SANG DEWI PENAKLUK

SANG DEWI PENAKLUK
Masalah Di Dunia Bawah Dan Ulang Tahun Aqila


__ADS_3

sedangkan di dunia bawah kekacauan terus terjadi mulai dari kemunculan para monster yang menyerang berbagai wilayah hingga wabah penyakit mematikan datang silih berganti.


setiap kerajaan di buat kelimpungan dalam menangani dua kasus tersebut, mereka bekerja dengan sangat keras demi menemukan solusi atas masalah kali ini.


di istana kerajaan Cang'an Han Zain, Lila dan beberapa jendral serta Mentri sedang mendiskusikan hal yang penting.


kini status Lila bukan lagi sekedar pelayan pribadi melainkan penjaga tahta kerajaan, di setiap keputusan dia akan di libatkan itu adalah pesan terakhir yang Aqila berikan sebelum dirinya pergi.


"Lila apa ada kabar tentang putri ku Aqila"


Han Zain bertanya di sela pembicaraan mereka, pria itu juga berharap akan ada titik terang untuk masalah kali ini.


"belum ada yang mulia"


jawab Lila jujur, sudah setahun Aqila pergi tapi belum sekalipun gadis itu memberi kabar pada mereka.


"andai saja nona besar ada disini maka permasalahan yang kita alami akan cepat selesai"


"kau benar"


kedua jendral mengeluh mereka berharap Aqila cepat kembali dari perjalanan panjangnya.


di tempat lain di kerajaan xingsheng, raja Liu yaoshan juga sedang mendiskusikan masalah yang menimpa kerajaan mereka bersama pangeran minghao dan pangeran liu haocun di ruang kerjanya.


"pangeran minghao apa kau mendapat kabar tentang keberadaan nona Aqila saat ini, kalian berteman bukan"


tanya Liu yaoshan pada putra keduanya, pria itu mengingat betul bahwa salah satu pangeran berteman baik dengan Aqila.


"tidak ayah Handa"


jawab Minghao jujur, dia sudah menyuruh banyak mata-mata untuk mencari keberadaan Aqila sejak wabah mulai menjangkiti penduduk kerajaan xingsheng.


tapi tak ada satupun dari mereka yang berhasil menemukan keberadaan Aqila saat ini, bagi mereka gadis itu bagai hilang di telan bumi tidak ada jejak sama sekali.


"apa belum ada penawar untuk wabah yang menyerang desa dekat ibu kota"


Liu yaoshan memandang ke arah pangeran Liu haocun berharap ada kabar baik dari para tabib yang sedang mencari obat untuk wabah kali ini.


"belum ayah Handa para tabib sudah mengerahkan berbagai cara tapi sampai saat ini mereka belum menemukan penawaran-nya"


Liu haocun menghela nafas berat sebab lagi-lagi dia belum berhasil menemukan solusinya, padahal dia adalah seorang putra mahkota yang seharusnya memberikan kontribusi besar terhadap kerajaan.


"berapa banyak yang sudah terjangkit wabah"


mendengar jawaban pangeran Liu haocun sang raja merasa kecewa, dia cukup frustasi atas masalah yang menimpa kerajaan-nya.


"untuk lima hari ini ada sekitar tiga ratus penduduk ayah handa"

__ADS_1


wabah yang menimpa seluruh kerajaan di dunia bawah menyebar dengan sangat cepat hingga setiap harinya ada saja korban yang terjangkit.


mereka yang terjangkit akan mengalami pusing, demam tinggi, muntah dan memar di seluruh tubuh.


tabib istana mengkonfirmasi wabah itu berasal dari salah satu hewan yang sering berada di tempat kumuh dan lembab.


"kirim surat ke kerajaan Cang'an, siapa tau mereka sudah menemukan solusinya"


"baik ayah Handa"


setelah mendapat perintah kedua pangeran keluar dari ruangan tersebut, selepas kepergian mereka Liu yaoshan menyadarkan tubuh-nya di sandaran kursi karena merasa lelah.


dia sudah seminggu ini tidak tidur dengan benar kondisi tubuh juga sedang tidak baik, itu sebabnya dia mudah merasa lelah.


.....


kembali ke dunia atas di pasar ibu kota Lin Shan sedang berjalan-jalan seorang diri di keramaian pasar.


pria itu ingin membeli sebuah hadiah untuk seseorang yang sangat berarti dalam hidup-nya.


