
Lin shan kembali terdiam saat nama tuan Li anji di sebut, lima belas menit setelahnya pelayan itu datang bersama orang yang di maksud.
Li anji awalnya menatap bingung sepasang manusia yang tengah duduk tenang di depan sanah namun setelah di teliti kembali akhirnya dia menyadari siapa keduanya, barulah setelah itu dia ikut bergabung.
"salam nona Aqila dan salam tuan Lin Shan"
"salam juga untuk mu tuan Li anji"
Aqila dan Lin Shan menjawab salam tersebut alakadarnya sebatas formalitas belaka.
"sudah lama kita tidak bertemu nona bagaimana kabar anda"
ucap Li anji sabil tersenyuman senang mengingat pertemuan pertama mereka kala itu.
"baik"
seperti biasa Aqila akan menjawab singkat padat dan jelas.
"apa anda membutuhkan sesuatu hingga rela jauh-jauh datang kemari"
mengingat karakter Aqila yang tidak menyukai basa basi Li anji langsung bertanya ke inti permasalahan.
"aku ingin membeli budak"
jawab aqila terus terang karena dia juga tidak ingin membuang waktu terlalu lama di tempat tersebut apalagi dirinya pergi tanpa berpamitan atau meminta izin terlebih dulu pada sang ayah.
"berapa banyak yang anda inginkan"
tanya Li anji, senyum cerah kembali terbit di bibir pria setengah baya itu, bagaimana tidak keuntungan yang akan dia dapatkan tidaklah sedikit dari transaksi ini jika hal tersebut berhasil dilakukan.
"lima ratus budak"
saat jumlah di sebutkan Li anji terdiam itu membuat tanda tanya besar di benak aqila.
"apa kau tidak memilikinya"
tanya gadis itu sedikit ragu saat melihat perubahan ekspresi dari pria di hadapannya.
"jujur saja nona saya hanya memiliki empat ratus budak"
jawab Li anji, meski besar kemungkinan dia akan kehilangan kesempatan bagus itu tapi ia tidak bisa membohongi Aqila, mengingat gadis tersebut sangat menakutkan jika berani bermain-main dengannya.
"baiklah tidak masalah"
meski sedikit kecewa Aqila tetap membeli empat ratus budak itu dari pada tidak mendapatkannya sama sekali.
"anda tidak keberatan"
wajah Li anji kembali berubah senang saat gadis itu masih mau membeli para budak tersebut.
"tidak"
"kapan Anda..."
__ADS_1
belum juga menyelesaikan ucapannya Aqila sudah lebih dulu memotong perkataannya.
"hari ini, apa bisa"
"haha tentu, tunggu sebentar nona"
Li anji tertawa melihat bagaimana dia akan kembali di sibukkan oleh gadis itu karena mengumpulkan empat ratus budak dalam waktu singkat bukanlah hal yang mudah.
"hm"
sedangkan Lin shan yang sejak tadi diam akhirnya paham dengan tujuan Aqila datang kemari, kemungkinan besar dia ingin membentuk pasukan baru lagi.
setelah menunggu hampir satu jam Li anji datang lagi dengan tergesa-gesa dan langsung duduk di tempat semula.
"nona semuanya sudah siap"
"bagus, apa ini cukup"
Aqila menyerahkan sekantor kecil mutiara murni, gingseng seribu tahun, dan sepasang pedang perak tingkat menengah kehadapan pria itu.
"ini lebih dari cukup nona"
binar senang terlihat dari mata Li anji saat mendapat barang-barang tersebut.
"dimana mereka"
"mari saya antar"
ketiganya melangkah keluar dari ruangan menunju tempat para budak berada.
saat ketiganya berdiri di hadapan mereka semua empat ratus budak menundukkan kepala karena merasa takut.
"dengar saya mengumpulkan kalian disini untuk memperkenalkan seseorang, dia adalah nona Aqila tuan baru kalian mulai saat ini"
Lin Anji membuka suara memperkenalkan Aqila pada mereka semua.
tidak ada yang berani menjawab mereka membisu takut jika salah bicara maka nyawa mereka yang akan menjadi taruhannya.
