
mereka terhenti tepat di pintu gerbang perbatasan, seperti biasa penjaga akan meminta kartu identitas sebagai tanda bukti.
"bisa kalian tunjukkan token identitas, kami tidak akan membiarkan kalian masuk tanpa tanda pengenal"
ucap salah satu prajurit yang ada di hadapan mereka berlima.
Aqila dan yang lain mulai menunjukkan token identitas, karena tidak ada masalah mereka akhirnya di izinkan masuk.
Aqila menunjukkan tanda pengenal milik kerajaan xingsheng, gadis itu sengaja melakukannya agar tidak terjadi hambatan apapun.
mereka pasti tidak akan mengizinkan Aqila masuk jika gadis itu menggunakan identitasnya sebagai pemilik kerajaan Cang'an.
berita tentang kematian raja Jiang nan pasti sudah menyebar ke segala penjuru dunia itu membuat Aqila tidak bisa bertindak leluasa.
Aqila tidak perduli jika kerjaan xingsheng menuntutnya nanti karena telah menggunakan Identitas kerajaan secara sembarangan.
yang terpenting saat ini dia harus segera menemukan lokasi bunga anggrek hitam karena dalam beberapa hari lagi bunga itu akan segera mekar.
untungnya tidak banyak orang yang tau tentang manfaat bunga tersebut jika tidak dia harus bersaing dengan banyak orang hebat dari segala penjuru dunia.
bukannya Aqila tidak mampu dia hanya terlalu malas melakukannya, baginya itu hanya membuang-buang tenaga.
mereka berlima masih memacu kuda namun dengan kecepatan sedang karena jalanan begitu licin tertutup salju.
sesuai yang di rumorkan keadaan wilayah Utara berbanding terbalik dari kerajaan-kerajaan lain, di sini jalanan-nya cukup terjal dan udara terasa lebih dingin tidak jarang juga salju akan turun di waktu tertentu.
setelah menempuh perjalanan hampir dua hari mereka tiba di ibu kota kerajaan Bingjie.
meski udara terasa dingin tetep aja masih banyak warga yang berlalu-lalang melakukan aktivitasnya masing-masing.
keadaan ibu kota cukup ramai dari penglihatan mereka berlima meskipun belum memasuki wilayah tersebut, karena pintu gerbang terbuka lebar jadi mereka bisa melihatnya secara leluasa.
seperti biasa mereka kembali di mintai identitas sebelum di izinkan masuk atau tidaknya ke dalam wilayah ibu kota.
setelah melakukan serangkaian pemeriksaan ke limanya di izinkan masuk ke dalam sanah.
Aqila dan yang lain memacu kuda dengan santai melewati jalanan ibu kota, kehadiran mereka menjadi pusat perhatian para warga yang ada di sanah.
"siapa mereka"
"saya tidak tau"
"sepertinya mereka pendatang"
"untuk apa mereka datang kemari"
"semoga saja tidak untuk membuat kekacauan"
pembicaraan itu terdengar sampai ke telinga Aqila karena pendengaran gadis itu sangat tajam meski berada di jarang jauh.
Aqila mengernyit bingung dengan maksud yang terselip di dalamnya apakah sebelum kedatangan mereka ada seseorang yang mengacau di kerajaan ini, pikir gadis itu.
karena tidak ingin terlalu ikut campur aqila hanya menganggapnya angin lalu, terkecuali jika ada yang berani mengusik ketenangan hidupnya maka dia tidak akan diam saja.
srtttt
Aqila menghentikan laju kuda ketika seorang anak kecil melintas di depannya secara tiba-tiba.
melihat Aqila berhenti secara mendadak yang lain pun ikut menghentikan laju kuda masing-masing.
Aqila turun dan menghampiri anak itu yang sedang meringkuk ketakutan, kini kejadian tersebut menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
"apa kau terluka adik kecil"
Aqila bertanya dengan nada lembut, setelah dia sampai di hadapan anak itu.
"tidak ada"
begitu mendengar suara merdu anak kecil itu mendongak menatap Aqila dengan pandangan puppy eyes yang terlihat sangat menggemaskan.
wajah cantik Aqila berhasil menghipnotis pandangan anak tersebut membuatnya tersenyum manis khas anak-anak.
"hey"
Aqila melambaikan tangan untuk menyadarkan anak itu yang terlihat sedang melamun, lebih tepatnya terbengong.
"kakak sangat cantik apa kau mau menjadi ibu ku"
ucapannya dengan pandangan penuh harapan.
