SANG DEWI PENAKLUK

SANG DEWI PENAKLUK
Salah Faham


__ADS_3

pagi hari, gadis itu terbangun oleh trik matahari yang menyilaukan wajah-nya melalui celah jendela kamar.


"nona anda sudah bangun"


Lila menghampiri Aqila sambil membawa pakaian ganti gadis tersebut dengan ekspresi khawatir, saat melihat gadis itu hendak turun dari tempat tidur-nya.


"hati-hati nona anda baru saja sadarkan diri"


Lila hendak membantu aqila berdiri tapi di cegah oleh gadis itu.


"aku bisa sendiri"


tolak Aqila, ekspresi datar sekaligus nada dingin yang di perlihatkan membuat Lila tersentak.


"apa yang terjadi pada ku"


"kemarin anda pingsan nona setelah mengalahkan para monster"


jelas Lila, seketika Aqila mengingat kembali kejadian kemarin.


melihat perubahan sikap Aqila yang mendadak membuat gadis itu berfikir negatif.


dia mengira Aqila telah berubah semenjak pergi ke dunia atas, padahal mereka baru saja bertemu kembali tetapi respon yang Aqila tunjukkan jauh dari bayangan yang Lila pikirkan.


sedangkan gadis itu sendiri tidak merasa demikian dia bersikap masih sama seperti biasa-nya.


karena mendapat penolakan Lila tidak jadi mendekat, dia haya menatap Aqila dengan sendu, mereka berjarak hanya beberapa langkah saja.


Aqila bangkit dengan perlahan karena merasa tubuh-nya lemah dan tak bertenaga, mungkin efek pertarungan kemarin terlalu banyak menguras energi.


"nona apa saya membuat kesalahan"


Lila bertanya dengan ragu, sebab hatinya terasa sakit kala Aqila bersikap dingin seolah sedang menjauhi-nya.


meski sejak dulu Aqila terlihat datar dan irit bicara tetapi hari ini Lila merasa Aqila sedikit berbeda.


"tidak ada"


jawab Aqila jujur dia belum juga menyadari bahwa sikap-nya barusan membuat Lila salah faham.


"tetapi saya merasa nona sedikit berubah, padahal saya sangat merindukan anda"


cicit Lila yang hampir tak terdengar tetapi hal tersebut tidak berlaku bagi Aqila yang memiliki pendengaran melebihi kapasitas.


melihat Lila seperti itu Aqila akhirnya tau bahwa gadis tersebut telah salah faham dengan sikap-nya barusan.


"kemari"


karena tidak tau harus membujuk dengan cara apa, dia hanya meminta Lila untuk mendekat.


hap


tanpa di duga Aqila langsung memeluk Lila begitu saja membuat gadis itu terkejut bukan main.


karena ini kali pertama Aqila berinisiatif sendiri memeluknya.


"nona"


Lila seketika menjadi linglung dia masih tidak menyangka bahwa Aqila benar-benar melakukannya.

__ADS_1


ini adalah pelukan pertama selama dia menjadi pelayan sekaligus teman gadis itu, tentu saja membuat Lila sangat senang.


"hm"


Aqila masih saja irit bicara, suasana hati Lila yang semula senang berubah sedikit kecewa karena Diding es dalam hati gadis itu belum juga mencair.


"apa yang terjadi"


Aqila kembali membuka suara setelah melepas pelukan-nya


"apa aku perlu memberi tau nona atau tidak"


saat ini Lila merasa ragu antara ingin memberitahukan keadaan dunia bawah yang sebenarnya atau tidak mengingat kesehatan gadis itu baru saja membaik.


"ada apa"


semakin Lila bersikap seperti itu semakin Aqila yakin ada yang sedang di sembunyikan oleh teman-nya tersebut.


"ahh, tidak ada nona semuanya baik-baik saja"


Lila memilih untuk berbohong dia tidak ingin melibatkan Aqila untuk masalah saat ini, gadis itu masih mengingat betul perkataan tabib agar tidak membiarkan Aqila bekerja terlalu keras.


"jangan coba-coba membohongi ku Lila"


gadis itu mendadak gugup dia meremas ujung pakaiannya saat Aqila memberi tatapan menusuk.


