SANG DEWI PENAKLUK

SANG DEWI PENAKLUK
Menghabiskan Waktu


__ADS_3

Setelah mendengar keseluruhan cerita sorot mata gadis itu berubah tajam, tangannya bahkan sudah terkepal kuat, ini untuk pertama kalinya dia menampakkan ekspresi kemarahannya.


"berani sekali kau mengusik orang ku"


Aqila berucap sangat pelan bahkan suaranya tertahan karena dia tidak ingin membuat Lin Bao ketakutan melihat sosok kejam dalam dirinya.


Karena selama ini Aqila hanya menunjukkan sosok yang hangat dan penyayang, dia bahkan hanya tersenyum pada anak itu saja.


Jika pada orang lain meski ayahnya sendiri sekalipun dia hanya akan menampilkan sosok pribadi yang dingin dan datar.


"apa ibu marah pada Lin"


Bocah laki-laki itu mendongakkan kepalanya menatap lekat wajah cantik Aqila yang sudah dia anggap ibunya.


"tidak sayang"


dengan lembut Aqila mengusap sisa bulir bening yang masih menempel di pelupuk mata Lin Bao.


"lalu kenapa ibu tidak pernah mengunjungi Lin lagi, Lin mau ikut ibu saja ayah jahat"


Lin Bao mencurahkan apa yang dia rasakan pada gadis itu, sedangkan Aqila sedikit tak menyangka bahwa Lin Zhang mendidik Lin Bao dengan begitu keras.


dia memang ingin Lin Bao menjadi raja berikutnya tapi bukan berarti pria itu harus mengambil masa kanak-kanak putranya sendiri.


"maafkan ibu sayang meski ibu ingin ibu tidak bisa membawa mu sekarang"


melihat keadaan Lin Bao seperti ini hati-nya merasa iba dia bisa saja membawa bocah laki-laki tersebut pergi tanpa sepengetahuan orang lain.

__ADS_1


tetapi itu akan sangat membahayakan nyawa, gadis itu mempunyai banyak musuh apa lagi musuh terbesarnya belum menunjukkan pergerakan


bisa saja mereka menculik Lin Bao dan menjadikan kelemahannya, dia memang kuat tetapi bisa saja musuhnya jauh kuat dari yang di bayangkan.


"terus kapan Lin bisa bersama ibu"


Lin Bao bertanya dengan pandangan puppy eyes, itu membuat Aqila gemas dan tanpa sadar mencubit pipinya yang gembul.


"sampai kau kuat sayang"


"baiklah, Lin akan belajar dengan sangat giat agar bisa menjadi kuat, jika Lin sudah kuat Lin akan melindungi ibu"


Setelah sedikit membujuk akhirnya bocah tersebut setuju kini Aqila bisa bernafas lega.


Dia hanya perlu memastikan Lin Bao baik-baik saja di bawah pengawasannya, tanpa musuh tau akan keberadaan bocah laki-laki itu.


"ibu"


"apa ibu akan pergi sekarang?"


Lin Bao menatap mata Aqila dengan lekat ada sedikit rasa ragu di setiap ucapannya, tapi jauh di lubuk hati dia tidak ingin ditinggalkan oleh wanita cantik itu lagi.


"kau mau bermain dengan ibu"


jawab Aqila, dia ingin membuat Lin bao bahagia sebelum dirinya kembali meninggalkan kerajaan bingjie.


Aqila tidak ingin putra-nya kehilangan masa kanak-kanak sebelum waktunya tiba.

__ADS_1


dia tidak ingin Lin Bao merasakan apa yang dulu dirinya alami, di dewasakan oleh keadaan sebelum waktunya tidaklah menyenangkan.


"apa boleh"


"tentu"


Mereka pergi meninggalkan ruangan itu tanpa di ketahui orang lain, kelihaian Aqila dalam menyusup memang tidak perlu di ragukan lagi.


....


Di pasar ibu kota, sejak setengah jam lalu Lin Bao dan Aqila menghabiskan banyak waktu mereka untuk bermain, makan dan masih banyak lagi.


bocah laki-laki tersebut terlihat sangat bahagia karena Aqila menuruti setiap keinginan-nya.


"Lin apa kau sudah puas bermain"


tanya aqila sedikit tidak tega mengganggu kesenangan putranya tersebut, tetapi hari sudah hampir sore dan pastinya keributan akan terjadi jika mereka tidak segera pulang.


"aku masih ingin bermain ibu"


Keluh Lin Bao dengan bibir mengerucut pipinya yang chubby terlihat sangat menggemaskan di mata Aqila.


"bagaimana jika besok kita datang lagi, ini sudah sore ayah mu pasti akan membuat keributan karena tidak menemukan mu di istana"


Bujuk Aqila, tangan-nya mengusap lembut pipi tembem itu.


"baiklah tapi ibu harus berjanji terlebih dulu, janji kelingking"

__ADS_1


Lin bao mengangkat jari kelingking ke hadapan Aqila dan langsung di sambut oleh gadis itu.


Senyum manis terus mengembang di bibir Lin Bao yang imut, begitupun Aqila akan sesekali tersenyum pada bocah tersebut.


__ADS_2