SANG DEWI PENAKLUK

SANG DEWI PENAKLUK
Mencari Masalah


__ADS_3

uhuk


pria itu memuntahkan seteguk darah karena pukulan yang Aqila berikan tidak main-main.


"Kenapa diam saja, serang dia"


Amuk pria itu pada para bawahannya, mereka yang mendapat perintah langsung menyerang Aqila secara bersamaan.


Sedangkan para pengunjung lain memisahkan diri mereka tidak berani ikut campur mengingat yang menyerang Aqila adalah sekelompok bandit gunung yang terkenal kejam dan tak kenal ampun.


krek


Bug


Brak


Aqila membalas serangan mereka dengan brutal bahkan ada yang sampai kehilangan nyawa di tangan gadis itu.


kini hanya tersisa pria yang tadi menggebrak meja, dia menatap ngeri sosok gadis cantik di depannya.


Dalam hati dia menyesal telah mencari mangsa yang salah, niat hati ingin bersenang-senang dengan gadis itu malah nyawanya yang kini dalam bahaya.


Meski begitu dia tidak ingin mengakui kekalahannya, pria itu menggenggam kuat pedang besar milik-nya kemudian berlari ke arah Aqila.


Aqila yang melihat pria itu ingin menghunus pedang padanya haya menatap datar.


Sedangkan para pengunjung di buat ketar-ketir menyaksikan pemandangan itu.


Trang


Suara gesekan benda tajam memenuhi ruangan tersebut keadaan di sanah sudah sangat kacau.


para gadis menutup wajah Mereka karena takut melihat adegan selanjutnya, sedangkan pemilik penginapan yang mendapat kabar tentang keributan tersebut bergegas melihat.

__ADS_1


srakkkk


Bugg


Dengan gerakan lihai Aqila memutar tubuh bak penari menyayat perut pria itu menggunakan belati yang dia pakai untuk menahan serangan kemudian menendangnya dengan kuat.


brak


Pria itu jatuh terkapar dengan perut mengeluarkan banyak darah, semua orang menatap ngeri bahkan ada yang menjerit histeris hingga pingsan.


setelah menunggu hampir sepuluh detik tidak ada lagi tanda-tanda pria itu akan bangkit, salah satu pengunjung memberanikan diri untuk mengecek keadaan pria itu dan ternyata pria itu sudah meninggal.


Pemilik penginapan datang di waktu yang tepat ketika pertarungan telah selesai dan hanya menyisakan sisa kekacauan.


Wajahnya nampak murung memikirkan betapa banyaknya kerugian yang akan dia keluarkan.


tanpa bicara sepatah kata pun Aqila melemparkan sekantor koin emas pada pria itu kemudian melangkah pergi.


"terimakasih banyak nona"


pria itu berucap tulus kala bayangan Aqila hampir lenyap dari pandangannya.


dia tau betul maksud Aqila melemparkan sekantong koin emas tersebut sebagai bentuk ganti rugi.


Tidak banyak orang dapat melakukan hal itu kebanyakan dari mereka malah pergi begitu saja tanpa bertanggung jawab terlebih dulu.


....


Di istana Lin bao tengah bersungut-sungut dia kesal karena Jun jia menempeli ayahnya sepanjang waktu bahkan tidak memberinya ruang sedikit pun untuk berbicara pada pria itu.


Lin Bao adalah anak yang pintar meski usia nya baru menginjak lima tahun tapi dia sudah bisa mengerti banyak hal termasuk rencana jahat wanita tersebut.


Sedangkan sang nenek sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja hingga Lin Bao enggan melihatnya.

__ADS_1


"apa yang sedang kau pikirkan Lin"


Ucap seorang wanita cantik yang tidak lain adalah Aqila


"sejak kapan ibu datang"


Lin Bao yang sedang duduk di gajebo taman terkejut mendengar suara itu, tapi setelahnya dia menatap Aqila penuh tanda tanya.


"baru saja"


Aqila tersenyum manis sambil membelai lembut kepala bocah laki-laki itu.


Lin Bao memejamkan mata karena merasa nyaman dengan sentuhan yang Aqila berikan.


"ada apa"


taya Aqila saat melihat wajah murung putranya tersebut.


"penyihir itu selalu saja menempeli ayah ku, aku tidak suka melihat-nya"


Adu Lin Bao dengan ekspresi kesal tapi itu justru terlihat sangat menggemaskan di mata Aqila.


"apa kau ingin memberinya sedikit pelajaran"


Sebenarnya Aqila tidak perduli dengan pernikahan Lin Zhang tetapi melihat ketidak sukaan sang putra pada wanita yang akan menjadi ibu sambung-nya itu Aqila merasa tidak tega.


Dia tidak ingin melihat Lin Bao tumbuh di tangan orang yang tidak tepat, Gadis itu hanya menginginkan kebahagiaan selalu menyertai putranya.


"tentu saja"


Aqila merapatkan tubuhnya ke arah Lin Bao kemudian membisikkan sesuatu ke telinga bocah laki-laki itu.


Setelahnya mereka tertawa geli membayangkan ekspresi Jun jia saat mendapatkan kejutan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2