
kembali ke lain tempat, Aqila sudah selesai menikmati makanan begitupun dengan Lila, Lin Shan, To Mu dan Annchi.
mereka hendak pergi dari kedai mie setelah membayar pesanan, kali ini Aqila yang mentraktir semuanya.
baru juga melewati pintu masuk sekelompok orang datang menghadang jalan mereka berlima.
"sepertinya bangsawan Wu ingin melakukan penyerangan secara terbuka"
ucap beberapa orang yang sudah merapat ke halaman depan kedai mie Milik tuan Jiang
"siapa yang telah melukai tuan muda qianfan cepat katakan"
salah satu dari mereka mulai berbicara keras Sabil menatap tajam ke arah Aqila dan yang lain.
"saya, kenapa"
Lin Shan maju dengan tenang tanpa rasa takut sama sekali ekspresinya datar seolah dia tidak melakukan kesalahan apa pun.
"tangkap pemuda itu"
orang yang berteriak tadi langsung memberi perintah pada bawahnya untuk menangkap Lin Shan.
"siapa yang berani"
Aqila menggeser tubuhnya tepat di hadapan Lin Shan sambil menatap tajam ke arah sekumpulan orang suruhan bangsawan Wu.
"minggir nona jika tidak kami juga akan menangkap mu"
orang tadi menatap kesal ke arah Aqila karena gadis itu berani menghalangi tujuannya.
"coba saja"
Aqila mengatakannya dengan acuh membuat pria itu kembali menggeram marah.
"sialan, kau menantang kami jal**ng"
tidak terima melihat pandangan mengejek yang Aqila tujukan, membuat darah pria itu kembali mendidih terbakar emosi.
"tutup mulut mu bedebah, jika tidak aku akan merobeknya saat ini juga"
Lin Shan berteriak marah karena orang itu sudah berani membentak Aqila apa lagi di hadapan umum.
"cepat tangkap mereka semua"
pria itu kembali memberi perintah dengan penuh amarah yang sudah tidak terkontrol lagi.
srak srak srak
tidak ingin membuang waktu, Aqila langsung melesat ke arah sekumpulan orang itu dengan sangat cepat dan melukai mereka semua menggunakan belati kesayangannya.
Aqila tidak memberikan celah sedikitpun untuk mereka membalas serangannya.
bruk
sekelompok orang suruhan bangsawan Wu meregang nyawa di tangan Aqila, gadis itu menghabisi mereka hanya dalam hitungan menit.
beberapa orang yang ikut menyaksikan bergidik ngeri saat melihat Aqila menghabisi nyawa mereka tanpa ampun.
apa lagi tampang gadis itu yang terlihat datar dengan tangan yang penuh darah, serta pakaian hitam yang di kenakan-nya menambah kesan menyeramkan bagi siapa saja yang melihat.
kini semua orang menatap takut ke arah Aqila, bahkan ada dari mereka yang memberi julukan pada gadis itu dengan sebutan gadis manis berdarah dingin.
Aqila tidak perduli dengan apa yang mereka katakan tentangnya, bagi Aqila sekali ketenangannya di usik maka tidak ada akhir baik bagi orang tersebut.
Lin Shan yang menyaksikan bagaimana Aqila melindunginya tersenyum senang untuk beberapa menit hati pemuda itu kini sedang berbunga meskipun ekspresi wajahnya masih terlihat datar.
"nona, anda baik baik saja"
Lila bertanya dengan cemas karena melihat tangan Aqila penuh darah gadis itu berpikir bahwa aqila terluka tapi kenyataannya aqila tidak tergores sema sekali.
"hm"
setelah mendengar jawaban aqila, Lila sedikit bisa bernafas lega dia mengambil sapu tangannya untuk menyeka darah yang ada di tangan gadis itu.
__ADS_1
Aqila hanya diam membiarkan Lila melakukan apa yang dia mau, orang-orang yang menyaksikan juga mulai membubarkan diri satu persatu.
"hongli, Shing, hei Lang keluarlah"
Aqila memanggil dua jendral dan satu bintang peliharaannya untuk membereskan mayat-mayat tersebut.
"salam nona besar Aqila"
kedatangan mereka yang secara tiba-tiba membuat To Mu dan Annchi terkejut bukan main.
"hm"
Aqila menjawab salam mereka hanya dengan deheman kecil gadis itu masih berdiri tenang di posisinya.
"apa ada tugas untuk kami nona"
"antar seluruh mayat itu ke kediaman bangsawan Wu"
"baik nona"
begitu mendapat perintah mereka bertiga langsung membawa dua puluh mayat itu dengan pergerakan yang sangat cepat.
To Mu dan Annchi yang sejak awal menyaksikan segalanya membatu di tempat, kedua orang itu diam dengan mulut menganga menatap tidak percaya ke arah Aqila.
sedangkan Aqila tidak berniat menjelaskan apa pun gadis itu hanya diam kemudian menaiki kuda hitamnya begitu juga dengan Lila dan Lin Shan.
mendengar ringkikan kuda dua bersaudara itu tersadar kembali dari keterkejutannya mereka buru-buru mengejar rombongan Aqila.