Aqila bingung harus menjawab apa, dia terkejut dengan pertanyaan tersebut.
"dimana orang tua mu"
alih- alih menjawab Aqila malah balik bertanya membuat si anak membuang nafas panjang.
saat anak itu hendak kembali membuka mulut kecilnya seorang gadis muda dan beberapa pengawal berlari ke arah mereka.
"tuan muda kenapa anda kabur lagi"
ucap seorang gadis muda yang sudah berjongkok di hadapan mereka berdua.
"kalian selalu saja melarang ku keluar rumah"
"maaf nona Jika tuan muda sudah mengganggu waktu perjalanan anda"
pelayan itu meminta maaf dengan sopan karena takut Aqila Merasa terganggu oleh tuan mudanya.
"hm"
Aqila menjawab datar permintaan maaf tersebut pandangannya tidak lepas dari wajah anak kecil yang ada di hadapannya.
"ayo pulang tuan muda, tuan besar pasti sedang mengkhawatirkan anda"
pelayan wanita itu mencoba membujuk tuannya tapi anak tersebut enggan berpisah dengan Aqila.
"cik menyebalkan"
anak itu menggerutu kesal, tidak bergeming dari posisinya.
"saya mohon tuan muda mari kembali"
bujuk wanita itu lagi, tapi orang yang di panggil tuan muda tidak menghiraukan pelayan tersebut.
"aku tidak mau, aku mau kakak cantik ini menjadi ibu ku"
anak itu masih kekeh menginginkan Aqila sebagai ibunya yang lain hanya bisa diam tidak tau harus berbuat apa.
"tapi tuan muda"
pelayan wanita itu masih terus membujuk wajahnya terlihat sangat cemas dia tidak tau lagi harus melakukan apa agar anak tersebut mau di ajak pulang.
"siapa nama mu"
__ADS_1
Aqila penasaran dengan identitas anak lelaki yang menggemaskan ini.
"Lin Bao"
ucapannya dengan penuh semangat dia tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang tersusun rapi.
"nama yang bagus"
Aqila memuji anak itu membuatnya semakin di sukai oleh anak tersebut.
"tentu saja bukankah aku sangat tampan kakak cantik"
ucapannya pede dan penuh kenarsisan anak itu menyombongkan diri sambil menepuk dadanya dengan bangga.
"yah kau sangat tampan"
Aqila masih berbicara dengan lembut, Annchi, Lila, Lin Shan dan To Mu menatap tidak percaya ke arah gadis itu.
wajahnya terlihat datar namun ucapan aqila terdengar lebih lembut dari biasanya dan ini kali pertama Aqila berbicara banyak.
"jadi kau bersedia menjadi ibu ku"
anak laki laki itu terlihat senang sebelum pada akhirnya aqila menghancurkan harapannya.
"aku tidak bisa"
Aqila menjawab dengan terus terang ia tidak ingin memberi harapan palsu pada anak kecil menggemaskan itu.
Aqila benar-benar tidak bisa menjadi ibunya sebab misinya belum terselesaikan sepenuhnya.
"Kenapa, aku janji akan jadi anak baik dan tidak nakal lagi asal kakak cantik mau menjadi ibu ku"
ucap anak itu sendu yang kini wajahnya berubah sedih bulir bening menggenang di pelupuk matanya yang indah.
"tuan muda"
sang pelayan bingung harus melakukan apa agar tuannya kembali ceria bukan tanpa alasan anak itu menginginkan Aqila sebagai ibunya.
"aku akan mengantar mu pulang"
Aqila juga tidak tega melihat anak kecil itu menangis dia akhirnya memilih mengalihkan pembicaraan.
"benarkah"
dan benar saja anak itu tidak lagi menangis dia malah tersenyum manis begitu mendengar Aqila akan ikut ke rumahnya.
"hm"
"asik"
dengan penuh semangat anak kecil menggemaskan itu menarik tangan Aqila untuk mengikutinya tapi Aqila tidak bergeming.
anak itu memiringkan kepala tanda kebingungan namun detik berikutnya dia tertawa senang karena Aqila mengajaknya menaiki kuda hitam kesayangan gadis itu.
Hay Hay semua maaf yh kalo author belum bisa crezy up karena author sibuk kerja dan ngatur waktunya.
maklumlah bikin cerita itu harus berkonsentrasi penuh di keadaan yang tenang.
jadi kalau ada kata yang salah author mohon maaf dan terima kasih buat yang udah selalu stay di karya author 🙏😊
see you next time, selamat membaca 🥰🥰
__ADS_1