
srak
bugh
dukk
pertarungan terus berlangsung sesekali Aqila melihat ke atas langit untuk memastikan sesuatu.
"Lin Shan kita harus segera memasuki formasi, gerbang dunia akan tertutup"
"baik nona"
Lin Shan meraih tangan Aqila sambil melesat mundur ke arah Formasi gadis itu sudah nampak lemah Karena kehabisan energi.
kelompok pria bertopeng tidak tinggal diam mereka langsung mengejar keduanya.
tidak ada jalan lagi Lin Shan terpaksa menggunakan kekuatan sihirnya yang mungkin menimbulkan kerusakan lain di wilayah tersebut.
pemuda itu di ajari kekuatan sihir oleh Aqila ketika gadis itu memberitahukan bahwa dirinya memiliki akar Sihir dan mereka akan segera pergi ke dunia atas.
duarrr
suara ledakan dari sihir yang Lin Shan arahkan pada kelompok pria bertopeng itu dapat menghambat sedikit pergerakan mereka.
melihat itu Lin Shan kembali menarik tubuh Aqila memasuki formasi dan seketika itu gerbang dunia kembali tertutup.
"sial"
umpat ketua kelompok tersebut dengan amarah yang nampak memuncak.
"tuan"
"diam"
bawahan pria itu hanya biasa diam menunggu kemarahan tuan-nya mereda dari pada mereka harus menjadi sasaran kemarahan-nya.
melihat tidak ada lagi kesempatan mereka akhirnya kembali ke asal.
sedangkan Lin Shan dan aqila masih terjebak di dalam formasi, karena ada begitu banyak lapisan dunia yang bisa saja membawa mereka ke tempat yang salah.
"nona"
tanya Lin Shan dengan ekspresi cemas sebab daya tubuh Aqila semakin menutun.
"tenanglah aku baik-baik saja"
ucap Aqila, dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan pemuda tersebut.
Lin Shan tersenyum hampa mendengar penuturan itu. dia tau betul bahwa gadis itu sedang berbohong padanya.
bruk
Lin Shan dan aqila terjatuh di suatu tempat saat gerbang dunia kembali terbuka, mereka akhirnya sampai di dunia atas.
hal pertama yang menjadi pemandangan adalah kabut tebal menutupi wilayah tersebut.
__ADS_1
karena sudah tidak lagi memiliki tenaga aqila jatuh pingsan di pelukan pemuda itu.
"nona, anda baik-baik saja"
Lin Shan menepuk pelan wajah gadis itu untuk memastikan keadaan-nya namun Aqila tidak bergeming atau mengeluarkan suara.
seketika itu juga Lin Shan di buat panik dia langsung menggendong tubuh Aqila untuk mencari penginapan.
namun hal itu tidaklah semudah yang di bayangkan, karena selama mereka berjalan tidak ada penginapan satu pun yang mereka temui.
"nona bertahanlah"
Lin Shan bingung harus melakukan apa dia terus melangkah ke sembarang arah berharap bisa menemukan tempat untuk berteduh.
satu jam mencari akhirnya mereka sampai di sebuah hutan setelah tadi melewati padang rumput kering.
hal pertama yang ada dalam anggap pemuda itu, adalah bahwa dunia atas jauh berbeda dari dunia tempat-nya tinggal.
Lin Shan membaringkan tubuh Aqila di bawah pohon rindang, Langit sudah berubah malam kala itu udara dingin mulai menyeruak hingga ke tulang.
"nona anda demam"
ucap Lin Shan saat melihat wajah Aqila kian memucat dan bibir membiru serta tubuh menggigil hebat.
panik dan cemas yang kini pemuda itu rasakan atas kondisi Aqila saat ini.
setelah membaringkan tubuh Aqila Lin shan pergi mencari air untuk meredam suhu panas-nya.
sebelum pergi Lin memasang pelindung terlebih dulu agar tidak ada hal buruk yang menimpa gadis itu selama dirinya pergi.
sepuluh menit berlalu Lin Shan kembali ke tempat Aqila sambil membawa sebotol air sungai yang tidak sengaja pemuda itu temukan di tengah hutan.
setelah sampai di hadapan gadis itu dia merobek sebagian pakaian-nya kemudian membasahinya dengan air baru setelah itu dia menempelkan kain tersebut di kening aqila sambil sesekali mengecek suhu tubuh-nya.
bukanya membaik Aqila malah semakin menggigil sambil menggumakan sesuatu yang tidak jelas terdengar.
melihat hal itu Lin Shan semakin khawatir, karena tidak punya pilihan lain lagi ia kembali merobek sebagian pakaian-nya kemudian mengikat kain itu menutup mata.
dia juga melepas pakaian tersebut hingga kini hanya bertelanjang dada.
