
malam hari sesuai dengan perintah Aqila Lin Shan membawa pembunuhan bayaran sebelumnya kehadapan gadis itu.
"salam nona aqila bagaimana keadaan anda"
ucap pembunuh bayaran begitu dia ada di hadapan gadis tersebut.
"hm"
"apa ada tugas sehingga anda memanggil saya ke mari"
tanya pembunuh bayaran yang kini sudah terbiasa dengan sikap acuh Aqila.
"taruh ini di kediaman teratai"
Aqila menyerahkan dua bubuk racun yang salah satunya sudah dia gunakan.
setelah menerima dua bubuk racun tersebut pembunuh itu langsung pergi, Lin Shan yang menyaksikan di buat bingung dengan apa yang sedang Aqila rencanakan.
"boleh saya tau apa yang sedang anda rencanakan nona"
dari pada Terus merasa penasaran Lin Shan memilih untuk bertanya langsung pada gadis itu
"membuat Jebakan"
Aqila menjawab dengan datar tanpa menatap ke arah lawan bicaranya
"apa sudah waktunya"
Lin Shan merasa sedikit kecewa ketika melihat Aqila tidak menatap ke arahnya sama sekali.
dia terus berpikir apakah gadis itu masih marah, jika benar itu memang salahnya sediri yang sudah bersikap kurang ajar.
"hm"
Aqila menjawab dengan deheman kecil kemudian tidak mengatakan apa pun lagi.
"nona apa anda masih marah pada saya"
tanya Lin Shan dengan hati hati agar tidak menyinggung perasaan gadis itu lagi.
"tidak"
jawab aqila acuh dan itu membuat Lin shan semakin merasa bersalah
"kalau begitu tolong jangan seperti ini nona, jujur itu menyakiti hati saya"
Lin Shan menatap aqila dengan penuh kerinduan dia tidak ingin Aqila membencinya
"Lin Shan"
belum selesai aqila berbicara Lin shan sudah lebih dulu memotong ucapannya
"saya tau bahwa kesalahan saya sangat besar anda boleh menghukum saya dengan cara apa pun tapi setelah itu bisakah anda memaafkan saya"
Lin Shan berbicara dengan nada sendu matanya seperti ingin menangis dia tidak berani menatap aqila saat mengatakannya
ia akan terus memohon sampai Aqila mau memaafkan kesalahannya Lin Shan rela melakukan apa pun agar bisa mendapatkan maaf dari gadis itu.
mendengar Lin Shan begitu tulus mengatakannya, perlahan hati gadis itu sedikit melunak Aqila tidak pernah dekat dengan pria mana pun selain Lin Shan baik di kehidupan sekarang atau sebelumnya.
"baiklah bisa kau lakukan sesuatu untuk ku"
tanya Aqila yang kini sudah menatap ke arah pemuda tersebut
"tentu, selagi nona mau memaafkan saya apa pun akan saya lakukan"
Lin Shan menjawab sambil mendongakkan kepala, kini mata mereka saling bertatapan.
"pergilah ke desa cun zhang, dan cari orang yang memiliki nama zaiwu lalu bawa dia kemari malam ini apa kau bisa melakukannya"
"bisa nona, kalau begitu saya pamit"
"hm"
begitu selesai Lin Shan langsung pergi dari kamar Aqila, sepeninggal pemuda itu Aqila kembali mengingat percakapannya dengan tuan Han di sore hari.
flashback,,,,
sore hari, tuan Han kembali mengunjungi Aqila untuk memastikan kondisinya
"bagaimana kabar mu sayang"
tanya tuan Han begitu dia sampai di hadapan putrinya Aqila.
"sudah lebih baik"
"bagaimana kau bisa keracunan"
__ADS_1
tuan Han merasa ada yang janggal dengan apa yang terjadi pada Aqila bagaimana mungkin putrinya keracunan tanpa sebab pikirnya.
"kemarin malam ada orang yang masuk ke kamar ku"
Aqila berbicara jujur karena memang itu kenyataannya
"siapa"
tuan Han merasa terkejut sekaligus bingung dia penasaran apa yang terjadi malam itu.
"tidak tau tapi mereka menggunakan pakaian hitam dan wajahnya tertutup topeng"
jelas aqila secara rinci tentang siapa yang menyusup ke kamarnya
"sepertinya itu penyusup, apa yang mereka lakukan di kamar mu"
tuan Han emosi begitu dia tau bahwa ada penyusup yang berani masuk ke dalam kediamannya padahal dia sudah membuat penjagaan yang ketat.
"memberi ku obat, mereka juga mencoba membunuh ku"
Aqila mengatakan sedikit kebohongan dan juga kebenaran yang membuat tuan Han kembali emosi
"apa Lin Shan tidak menjaga mu dengan baik jika begitu ayah akan menghukumnya dengan berat pemuda itu pantas di beri pelajaran"
pria paruh baya itu menyalahkan Lin Shan karena bertindak ceroboh sehingga membuat Aqila terluka.
"tidak itu bukan salah Lin Shan aku yang menyuruhnya meninggalkan ku sendiri"
Aqila yang tidak ingin Lin Shan di salahkan membela pemuda itu karena ini murni rencananya sendiri.
"siapa yang membenci mu sehingga tega melakukan hal ini ayah akan memberinya pelajaran yang setimpal"
"aku tidak tau bisakah Ayah melakukan penyelidikan, Lila menemukan ini"
sebenarnya Aqila tau siapa dalangnya dia hanya ingin sang ayah ikut adil dalam pembalasan dendamnya kali ini.
