SANG DEWI PENAKLUK

SANG DEWI PENAKLUK
Membentuk Pasukan Baru


__ADS_3

setelah menempuh perjalanan hampir satu jam mereka berhenti tepat di jantung hutan, sebuah pembatas berdiri kokoh di sisi kanannya hutan.


raut takut tergantikan oleh rasa penasaran yang begitu tinggi dari para budak itu, mereka menatap satu sama lain untuk saling menebak apa isi di dalamnya.


Aqila masih tetap bungkam dalam diamnya seolah enggan memberitahukan isi di dalam tersebut dan membiarkan mereka mengetahuinya sendiri.


"dengar ini baik-baik saya tidak akan mengulang perkataan untuk yang ke dua kalinya, tujuan saya membeli kalian karena ingin membentuk pasukan yang siap mempertaruhkan nyawa kapan pun untuk melindungi kerajaan ini, ada yang keberatan"


ucap Aqilla setelah lama diam ia menatap dinding ke arah mereka semua.


"katakan jika ada keluhan nona akan menjawabnya"


Lin Shan juga turut membantu karena dia memahami orang seperti gadis itu.


"boleh kami tau siapa anda sebenarnya"


seorang pemuda yang memiliki perawakan tinggi dan bertubuh kekar menatap dalam mata gadis itu seolah tidak menyukainya.


"saya Han Aqila putri dari Han Zain raja dari kerajaan Cang'an"


Aqila mulai memperkenalkan identitas aslinya pada mereka semua dan hal tersebut berhasil mengejutkan ke empat ratus budak tersebut


mereka menatap tidak percaya sosok gadis cantik yang ada di depan mata, rumor dan kenyataan seolah sedang berbanding di otak mereka saat ini.


"salam nona besar Aqila maaf atas kelancaran saya tadi"


pemuda itu langsung bersujud, sedangkan Aqila naikkan sebelah alisnya merasa bingung dengan tindakannya


tidak hanya sampai di sanah para budak lainnya juga mulai mengikuti tindakan tersebut


"bangunlah"


karena tidak suka dengan sikap seperti itu Aqila meminta mereka semua untuk bangkit.


"berdirilah jangan menguji kesabarannya"


melihat tidak ada satupun yang menegakkan tubuh kembali Lin Shan membuka suara untuk memberi mereka pengertian.


"terimakasih"


tidak ingin membuat gadis itu marah mereka semua langsung kembali ke posisi semula.


"apa boleh saya berbicara"


setelah beberapa saat hening seorang gadis muda dengan pakaian lusuh serta terdapat luka lebam di wajahnya mulai berbicara sambil menunduk takut.


"hm"


"saya hanya seorang wanita lemah apakah pantas menjadi seorang prajurit bahkan saya tidak pernah membunuh seekor semut sekalipun bagaimana saya bisa membunuh para musuh"


dengan rasa takut yang membuncah serta tubuh bergetar gadis itu memberanikan diri mengungkapkan keresahan hatinya yang selama ini tidak pernah dia utarakan pada siapapun.


"pemikiran yang bodoh"

__ADS_1


cibir Lin Shan dengan nada rendah namun masih bisa di dengar oleh Aqila yang memiliki pendengaran tajam.


"jika kau tidak percaya pada kemampuan mu sendiri untuk apa kau hidup apa kau suka saat di lecehkan, di pukuli di siksa terus menerus"


sekali lagi Aqila harus mengeluarkan kata yang begitu banyak, dia tidak menyukainya tapi hal tersebut perlu di lakukan untuk mengubah wawasan mereka semua apalagi untuk kaum perempuan.


"tidak"


sangkal gadis itu setelah mendengar perkataan Aqila yang begitu tajam.


"kalau begitu buktikan bahwa kau tidak lemah"


meski kata-kata yang keluar dari mulut Aqila selalu pedas tapi ada niat baik di dalamnya dan gadis tersebut menyadarinya.


"baik terimakasih nona telah menyadarkan saya bahwa dunia itu keras yang lemah selamanya hanya akan berada di bawah"


setelah mendapatkan semangat gadis itu bertekad untuk mengubah kehidupannya.


"hm, ada lagi yang perlu di tanyakan"


"tidak ada"


"maka ingat ini baik-baik saya bukalah orang baik, saya benci pengkhianat siapa pun yang berani mengkhianati saya makan hanya ada akhir buruk untuknya, kalian mengerti"


Aqila kembali memberi mereka peringatan untuk tidak bermain-main dengannya.


