
Sebelum Aqila menarik kekang kudanya suara To Mu dan Annchi menghentikan sejenak pergerakan tersebut.
"maaf nona Aqila kami berdua tidak bisa ikut mengantar anda pergi ke kediaman Lin Bao, paman pasti sudah menunggu kedatangan kami"
To Mu berbicara dengan sopan agar tidak menyinggung perasaan gadis itu, dia tidak ingin di anggap orang yang tidak tau berterimakasih.
"tidak masalah"
Aqila menjawab acuh, dia terlihat tidak perduli sama sekali dengan apa yang di pikirkan oleh pemuda tersebut.
"sekali lagi kami minta maaf nona dan terimakasih sudah mengizinkan kami ikut bergabung dalam perjalanan kalian, kita akan bertemu lagi di sinih nantinya jika anda membutuhkan bantuan jangan sungkan menghubungi kami, kami berdua siap membantu sebisa mungkin"
Ucap To Mu lagi sebelum mereka berpisah ke tujuan masing-masing.
"hm"
"sampai jumpa semua"
Annchi dan To Mu menundukkan kepala sebentar sebagai tanda perpisahan.
"sampai jumpa"
ucap Lila dan Lin Shan sedangkan Aqila tidak lagi bersuara.
setelah itu dua rombongan kembali melanjutkan perjalanan dengan arah yang berbeda.
di sepanjang jalan Lin Bao berceloteh ria, meski Aqila jarang menanggapinya tapi anak itu terlihat sangat bahagia.
kedekatan keduanya menjadi pusat perhatian setiap orang yang berpapasan dengan rombongan tersebut.
siapa yang tidak tau dengan identitas anak laki-laki yang sedang bersama Aqila.
Lin Bao, dia adalah putra jendral Lin zhang dari kerajaan bingjie.
setelah hampir satu jam di perjalanan mereka semua tiba di sebuah bangunan besar berukiran kuno yang nampak sangat terawat.
kedatangan mereka di sambut oleh sepasang manusia yang sudah menunggu sejak tadi di depan pintu gerbang kediaman.
Aqila turun lebih dulu baru kemudian menurunkan Lin Bao dengan hati-hati.
sepasang manusia itu terus memperhatikan interaksi keduanya yang terlihat sangat akrab.
"terimakasih sudah mengantar cucu kami boleh saya tau siapa nama anda nona"
ucap seorang pria tua yang masih terlihat bugar, saat Aqila dan Lin Bao sudah ada di hadapannya.
"Aqila"
Aqila menyebutkan namanya dengan datar tanpa menghiraukan Padang kedua orang tersebut tentang sikapnya.
"terimakasih nona Aqila, maaf merepotkan Anda"
seorang wanita paruh baya menyela pembicaraan tersebut dia terlihat tidak marah sama sekali dengan sikap dingin Aqila.
bisa di tebak bahwa dia adalah nyonya besar dari kediaman Lin.
Lila dan Lin Shan di buat bingung dengan interaksi tersebut, lagi-lagi mereka hanya menjadi penonton.
"tidak masalah"
__ADS_1
"mari masuk nona, udara semakin dingin anggap saja ini rumah sendiri"
wanita paruh baya itu berbicara dengan ramah sepertinya dia menyukai karakter Aqila meski baru pertama kali bertemu.
"tidak terimakasih saya harus pergi"
Aqila menolak halus ajakan tersebut dia tidak ingin terlibat terlalu jauh dengan orang-orang dari kerajaan bingjie
"kakak cantik mau pergi kemana, bisakah kakak menemani ku lebih lama di sini aku kesepian"
Lin Bao merengek sambil terus mengguncang tangan Aqila kesana kemari.
"kakak masih ada urusan"
Aqila mencoba memberi pengertian pada bocah laki-laki tersebut agar membiarkannya pergi.
"kumohon"
bukannya melepaskan Lin Bao malah semakin bertingkah dia sudah akan menangis, Aqila jadi serba salah melihatnya.
ini kali pertama Aqila berhadapan dengan sikap anak kecil dia tidak terbiasa dengan hal itu.
"Lin Bao kau tidak boleh seperti itu, jangan merepotkan nona Aqila kasihan dia"
ucap wanita paruh baya itu mencoba membujuk cucu laki-laki.
"Hua hiks hiks hiks kalian jahat hiks hiks"
Lin Bao menangis keras karena keinginannya tidak di turuti, Aqila jadi tidak tega melihat itu semua.
