PRAHARA TANAH JAWA

PRAHARA TANAH JAWA
81. Kekalahan sang punggawa


__ADS_3

Lalu saat raden Bambangsuroto akan segera dilepaskan, tiba-tiba ada salah satu prajurit paralayang yang sudah bergabung dengan pasukan Patih Linduaji, prajurit itu berbisik pada Patih Linduaji bahwa sebenarnya para wanita wanita korban dari kejahatan adipati Ganjarsuroto telah dipindahkan ditempat rahasia yang sudah disiapkan jauh-jauh hari oleh adipati tersebut.


Kemudian adipati Ganjarsuroto yang melihatnya nampak cemas akan bisikan dari prajurit tersebut pada Patih Linduaji.


"Kenapa putra hamba raden Bambangsuroto tidak jadi dilepaskan gusti Patih, apa ada yang salah dengannya", kata adipati Ganjarsuroto.


"Ya memang ada yang salah, tapi yang salah adalah rencana busukmu adipati, kau telah menyembunyikan para wanita wanita tersebut ditempat rahasia yang sudah kau siapkan", jawab Patih Linduaji pada adipati Ganjarsuroto.


Tiba-tiba datanglah sebauh kereta kuda, dan diatas kereta tersebut berteriaklah seseorang yang berkata, "kamilah para korban korban tersebut gusti Patih", ternyata yang berteriak dan berkata itu adalah Sundari.


Sundari sengaja mengarahkan kereta kudanya ke istana paralayang, karena dia dari kejauhan tanpa sengaja telah melihat rombongan Pangeran Jatiwijaya beserta Patih Linduaji.


Awalnya Sundari tidak menghiraukan rombongan tersebut, tapi setelah beberapa lama kemudian dia berubah pikiran dan segera menyusul rombongan itu yang menuju ke istana paralayang.


Ternyata dengan kehadiran dan kesaksian dari Sundari dan para wanita wanita itu, akhirnya Patih Linduaji punya bukti yang sangat kuat untuk segera menangkap adipati Ganjarsuroto dari kejahatannya tersebut.


"Pasukan segera tangkap adipati Ganjarsuroto!", perintah Patih Linduaji.


Kemudian saat adipati Ganjarsuroto akan segera ditangkap, para senopati dan prajurit paralayang melindunginya.


"Segera amankan kanjeng adipati Ganjarsuroto", perintah salah satu senopati kepercayaan adipati tersebut pada para prajuritnya.


"Jika kalian semua para prajurit paralayang berani menghalangi tujuanku untuk menangkap adipati Ganjarsuroto, akan ku hancurkan kalian semua", ketegasan Patih Linduaji.


Ternyata para prajurit paralayang tetap ngotot melindungi junjungan mereka yaitu adipati Ganjarsuroto.


Dengan sangat terpaksa, akhirnya Patih Linduaji memerintahkan para pasukannya untuk menyerang para prajurit paralayang.


Dan akhirnya pertempuranpun terjadi diistana paralayang.


Sedangkan adipati Ganjarsuroto berhasil diamankan oleh para prajuritnya didalam istana paralayang.


Lalu Patih Linduaji memerintahkan Pangeran Jatiwijaya dan kedua senopati Balawarman beserta Balamarwan untuk menangkap adipati Ganjarsuroto yang telah kabur kedalam istananya.


Para prajurit paralayang tidak ada yang sanggup mencegah ketiga kesatria tersebut yaitu Pangeran Jatiwijaya, senopati Balawarman dan juga senopati Balamarwan, sebab ketiga kesatria itu berilmu tinggi.

__ADS_1


Tapi tak disangka, ternyata adipati Ganjarsuroto mempunyai dua orang punggawa hebat yang bernama Bagas dan Parta.


Kedua punggawa tersebut berhasil membuat ketiga kesatria itu kerepotan.


Kemudian Pangeran Jatiwijaya menghadapi Bagas dan senopati Balawarman beserta senopati Balamarwan menghadapi Parta.


Bagas sangat lincah, dia membuat Pangeran Jatiwijaya keteteran.


Tapi meski keteteran, Pangeran Jatiwijaya masih bisa mengimbangi Bagas dalam adu bela diri.


"Hebat juga punggawa ini, aku harus berhati-hati untuk menghadapinya", kata Pangeran Jatiwijaya dari dalam hatinya.


"Apa cuma sebatas itu kemampuanmu Pangeran Jatiwijaya", kata punggawa tersebut yang bernama Bagas dengan sombongnya.


Kemudian pertarungan mereka berdua terus berlanjut, hingga pada akhirnya karena kesombongannya, Bagas si punggawa itu terkena serangan dari Pangeran Jatiwijaya dengan bertubi-tubi.


Bagas sangat tidak terima dengan serangan dari Pangeran Jatiwijaya yang telah mengenainya, akhirnya Bagas mengeluarkan jurus tangan kamatian.