"silahkan di lihat-lihat tuan ini adalah barang baru yang baru saja di buat oleh pengrajin"


seorang wanita tua menawarkan dagangannya pada Lin Shan, dia menjual berbagai aksesoris wanita maupun pria.


Lin Shan mulai memilih barang sampai pandangannya jatuh pada dua benda yang terlihat sederhana namun sangat cantik jika di pakai oleh orang yang tepat.


salah satu benda merupakan sebuah gantungan berbentuk liontin dengan batu permata ungu di tengah lingkaran ada pahatan ranting di setiap sisi-nya, sedangkan satunya berbentuk kalung dengan liontin yang sama.


"pilihan anda sangat bagus tuan, apa anda ingin membelinya"


ucap si penjual, Lin Shan tersentak saat mendengar-nya.


"berapa"


"lima koin perak untuk dua benda itu tuan"


tanpa basa-basi Lin Shan langsung memberikan Lima koin perak pada si penjual dan mengambil kedua benda tersebut kemudian berlalu pergi dari sanah.


wanita tua itu tersenyum senang saat mendapat banyak uang padahal kedua benda itu tidak sampai menghabiskan lima koin perak jika Lin Shan menawarnya.


interaksi Lin Shan dan wanita itu tidak sengaja di lihat xiaoli, dia jadi sedikit penasaran untuk siapa Lin Shan membeli barang wanita.


karena selama dia mengenal pemuda itu tidak sekalipun xiaoli melihat Lin Shan dekat dengan gadis manapun kecuali Aqila.


tidak mau ambil pusing dengan urusan orang lain xiaoli melanjutkan kembali langkahnya menuju tempat yang ingin dia datangi sebelumnya.


hari berlalu begitu saja hingga keindahan rembulan dan bintang menghiasi malam kali ini.

__ADS_1


karena semua persiapan untuk besok hampir selesai, beberapa orang memiliki sedikit waktu untuk bersantai.


saat ini Lin Shan sedang duduk di dekat kolam buatan yang ada di samping kanan istana sambil memandang ke arah jernih-nya air.


"apa nona akan menyukai hadiah dari ku, tidak terasa besok adalah hari ulang tahun-nya aku hampir saja melupakan hal itu"


guma Lin Shan sambil melihat dua barang yang masih terbungkus rapih saat dia mengeluarkan-nya dari saku pakaian yang di kenakan.


"apa aku tidak salah dengar"


lin Shan terkejut saat mendengar suara tersebut dia tidak menyadari kedatangan seseorang karena terlalu fokus dengan pikirannya sendiri.


"sejak kapan anda datang"


bukannya menjawab Lin Shan malah balik bertanya membuat xiaoli mendengus kesal.


"baru saja, kau belum menjawab pertanyaan ku Lin Shan"


xiaoli bertanya dengan tidak sabaran dia ingin tau apakah yang baru saja dia dengar adalah benar atau salah.


"benar"


jawab Lin Shan jujur, tanpa ada yang di tutup-tutupi.


"kenapa kau tidak memberitahu kami hal sepenting ini"


xiaoli berteriak kesal pada pemuda itu karena telah menyembunyikan hal sepenting ini dari dirinya dan yang lain.


"kalian tidak bertanya"


tanpa merasa bersalah sedikitpun Lin Shan mengatakan hal itu, dia berfikir tidak salah karena ia juga hampir melupakannya.


"kau, sudahlah berbicara dengan mu membuat ku kesal saja"


xiaoli mencoba meredakan amarahnya saat mendengar jawaban seperti itu.


"kalau begitu jangan berbicara"


"yak, rasanya aku ingin membunuh mu"


"kalau begitu lakukan"


"jika aku tidak memikirkan perasaan adik Aqila maka aku sudah melakukannya sejak lama"


malas mendengar ocehan xiaoli Lin Shan pergi begitu saja tanpa memperdulikan kekesalan gadis itu.


mereka berdua tidak akan pernah akur jika sedang bersama karena sifat xiaoli hampir sama persis dengan Lila.

__ADS_1


banyak bicara, mudah tersinggung dan gampang emosi, sedangkan Lin Shan kebalikannya.


itulah sebabnya hubungan pertemanan mereka tidak terlalu baik, keduanya berteman juga hanya karena Aqila memintanya.


__ADS_2