SANG DEWI PENAKLUK

SANG DEWI PENAKLUK
Kerajaan Canghai (Wilayah Selatan)


__ADS_3

Di sisi lain, Aqila Lila dan Lin Shan sudah hampir tiba di depan gerbang perbatasan antara wilayah kerajaan xingsheng dan kerajaan canghai.


mereka memacu kuda dengan sangat cepat sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk ketiganya sampai di sanah.


para penjaga gerbang menatap ke datangan ketiganya dengan sikap seperti biasa yang selalu mereka tunjukkan pada pendatang baru yang ingin singgah di wilayah kerajaan canghai.


"tunggu sebentar maaf mengganggu perjalanan, bisa kalian tunjukkan token identitas terlebih dulu"


ucap salah satu prajurit penjaga pintu gerbang perbatasan yang tadi sempat menghentikan rombongan gadis itu.


Aqila dan yang lain Mulai mengeluarkan token identitas masing-masing kehadapan mereka.


"kalian dari wilayah timur, apa anda adalah nona besar Aqila"


ucap prajurit itu terkejut dengan token identitas yang Aqila tunjukkan


"hm"


Aqila membenarkan pertanyaan itu dengan anggukan kecil, membuat prajurit tadi langsung menatap waspada ke arahnya.


"maaf nona kalian tidak di izinkan masuk"


ucap ketus prajurit lain sambil berjalan mendekat ke arah Aqila dan yang lain.


"kenapa kami tidak bisa masuk"


tanya Lila heran juga kesal pada dua prajurit di hadapannya dan apa alasannya mereka bertiga tidak di izinkan memasuki kerajaan canghai.


"ini sudah perintah dari yang mulia raja duan Ming bahwa nona aqila tidak di perbolehkan masuk ke wilayah kerajaan canghai, maaf nona kami hanya menjalankan perintah silahkan kalian kembali"


prajurit pertama mulai menjelaskan alasan kenapa Aqila tidak di perbolehkan masuk ke wilayah selatan.


"apa raja mu sedang mendeklarasikan perang, kami hanya menumpang lewat bukan ingin membuat keonaran"


Lila geram mendengar alasan tersebut baginya ini tidak masuk akal sama sekali, gadis itu sudah hampir meledakkan emosinya jika saja tidak ada Aqila di sanah.


"maaf nona kami hanya menjalankan tugas"


para prajurit terus bersikukuh untuk tidak membuka pintu


"rupanya kalian ingin mati"


Lila yang sudah terbakar emosi hampir saja melayangkan cambuknya tapi itu tidak terjadi karena Aqila tidak mengizinkannya.


"Lila, tapi nona mereka"


Lila ingin memprotes tapi dia juga tidak berani, ia Masih sadar dimana posisinya


"kenapa raja mu tidak mengijinkan saya masuk ke wilayahnya"

__ADS_1


Aqila mulai berbicara setelah tadi hanya memilih diam dia mulai bertanya dengan datar.


"apa anda tidak tau tentang rumor anda sendiri"


jawab salah satu prajurit, mereka masih bersikap waspada


"kalian percaya"


Aqila tidak tau jika sekarang dia sudah sangat terkenal, apa ini bisa di sebut keberuntungan atau kesialan yang jelas gadis itu tidak perduli sama sekali.


"kami tidak tau, tapi yang mulia raja kami percaya bahwa anda adalah pembawa bencana jika tidak bagaimana mungkin raja jiang nan bisa tewas di tangan anda"


salah satu prajurit mulai mengungkit kembali kejadian tempo lalu membuat Aqila terusik


"itu karena dia telah mengusik ketenangan hidup saya"


kini ucapan aqila terdengar dingin sorot matanya terlihat begitu tajam membuat dua prajurit itu sedikit ketakutan.


"apa raja kalian tidak tau apa akibatnya mengusik ketenangan nona"


Lila ingin tertawa melihat tingkah dua prajurit itu mereka ketakutan tapi masih bersikap sok berani.


"jangan coba-coba mengancam kami kerajaan canghai tidak akan takut dengan Gertakan seorang gadis seperti anda"


mereka mengatakan hal tersebut hanya untuk menutupi ketakutan yang sedang mereka rasakan saat ini.


