SANG DEWI PENAKLUK

SANG DEWI PENAKLUK
Alasan Perubahan Sikap Lin Zhang


__ADS_3

Sesuai permintaan Lin Bao Aqila tidak jadi membunuh Lin Zhang tetapi mengikatnya dengan tali suci.


Dimana siapapun yang terikat oleh tali tersebut tidak bisa meloloskan diri baik itu penyihir, iblis, manusia biasa maupun para dewa.


tali tersebut terbuat dari seribu kebaikan mereka yang memiliki hati buruk tidak akan bisa melepaskan diri sekuat apapun dirinya, kecuali pemilik tali tersebut yang melepaskannya.


Tali suci haya bisa di gunakan sebanyak tiga kali, meski enggan Aqila terpaksa menggunakannya, kini tersisa dua kesempatan lagi.


"LEPAS"


Lin Zhang merasa tubuhnya sangat panas dia berusaha memberontak sekuat tenaga tetapi ikatannya tidak kunjung lepas yang ada semakin kuat.


"kau tidak akan pernah bisa lepas dari jeratannya"


Ucap Aqila dengan ekspresi datar semua orang menatap kagum sekaligus tak percaya karena lagi-lagi mereka dikejutkan dengan banyak hal yang tak terduga dari gadis itu, sedangkan Lin Zhang mengumpati Aqila dalam hati.


kini sorot matanya terdapat kebencian yang begitu dalam terhadap gadis itu.


"suatu hari nanti aku pasti akan membunuh mu"


Lin Zhang mengucapkan setiap katanya dengan penuh penekanan dia bersumpah dalam hati akan membalaskan rasa sakitnya.


Aqila yang kemarahannya belum sepenuhnya reda kembali tersulut emosi jangan lupakan bahwa Aqila memiliki kesabaran setipis tisu.


"Lin sekarang putuskan apa kau ingin bertahan disini atau ikut dengan ibu"


kali ini Aqila berbicara dengan nada datar tidak ada kelembutan sama sekali, Lin Bao yang paham dengan perubahan sikap Aqila di buat dilema.


Dia bingung harus memilih siapa keduanya begitu berarti, bocah laki-laki tersebut menatap ke arah Lin Zhang kemudian ke arah Aqila secara bergantian.


Lin Zhang mendengus kesal dengan pertanyaan yang Aqila ajukan dia sangat yakin bahwa putranya akan memilih dia dari pada orang asing yang baru di kenalnya.


Tapi sedetik kemudian rajut wajah pria angkuh itu berubah, Lin Zhang menatap tidak percaya kala Lin Bao lebih memilih Aqila ketimbang dirinya.


"apa kau menyesal Lin"

__ADS_1


"tidak tetapi bolehkah aku meminta sesuatu"


"apa"


"kumohon jangan bunuh ayah"


"baik tapi dia akan tetap di hukum"


setelah mengatakan hal tersebut Aqila menatap satu persatu kini pandangannya jatuh ke arah Jun Jia dan Mentri Jun.


Kedua orang tersebut sedikit ketakutan saat bersitatap dengan mata tajam Aqila apalagi aura gadis itu membuat mereka kesulitan bernafas.


"kalian mencari masalah dengan orang yang salah"


"apa maksud anda nona Aqila, kita tidak pernah bertemu sebelumnya bagaimana mungkin kami membuat masalah dengan anda"


"kalian telah mengusik orang ku"


Mentri Jun dan Jun Jia meneguk ludah mereka dengan susah payah, kala Aqila memberikan tatapan mematikan.


"kau dan kedua putra mu mengelapkan dana kerajaan jangan kira aku tidak tau dan untuk mu Jun jia mimpi mu untuk menjadi ratu tidak akan pernah terwujud, aku tidak Sudi jika kerajaan ku di Pimpin oleh seonggok pecundang seperti kalian"


Flashback,,,,


1 tahun lalu


di kerajaan bingjie terjadi pertempuran dengan para monster yang entah datang dari mana, di tambah dengan wabah membuat para penduduk uring-uringan.


Kedatangan mereka yang selalu mengacau di beberapa desa membuat Lin Zhang terpaksa turun tangan sendiri.


Karena semua utusan yang dia perintahkan untuk membunuh mereka selalu tidak membuahkan hasil.


Hingga pada suatu hari Lin Zhang di serang dengan tiga anak panah secara tiba-tiba entah dari mana saat bertarung dengan kawanan monster tersebut.


Para panglima dan jendral yang juga ikut serta di pertempuran itu meminta Lin Zhang untuk kembali ke istana setelah sempat mendapat penanganan di barak.

__ADS_1


Berkat bantuan Lin Zhang para monster akhirnya bisa teratasi, karena tidak ingin terjadi kekacauan di istana pria itu akhirnya menurut.


Dia di dampingi oleh salah satu orang kepercayaannya juga ada sekitar 20 prajurit terlatih mengiring rombongan tersebut.


ketika di pertengahan jalan memasuki kawasan hutan rombongan mereka di cegat oleh sekelompok bandit yang jumlahnya lumayan banyak.


Lin Zhang dan yang lain sebenarnya sudah sangat lelah dan malas meladeni mereka semua, namun jika tidak di selesai secepatnya mereka tidak akan bisa kembali dengan cepat.


tidak butuh waktu lama pertarungan kembali terjadi, dan secara tak terduga Lin Zhang kembali mendapat serangan mendadak berupa satu anak panah melesat menuju jantung pria itu.


Namun secara mengejutkan di tengah kebisingan sebuah suara mengalihkan perhatian Lin Zhang dari lawan di depannya.


"yang mulia awas"


Jleb


ketika Lin Zhang menoleh ke arah kiri tepat panah tersebut di lepaskan seorang gadis menghadang anak panah itu hingga mengenai tubuh bagian dadanya sendiri.


Lin Zhang yang melihat itu semua buru-buru meraih tubuh gadis itu yang hampir limbung ke tanah.


Tidak berselang lama beberapa bantuan pasukan istana datang menolong rombongan tersebut.


Sedangkan para bandit yang hanya tinggal beberapa melarikan diri karena masih sayang nyawa.


Lin Zhang bergegas memacu kudanya dengan sangat cepat agar gadis dalam pelukannya bisa segera di tangani.


gadis itu tidak lain dan tidak bukan adalah Jun Jia dan sejak kejadian itu Lin Zhang memperlakukan keluarga Jun dengan baik.


Lin Zhang sempat menawarkan sebuah hadiah pada mereka namun di tolak dengan alasan membantu raja adalah suatu kehormatan dan kewajiban bagi mereka.


Hingga Lin Zhang yang tidak ingin memiliki hutang Budi memberi mereka kesempatan untuk meminta apa saja sebagai balas budi.


Mentri Jun yang sejak awal memiliki rencana menggunakan kesakitan putri sulungnya untuk mengikat Lin Zhang agar pemuda itu berada di pihaknya.


Mentri Jun juga menyuap tabib yang mengobati Jun Jia agar mengatakan bahwa putrinya mengalami Luka yang begitu serius hingga membuat Lin Zhang mau tidak mau menuruti keinginan pria itu.

__ADS_1


Itulah alasan mengapa Lin Zhang segan menghukum bangsawan Jun meski itu perintah Aqila sekalipun.


Flashback off,,,


__ADS_2