
semua orang menjadi diam, tapi ratu jinjin belum juga puas, dia ingin Aqila di permalukan di hadapan semua orang.
diam-diam ratu jinjin melemparkan sebuah jarum Aqila yang tidak siap tidak sempat menghindar dan pada akhirnya wajah gadis itu terekspos di hadapan semua orang.
kesal dengan tindakan ratu jinjin Aqila hendak membalas tapi Shen xiaojian menghentikan pergerakannya.
pemuda itu menggelengkan kepala pertanda jangan lakukan atau semua rencana akan hancur berantakan.
melihat kode dari kakak sepupunya Aqila mencoba mengontrol emosi.
sedangkan mereka semua yang ada di sanah di buat terpesona dengan wajah cantik Aqila yang bak seorang Dewi.
kulitnya putih mulus tanpa lecet sedikitpun, bibirnya ranum bagaikan buah peach, bulu mata lentik dengan bola mata berwarna hazel serta rambut panjang hitam legam menjadi daya tarik bagi mereka yang memandang ke arah-nya.
baik wanita maupun pria akan terpesona melihat kecantikan seperti itu tapi sayangnya rasa Iri akan selalu hadir di hati para pembenci.
"wajahnya sangat cantik"
"dia seperti seorang Dewi"
"pantas saja dia menutupi wajahnya"
"aku ingin dia menjadi istri ku"
bisik-bisik itu terdengar jelas di telinga Aqila membuat dirinya kesal, gadis itu menatap tajam orang yang membuatnya jadi seperti ini.
Ratu jinjin sendiri bersikap tidak perduli, wanita itu tidak kalah kesal dengan apa yang aqila rasakan.
"raja, apa anda tidak mengajari ratu jinjin sopan santun"
dengan dingin Aqila berbicara dia sudah tidak perduli lagi apa yang orang lain pikirkan tentang-nya.
"kurang ajar berani sekali kau berbicara seperti itu pada yang mulia raja"
ucap penasehat kerajaan, pria itu menatap tajam Aqila saat ini.
"aku tidak akan bersikap demikian jika ratu jinjin tidak mencampuri urusan orang lain, aku sudah berbaik hati menyelamatkan pangeran Jing sheng tapi dia malah menguji kesabaran ku"
ucap Aqila dingin tetapi kali ini raja Bingwen tidak emosi sama sekali yang ada hanyalah tatapan memuja.
__ADS_1
"omong kosong apa yang sedang anda katakan tabib misterius, jangan menuduh ku sembarangan"
ratu jinjin buru-buru membela diri, lagi pula wanita itu berfikir tidak akan ada yang percaya dengan apa yang aqila katakan.
"Ibunda benar, apa kau punya bukti"
anak lain dari wanita itu menjawab dia adalah putri pertama jinhai.
"kalian ingin bukti, baiklah"
Aqila menatap sinis kedua wanita yang telah berani mengusik ketenangannya itu.
Aqila menggunakan kekuatan sihir untuk mengangkat bekas kain yang menutupi wajahnya.
"lihatlah baik-baik terdapat goresan di samping kain tersebut, itu artinya seseorang menyerang ku secara diam-diam"
ucap gadis itu, kini semua orang hanya berpusat pada-nya.
"tapi itu bukan berarti ibunda ratu yang melakukannya"
sebenarnya putri jinhai tau bahwa itu adalah perbuatan ibu-nya hanya saja dia tidak ingin sang ibu di permalukan di hadapan umum, sekaligus mendapat hukuman berat dari sang raja karena sikap barusan.
"benar"
"lalu bagaimana dengan ini, bukan-kah ini milik keluarga jin"
Aqila menunjukkan dua jarum yang sempat di tangkap di detik terakhir, jarum itu berbeda dari jarum perak pada umumnya di sanah memiliki ukiran yang sangat unik dan hanya keluarga jin yang memiliki-nya.
bagaimana cara Aqila mengetahui itu semua karena dia sudah membuat persiapan sebelum memasuki istana.
Aqila memiliki firasat akan terjadi masalah di acara pesta nanti, itu sebabnya dia menyuruh Lin Shan untuk memata-matai seluruh anggota kerajaan yang tidak menyukai kehadiran dia dan ternyata benar adanya.
semua orang terdiam sambil mengamati bukti yang Aqila tunjukkan, beberapa orang mengangguk setuju dengan apa yang gadis itu katakan sebelumnya bahwa jarum tersebut milik keluarga jin.
raja Bingwen melirik wanita di sampingnya dengan tatapan tajam membuat nyali ratu jinjin menciut.
setelah memberi peringatan pada sang istri raja Bingwen kembali menatap aqila sambil tersenyum.
Aqila yang mengerti maksud tatapan itu merasa jijik dan ingin cepat-cepat pergi dari sanah.
__ADS_1
"raja saya datang kemari untuk menagih janji anda, bisakah anda tidak terus menerus mengulur waktu"
ucap Aqila dingin, semua orang kembali di buat terkejut dengan sikap Aqila yang tidak ada takut-takutnya.
bukannya marah raja Bingwen malah tersenyum penuh arti, rasa ketertarikan-nya pada Aqila semakin bertambah besar.
"wanita yang menarik aku suka yang seperti ini, dia harus menjadi milik ku"
guma raja Bingwen dalam hati, otaknya penuh dengan rencana licik yang di tujukan pada gadis itu.
"anda tidak perlu khawatir tabib saya pasti menepati janji tapi sebelum itu bisakah saya tau siapa nama anda"
raja Bingwen begitu penasaran dengan nama asli seorang tabib misterius karena sejak awal memasuki istana Aqila belum sekalipun menyebutkan namanya.
"Han Aqila"
jawab Aqila begitu datar, kini semua orang menjadi tau siapa itu tabib misterius.
setelah mengetahui nama gadis yang telah berhasil menarik perhatian-nya raja Bingwen langsung menepati janji, dia memberikan satu wilayah atas nama gadis itu.
meski semua orang keberatan namun raja Bingwen tidak mengindahkannya, pria tersebut hanya sibuk menarik perhatian Aqila.
sikap sang raja yang seperti itu membuat semua istri-istrinya cemburu tidak terkecuali ratu jinjin.
wanita cantik itu takut jika suatu hari raja jinjin menjadikan Aqila sebagai miliknya dan membuang dia begitu saja.
susah payah dia berjuang membantu kesuksesan pria itu hingga mengorbankan banyak hal tentu saja tidak akan terima jika posisinya sekarang di gantikan oleh orang lain.
dia saat yang lain sibuk dengan pikiran masing-masing Aqila tersenyum singkat dia menyukai situasi seperti ini.
setelah mendapatkan apa yang di inginkan Aqila, Shen xiaojian dan Lin Shan berniat pergi dari sanah.
"terimakasih telah menepati janji anda raja, kita sudah tidak berhutang apapun kami bertiga pamit undur diri"
ucap Aqila sambil memberi sedikit penghormatan Lin Shan dan Shen xiaojian hanya mengikuti tindakan gadis itu.
"mengapa begitu cepat, anda tidak menyukai pesta ini"
raja Bingwen terlihat kecewa pria itu mencoba mencegah kepergian mereka.
__ADS_1
"maaf kami tidak bisa lebih lama, masih banyak orang yang menunggu untuk di obati"
tanpa memperdulikan perasaan lawan bicaranya Aqila, Lin Shan dan Shen xiaojian tetep melangkah pergi setelah memberi salam penghormatan.