"owh"


"sebaiknya kalian cepat pergi dari sinih kami tidak akan membukakan pintu untuk kalian"


"bagaimana jika kami tidak mau"


ucap Aqila dingin dia sudah pergi sejauh ini bagaimana mungkin ia kembali dengan tangan kosong.


"kenapa anda keras kepala sekali"


ucap salah satu prajurit dengan ketus mereka sebenarnya takut pada Aqila tapi mereka juga takut pada pemimpin mereka.


"karena saya harus pergi ke wilayah Utara Jangan berani menghentikan perjalanan saya lagi jika tidak kerajaan ini akan hancur hari ini juga"


Aqila sudah kehilangan kesabaran karena mereka berdua telah menyita banyak waktunya.


"beraninya anda mengancam kami jangan berbuat seenaknya di tempat orang apa anda tidak mengerti sopan santun"


ucap prajurit lain dengan emosi dia sudah kehilangan kendali dan tidak bisa menahan kemarahannya.


"sejak tadi kami sudah bersikap sopan Keparat cepat buka pintu gerbangnya sebelum kepala kalian tidak berada lagi di tempatnya"


Lila berteriak dengan marah bahkan hampir melayangkan cambuknya tapi dia kalah satu langkah dari seseorang.

__ADS_1


"kalian"


belum juga dua prajurit menyelesaikan ucapannya sebilah pedang lebih dulu bergerak cepat ke arah mereka.


srak


gludk


dua kepala terjun bebas ke atas tanah hanya dalam waktu beberapa detik, sedangkan si pelaku menatap datar ke arah mayat dua tersebut.


pelakunya adalah Lin Shan yang sejak tadi hanya diam dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


pemuda itu tidak menyukai orang yang berani menghadang jalan Aqila hingga dia melakukan hal tersebut, sedangkan aqila sendiri tidak memprotes tindakan itu sama sekali dia hanya duduk diam di atas kuda hitamnya.


mereka bertiga tidak perduli dengan apa yang terjadi nantinya yang jelas mereka harus tiba di wilayah Utara secepatnya.


setelah selesai menyingkirkan penghalang, mereka langsung memacu kuda kembali memasuki wilayah kerajaan canghai.


selama ini semuanya masih baik baik saja hingga rombongan aqila tiba di depan gerbang ibu kota.


ibu kota itu bernama anxin suasana di dalam terlihat ramai seperti ibu kota pada umumnya.


seperti biasa prajurit penjaga pintu gerbang ibu kota meminta token identitas sebelum mengizinkan mereka masuk ke dalam.


karena tidak ingin perjalanannya terhambat kembali Aqila terpaksa menggunakan bubuk manipulasi untuk mengelabui para penjaga itu.


dan ternyata cara itu berhasil setiap obat yang di buat Aqila tidak pernah gagal hasilnya akan selalu memuaskan gadis itu sudah seperti seorang alkemis atau mungkin iya.


mereka bertiga berhasil masuk tanpa halangan hari sudah hampir malam terpaksa ketiganya harus menunda perjalanan karena perut mereka sudah minta untuk di puaskan.


ketiganya berhenti di salah satu kedai mie yang terkenal di ibu kota anxin saat itu.


"silahkan duduk tuan dan nona, ada yang bisa saya bantu"


seorang pelayan berjalan mendekat ke arah mereka dengan sopan.


"tiga porsi mie kuah panas dengan daging bakar salah satunya harus pedas dan jangan di taruh seledri atau daun bawang"


Lila mulai memesan makanan setelah ketiganya duduk salah satu tempat yang sudah di sediakan, suasana kedai terlihat begitu ramai.


"baik tunggu sebentar nona"


pelayan tadi baru saja hendak pergi tapi langkahnya terhenti karena Lila memesan menu kembali.


"sekalian bawakan kami arak terbaik yang kalian miliki"


"baik"


pelayan itu langsung bergegas pergi ke arah dapur untuk mengambil pesanan Aqila dan yang lain.

__ADS_1


Hay ketemu lagi sama author terimakasih sudah berkunjung dan selamat membaca 🙏🥰😊


__ADS_2