
sedangkan di koridor istana Aqila berjalan dengan santai tanpa memperdulikan hal sekitar.
Lila yang sejak tadi diam memikirkan kejadian tadi merasa penasaran kenapa Aqila memaafkan kesalahan putri Lian zu dengan mudah hanya karena Liu Wei memintanya.
padahal selama ini gadis itu tidak pernah membiarkan orang-orang yang telah berani mengusik ketenangan hidupnya berakhir dengan baik.
begitupun dengan yang di pikirkan oleh Lin Shan, pemuda tersebut ingin menanyakannya langsung tapi dia tidak cukup berani untuk menambah kekesalan gadis itu.
di tengah keheningan dari arah belakang sebuah suara memanggil salah satu dari mereka berempat, terpaksa ke empatnya harus menghentikan langkah.
"tunggu nona Aqila"
Aqila membalik badan untuk melihat siapa yang telah berani menghentikan langkahnya.
seorang pemuda tampan dengan tubuh atletis berjalan mendekat setelah di amati ternyata dia adalah jendral jiazchen.
entah apa yang di inginkan pemuda itu, yang jelas aqila tidak ingin membuang waktu terlalu lama di kerajaan ini.
karena masih ada banyak pekerjaan yang harus Aqila selesaikan secepatnya sebelum dia pergi ke dunia atas memenuhi wasiat sang ibu.
"ada kepentingan apa hingga jendral Jiazchen menghentikan perjalanan kami"
ucap Lin Shan to the point karena dia tau aqila tidak suka berbasa-basi.
"ah maaf tapi saya ingin berbicara dengan nona Aqila apa boleh"
jiazchen menjawab dengan tergagap sebab sejak tadi perhatiannya hanya tertuju pada gadis itu.
"sepert...."
Lin Shan hendak menjawab lagi tapi Aqila sudah lebih dulu memotong perkataan tersebut.
"ada apa, saya tidak punya banyak waktu"
tanya gadis itu yang tidak memberi kesempatan pada Lawa bicaranya untuk sekedar berbasa-basi terlebih dulu.
"sepertinya benar kau sudah melupakan ku"
jiazchen mengubah nada bicaranya menjadi sedikit lebih rendah juga ekspresi wajah yang terlihat menunjukkan kekecewaan.
"maksud anda"
meski mengatakannya dengan rendah tapi Aqila masih bisa mendengar perkataan tersebut.
"qila aku azchen teman masa kecil mu kau melupakannya"
karena hanya di beri waktu sedikit pemuda itu mencoba memberanikan diri mengingatkan sesuatu yang dulu pernah terjadi di antara mereka.
"saya tidak ingat"
"baiklah akan aku jelaskan, sepuluh tahun yang lalu..."
Jiazchen mulai menceritakan kejadian di sepuluh tahun yang lalu.
flashback,,,
di perbatasan hutan seorang gadis manis berusia sepuluh tahun tengah meringkuk ketakutan dengan air mata yang membasahi seluruh wajahnya.
tidak jauh dari lokasi gadis itu sebuah rombongan dari luar wilayah terdengar semakin mendekat.
ringkikan kuda-kuda mereka semakin menambah ketakutannya, hingga gadis berusia sepuluh tahun itu tidak berani mengangkat kepala.
"ayah Aqila takut"
dia terus menggumakan kata-kata itu berulang kali di sela tangisannya.
"jangan takut kami tidak akan menyakiti mu"
__ADS_1
ucap seseorang yang kini tepat berada di hadapannya.
"hiks ayah Aqila ingin pulang"
gadis tersebut tidak menghiraukan perkataan orang di depannya yang ada tangisannya semakin menjadi.
"hey angkat kepala mu"
merasa tidak di hiraukan orang itu mengeraskan suara agar gadis di depannya mau menatap ke arahnya.
"kau siapa"
dan benar saja gadis itu mendongakkan kepalanya dengan wajah yang terlihat sangat menyedihkan.
"perkenalkan aku jiazchen kau bisa memanggil ku azchen, siapa nama mu"
ucapnya mencoba memperkenalkan diri, sedangkan yang lain hanya diam menyaksikan pembicaraan tersebut
"Han Aqila"
"baiklah aku akan memanggil mu dengan nama qila saja, apa kau ingin pulang"
tanya jiazchen yang memanggil nama gadis itu dengan nama belakangnya saja
"hm"
mendengar panggilan tersebut gadis bernama Aqila tidak merasa keberatan sama sekali, perlahan dirinya sudah merasa lebih tenang dari sebelumnya
"Ayo, aku antar"
jiazchen bangkit dari posisi sambil mengulurkan salah satu tangannya untuk membantu gadis itu berdiri
"tidak"
karena tidak saling mengenal aqila menolak ajakan tersebut
Jiazchen bertanya dengan ekspresi datar nada bicaranya kembali terdengar tidak bersahabat.
