bukannya dirinya yang sebenarnya telah membunuh Sulaya dengan meleparkan salah satu kujangnya hingga mengenai kening Sulaya hingga tewas.
__ADS_1
Kemudian pasca kejadian itu Prayoga memutuskan untuk pergi meninggalkan Sanjaya, dia memberikan senjata kujangnya pada Sanjaya karena jika dia tetap membawanya, dia khawatir akan selalu teringat kejadian tersebut, maka dari itu dia memberikannya pada Sanjaya sebagai kenang-kenangan dari saudara seperguruan sekaligus sahabat karipnya. Kujang kembar milik Sanjaya berlambangkan petir, sedangkan kujang kembar milik Prayoga berlambangkan api. Setelah kepergian Prayoga, julukan pendekar kujang kelanapun hanya milik Sanjaya, padahal julukan itu milik mereka berdua Sanjaya dan Prayoga.
Pada akhirnya Prayoga memutuskan bergabung dan menjadi pengikut setia sesosok misterius yang menolongnya dari kegalauan hatinya pasca kejadian tersebut dan sesosok mesteriuspun memberinya kesaktian berupa ajian bandung bondowoso kepada Prayoga dan dijadikanlah dia sebagai tangan kanannya. Dari situlah awal kebangkitan Prayoga dari keterpurukan kegalauan hatinya pasca kejadian tersebut, dia bangkit menjadi pendekar aliran hitam penebar teror, lalu dia terkenal dengan sebutan pedekar api hitam tanah sunda yaitu Prayoga.