SANG DEWI PENAKLUK

SANG DEWI PENAKLUK
Pemberontakan


__ADS_3

mereka terpaksa beristirahat di dalam hutan karena malam semakin larut dan tubuh juga perlu di istirahatkan.


selang beberapa waktu matahari mulai menampakkan sinarnya, tanpa menunggu lama lagi mereka berempat bergegas kembali melanjutkan perjalanan.


saat tiba di gerbang perbatasan alangkah terkejutnya dengan pemandangan yang ada, banyak mayat tergeletak mengenaskan di sepanjang jalan.


"nona sepertinya terjadi sesuatu"


ucap Lila, gadis itu terlihat cemas saat mengatakannya.


"hei long bisa lebih cepat lagi"


alih menjawab, Aqila malah menyuruh naga hitam itu untuk mempercepat laju terbangnya.


"baik nona"


dengan senang hati hei long mengerahkan kekuatannya lagi.


sedangkan di ibu kota keadaan semakin kacau para penduduk terpaksa di ungsikan demi mengurangi banyaknya korban yang berjatuhan.


kejadian saat ini di luar perkiraan raja karena selama kepergian Aqila semuanya masih baik-baik saja.


hingga beberapa hari kebelakang kekacauan mulai terjadi dari pembakaran lumbung pangan hingga krisis air bersih.


para prajurit yang tersisa masih berusaha mempertahankan keamanan istana juga tempat persembunyian warga dan orang-orang penting lainnya


sepertinya pemberontakan kali ini tersusun dengan baik hingga pihak istana di buat kewalahan dalam menanganinya.


"dengar, kerahkan seluruh tenaga kalian jangan biarkan mereka masuk ke istana"


ucap tianzhi, dia adalah salah satu jendral pasukan khusus milik Aqila yang dulu sempat di minta menjaga keamanan kerajaan sebelum gadis itu pergi.


"benar, nona sudah mempercayakan semuanya kepada kita, jangan sampai kita membuatnya kecewa"


sambung shuwan, identitas pemuda itu sama halnya dengan tianzhi.


pertempuran terus terjadi hingga tak sedikit orang harus meregang nyawa demi membela keyakinan mereka masih-masing.


di sisi lain, di istana sang raja sudah siap untuk turun tangan sendiri dalam menghabisi para pemberontak yang telah berani membuat ulah di wilayahnya.


sebagai seorang pemimpin dia tidak bisa hanya berpangku tangan menyaksikan mereka berjuang mati-matian dalam mempertahankan keamanannya dan yang lain.


"apa kalian sudah siap"


Han Zain berdiri di depan seluruh pasukan dengan gagah berani tidak ada raut takut sedikitpun di wajahnya yang hampir menua.


"kami sudah siap yang mulia raja"


para prajurit menjawab dengan serempak kobaran semangat dalam diri mereka terpancar begitu jelas.


setelahnya mereka mulai melangkah pergi menuju ibu kota tempat pertempuran terjadi saat ini.


tak butuh waktu lama Han Zain dengan lima ratus pasukan tiba di tempat dan langsung membantu pasukan yang tersisa.


mereka kembali menyerang satu sama lain, kedua pihak sama-sama memiliki pasukan yang mumpuni.


meski demikian pihak istana masih bisa di pukul mundur oleh pasukan lawan yang terbilang lebih cerdik dalam mengatur strategi.

__ADS_1


mereka menggunakan cara curang dalam melumpuhkan pasukan istana dengan melemparkan bubuk beracun.


hingga banyak prajurit mati di tempat karena tak kuat menahan racun tersebut.


"kau masih hidup"


Han Zain menatap tidak percaya sosok pemuda yang di kenalnya berdiri tepat di barisan lawan.


"tentu saja, apa kau terkejut"


pemuda itu menjawab dingin pertanyaan tersebut.


"lindungi yang mulia raja"


melihat gelagat mencurigakan musuh tianzhi kembali memberi komando untuk melindungi ayah dari sang tuan.


"cik menyebalkan"


dengus si pemuda sambil menatap benci ke arah mereka semua.


"apa yang kau inginkan"


tanya Han Zain lagi, meski sebenarnya ia sudah menduga alasan pemuda itu melakukan semua ini.


"tentu saja mengambil kembali kerajaan yang seharusnya menjadi milik ku"


ucap pemuda tersebut dengan penuh percaya diri, dia tidak tau saja bahwa keinginannya itu hanya akan semakin menambah penderitaannya.


