
di tengah ketegangan Lila, Lin Shan dan Bai Lu turun dari lantai atas untuk menghampiri Aqila yang sedang sarapan.
"nona saya pikir anda kemana rupanya di sinih, kapan anda bangun"
tanya Lila penasaran karena ketika dirinya terbangun dan berniat membantu Aqila bersiap gadis itu malah tidak ada di ruangannya.
"enam pagi"
Aqila menjawab datar pertanyaan tersebut, seolah tidak ingin meladeninya lagi.
seperti biasa Lila hanya memaklumi sikap tuannya itu yang terlalu irit bicara.
ingin heran tapi itu adalah Aqila, gadis yang hanya bicara panjang lebar jika di rasa perlu selebihnya dia tidak akan perduli.
"nona kemana kita akan pergi"
tanya Bai Lu menimbrung pembicaraan tersebut.
"pulang"
Aqila menjawab datar setiap pertanyaan yang di ajukan padanya
"bukankah nona kemarin sudah mengatakannya kita akan kembali ke kerajaan Cang'an"
Lila ikut menjawab, mengingatkan kembali ucapan Aqila sebelumnya saat mereka masih berada di dalam istana.
Bai Lu melirik malas saat Lila menyambar pembicaraan dirinya dengan sang tuan.
sedangkan Lin shan memilih diam memperhatikan interaksi ketiga gadis di hadapannya.
meski begitu pusat perhatian sesungguhnya di arahkan hanya pada Aqila.
....
beberapa jam berlalu kini mereka sedang dalam perjalanan menuju wilayah selatan.
Lila, Lin Shan dan Bai lu memacu kuda dengan sangat cepat untuk menyusul aqila di depan karena lagi-lagi mereka harus tertinggal oleh kecepatan kuda gadis itu.
kekang kuda terus di tarik tanpa jeda sedikit-pun jika dilihat dari jarak jauh mereka berempat terlihat seperti sekelompok orang yang sedang berlomba untuk menentukan siapa yang paling hebat di antara ke empatnya.
meski itu benar Aqila akan tetap jadi pemenang utama karena selama ini tidak ada seorang pun yang bisa menandingi kecepatan kuda Hitamnya.
setelah saling adu mengalahkan keempat orang tersebut kini sudah tiba di pintu gerbang perbatasan selatan.
seperti sebelumnya kedatangan mereka tidak di sambut baik oleh penjaga gerbang kerajaan canghai.
apalagi dengan adanya kasus pembantaian bangsawan Wu yang di lakukan oleh Aqila beberapa waktu lalu.
membuat nama gadis itu terkenal di wilayah tersebut karena kekejamannya.
padahal itu adalah salah mereka sendiri yang telah berani mengusik ketenangan orang lain.
"maaf nona Aqila anda di larang masuk"
__ADS_1
ucap salah satu prajurit penjaga gerbang perbatasan.
"kenapa"
bukan Aqila yang menjawab melainkan Lila, tiga orang menatap bingung ke arah prajurit tersebut Karena alasan apa mereka di larang memasuki wilayah kerajaan.
"kalian sudah membuat kekacauan di wilayah kami dan masih bertanya"
ucap prajurit ketus, mencoba mengingatkan mereka kembali tentang kejadian sebelumnya.
"itu salah kalian sendiri kami hanya ingin menumpang lewat tapi kalian malah mengusik kesabaran kami"
setelah sempat berpikir untuk beberapa saat akhirnya Lila dan Lin Shan mengingatnya kembali karena sebelum sampai di wilayah Utara tanpa sengaja mereka mendengar pembicaraan aqila dan dua jendral pasukan khusus sedang membahas hal itu.
"dia telah membunuh seluruh keturunan bangsawan Wu yang mulia raja minta kami untuk tidak boleh mengijinkan Kalian menginjakkan kaki di tempat kami lagi"
dengan tegas prajurit yang lain mencoba menghalangi mereka berempat agar tidak memasuki kerajaan.
"katakan pada raja mu aku hanya ingin lewat"
setelah lama bungkam Aqila akhirnya membuka suara dengan nada dingin.
"bagaimana jika kami tidak mau, sebaiknya anda lewat jalan lain saja"
ucap pria awal yang masih ngotot untuk tidak mengijinkan mereka masuk ke dalam.
"apa kau bodoh, otak mu taro dimana jika ada jalan lain lagi kenapa kami harus datang ke tempat ini"
Lila yang memang pada dasar-nya gampang tersulut emosi langsung mengeluarkan amarah-nya.
prajurit tadi merasa tidak terima saat Lila merendahkan dirinya dengan Kata-kata tersebut.