"nona anda ingin kemana"
setelah berhasil menyusul kepergian aqila To Mu langsung menanyakan apa yang sejak tadi mengganjal di pikirannya.
"wilayah Utara"
yang ditanya hanya diam, jadi Lila yang menjawab pertanyaan tersebut.
srett
"anda yakin ingin pergi ke sanah"
To Mu kembali bertanya dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat terkejut bukan hanya dia bahkan sang adik juga sama terkejutnya.
"hm"
jawab Aqila datar yang juga sudah menghentikan laju kudanya.
"boleh kami ikut"
Annchi berbicara dengan nada memohon, Lila yang melihat gelagat gadis itu merasa curiga.
"untuk urusan apa"
tanpa basa basi Lila langsung menanyakan apa alasan sebenarnya gadis itu ingin ikut dengan mereka.
"kami ingin menemui paman yang tinggal di wilayah Utara tepatnya di kerajaan bingjie"
kali ini bukan Annchi yang menjawab melainkan To Mu, Lila terlihat semakin penasaran di buatnya.
"nona Annchi apa anda bener bener memiliki paman yang tinggal di wilayah Utara"
Lila kembali mengkonfirmasi hal tersebut hingga kecurigaannya menemukan titik terang.
"benar, panggil saja aku dengan nama ku kak Lila"
Annchi sedikit salah tingkah saat di tatap sedemikian rupa oleh Lila dan Lin Shan
"apa boleh"
perhatian Lila malah teralihkan oleh perkataan terakhir yang baru saja gadis itu katakan.
"tentu saja boleh, apa sekarang kita sudah menjadi teman"
Annchi berbicara dengan penuh harapan mata gadis itu terlihat sangat jernih tanpa siasat licik apa pun.
__ADS_1
"Annchi jangan bersikap tidak sopan"
To Mu menegur sikap sang adik yang terkesan memaksa membuat Annchi diam menunduk merasa sedih.
"biarkan saja"
ucap Aqila datar, dia terlihat acuh pada sekitar namun tidak dengan otaknya gadis itu sedang menilai karakter Annchi apakah dia pantas menjadi temannya atau tidak.
"tolong maafkan sikap adik ku nona Aqila dia memang selalu seperti itu"
To Mu berbicara dengan nada rendah merasa bersalah atas sikap sang adik yang terlampau berani.
"hm"
"apa kalian mencari sesuatu di sanah"
To Mu kembali berbicara setelah melihat Aqila tidak mempermasalahkan sikap adik perempuannya itu.
"kenapa"
bukan Aqila yang menjawab tetapi Lila karena gadis itu akan selalu merasa curiga jika ada orang asing yang tiba-tiba bersikap baik pada mereka.
"tidak ada saya hanya merasa penasaran kenapa kalian ingin pergi ke sanah anda pasti tau tempat seperti apa itu wilayah Utara"
To Mu buru buru menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman.
"dan kau sendiri kenapa ingin pergi ke sanah"
bukannya menjawab Lila malah balik bertanya pada pemuda tersebut, sedangkan yang lain hanya menyimak.
"sebenarnya kami mendapat surat dari paman untuk datang ke tempatnya padahal selama ini paman selalu menyembunyikan diri dan tidak ingin bertemu dengan siap pun"
To Mu mulai menjelaskan alasan sebenarnya kenapa dia dan sang adik ingin ikut pergi ke wilayah Utara.
"jadi ini pertemuan pertama kalian"
"benar"
"apa kalian sengaja pergi bersama kami karena kalian tau bahwa kalian berdua tidak bisa pergi sendiri"
ucap Lila secara spontan, dan itu berhasil menusuk hati kedua bersaudara tersebut.
"jujur saja saya tidak akan menyangkalnya, tolong maafkan kami nona Aqila kami tidak bermaksud memanfaatkan anda kamu hanya"
To Mu menjawab pertanyaan Lila dengan jujur nadanya terkesan penuh penyesalan, belum juga selesai berbicara Aqila sudah lebih dulu memotong perkataan tersebut.
"jangan ulangi lagi atau mati"
"kami berjanji tidak akan melakukannya lagi, anda bisa memegang perkataan kami barusan"
dua bersaudara itu langsung mengangkat salah satu tangannya untuk mengucapkan sumpah.
"apa jaminannya"
pertanyaan Lila sudah cukup mewakili apa yang ingin Aqila katakan pada mereka berdua.
"nyawa kami sebagai jaminan"
dua bersaudara itu menjawab dengan penuh ketegasan, membuat Lila bisa sedikit bernafas lega.
"ingat janji kalian nona tidak pernah main-main saat mengatakan sesuatu"
Lila memberi peringatan keras pada To Mu dan Annchi tentang bagaimana karakter Aqila sebenarnya.
"kami mengerti"
setelah selesai dengan perdebatan kecil itu kelima orang tersebut kembali memacu kuda dengan cepat meninggalkan wilayah ibu kota.
hey ketemu lagi sama author maaf yh kalo masih ada kata yang salah author masih belajar untuk memperbaikinya 🙏😊
semoga kalian suka dengan ceritanya jangan pernah bosan untuk mampir yah hehehe 😅😅
selamat membaca dan terimakasih sudah berkunjung 🙏😊🥰
__ADS_1