"tapi sayangnya itu tidak akan pernah terjadi"


sebuah suara tiba-tiba terdengar mengejutkan mereka semua.


ucap Han Zain yang lebih dulu mengenali pemilik suara tadi.


"nona besar"


mendengar nama Aqila di ucapkan semua orang mulai mencari dimana asal suara tersebut.


"salam nona besar Aqila, akhirnya anda kembali"


setelah menemukannya seluruh pasukan istana, tianzhi dan shuwan mulai memberi hormat.


"hm"


Aqila menjawab singkat salam mereka semua, gadis itu berjalan tenang mendekati semuanya setelah turun dari tubuh besar hei long.


sedangkan Bai lu berubah menjadi ular kecil yang saat ini melilit di salah satu pergelangan tangan Aqila seperti gelang.


"rupanya kau masih hidup"


ucap pemuda itu dingin sambil menatap benci sosok Aqila.


"kenapa kau pikir aku sudah mati"


jawab Aqila tidak kalah dingin masih dengan ekspresi seperti biasa.


"itu lebih bagus, karena kau hidup ku dan keluarga ku menjadi menderita"

__ADS_1


pemuda itu mulai mengeluarkan kebenciannya, dia adalah pangeran Jiang yu putra dari raja sebelumnya Jiang nan, yang berhasil lolos dari kemarahan Aqila kala itu.


flashback,,,


tujuh bulan sebelumnya beberapa anggota keluarga kerajaan berhasil melarikan diri keluar istana melalui jalur rahasia yang hanya di ketahui oleh salah satu dari mereka.


setelah meninggalkan istana hidup mereka terlunta-lunta seperti buronan yang setiap saat harus berpindah tempat agar tidak ketahuan.


mereka adalah Jiang yu, permaisuri Qiao yu, selir mujin, Jiang lu (pangeran ke lima) dan Jiang mi (putri ketiga) juga salah satu jendral istana yang berpihak pada raja sebelumnya.


dan pada saat itulah Jiang yu mulai merubah perasaannya, yang dulu menaruh hati kini menjadi benci.


flashback off,,,


"rupanya membiarkan kalian tetap hidup adalah keputusan yang salah"


ucap gadis itu yang kini menyesali keputusan sebelumnya.


"jadi kau sudah tau kami masih hidup"


mendengar hal tersebut Jiang yu terkejut bukan main sebelumnya ia berpikir bahwa tidak ada yang tau tentang pelariannya tapi ternyata salah.


"tentu saja, apa kau berfikir bisa lolos dengan mudah dari kemarahan hei lang"


Aqila menatap tajam pemuda yang ada di depannya sambil tersenyum mengejek meskipun itu terlihat samar dan hampir tidak kelihatan, tapi Jiang yu masih dapat merasakannya.


"ohh tapi aku tidak akan pernah berterima kasih pada orang yang telah membunuh ayah ku"


dengan keras kepala Jian yu kembali menyulut api Amarah gadis itu yang sebelumnya baru di tenangkan.


"itu salahnya sendiri karena berani mengusik ketenangan hidup orang lain"


Jawa Aqila dingin yang tengah berusaha menahan gejolak amarah dalam dirinya.


"saya menyesal pernah menyukai gadis kejam seperti anda"


satu persatu Jiang yu kembali mengeluarkan segala unek -uneknya.


"siapa yang menyuruh mu menyukai ku, tidak ada"


dengan tidak berperasaan Aqila membalas perkataan Jian yu tersebut.


syattttt


tidak tahan dengan segala kebencian yang selama ini di pendam, Jiang yu mulai mengarahkan pedangnya ke arah gadis itu


untungnya Aqila berhasil menangkis serangan tersebut dengan mudah menggunakan pedang hitam.


Trank


bunyi gesekan pedang terdengar nyaring di udara semua orang menatap cengo sepasang manusia yang saling menyerang satu sama lain.


baik Aqila maupun Jian yu tidak ada yang mau kalah, entah kekuatan darimana hingga saat ini pemuda tersebut masih mampu mengimbangi setiap serangan yang Aqila tujukan padanya.


Hay Hay semua ketemu lagi sama author yang cantik ini hehehe becanda wkwkwk


ada yang kangen sosok Aqila gak sorry yh beberapa hari ini author jarang up di karenakan banyak beban pikiran jadi author gak bisa fokus nulis.

__ADS_1


semoga kalian tidak bosan dengan cerita yang author sajikan kali ini, terimakasih sudah berkunjung.


see you next time di episode berikutnya 👋😊


__ADS_2