Lin Shan memindahkan tubuh Aqila masuk ke dalam pelukannya kemudian menyelimuti tubuh gadis itu dengan pakaian-nya.
berharap dengan begini Aqila akan merasa lebih baik.
"maaf atas kelancangan saya nona, anda sebenarnya kenapa jangan membuat saya takut"
guma Lin Shan dengan suara serak sambil mendekap tubuh gadis itu erat, tangannya tidak berhenti mengompres kening aqila.
sebenarnya dia merasa tidak nyaman berada dalam posisi seperti ini apalagi dengan seorang gadis cantik.
dia laki-laki normal yang tentu saja bisa merasakan hasrat menginginkan lebih dari ini semua.
tapi itu semua dia tahan karena dia bukan laki-laki brengsek yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.
dia masih waras untuk tidak menodai kesucian gadis yang di cintainya.
__ADS_1
sepanjang malam pemuda itu tidak berani menurunkan kewaspadaan karena keadaan mereka saat ini tidaklah aman, bisa saja hal buruk terjadi jika dia lengah.
disaat keadaan fisik Aqila seperti itu jiwa gadis tersebut juga merasakan hal yang sama.
dia di bawa ke alam bawah sadarnya dimana tidak ada apapun atau seorang pun yang dapat menolong dirinya dari kesengsaraan.
di sana nampak gelap gulita bentrokan tujuh elemen sihir dalam tubuh gadis itu menjadi pemicu utama keadaan-nya saat ini.
sepertinya Aqila akan mengalami kenaikan tingkat kekuatan tapi seseorang berusaha mengacaukan-nya.
mungkin orang tersebut tidak ingin jika Aqila semakin bertambah kuat.
akhhh
Aqila berteriak kesakitan dengan mata terpejam saat elemen air dan api bertabrakan mereka seolah sedang bertarung untuk menentukan siapa yang lebih mendominasi.
hal itu berlangsung lama Aqila merasa tubuh-nya di bakar kemudian di bekukan kembali.
hingga tanpa sadar matanya mulai mengeluarkan darah keadaan jiwa gadis itu sudah sangat kacau.
sedangkan di lain tempat masih dengan orang yang sama, pria itu tertawa keras menyaksikan penderitaan Aqila saat ini.
"hahahaha, nikmatilah sambutan dari ku ini Aqila"
pria itu tertawa namun lebih terkesan menyeramkan bagi mereka yang menyaksikan-nya.
"tuan bagaimana jika dia mati"
ucap bawahan pria itu, dia termasuk orang kepercayaan pria tersebut.
"bodoh kau pikir dia lemah"
jawab pria tersebut dengan kemarahan yang nampak memuncak itu terlihat dari eksekusi-nya saat berbicara.
"maaf tuan"
begitu mendapat pukulan menyakitkan dari sang tuan pria itu hanya bisa meminta maaf agar nyawanya terselamatkan.
"jika dia bisa sampai ke dunia atas itu artinya dialah orang yang di takdirkan untuk membunuh ku"
ucap pria itu lagi, dia menatap tajam bola kristal yang ada di hadapannya yang sedang menampilkan keadaan Aqila saat ini.
"lalu kita harus apa tuan"
tanya bawahan pria itu bingung, dua juga merasa heran kenapa tuannya mau repot-repot mengurusi hal ini.
karena biasanya dia akan menyingkirkan langsung orang yang menjadi penghalang tujuan-nya saat ini.
"tenanglah jangan terburu-buru saya masih ingin bermain-main dengan-nya, hahaha"
dia tertawa dengan sangat keras, kearoganan dan kesombongannya itu suatu saat nanti akan membawanya dalam kehancuran.
pria itu menganggap remeh Aqila hanya karena dia seorang gadis muda dengan tingkat kekuatan jauh di bawahnya.
hey ketemu lagi sama author maaf yh kalo masih ada kata yang salah author masih belajar untuk memperbaikinya 🙏
__ADS_1
Terimakasih sudah berkunjung ke karya author sehat selalu untuk kalian semua
semoga kalian masih suka dengan ceritanya see you next time di episode berikutnya 👋😊