SANG DEWI PENAKLUK

SANG DEWI PENAKLUK
Menyewa Kediaman


__ADS_3

"jadi berapa keuntungan yang akan saya dapatkan"


tanpa berbasa-basi lagi Aqila langsung menanyakan berapa besar keuntungan yang akan dia terima dari kerjasama ini.


"empat puluh persen dari hasil penjualan"


jawab pemilik toko, dia berfikir jika Aqila setuju maka ia bisa mendapat lebih banyak uang.


"bukankah kami akan rugi, toko kalian akan mendapat banyak keuntungan setelah menggunakan resep nona saya"


Lin Shan menatap tidak suka pemilik toko dengan wajah datar-nya, pria itu tidak akan membiarkan siapapun memanfaatkan kebaikan Aqila.


"lalu berapa yang kalian inginkan, kami memberi empat puluh persen sebagai bayaran karena kami yang menyediakan bahan baku dan segala kebutuhan lain, sedangkan untuk anda itu murni keuntungan"


pemilik toko memberikan alasan yang logis namun Aqila itu pintar dan licik dia tidak akan membiarkan siapapun memanfaatkan dirinya dengan mudah.


"empat puluh lima persen jika anda setuju jika tidak saya bisa bekerja sama dengan toko yang lain"


tawar Aqila, gadis itu tidak ingin terlalu serakah dalam mengambil keuntungan yang akan mereka dapatkan nantinya.


"bagaimana dengan empat puluh dua persen"


meski dengan perasaan sedikit berat, pemilik toko kembali mengajukkan harga.


"tidak saya ingin empat puluh lima persen"


kekeh Aqila yang memang tidak bisa untuk di negosiasi lagi.


"baiklah saya setuju, selamat bekerja sama nona.."


karena tidak ingin kehilangan kesempatan emas terpaksa pemilik toko menyetujui harga yang Aqila tawarkan.


"Aqila"


jawab gadis itu memperkenalkan dirinya dengan singkat.


"saya Dau ming"


mereka berjabat tangan sebagai tanda kerjasama antar kedua belah pihak.


setelah selesai mendapat kesepakatan Aqila dan Lin Shan pergi dari sanah, mereka ingin mencari sebuah kediaman yang bisa di sewa untuk beberapa bulan ke depan.


mereka terus melangkah menyusuri jalanan ibu kota hingga tiba di sebuah bangunan dengan papan nama bertuliskan "TEMPAT PENGGADAIAN"


Aqila dan Lin Shan masuk ke dalam sanah untuk mencari tau apakah ada rumah yang bisa di sewakan pada mereka.

__ADS_1


dan benar saja di sanah ada begitu banyak kediaman yang di tawarkan oleh pemilik bangunan tersebut.


setelah memilih dan membayar mereka langsung mendatangi lokasi kediaman tersebut.


keduanya di hantar langsung oleh pemilik toko penggadaian, Karena Aqila membayar dengan cukup mahal.


begitu tiba gadis di buat terpana dengan suasana yang ada di kediaman itu, masih tampak Asri dan bersih karena selalu di rapihkan setiap harinya.


"bagaimana nona dan tuan apa kalian menyukainya"


tanya pemilik toko penggadaian dengan ekspresi khawatir takut jika Aqila tidak menyukainya dan membatalkan transaksi tersebut.


"hm"


Aqila hanya menganggukkan kepala sekali sebagai jawaban dan itu membuat pemilik toko penggadaian tersenyum senang.


"kalau begitu ini kunci-nya, saya pamit terlebih dulu karena masih banyak tamu yang menunggu kehadiran saya"


ucap pria itu dengan jujur karena memang itu kenyataannya yang terjadi di gedung pengadilan.


"silahkan"


kali ini Lin Shan yang menjawab mewakili Aqila.