"berhenti menangis atau aku akan pergi"
"tidak aku tidak menangis"
Lin Bao langsung mengusap air mata dan ingusnya dengan kedua tangan kemudian tersenyum manis ke arah Aqila.
"anak baik"
Aqila membelai lembut kepala Lin Bao membuat anak itu kegirangan bukan main.
"mari masuk"
nyonya besar kembali mengajak Aqila dan yang lain untuk masuk kedalam kediaman.
setelahnya semua orang melangkah memasuki kediaman Lin, Lin Bao terus menempel pada Aqila.
Lila dan Lin Shan hanya bisa pasrah mengikuti keinginan gadis itu mereka tidak berani membantah.
hari menjelang malam ketika Aqila, Lila dan Lin Shan di antar ke salah satu kediaman untuk beristirahat.
setelah membersihkan diri ketiganya di panggil untuk makan malam bersama dan secara kebetulan jendral Lin zhang kembali dari istana.
di ruang makan utama semua orang sudah berkumpul termasuk aqila, Lin bao tidak henti-hentinya mengajak gadis itu berbicara.
Aqila yang terkesan pendiam terpaksa harus berbicara banyak untuk menjawab setiap pertanyaan yang Lin Bao tanyanya padanya.
nyonya besar dan suaminya hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah cucu laki-lakinya itu.
tap tap tap
__ADS_1
suara langkah kaki terdengar dari luar pintu semua orang menoleh ke arah sumber suara tersebut kecuali Aqila, gadis itu tidak bergeming dari tempatnya sama sekali.
"hah,akhirnya kau datang juga"
"kemarilah, kita sedang kedatangan tamu kau malah datang terlambat"
"maaf"
seorang pria tampan bertubuh kekar melangkah masuk mendekat ke arah mereka dengan santai.
setiap langkahnya menyiratkan sebuah ketegasan yang mampu membuat orang berpikir dua kali untuk mengusiknya.
pria itu menatap lurus ke arah punggung Aqila penasaran dengan sosok tersebut.
dan pada akhirnya pandangan mereka berdua saling bertemu Lin Shan yang melihat itu semua sedikit merasa kesal dalam hati.
"perkenalkan nona dia adalah putra tunggal ku Lin zhang, ayah dari Lin Bao"
nyonya besar Wang memperkenalkan pemuda tersebut pada aqila.
"Aqila"
jawab Aqila seperti biasa datar dan acuh, tanpa sadar sikap tersebut berhasil menarik perhatian Lin Zhang yang terkenal kaku dan tak tersentuh.
"salam"
Lin Zhang memberi salam sebagai tanda perkenalan
"hm"
Aqila masih menjawab datar, sambil menatap ke arah pemuda tampan itu.
hening tidak ada lagi percakapan semuanya menatap cengo ke arah dua orang tersebut kecuali Lin Shan yang terlihat biasa saja.
"kalian sangat cocok sama-sama irit bicara"
celetuk Lin Bao dengan suara khas anak kecil kemudian tertawa cekikikan sendiri seolah itu adalah hal yang sangat lucu.
Aqila dan Lin zhang menengok ke arah Lin Bao secara bersamaan dengan wajah yang sama-sama datar.
kedua orang tua yang ada di sanah jadi ikut berpikir tentang apa yang di katakan oleh cucunya barusan.
Lin zhang membuang muka ke arah lain saat menyadari tatapan berbeda ke dua orang tuanya.
sedangkan Aqila terlihat santai seolah tidak terpengaruh oleh perkataan Lin Bao barusan.
"karena semuanya sudah berkumpul makan malam bisa di mulai"
ucap tuan besar Lin dengan suara tegas dan penuh wibawa.
meskipun dia sudah pensiun dari jabatannya tetapi tetap saja aura yang di keluarkan tidak main-main.
setelahnya semua orang mulai menikmati makan malam tersebut dengan tenang kecuali Lin Bao yang selalu saja mengoceh dengan mulut penuh makanan.
mereka sesekali menatap gemas ke arah bocah kecil itu.
malam semakin larut semua orang sudah kembali ke kediaman masing-masing untuk beristirahat melepas lelah menuju alam mimpi.
hey ketemu lagi sama author terimakasih sudah berkunjung semoga kalian tidak bosan menunggu up terbarunya 🤭
__ADS_1
sehat selalu untuk kalian semua dan see you next time 👋🙏😊