SANG DEWI PENAKLUK

SANG DEWI PENAKLUK
Meminta Izin


__ADS_3

Aqila terbangun di tengah malam dengan peluh keringat yang membasahi seluruh tubuhnya.


"sepertinya hal buruk akan segera terjadi"


ucap Aqila setelah tenang, gadis itu melihat ke arah jendela, langit masih gelap tapi ia tidak bisa tertidur lagi.


Aqila mengingat kembali apa yang tadi dia impikan, sebuah bayangan mengerikan seolah terus berputar di otak kecilnya.


flashback,,,


di alam mimpi seorang gadis cantik berjalan tak tau arah, dia terus melihat ke sekeliling tempat yang ia lewati.


sebuah hamparan Padang rumput yang gersang dengan banyaknya kobaran api dan sisa pembakaran ada juga tumpukan mayat berserakan dengan beberapa bagian tubuh terpisah.


genangan darah membanjiri seluruh area, senjata berserakan dimana-mana kepulan asap menjunjung tinggi ke atas langit.


udara menjadi pengap langit berubah gelap petir terus menggelegar ke bawah tidak ada yang selamat di sanah.


bahkan para binatang pun ikut menjadi korban gadis itu bingung dengan apa yang sedang terjadi saat ini.


perasaan gelisah, takut, kecewa, marah sedih mulai muncul dalam hatinya ia tidak mau di tinggal sendirian, perlahan tubuh Aqila lunglai dan akhirnya terjatuh.


"tidak ini bukan salah ku"


Aqila terus menggumakan hal tersebut dia memegang kepalanya yang terasa sangat menyakitkan, mata gadis itu terpejam dan mengeluarkan air mata.


seolah perasaan bersalah terus menghantuinya, dia benar-benar tidak sanggup dengan rasa sakit ini, aqila hanyut dalam lautan ketakutannya sendiri.


hingga suara seseorang mulai menyadarkannya kembali.


"axela sadarlah, kau pasti bisa melawan ketakutan itu, seseorang sedang berusaha melemahkan keyakinan mu putri ku"


ucap wanita itu yang tidak lain adalah meilin ibu kandungnya sendiri.


"ibu kau dimana aku takut"


Aqila melihat ke segala arah untuk mencari sosok ibunya namun wanita Tersebut tidak terlihat sama sekali bahkan bayangannya saja tidak ada.


"Axela ibu disini, di hati mu tenanglah putri ku"


suara itu kembali terdengar membuat Aqila sedikit nyaman.


"ibu aku dimana"


Aqila akhirnya menanyakan kebingungan yang sejak tadi dia rasakan.


"kau berada di lautan ketakutan, seseorang sengaja menciptakan ini semua untuk menguji mu, dengar axela teruslah berlatih hingga kau menjadi sangat kuat karena musuh mu bukanlah orang yang mudah untuk dikalahkan. fokuskan pikiran mu jika kau ingin pergi dari sini, selamat tinggal axela ibu menyayangi mu"


ucap meilin sedikit memberi arahan pada Aqila untuk kedepannya.


"baik Bu"


begitu tidak ada lagi jawaban dari meilin Aqila langsung memejamkan matanya mencoba fokus untuk segera kembali ke dunia nyata dan itu berhasil.


flashback off,,,


tidak terasa waktu berputar begitu cepat baru saja Aqila memejamkan mata, matahari sudah menyongsong tinggi di atas langit.


suasana istana kembali seperti sebelumnya Han Zain juga sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan yang baru.


kini pria paruh baya itu sedang mengadakan rapat bersama para mentri dan orang penting lainnya.


untuk saat ini tidak ada masalah serius yang perlu melibatkan aqila jadi gadis itu bisa menikmati harinya dengan tenang.


siang hari Aqila terbangun dari tidur lelapnya gadis itu langsung pergi membersihkan diri di bantu oleh Lila.


"ada apa nona"


tanya Lila yang sedang menyisir rambut panjang gadis itu.


"Lila bersiaplah"


ucap Aqila begitu misterius membuat Lila sedikit kebingungan


"untuk apa"


tanya Lila dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat konyol.


"kita akan meninggalkan istana untuk waktu yang lama"

__ADS_1


ucap Aqila datar, sambil melihat pantulan dirinya di dalam cermin.


"memangnya kita mau kemana nona"


lila penasaran kemana mereka akan pergi dan untuk tujuan apa.


"mencari anggrek hitam seribu kelopak"


Aqila kembali mengungkit hal yang dulu pernah dia katakan sebelumnya.


"apa anda tau dimana tempatnya"


"tidak"


jawab Aqila jujur, karena memang dia belum tau dimana tempat tanaman itu berada.


"lalu kemana Kita akan mencarinya"


"kau akan tau nanti"


Aqila mulai sedikit kesal dengan berbagai pertanyaan yang terus Lila ajukan padanya.


"kapan kita pergi"


"besok"


"secepat itu"


jawab Lila, gadis itu terlihat begitu syok dan terus menggelengkan kepala.


....


malam hari di ruang makan utama sepasang ayah dan anak sedang menikmati makan malam bersama.


kebiasaan itu terus di lakukan meskipun mereka tidak lagi tinggal di kediaman Han.


Aqila merindukan tempat itu sejujurnya dia lebih suka tinggal di sanah ketimbang di istana karena tempat ini tidaklah senyaman rumah lamanya.