Seketika itu tangan Bagas berlipat ganda menjadi enam bagian membuat serangan jurus jurusnya semakin menggila.


"Untuk melawanku kau sampai keluarkan keenam tanganmu punggawa", kata Pangeran jatiwijaya pada Bagas.


"Ya, keenam tanganku memang harus kukeluarkan, karena agar mudah mengirimmu ke neraka", jawab Bagas yang merasa yakin dirinya akan memenangkan pertarungan tersebut.


"Baiklah, jika kau bisa memperbanyak tanganmu menjadi enam bagian, aku pun akan membuat diriku menjadi dua bagian untuk melawanmu punggawa", Pangeran Jatiwijaya dengan keyakinan yang tinggi.


Kemudian Pangeran Jatiwijaya mengeluarkan cumeti banas patih dan merubah cumeti tersebut menjadi seekor ular merah besar, dan pada akhirnya ular tersebut menjelma menjadi Pangeran Jatiwijaya.


Kini ada dua Pangeran Jatiwijaya yang akan melawan Bagas dengan keenam tangannya.


Lalu pertarungan pun tak terelakkan lagi, jurus jurus maut mereka saling keluarlah.


Kedua wujud Pangeran Jatiwijaya berhasil membuat Bagas kerepotan meski dia memiliki enam tangan.


Dengan ke enam tangannya kini Bagas tak lagi lincah lagi, tapi kekuatannya meningkatkan dengan pesat.

__ADS_1


Meskipun begitu yang Bagas lawan adalah kesatria hebat yaitu Pangeran Jatiwijaya, jadi kali ini Bagas menemukan lawan yang sangat berat.


Berkali-kali Bagas menyerang dengan kekuatan hebatnya tersebut, kedua wujud Pangeran Jatiwijaya selalu bisa mematahkannya.


Bagas sangat terkejut dengan apa yang dia alami saat ini, sebab biasanya tidak ada orang yang selamat jika Bagas sudah mengeluarkan jurus tangan kematian, yang membuat tangan Bagas menjadi enam bagian.


Kemudian dalam pertarungan itu Bagas dibuat kewalahan oleh setiap serangan dari kedua wujud Pangeran Jatiwijaya.


Dengan hebatnya salah satu wujud Pangeran Jatiwijaya yang asli berhasil mencabut salah satu dari ke enam tangan Bagas.


Bagas pun meronta kesakitan, dia segera kabur dari pertarungan tersebut, tapi kedua wujud Pangeran Jatiwijaya tidak membiarkannya untuk dia bisa kabur dari pertarungannya itu.


Kini Bagas hanya memiliki lima tangan, yang membuatnya jadi lemah untuk bisa melawan kedua wujud Pangeran Jatiwijaya yang sangat hebat.


Tidak ada pilihan lain, akhirnya Bagas bersujud dan memohon ampun pada Pangeran Jatiwijaya.


Sebagai seorang kesatria, pantang untuk menyerang lawannya jika lawannya itu sudah tidak berdaya lagi.


Akhirnya Pangeran Jatiwijaya mengampuni Bagus dan menyuruhnya pergi dari hadapannya.


Tapi saat Pangeran Jatiwijaya terlena, tiba-tiba Bagus dengan cepat mengambil pedang yang tengah tergeletak didekatnya, dan lalu menusuk Pangeran Jatiwijaya dengan pedang tersebut.


Sungguh disayangkan, ternyata yang ada didepan Bagas dan yang sudah ditusuknya itu adalah bukan wujud Pangeran Jatiwijaya yang asli, karena wujud Pangeran Jatiwijaya yang asli berada dibalik tiang besar istana paralayang, sebab Pangeran Jatiwijaya lebih cerdik dari Bagas dalam urusan pertempuran.


Seketika itu salah satu wujud Pangeran Jatiwijaya yang telah ditusuk oleh Bagas, berubah menjadi ular merah besar dan kemudian menggigit leher Bagas hingga dia sekarat.


Setelah kejadian itu, Pangeran Jatiwijaya keluar dari balik tiang istana, dan berkata pada Bagas yang sedang sekarat, "itulah buah dari kejahatanmu punggawa, yang telah berpihak pada orang yang salah yaitu adipati Ganjarsuroto".


Setelah itu Bagas pun tewas didepan Pangeran Jatiwijaya.


Kemudian Pangeran Jatiwijaya segera mencari adipati Ganjarsuroto didalam istananya tersebut.


Tapi istana itu sangat besar sekali, sangat sulit untuk mencari adipati Ganjarsuroto sendirian, maka dari itu Pangeran Jatiwijaya memerintahkan ular merah besarnya yang berasal dari jelmaan cumeti banas patinya untuk membantu mencari adipati Ganjarsuroto.


Akhirnya untuk mempermudah pencarian tersebut, ular merah besar itu membelah dirinya menjadi ratusan ular ular kecil.

__ADS_1


__ADS_2