
Diam-diam Jun Jia tersenyum senang karena Lin Zhang membelanya, melihat respon sang raja yang memihak pada keduanya Mentri Jun semakin semangat untuk menjatuhkan reputasi Lin Bao di hadapan banyak orang agar bocah laki-laki itu tidak bisa menjadi raja di hari kedewasaannya.
Melihat gelagat kedua pasangan ayah dan anak itu Aqila tersenyum sinis tetapi sangat tipis hingga tak ada yang menyadarinya.
"apa kau akan menghukum pangeran Lin hanya karena masalah sepele, kau tidak buta bukan dia baru berusia lima tahun"
Aqila membuka suara memecah keheningan tatapannya masih tajam seperti belati yang siap menancap di jantung siapa saja.
"tetapi dia telah melakukan kesalahan nona Aqila"
Jun Jia dengan lirih menjawab, gadis itu tidak tau saja seperti apa sifat Aqila.
"aku tidak sedang berbicara pada mu"
Nada dingin gadis itu membuat Jun Jia menggeram marah namun itu hanya bisa di lakukannya di dalam hati.
"tetapi disini putri saya adalah korban"
Bukannya berhenti dan mencari aman Mentri Jun malah bersikeras menyudutkan Lin Bao, sedangkan bocah laki-laki itu hanya diam menatap kagum pada sang ibu yaitu aqila.
Dia begitu mengagumi dan menghormati sosok Aqila baginya Aqila sudah seperti ibu kandungnya sendiri.
"apa dia melakukan kekerasan dan membunuh, tidak bukan"
Aqila tersenyum sinis untuk pertama kalinya mereka yang melihat senyum itu mendadak bulu kuduknya merinding, karena yang mereka tau Aqila tidak pernah sekalipun menampakkan ekspresi di hadapan banyak orang.
"tetapi dia telah melemparkan kotoran ke pakaian ku dengan sengaja"
Jun Jia tidak tinggal diam dia berusaha menarik simpati banyak orang dengan berpura-pura terlihat menyedihkan.
Gadis itu pandai memainkan peran protagonis diaman dia adalah wanita lembut dan baik hati yang selalu tersakiti.
"benar begitu Lin"
Aqila memandang ke arah Lin Bao dengan ekspresi tak bisa di tebak.
"tidak ibu, wanita itu yang menabrak ku sepertinya dia berjalan tanpa melihat ke depan"
__ADS_1
Lin Bao dan Aqila memerankan perannya dengan baik hingga membuat semua orang bingung harus memihak pada siapa.
"kalian sudah dengar bukan, lagi pula anak kecil selalu berbicara dengan jujur"
"yang nona Aqila katakan itu benar"
"ya benar"
"maksud kalian putri ku yang bersalah"
Mentri Jun yang tidak terima putrinya di sudutkan tentu saja sangat marah, dia membenci Aqila karena telah mencampuri urusannya.
Dia juga tidak menyangka bahwa Aqila akan kembali mengunjungi kerajaan bingjie setelah satu tahun lamanya tidak ada kabar.
"bisa jadi"
Sahut salah satu mentri dia adalah musuh bebuyutan mentri Jun, melihat ada kesempatan untuk menjatuhkan musuhnya tentu saja pria itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
"kalau begitu persidangan cukup sampai di sinih, hukum kedua pelayan itu jika tidak maka aku sendiri yang akan bertindak kau tidak lupa siapa aku bukan"
Lin Zhang yang sejak tadi diam langsung mengeluarkan perintah, dia tidak bisa membantah keputusan Aqila.
"ampun yang mulia tolong jangan hukum kami"
Pelayan wanita itu menangis dengan tubuh bergetar hebat saat kedua tangannya di cekal oleh para prajurit.
"bawa mereka pergi sekarang juga"
Lin Zhang kembali memberi perintah ekspresi pria itu terlihat sangat kecewa dia tidak menyangka bahkan gadis yang dia percayai tega memfitnah putranya sendiri.
"kami mohon yang mulia kami hanya di suruh untuk memberi kesaksian palsu oleh Mentri Jun"
Ucap pelayan wanita itu lagi, dia berharap akan di bebaskan Jika mengatakan kebenarannya, meski tidak di ampuni setidaknya ada sedikit keringanan.
"TUTUP MULUT BUSUK MU SIALAN JANGAN MENUDUH SEMBARANGAN"
Mentri Jun berteriak marah dia sedikit ketakutan jika rencananya di ketahui oleh banyak orang, dia bisa saja gagal merebut kerajaan bingjie dari tangan Lin Zhang.
__ADS_1
"jika kau tidak bersalah kau tidak perlu Semarah itu mentri Jun"
Aqila mulai mematik api di tempat yang sudah dia beri bahan bakar, Aqila tidak akan mengampuni siapa saja yang berniat menyakiti orang terdekatnya.
"bagaimana saya tidak marah, jelas saya tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan sepertinya saya di fitnah yang mulia"
Mentri Jun berusaha membela diri dia tidak ingin rencananya gagal total hanya karena kehadiran Aqila dan perkataan pelayan rendahan.
"oh yah"
Lin Zhang Menatap menteri jun dengan datar dia berusaha mencari kebohongan di mata pria paruh baya itu.
"tentu saja untuk apa saya menuduh pangeran Lin Bao jika mereka tidak mengatakannya sendiri pada saya, mereka datang dengan sukarela mengadukan segalanya pada saya sebagai seorang ayah tentu saja saya marah melihat putri saya di permalukan di hadapan banyak orang"
"bohong yang mulia tolong percaya dengan ucapan kami yang mulia"
"saya berani bersumpah yang mulia bahwa saya tidak terlibat, tuan mereka pasti sengaja melakukan hal ini untuk mengkambinghitamkan saya"
"baiklah persidangan cukup sampai disini, kalian bisa pergi"
Lin Zhang yang memiliki hutang Budi pada keluarga Jun tidak bisa mengambil tindakan tegas, dia terpaksa menyudahi persidangan kali ini.
"pergilah jika kalian ingin kehilangan nyawa"
Geram dengan sikap Lin Zhang Aqila mulai memberi ancaman pada mereka yang hadir di persidangan tersebut, sedangkan kedua pelayan sudah di bawah pergi sejak tadi.
"apa maksud anda nona"
"kau tidak lupa bukan bahwa aku pemilik kerajaan ini, jadi setiap keputusan haus melibatkan diri ku, jika aku bilang tidak maka itu artinya tidak"
"anda tidak bisa seperti itu nona saya raja kerjaan bingjie saat ini bukankah anda sendiri yang mengangkat saya sebagai seorang raja"
"kau hanya raja sementara sampai Lin Bao mencapai hari kedewasaannya dan saat itu juga Lin Bao akan menjadi raja selanjutnya, jadi selama hal itu belum terjadi bersikaplah semestinya, aku bisa saja menghancurkan istana ini jika aku mau"
Aqila sudah habis kesabaran menghadapi sikap bodoh Lin Zhang, begitupun dengan pria itu yang merasa harga dirinya di permalukan di hadapan banyak orang.
Keduanya saling memberikan tatapan sengit, atmosfer yang Ada di dalam ruangan semakin menyesakkan.
__ADS_1