"angkat kepala kalian"
kata yang keluar dari mulut Aqila terdengar begitu dingin hingga menusuk sampai ke uluh hati mereka.
bukanya menuruti mereka malah semakin menundukkan kepala dengan tubuh bergetar ketakutan serta tangan yang terus meremas ujung pakaian yang di kenakan.
"apa kalian bisu"
bentak Li anji, melihat wajah datar Aqila dia menjadi gelisah takut jika gadis itu membatalkan transaksinya.
mendengar suara keras tersebut mau tidak mau mereka semua harus menegakkan kepala kembali, meski dengan rasa takut yang membuncah.
melihat itu semua Aqila mulai meneliti satu persatu di antara mereka ada sekitar tiga ratus orang berjenis kelamin laki-laki dan sisanya adalah perempuan.
mereka terlihat sangat lusuh namun beberapa di antaranya memiliki fisik yang cukup menonjol.
__ADS_1
setelah puas mengamati Aqila melangkah pergi dari sanah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Lin Shan menghela nafas panjang dengan sikap tuan-nya itu, sedangkan Lin Anji memandang bingung ke arah gadis tersebut.
"jangan di masuk ke hati nona memang seperti itu"
ucap Lin Shan, mencoba memberi pengertian pada tuan Li anji.
"ah tidak masalah tuan Lin Shan saya mengerti"
ucapnya karena sudah mendapat penjelasan Li anji tidak ingin ambil pusing lagi.
"karena kesepakatan sudah di buat saya akan membawa mereka sekarang"
tidak ingin membuat aqila menunggu Lin Shan langsung mengakhiri pembicaraan tersebut.
"silahkan, saya akan menyiapkan kendaraannya terlebih dulu"
"terimakasih"
"tidak perlu sungkan, senang berbisnis dengan kalian"
Lin Shan menganggukkan kepala kemudian menyusul kepergian gadis itu bersama empat ratus budak di belakangnya begitupun dengan Li anji.
saat tiba di halaman depan mereka semua menjadi pusat perhatian orang-orang yang datang ke tempat pelelangan.
wajar jika hal itu terjadi pasalnya jarang sekali ada orang yang mau membeli budak sebanyak itu.
beberapa tanggapan yang terdengar hanya di anggap angin lalu oleh Aqila, di sini mereka belum menyadari siapa Aqila sebenarnya itulah sebabnya mereka hanya bersikap biasa seperti pada umumnya.
setelah selesai dengan segala persiapan Aqila, Lin Shan dan kusir yang membawa empat ratus budak mulai meninggalkan tempat tersebut.
tiga jam berlalu begitu saja kini mereka tiba di perbatasan hutan kediaman bangsawan Han tempat yang dulunya di jadikan markas pasukan khusus.
rencananya Aqila akan melatih mereka semua di sanah dengan bantuan yang lain jika hal itu di perlukan.
kusir yang membawa empat ratus budak menatap bingung saat dirinya ada di hadapan bibir hutan.
ingin bertanya namun melihat sikap dingin Aqila dan Lin Shan membuat nyalinya menciut seketika.
"turunkan mereka disini"
ucap Lin Shan datar sekaligus dingin mengambil alih tugas saat mengamati gadis di sampingnya.
kusir mengangguk patuh dan langsung membuka gerbong yang menampung empat ratus budak itu.
mereka turun satu persatu hal yang sama juga di alami oleh empat ratus budak tersebut saat akan di bawa memasuki kedalaman hutan.
mereka ragu namun tidak punya pilihan lain lagi, ingin kabur juga tidak mungkin karena Lin Shan berjaga di belakang setelah tadi menyuruh kusir kembali.
mereka terus menyusuri hutan rimbun itu dengan perasaan was-was takut jika ada serangan mendadak dari binatang buas yang menghuni hutan tersebut.
...hey kita ketemu lagi nih heheh maaf yh author jarang up akhir-akhir ini karena author masih di sibukkan dengan pekerjaan di dunia nyata author....
__ADS_1
...semoga kalian bisa memaklumi, sehat selalu untuk kalian semua yang sudah mampir di lapak author ini semoga tidak bosen yh menunggu up terbarunya....
...selamat membaca dan see you next time di episode berikutnya 👋😊...