"apa, mau kehilangan kepala saat ini juga"
bentak Lila dengan sorot mata tajam membuat prajurit itu terkejut dan mulai diliputi rasa takut.
"pergi sanah"
meski Merasa takut beberapa prajurit tetap berpegang teguh pada pendirian mereka dalam menjalankan tugas dari sang raja.
"tidak sebelum aku melenyapkan kalian semua"
ucap Aqila yang kini sudah kehilangan kesabaran karena merasa waktunya terbuang percuma untuk hal tidak berguna ini.
"apa lagi yang ingin kau lakukan di tempat kami nona Aqila"
keluh salah satu prajurit dia sebenarnya tidak ingin berurusan dengan Aqila tapi tugas mengharuskannya untuk melakukan hal demikian.
"buka jika tidak ingin menyesal"
ucap Aqila sekali lagi memberi mereka kesempatan sebelum akhirnya harus menyesal.
"maaf nona kami hanya menjalankan tugas mohon anda tidak menambah beban kami nona"
__ADS_1
"baiklah kalian yang meminta ini semua"
setelah menahan emosi untuk waktu yang cukup lama Aqila mulai mengeluarkan sihir air untuk membekukan siapa saja yang berani menghalangi jalannya.
setelah selesai gadis itu perlahan masuk di ikuti yang lain, sedangkan prajurit yang di buat membeku terpaksa harus bertahan hingga tiga jam menunggu balok es itu mencair itu-pun jika mereka masih sanggup menghadapi dinginnya sihir es buatan aqila.
setelah memakan waktu satu hari kini Aqila dan yang lain tiba di ibu kota kerajaan canghai saat suasana menjelang malam.
itu memberi mereka kesempatan masuk dengan mudah tanpa di curigai oleh pihak kerajaan.
tapi sayang hal tersebut tidak bertahan lama karena salah satu prajurit penjaga gerbang perbatasan sedang melapor ke istana tentang kedatangan Aqila dan teman-temannya.
"salam yang mulia raja duan ming semoga anda berumur panjang dan sehat selalu"
ucap prajurit penjaga pintu gerbang perbatasan memberi salam terlebih dulu sebelum akhirnya menyampaikan laporan.
"ada apa, sesuatu terjadi"
duan ming menatap tajam prajurit tersebut karena telah berani mengganggu jalannya rapat.
"nona Aqila berhasil menyusup ke kerajaan ini, dia membekukan kami dengan kekuatannya setelah kami mencoba menghalangi perjalanan mereka"
setelah mengatur irama nafas prajurit itu mulai menjelaskan alasan kedatanganya yang secara mendadak.
"kurang ajar, kenapa gadis itu tidak mati saja di wilayah Utara, sungguh merepotkan"
Duan Ming menggeram marah sambil memukul sisi kursi yang di duduki-nya
"maaf yang mulia ada kabar buruk lagi yang harus anda ketahui tentang nona Aqila"
ucap prajurit tersebut mencoba menyampaikan berita yang dia dengar sebelumnya tentang Aqila.
"kenapa"
tanya duan min penasaran sekaligus kesal dengan kedatangan Aqila di wilayahnya.
"beliau telah berhasil menaklukan kerajaan bingjie dengan tangannya sendiri karena raja sebelumnya telah berani menyentuh orang yang di sayangi-nya"
prajurit kembali menjelaskannya dengan sangat detail tentang rumor Aqila saat berada di wilayah Utara.
"apa itu benar"
duan ming terkejut bukan main tapi wajahnya masih menampakan ekpektasi datar menutupi rasa takut yang meliputi hatinya saat ini.
"benar yang mulia"
ucap salah satu Mentri yang juga sudah mendengar tentang rumor tersebut
"lalu apa yang harus kita lakukan untuk mengalahkannya"
"sebaiknya kita lihat saja terlebih dulu yang mulia jika memang dia membuat kekacauan kita bisa langsung menangkapnya dan memberinya hukuman"
ucap Mentri lainya, dia merasa ini Adalah solusi yang bagus setelah mendengar penjelasan temannya tentang bagaimana sikap aqila di berbagai wilayah.
__ADS_1
hey ketemu lagi sama author maaf yh kalo masih ada kata yang salah author masih belajar untuk memperbaikinya 🥰🙏
terimakasih sudah berkunjung dan selamat membaca 🙏 😊