
prajurit yang masih hidup menatap tidak percaya ke arah Aqila dia tidak menyangka gadis yang di anggapnya lemah adalah gadis kejam berhati iblis.
"kau membunuh teman ku"
prajurit itu ketakutan saat melihat tubuh teman-nya yang tidak lagi bernyawa, dia merasa ngeri dan Linu tidak berani lagi menatap wajah Aqila
"apa sekarang kau percaya bahwa gadis yang ada di hadapan mu adalah nona Aqila"
Lila berbicara dengan sinis, nadanya terdengar tidak bersahabat sama sekali.
prajurit mengangguk membenarkan apa yang Lila katakan.
"lain kali bersikaplah lebih baik, kau tidak pernah tau orang seperti apa yang telah kau singgung"
"baik saya mengerti, terimakasih sudah mengampuni nyawa saya nona besar Aqila, silahkan masuk saya akan melapor ke istana tentang kedatangan anda"
prajurit tersebut membukakan pintu gerbang kemudian membungkuk hormat saat Aqila dan yang lain melewatinya.
Aqila menjawab dengan anggukan kecil tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
setelah kepergian mereka bertiga prajurit tadi langsung melapor pada atasnya.
"salam jendral jiazchen"
ucap prajurit tersebut yang sudah tiba di salah satu tenda besar milik jendral kerajaan xingsheng.
"ada apa"
jiazchen menatap datar ke arah prajurit itu saat menjawab nadanya terdengar dingin dan tajam.
jiazchen adalah orang yang sangat dihormati di kerajaan xingsheng setelah raja Liu yaoshan, atas jasa-jasanya yang selalu membawa kemenangan saat peperangan terjadi.
para penduduk kerajaan xingsheng menganggapnya sebagai dewa penyelamat mereka.
"nona Aqila beserta rekannya sudah memasuki gerbang perbatasan"
prajurit tersebut langsung menjelaskan alasan kedatanganya, dia juga sudah terbiasa dengan sikap dingin yang selalu jiazchen tampilkan.
"baiklah kau bisa kembali"
begitu selesai melapor prajurit itu langsung kembali ke tempat semula.
"akhirnya kita akan bertemu nona Aqila"
jiazchen sedikit mengangkat sudut bibirnya untuk beberapa detik kemudian kembali ke ekspresi datar
kata katanya begitu misterius tidak ada yang tau apa yang sedang pemuda itu pikirkan.
....
kembali ke sisi lain, saat masih dalam perjalanan Aqila, Lila dan Lin Shan di hadang oleh sekumpulan bandit ketika mereka melewati jalanan hutan bambu.
"serahkan semua barang berharga yang kalian bawa"
ucap salah satu dari sekumpulan bandit tersebut yang bisa di tebak orang itu adalah ketua dari mereka semua.
__ADS_1
"bagaimana jika kami tidak mau"
lila menjawab dengan acuh membuat kepala bandit itu murka dan menatap tajam ke arahnya.
"maka kalian akan mati hahahaaha"
para bandit tertawa dengan sangat keras sedangkan Aqila masih tenang dalam diamnya.
"tapi sayangnya kau yang akan mati"
ucap Lila dingin wajah gadis itu berubah datar matanya menatap tajam sekumpulan para bandit yang ada di hadapannya seolah ingin menelan mereka hidup-hidup.
"bedebah, jangan diam saja serang mereka"
kepala bandit mulai terbakar emosi dia memerintahkan seluruh anggotanya untuk menyerang Aqila dan yang lain.
Trak
srak
bruk
suara adu pedang terdengar nyaring di hutan itu, pertarungan semakin memanas para perampok menyerang dengan membabi buta tapi sayangnya Aqila, Lila dan Lin Shan tidak terluka sema sekali.
sebaliknya hampir semua anggota bandit tersebut tewas di tangan mereka bertiga, hanya tinggal menyisakan dua orang yaitu kepala bandit dan orang kepercayaannya.
mereka juga tidak dalam kondisi yang baik melihat situasi sudah tidak menguntungkan kedua orang itu hendak kabur tapi Aqila tidak membiarkan mereka pergi dengan mudah.
