SANG DEWI PENAKLUK

SANG DEWI PENAKLUK
Pertengkaran ayah dan anak


__ADS_3

Setelah selesai mengisi perut Aqila melanjutkan kembali langkahnya menuju istana dia ingin tau seperti apa rupa putri dari Mentri Jun tersebut.


Sekaligus dia juga akan menguji apakah wanita itu pantas menjadi ibu sambung dari Lin Bao.


Mengingat tentang Lin Bao gadis itu tiba-tiba merindukannya, Sedangkan di istana orang yang di rindukan tengah berlatih pedang dengan sang ayah yaitu Lin Zhang.


Di umur yang baru genap lima tahun Lin Zhang sudah mendidik Lin Bao dengan sangat ketat layaknya orang dewasa.


Dia yang seharusnya menikmati masa kanak-kanak malah di bebani dengan berbagai aturan kerajaan.


Hanya karena amanat yang Aqila berikan membuat Lin Zhang menyiapkan Lin Bao sejak dini hari, terlepas dari benar atau salah tindakan tersebut.


....


Tak


Aqila mendarat dengan selamat, gadis itu berkunjung ke istana secara diam-diam, Dengan cara memanjat tembok samping istana.


Sebelum melangkah pergi dia lebih dulu membersihkan pakaiannya yang terkena debu dengan cara menepuk bagian kotornya.


Setelah selesai gadis itu bergegas pergi takut jika ada yang menyadari kehadirannya yang seperti penyusup.


Aqila mengenakan pakaian hitam layaknya laki-laki dia menutup wajah dengan selembar kain dengan warna senada.


"tetap fokus pada gerakan mu Lin"


Lin Zhang terus menginstruksikan bocah laki-laki itu untuk tetep fokus pada gerakannya.


"ayah aku lelah"


keluh Lin Bao, dengan tangan masih sibuk mengayun pedang.


"jangan jadi pria lemah"


Lin Zhang memberi peringatan pada putranya agar tidak cepat mengeluh, padahal hal itu wajar terjadi karena Lin Bao masih kanak-kanak.


"ini sudah dua jam ayah dan aku belum belum beristirahat sekalipun"


Lin Bao yang sudah sangat kelelahan mulai mengajukan protes.


trank


pedang kayu yang di pegang Lin Bao terlempar akibat serangan yang di berikan oleh Lin Zhang, pria itu menatap putranya dengan tajam.


"kau harus menjadi kuat jika ingin bertemu dengan ibu mu Lin bao"


Suara keras sang ayah membuat Lin Bao terlonjak kaget padahal ini bukan kali pertama pria itu bersikap demikian.

__ADS_1


Karena sejak pria itu menjadi raja sikapnya perlahan berubah drastis, dia semakin membatasi ruang gerak Lin Bao.


"apa ibu marah pada ku hingga dia tidak pernah mengunjungi ku"


Lin Bao berkata dengan lirih saat tak sengaja mengingat kembali kenangannya bersama Aqila kala itu.


"ibu mu adalah orang yang sangat sibuk Lin, bukankah ada bibi Jun jia"


Lin Zhang tertegun saat sang putra kembali membahas sosok ibu angkatnya, dia yang tak tau harus melakukan apa haya bisa memberi pengertian pada bocah laki-laki tersebut.


"aku tidak menyukai-nya ayah, dan aku tidak setuju dia menjadi ibu ku"


Teriak Lin bao dengan sangat keras, wajahnya menampakkan ketidak sukaan pada wanita bernama Jun jia itu.


Sedangkan di sudut dinding istana seseorang menyaksikan semua pertengkaran mereka.


"Lin jaga bicara mu, bukankah bibi Jun jia sangat baik, dia juga sangat menyayangi mu"


kali ini Lin Zhang yang tersulut emosi, atas penolakan Lin bao


"dia hanya berpura-pura, sampai kapan ayah menutup mata"


Lin Bao adalah anak yang cerdas, meski usianya baru menginjak lima tahun dia sudah bisa memahami karakter seseorang dan menyerap berbagai ilmu dengan sangat cepat.


"kau sudah melewati batas Lin"


"aku sudah besar ayah, aku tau mana yang baik dan mana yang berpura-pura baik"


Lin Bao akhirnya mengungkapkan alasan ke tidak suka-nya terhadap wanita itu.


"cukup Lin, pergi ke ruang hukuman sekarang kau harus merenungi kesalahan mu karena telah menuduh tanpa bukti"


Lin Zhang yang sudah di kuasai amarah malah menghukum putranya sendiri tanpa mau menyelidikinya.


disisi lain, orang yang menyaksikan perdebatan ayah dan anak itu menggeram marah.


Dia ingin sekali memukul kepala pria itu karena telah membuat kesalahan besar dengan tidak mempercayai ucapan putranya Sendiri.


dia yang tidak memiliki hubungan darah saja bisa dengan sangat yakin mengatakan bahwa apa yang Lin Bao ucapkan barusan adalah kebenaran.


tak tinggal diam orang itu memilih menyusul kepergian bocah laki-laki tersebut untuk menghiburnya.


"yang mulia apa itu tidak keterlaluan, bagaimanapun pangeran Lin masih kanak-kanak"


"dia harus belajar memahami segalanya mulai saat ini, dia adalah calon raja"


"tapi yang mulia..."

__ADS_1


"apa kau bosan hidup"


"ahh tidak, maafkan atas kelancangan saya yang mulia"


"ayo kembali"


kedua pria itu pergi dari sanah, di sudut koridor seorang gadis Cantik mengembangkan senyumannya dengan sangat manis saat mendengar obrolan tersebut.


....


Sedangkan di ruang hukuman Lin Bao tengah bersungut-sungut sambil menggambar banyak pola dengan tangan mungil-nya.


"ibu dimana, Lin sangat merindukan ibu ayah jahat dia sudah tidak sayang lagi pada Lin"


perlahan bulir bening jatuh dari kedua kelopak matanya yang bulat dan indah itu.


"ibu juga sangat merindukan mu sayang"


Deg


Jantung bocah laki-laki tersebut berdetak sangat cepat saat mendengar suara seseorang yang di rindukannya.


Lin Bao langsung menoleh ke arah sumber suara Kini tatapan Keduanya bertemu.


"ibu"


Guma Lin Bao sedikit tidak percaya atas apa yang dia lihat saat ini, seorang wanita cantik tengah berlutut sambil merentangkan kedua tangannya di depan sanah.


"kemari lah"


ucap sosok itu yang tidak lain adalah Aqila, dengan senyuman manis tercetak jelas di bibirnya.


Lin Bao kembali tertegun mendengar suara itu, dia menggosok kedua matanya untuk memastikan bahwa apa yang dia lihat adalah nyata.


setelah yakin bahwa dia tidak sedang berkhayal, Lin Bao langsung berlari ke arah Aqila untuk memeluk gadis itu.


"ibu akhirnya datang, Lin sangat rindu"


Bocah laki-laki tersebut menumpahkan segala kerinduannya di pelukan Aqila, Dengan lembut gadis itu membelai kepalanya sambil sesekali mengatakan.


"ibu juga sangat merindukan mu"


Pada akhirnya mereka saling menyalurkan kerinduan yang sudah lama terpendam.


Setelah puas, Aqila mulai menanyakan masalah yang terjadi antara anak dan ayah itu serta apa saja yang terjadi di kerajaan bingjie selama dirinya tidak ada.


Lin Bao yang pada dasarnya tidak menyukai sosok Jun jia langsung menceritakan segalanya pada gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2