"sialan apa sungguh dia yang melakukannya jika benar dia patut mati apa selama ini aku kurang baik hingga dia tidak tau caranya balas budi"
tuan Han murka begitu dia membaca isi surat tersebut, surat itu memang benar benar di tulis oleh orang itu sendiri.
bukan Lila yang menemukannya tapi dia sendiri yang mengambilnya di tubuh mayat pembunuh bayaran kemarin.
mereka terlalu ceroboh hingga meninggalkan bukti yang begitu penting tapi itu juga menguntungkan aqila.
"tenanglah ayah kita harus menyelidikinya dulu"
tuan Han berjanji akan menyelidiki kasus ini sampai tuntas ke akarnya
"ayah boleh aku bertanya sesuatu"
Aqila bertanya kembali pada sang ayah akan sesuatu yang selama ini ingin dia tau tapi belum ada kesempatan dan hari ini lah waktunya.
"ada apa"
tuan Han kembali menatap ke arah putrinya yang cantik meski gadis itu baru saja bangun dari sakit tapi kecantikannya tidak pernah pudar Aqila mirip seperti istrinya meilin.
"siapa pelayan pribadi ibu ku"
"untuk apa kau menanyakan hal ini"
tuan Han sedikit terkejut dengan pertanyaan Aqila barusan
"tidak ada aku Hanya ingin membalas budi"
Aqila beralibi karena untuk saat ini dia masih belum bisa mengatakan kebenarannya pada sang ayah
"itu tidak perlu ayah sudah melakukannya dia juga sudah tidak bekerja disini lagi"
jawab tuan Han dengan jujur karena itu memang kenyataannya
"sejak kapan"
Aqila yang penasaran terus mengajukan pertanyaan
"sejak ibu mu tidak ada"
saat mengatakan hal itu tuan Han kembali teringat pada istrinya yang cantik yaitu meilin
"dia pergi kemana"
"yang ayah tau dia kembali ke kampung halamannya"
tuan Han masih mengingat betul kejadian hari itu dimana pelayan pribadi istrinya mendadak mengundurkan diri setelah meilin meninggal dan tidak ingin merawat Aqila.
padahal selama bekerja nyonya zaiwu terlihat sangat tulus merawat istrinya bahkan ketika meilin sakit sekali pun.
tapi entah kenapa dia menolak merawat aqila yang masih kecil saat itu.
__ADS_1
"dimana dan siapa namanya ayah"
"kalau ayah tidak salah ingat dia tinggal di desa cun zhang dan namanya nyonya zaiwu"
jelas tuan Han yang samar mengingat nama desa tersebut
"untuk apa kau menanyakan tentangnya"
tuan Han di buat bingung dengan sikap penasaran Aqila dia berpikir apakah gadis itu juga melupakan orang yang merawat ibunya.
"tidak ada hanya ingin tau saja"
Aqila berbohong dan tuan Han mempercayainya tanpa menaruh curiga sama sekali.
"istirahat Ayah akan kembali karena masih banyak pekerjaan, jangan lupa makan makanan yang Lila siapkan ayah lihat dia begitu teliti menjagamu"
"baik ayah"
"sampai jumpa sayang"
tuan Han bangkit kemudian mencium kening Aqila sebelum pergi
"hm"
setelahnya tuan Han langsung melangkah keluar dari sanah kembali ke paviliunnya.
flashback off,,,
begitu selesai Aqila membaringkan tubuhnya sejenak sambil menunggu Lin Shan kembali
untungnya hari belum terlalu malam karena waktu masih menunjukkan pukul sembilan.
sedangkan di sisi lain, Lin Shan sudah tiba di desa cun zhang dia langsung pergi menemui rumah kepala desa.
dia tidak mungkin mengitari rumah penduduk satu persatu karena itu membutuhkan waktu banyak sedangkan dia tidak punya waktu sebanyak itu.
tok tok tok
Lin Shan mengetuk pintu rumah kepala desa yang dia dapat dari seseorang yang sebelumnya dia temui di jalan.
krett
suara pintu di buka, sesosok pria paruh baya keluar dari dalam rumahnya.
"siapa"
tanya pria itu pada Lin Shan dia menatap bingung orang yang ada di hadapannya.
"apa anda Kepala desa wu"
tanya Lin Shan setelah memberikan salam sebagai tanda kesopanan.
"benar, anda siapa kenapa ada bertamu di tengah malam begini"
tanya kepala desa Wu menatap curiga ke arah Lin Shan
"saya Lin Shan dan tujuan saya datang kemari karena mencari orang yang bernama zaiwu tuan saya bilang dia tinggal di desa ini"
Lin Shan buru buru menjelaskan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
"maksud anda nyonya zaiwu yang pernah bekerja di kediaman bangsawan Han"
tanya kepala desa Wu mengingat beberapa tahun lalu ketika nyonya zaiwu masih bekerja di kediaman Han
"benar"
Lin Shan membenarkan ucapan kepala desa tersebut
"dia memang tinggal di sinih"
"boleh saya tau di mana rumahnya"
"dari sini ada lurus saja kemudian belok ke arah kiri rumah ketiga dengan cat warna coklat"
jelas kepala desa menerangkan jalan dimana rumah nyonya zaiwu berada.
"terimakasih tuan maaf mengganggu waktu istirahat anda"
"tidak masalah"
"kalau begitu saya permisi selamat malam"
setelah berpamitan Lin Shan langsung menaiki kudanya menuju jalan yang tadi sudah di beritahu oleh kepala desa.
hey ketemu lagi sama author maaf yh kalo author blm bisa crezy up🤭🤭
semoga kalian tidak bosan menunggu up terbarunya😊
__ADS_1
selamat membaca 🙏🥰🥰