"kami mengerti nona, kami siap mengabdikan diri pada anda walah harus bertaruh nyawa"


"oh, kalau begitu ambil dan minumlah"


Aqila melemparkan sebotol porselen berukuran sedang ke hadapan mereka semua, botol itu berhasil di tangkap oleh pemuda sebelumnya.


"apa ini nona"


pemuda itu dan yang lain menatap bingung ke arah Aqila dan Lin Shan secara bergantian.


"racun"


jawab Aqila jujur tanpa ada yang di tutup-tutupi.


saat mendengar hal itu mereka hampir tersedak ludah sendiri saking terkejutnya dengan apa yang mereka dengar barusan.


"kenapa kalian takut, jangan bermulut manis dengan saya karena saya tidak menyukai janji tanpa pembuktian, pergilah jika kalian tidak berani tapi saya tidak menjamin hidup kalian kedepannya akan seperti apa"


Aqila sedikit mengubah ekspresi wajahnya yang semula datar menjadi sinis.


semua orang terdiam mendengar perkataan tajam tersebut, saat ini mereka sedang diliputi rasa takut sekaligus bimbang secara bersamaan.


yang Aqila katakan tidaklah salah gadis itu sudah mengeluarkan uang cukup banyak hanya untuk seorang budak seperti mereka tentu saja harus ada imbalannya.


lama terdiam akhirnya ada salah satu dari mereka yang mulai menelan isi di dalam botol tersebut, dan dia adalah pemuda tadi.


melihat tidak terjadi apa pun pada pria itu yang lain mulai mengikuti dan pasrah jika harus kehilangan nyawa sekalipun untuk membuktikan pada Aqila bahwa mereka bersungguh-sungguh ingin mengabdikan diri pada gadis itu.

__ADS_1


Aqila tersenyum tipis sangat samar hingga tidak ada yang menyadarinya kecuali Lin Shan yang sejak tadi memperhatikannya.


"cantik meski sangat tipis, kapan saya bisa melihat anda tersenyum ceria nona"


Lin Shan berbicara dalam hati sambil memandang gadis itu tanpa berkedip takut jika hal itu terjadi maka semuanya akan hilang.


tuk tuk tuk


suara ketukan langkah kuda terdengar dan memecah konsentrasi setiap orang yang mendengar.


"masuklah"


setelah mengatakannya Lin Shan pergi menyusul Aqila yang sudah lebih dulu masuk ke dalam sanah.


lagi dan lagi semua orang di buat terkejut dengan apa yang mereka saksikan saat itu.


dua bangunan kokoh menjulang tinggi serta luas lapangan yang di tumbuhi oleh beberapa pepohonan, serta hembusan angin terasa begitu nyaman dan menenangkan.


meski markas telah lama di tinggalkan oleh sang pemilik tapi tempat tersebut masih bersih dan layak pakai.


Aqila menduga bahwa markas ini selalu di bersihkan oleh orang-orang dari gedung baihe.


saat mengingat hal itu aqila kepikiran untuk mengunjungi mereka yang ada di sana sudah lama dia tidak datang ke tempat itu.


"kalian bisa memilih kamar masing-masing satu kamar dua orang"


ucap Lin Shan di sela keterkejutannya mereka semua.


"baik terimakasih nona besar dan tuan"


mereka menjeda ucapan di akhir kalimat karena tidak mengetahui nama orang yang di maksud.


"Lin Shan"


Lin Shan langsung menjawab mereka semua dengan datar.


"pukul lima saya ingin kalian semua sudah berkumpul di lapangan"


ucap Aqila yang akhirnya kembali mengeluarkan suara.


"baik sesuai perintah anda nona besar"


"hm"


Aqila memutar tubuh menuju gedung yang biasa ia gunakan untuk beristirahat selama tinggal di markas.


melihat Aqila pergi Lin Shan juga ikut menuruti kemanapun gadis itu melangkah.


...hey ketemu lagi sama author maaf yh kalo masih ada kata yang salah author masih belajar untuk memperbaikinya 🙏...


...terimakasih sudah berkunjung semoga kalian tidak bosan menunggu up terbarunya...


...see you next time di episode berikutnya 👋😊...

__ADS_1


__ADS_2