"bukan begitu, tapi itu, itu"


tenggorokan Lila terasa tercekat untuk mengatakan semua kebenaran-nya


"jelaskan atau aku tidak akan berbicara dengan mu lagi"


mendengar ancaman tersebut Lila merasa takut dia lebih baik mendapat hukuman cambuk dari pada di jauhi oleh Aqila.


karena menjadi musuh gadis itu sama saja mencari kehancuran untuk dirinya sendiri.


"hah, beberapa bulan terakhir hingga hari ini wabah dan serangan para monster maupun binatang buas muncul secara tiba-tiba hampir di semua kerajaan nona"


sebelum menjelaskan Lila terlebih dulu menghela nafas berat baru kemudian menceritakan kejadian yang terjadi di dunia bawah setelah kepergian gadis itu.


"lalu"


pinta Aqila yang ingin tau lebih banyak karena Lila belum menjelaskan semua yang dia ketahui.


"beberapa utusan kerjaan mengirim surat kemari untuk meminta bantuan"


"apa sudah teratasi"


"belum nona"


ada raut khawatir dari ekspresi yang Lila tunjukkan saat menjelaskan semua-nya.


"aku lapar"


ucap Aqila menyudahi obrolan mereka, sedangkan Lila mendadak linglung karena perkataan tersebut.


"kau tidak dengar"


"ah maaf nona, akan saya ambilkan"

__ADS_1


Lila melangkahkan kaki-nya dengan terburu-buru meninggalkan ruangan tersebut.


sepeninggalan gadis itu Aqila langsung berjalan ke arah bak mandi yang ada di ujung ruangan untuk membersihkan diri.


tidak berselang lama Lila kembali membawa nampan berisi makanan dan langsung meletakkan-nya di meja yang ada di sanah.


bertepatan dengan Aqila yang telah selesai membersihkan diri.


"mari saya bantu nona"


Lila mendudukkan Aqila di meja rias untuk mendandani gadis itu.


begitu selesai mereka baru menikmati sarapan pagi lebih tepat-nya sudah hampir siang.


setelahnya Aqila berniat mengunjungi Han Zain sebelum pergi memeriksa keadaan luar wilayah.


"ayah apa kau sibuk"


ucap Aqila, kini gadis itu sudah ada di ruang kerja Han Zain tanpa memberi tahu kedatangannya pada pria tersebut.


"tidak, apa kau sudah merasa lebih baik kenapa tidak beristirahat di kamar saja"


cecar Han Zain terkejut dengan kedatangan Gadis itu karena dia sibuk memeriksa beberapa laporan penting.


"aku sudah lebih baik"


meskipun berbicara dengan ayah-nya sendiri Aqila masih saja bersikap datar tidak ada senyuman sama sekali.


"kemari jangan berdiri di sanah"


Han Zain menyudahi pekerjaan-nya dan berniat mengajak gadis itu berbincang sambil minum teh.


"tidak, aku hanya berkunjung sebentar"


tolak Aqila, gadis itu masih saja berdiri di tempat semula tidak jauh dari meja kerja sang ayah.


"memangnya kau mau kemana"


pria itu menatap bingung sekaligus meminta penjelasan dari putri-nya tersebut.


"ada sedikit urusan"


jawab aqila yang tidak ingin memberitahukan alasan-nya.


"tidak bisakah kau duduk diam walau sehari saja putri ku, kau baru saja membaik"


omel Han Zain, pria itu terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan gadis itu.


"baik ayah"


melihat sang ayah yang mengkhawatirkan dirinya terpaksa Aqila mengalah dari pada harus berdebat dengan pria paruh baya tersebut.


"kalau begitu istirahat-lah"


Han Zain tersenyum senang karena kali ini Aqila tidak bersikap keras kepala.


"selamat tinggal Ayah jaga kesehatan mu"


ucap Aqila berpamitan, Han Zain mengangguk setuju sambil melihat kepergian putri tercinta yang menghilang di balik pintu.

__ADS_1


sedangkan di sepanjang jalan pikiran gadis itu terus berkecamuk dengan segala hal yang terjadi saat ini.


__ADS_2