Aqila melemparkan jarum beracunnya pada dua bandit itu selang beberapa detik keduanya ambruk tak lagi bernyawa.
di sore hari Aqila dan yang lain tiba di luar ibu kota kerajaan xingsheng, saat ini gadis itu sedang beristirahat di sebuah desa kecil dekat dengan ibu kota.
"ada yang bisa saya bantu nona"
seorang pria paruh baya berjalan mendekat kearah mereka bertiga. ia adalah pemilik penginapan tersebut.
"kami ingin memesan kamar untuk tiga orang"
ucap Lila, para pengunjung yang sedang menikmati makanan langsung menatap ke arah ketiganya.
"mohon maaf nona kami hanya bisa menyediakan dua tempat karena hari ini sedang ramai pengunjung"
jawab pemilik penginapan dengan ramah dia juga menjelaskan fasilitas apa saja yang ada di tempatnya.
"baiklah tidak masalah"
setelah lama bungkam akhirnya Aqila mengeluarkan suara, kini pandangan semua orang tertuju padanya.
banyak beragam ekspresi yang mereka tunjukkan saat menatap gadis itu.
"tapi nona"
Lila hendak memprotes namun Aqila lebih dulu menyelanya membuat Gadis tersebut menghela nafas kasar.
"aku akan tidur dengan mu"
__ADS_1
"kalau begitu mari saya tunjukkan ruangannya"
mereka berjalan menuju lantai atas setelah tiba di sanah ketiganya langsung mengistirahatkan tubuh di kamar masing-masing.
hari mulai menjelang malam mereka mulai tertidur lelap karena kelelahan, tidak ada yang berani mengganggu karena Aqila sudah berpesan sebelumnya pada pemilik penginapan.
pagi-pagi buta ketiganya sudah terbangun mereka turun ke bawah untuk sarapan pagi kemudian melanjutkan kembali perjalanan.
begitu selesai, mereka langsung memacu kuda tidak butuh waktu lama ketiganya tiba di pintu gerbang ibu kota kerajaan xingsheng.
kedatangan mereka di sambut baik karena sebelumnya sudah ada pemberitahuan dari pihak istana tentang kedatangan Aqila dan temannya.
"salam nona Aqila"
"hm"
"maaf mengganggu waktu anda sebentar nona, yang mulia raja berpesan pada kami untuk mengundang anda ke istana'
"saya akan mampir jika sempat"
"baiklah jika begitu, selamat melanjutkan perjalanan semoga anda menyukai tempat ini"
"hm"
aqila menjawab dengan deheman kecil, kemudian memasuki gerbang tersebut bersama yang lain.
terlihat suasana kota begitu ramai, masih banyak para pengunjung yang berseliweran di mana-mana meskipun hari sudah semakin siang dan panas.
Aqila menyusuri jalanan kota dengan santai dia masih setia duduk di atas kuda hitamnya.
"apa kau lelah"
Aqila mencoba berkomunikasi dengan kuda hitam tersebut menggunakan telepati.
"tidak tuan"
"kau yakin helma, kita bisa beristirahat sebentar untuk memulihkan tenaga"
"saya tidak pernah merasa lelah jika anda sendiri yang menaikinya"
"terimakasih"
ucap Aqila membuat helma mengernyit bingung pasalnya dia baru tau bahwa seorang Aqila bisa mengucapkan Terimakasih pada hewan peliharaannya sendiri
selama ini tidak ada yang tau kepribadian gadis itu kecuali orang terdekatnya
"sama-sama"
Aqila merasa beruntung karena telah di berikan kesempatan kedua oleh sang pencipta
dia memiliki seorang ayah yang hebat teman teman yang selalu perduli dengannya dan para pasukan yang siap mengorbankan nyawa mereka setiap saat.
saat ini mereka berada di pasar ibu kota cihyou yang bentuk ukurannya sangat luas di bandingkan pasar ibu kota Cang'an.
Hey ketemu lagi sama author semoga kalian tidak bosan dengan karya yang author tampilkan, sehat selalu untuk kalian semua.
__ADS_1
selamat membaca 🙏😊