Aqila juga pindah ke paviliun Linhua yang dulu di huni oleh putri mahkota, karena paviliun merak sekarang di tempati oleh sang ayah atas permintaannya sendiri.


"ayah"


panggil Aqila pada Han zain di sela makan mereka


Han zain menghentikan acara makanya dia menatap Aqila dengan bingung.


"aku ingin meminta izin pada ayah"


Aqila berbicara dengan tenang ini waktu yang tepat untuk mengatakan keinginannya.


"memangnya kau mau kemana"


ucap Han Zain, pria paruh baya itu menatap lekat wajah Aqila


"aku ingin menjalankan tugas dari ibu"


jawab Aqila tenang dia tidak harus terburu buru dalam mengatakannya


"apa ibu mu kembali menemui mu"


Han zain terkejut begitu Aqila mengatakan hal itu dia juga merasa heran kenapa meilin hanya menemui aqila dan tidak dengan dirinya.


"hm"


"apa ibu mu membenci ayah"


ucap Han Zain lirih, pria paruh baya itu menundukkan kepalanya karena merasa kecewa


"tidak"


Aqila sendiri tidak tau alasannya Kenapa, ia hanya mencoba untuk menghibur perasaan sang ayah dengan mengatakan hal itu.


"lalu kenapa dia tidak pernah hadir dalam mimpi ayah"


"akan aku sampaikan pada ibu jika aku bertemu dengannya lagi, ayah merindukan ibu"


ucap Aqila dan itu berhasil membuat tuan Han sedikit tenang


"tentu saja ayah sangat mencintai ibu mu meilin adalah wanita tercantik yang pernah ayah temui"

__ADS_1


Han zain menjawab dengan penuh semangat ada banyak cinta untuk ibunya di mata pria itu.


"lalu kenapa ayah menikah lagi"


tanya aqila membuat hati Han zain sedikit tercubit ngilu, ia kembali teringat masa lalunya.


"ayah dan huranran tidak menikah secara resmi Aqila, wanita itu masuk ke dalam kehidupan ayah atas permintaan kakek mu"


jelas Han Zain dengan jujur namun aqila masih sedikit ragu, dia tidak terlalu paham dengan istilah selir di zaman ini.


"ayah tidak sedang berbohong"


ucap Aqila dingin sambil menatap tajam pria yang ada di hadapannya


"tentu saja Aqila, huranran menjebak ayah dengan mengatakan dia sedang mengandung anak ayah di hadapan kakek nenek mu, jadi ayah terpaksa mengambilnya untuk di jadikan selir"


ucap Han Zain penuh ketegasan, pria itu menjelaskan kembali alasan kehadiran huranran di kehidupannya.


"oh"


"apa kau berpikir ayah juga salah"


melihat reaksi yang aqila tampilkan hanya datar membuat Han Zain sedikit cemas.


"tidak"


"sungguh"


tuan Han sedikit lega mendengar jawaban Aqila di saat bersamaan dia juga masih merasa ragu


"hm"


Aqila hanya menjawab dengan anggukan kecil dan masih ekspresi datar


"hanya kau satu satunya orang yang percaya dengan apa yang ayah katakan tentang hal barusan"


ucap Han Zain terharu atas kepercayaan Aqila terhadapnya.


"aku bisa melihat orang seperti apa itu huranran hanya dengan satu kali memandangnya"


apa yang aqila katakan adalah benar analisanya tidak pernah salah, ia tidak tau harus menganggapnya keberuntungan atau kesialan.


"baiklah kau memang hebat"


Han zain memuji kehebatan aqila dia baru menyadari bahwa putrinya sangat berbakat.


"apa ayah mengizinkan ku pergi"


"ya, asal kau berjanji pada ayah kau akan kembali dengan selamat tanpa luka sedikit-pun"


meskipun tidak mengizinkan, Aqila akan tetap melakukannya jadi dia hanya bisa mengangguk setuju walau hatinya terus merasa cemas.


"hm"


Aqila Merasa sedikit lega begitu mengantongi izin dari sang ayah


"berapa lama kau akan pergi"


tanya Han Zain yang ingin tau seberapa lama Aqila akan pergi meninggalkannya.


"entah aku tidak bisa memperkirakan"


"ayah akan sangat kesepian tanpa mu"


belum juga Aqila pergi tuan Han sudah mulai mengeluh pada gadis itu.


"ada banyak orang yang akan menjaga ayah nantinya aku percayakan kerajaan ini pada Ayah buat semua orang percaya bahwa ayah mampu memimpin kerajaan ini dengan baik"


ucap aqila mempercayakan kerajaannya pada sang ayah karena dia yakin pria paruh baya itu mampu melakukannya.


"siap tuan putri ayah yang paling cantik"


jawab Han Zain dengan kekehan kecil mencoba menggoda putrinya membuat Aqila memutar bola mata malas.


mereka kembali melanjutkan acara makan malam dengan tenang, setelah selesai keduanya kembali ke kediaman masing-masing untuk beristirahat.


hey ketemu lagi sama author sedikit cerita otak author ini lagi gimana gitu sebenarnya author mau up banyak tapi selalu gagal karena kurang konsen jadi author minta maaf yah belum bisa memuaskan keinginan kalianπŸ™πŸ˜Š


terimakasih buat yang sudah selalu setia di karya author sehat selalu untuk kalian semua

__ADS_1


see you next time di bab berikutnya πŸ₯°


selamat membaca πŸ™πŸ₯°πŸ˜Š


__ADS_2