"hm"
meski begitu dengan polos Aqila menganggukan kepala membuat semua orang hampir tertawa.
"tenang saja kami bukan penjahat, kau tinggal dimana"
seorang pria paruh baya berjalan mendekat ke arah mereka berdua dengan sedikit senyuman.
"ibu kota kerajaan Cang'an"
"kebetulan kami juga ingin pergi ke sanah apa kau mau ikut atau tetep di sinih, tapi aku tidak menjamin jika sesuatu tidak akan terjadi pada mu gadis cantik"
ucap pria paruh baya itu setelah dia tiba di depan mereka berdua
"qila ikut kakak azchen saja, disini sangat menakutkan"
"pintar ayo naik"
setelahnya mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju wilayah ibu kota kerajaan Cang'an.
flashback off,,,
"dan sejak kejadian hari itu kita menjadi teman kita juga sering menghabiskan waktu bermain bersama, tapi sayang aku harus kembali ke kerjaan xingsheng setelah satu Minggu lamanya kita menjalin pertemanan"
setelah menceritakan segalanya jiazchen menghela nafas panjang
"sepertinya saya mengingat sesuatu nona, bukankah nona pernah menceritakannya kepada saya"
Lila yang saat itu berusia lebih tua dari Aqila mengingat kembali kejadian di masa lalu persis seperti yang di ceritakan
__ADS_1
"mungkin"
Aqila hanya menjawab seadanya sebab dia tau betul bukan dirinya yang di maksud melainkan sang adik.
"tidak masalah jika kau tidak mengingatnya qila aku sudah cukup senang bisa melihat mu lagi, sekarang kau semakin cantik"
jiazchen mulai menunjukkan senyum manisnya berharap hubungan mereka kembali dekat.
"terimakasih"
seolah tidak terpengaruh Aqila masih menjawab datar setiap pertanyaan yang di ajukan padanya
"apa kau akan kembali hari ini juga"
"hm"
"boleh aku minta sedikit waktu mu, aku ingin mengulang kenangan kita dulu sebelum kau kembali ke kerajaan mu"
Jiazchen kembali memberanikan diri mengungkapkan keinginannya yang selama ini dia impikan.
"maaf tapi nona kami tid..."
karena merasa cemburu Lin Shan hendak menolak ajakan tersebut tapi lagi-lagi ucapannya di potong oleh Aqila.
"baiklah"
dengan mudah Aqila menyetujui permintaan jiazchen membuat pemuda itu senang bukan main.
"sungguh kau bersedia pergi dengan ku qila"
ucap jiazchen kembali mengkonfirmasi apa yang dia dengar barusan benar atau tidak.
"hm"
Aqila menganggukan kepala sebagai jawaban membuat senyum jiazchen semakin cerah.
"baiklah sore nanti aku akan menjemput mu di penginapan"
"hm"
"sampai bertemu nanti sore qila"
setelahnya Aqila dan yang lain mulai melangkah pergi meninggalkan jiazchen seorang diri.
di sepanjang perjalanan menunju penginapan Lin shan diliputi rasa cemburu saat mengingat kembali pembicaraan Aqila dan jiazchen sebelumnya.
pemuda itu juga merasa tidak menyangka bahwa aqila akan menyetujui ajakan jiazchen dengan mudah.
padahal ia berniat untuk menolaknya karena selama ini Aqila tidak pernah menggubris hal-hal seperti itu.
Lila yang sejak tadi diam-diam mengamati perubahan ekspresi Lin Shan juga merasa cemburu.
"sepertinya ada cinta bertepuk sebelah tangan di sinih"
celoteh Bai lu pelan membuat Lila mengarahkan pandangannya ke arah gadis itu.
"kau mengatakan apa"
tanya Lila penasaran karena dia tidak mendengar jelas apa yang bai Lu katakan barusan sebab pikirannya hanya tertuju pada Lin Shan.
"ah tidak ada"
jawab bai Lu mencari alasan karena dia tidak berniat menjelaskannya.
hey ketemu lagi sama author ada yang rindu sama Aqila gak hehehe๐๐
maaf yh kalo masih belum bisa crezy up karena kesibukan author di dunia nyata yang bikin pala hampir pecah๐lebay banget dah๐๐
__ADS_1
sehat selalu untuk kalian semua dan see you next time di episode berikutnya ๐๐