"terimakasih"


"sama-sama"


jawab Lin Shan dengan ekspresi datar, pemuda itu sikapnya sudah mirip seperti Aqila.


setelah berpamitan pemilik toko melangkah keluar menuju kereta kuda miliknya untuk kembali ke tempat penggadaian.


sepeninggalan pria itu Aqila dan Lin Shan melangkah masuk lebih dalam, untuk mengetahui isi di dalamnya.


sekaligus mengistirahatkan diri karena hari akan menjelang malam.


kediaman itu terdiri dari empat bangun besar yang saling menghadap satu sama lain membentuk setengah lingkaran, juga pekarangan yang nampak luas dengan beberapa pohon dan bunga tumbuh subur di sekitarnya.


terdapat satu gajebo dengan danau kecil menghadap ke arah timur beberapa ikan dan tanaman teratai memenuhi kolam tersebut.


udara terasa nyaman saat bersentuhan dengan kulit bahkan kelopak bunga sakura tidak jarang berjatuhan karena tertiup angin Tersebut.


setelah puas berkeliling mereka berdua memilih tempat untuk beristirahat, di sana tidak ada satu pelayan-pun sehingga membuat Lin shan harus bersiaga jika sewaktu-waktu Aqila membutuhkan sesuatu.


Aqila memilih bangunan kedua yang menghadap ke arah selatan, sedangkan Lin Shan berada di bangunan ketiga dekat dengan dapur utama untuk memudahkannya dalam mengurus segala keperluan Aqila.

__ADS_1


pagi hari Lin Shan sudah di sibukkan dengan peralatan memasak dia ingin membuat makanan untuk aqila dan juga dirinya.


selain tampan dan menguasai beladiri, Lin Shan juga memiliki keterampilan memasak yang mumpuni hingga banyak gadis di kerajaan Cang'an yang mengidolakannya sebagai calon suami idaman begitu-pun dengan Lila sahabat mereka sendiri.


sedangkan untuk Aqila saat ini, gadis itu baru saja terbangun dari tidur lelap saat sang Surya dengan sengaja menyentuh kulit wajah-nya melalui celah jendela.


Aqila bangkit dari atas ranjang kemudian berjalan menuju jendela tersebut, dia membuka sedikit lebar kain penutup untuk merasakan hangatnya mentari pagi.


sambil menatap lurus ke depan dia memikirkan sesuatu yang sejak lama mengganjal hatinya namun dia sendiri tidak tau apa itu dan mengapa ia merasakannya.


namun sepuluh menit setelahnya lamunan tersebut kembali buyar saat seseorang yang dia kenal memanggil nama-nya.


"nona saya sudah menyiapkan sarapan apa anda ingin menikmati-nya sekarang"


ucap Lin Shan yang tiba-tiba masuk, pemuda itu sudah ada di belakang Aqila saat ini hanya berjarak lima langkah saja.


"sebentar aku ingin membersihkan diri terlebih dalu"


jawab Aqila tanpa menoleh sedikit pun dia masih asik menikmati cahaya mentari yang mengenai wajahnya.


Lin Shan di buat terpesona melihat pemandangan itu jantungnya bedegup dengan kencang seolah ingin keluar dari tempat-nya


"kalau begitu saya pamit, jika nona membutuhkan sesuatu panggil saja, saya berjaga di depan pintu"


ucap Lin Shan, pemuda itu ingin segera pergi dari sanah karena merasa wajahnya mulai memerah saking terpesona melihat kecantikan Aqila.


"terimakasih"


jawab gadis itu sambil membalikkan tubuh menghadap ke arah pemuda tersebut.


Lin Shan menganggukkan kepala dan tanpa sadar tersenyum manis dengan wajah memerah, pemuda datar itu akan bersikap hangat hanya pada gadis itu saja.


andai ada gadis lain yang melihat senyuman tersebut mungkin dia akan jatuh pingsang di buatnya.


tapi itu tidak berlaku untuk Aqila, gadis itu hanya memandang dengan tatapan biasa seolah tidak terpengaruh sama sekali.


sikap dingin dan wajah datar-nya membuat dia mendapat julukan si kulkas berjalan, bahkan sampai detik ini belum ada satu pria yang berhasil membuatnya tersenyum manis termasuk ayah-nya sendiri yaitu tuan Han.


entah laki-laki seperti apa yang mampu menarik perhatian-nya.


waktu terus berlalu hingga kini menjelang siank Aqila dan Lin Shan kembali ke pasar ibu kota untuk mencari orang yang ingin bekerja dengan mereka.


sekaligus mengecek keadaan toko mie yang telah menjalin kerjasama dengan gadis itu.


...hey ketemu lagi sama author maaf yh klo masih ada kata yang kurang di mengerti, mohon di maklumi karena author masih dalam proses belajar....

__ADS_1


...semoga kalian masih suka dengan ceritanya see you next time di episode berikutnya 👋😊...


__ADS_2