
malam yang gelap dengan hujan deras mengguyur setiap permukaan bumi, angin kencang membuat udara semakin dingin juga kilatan petir bergemuruh saling bersahutan di terdengar di beberapa tempat termasuk kerajaan Emerald membuat suasana semakin mencekam.
kebanyakan para penghuni kerajaan mengurung diri di dalam rumah menghindari sesuatu yang buruk terjadi.
di sebuah ruangan terbaring sesosok gadis cantik dengan keringat membanjiri tubuhnya.
Dia bergerak gelisah dengan mata terpejam bulir bening perlahan menetes dari setiap sudut matanya yang indah.
Dia ingin bangun dari mimpi buruknya tetapi rasanya sangat sulit seakan ada yang menahan dirinya di dalam sanah.
dalam mimpi-nya Aqila melihat kehancuran seluruh Lapisan dunia yang di sebabkan oleh dirinya.
semuanya benar-benar hancur tak tersisa bahkan keluarganya juga ikut tiada bersama yang lain.
Lautan darah, mayat manusia, serta kobaran api menjadi pemandangan utama yang Aqila lihat kala itu, dia berjalan gontai tak tentu arah.
bukan hanya keadaan yang berantakan bahkan dirinya juga terlihat sangat menyedihkan dengan berbagai luka menghiasi anggota tubuhnya, pakaian putih yang sudah terkena noda darah membuat penampilan Aqila terlihat sangat kacau.
Tidak hanya sampai di sanah Aqila juga mendengar jelas jerit kesakitan dan tangisan setiap orang padahal tidak ada siapapun selain dirinya.
"kalian dimana, kenapa kalian meninggalkan ku"
Aqila bergumam lirih saat tak juga menemukan anggota keluarga-nya di antara ribuan mayat yang tergeletak di depannya.
Di hadapkan dengan situasi seperti itu Aqila benar-benar sangat hancur dia terpuruk dalam kesedihannya.
dulu dia pernah beberapa kali memimpikan hal buruk seperti ini tapi mimpi kali ini jauh lebih menyayat hati karena dia alasan kehancuran tersebut bisa terjadi.
"kenapa harus aku"
Lagi dan lagi Aqila terus menyalah dirinya Aqila tidak tau kesalahan seperti apa yang dia perbuat hingga menimbulkan kekacauan sebesar ini.
__ADS_1
"kau harus mati jika ingin mereka semua hidup"
Di tengah kesedihan Aqila mendengar suara berat seseorang yang sepertinya di tujukan pada dirinya.
"siapa kau, keluar! Pengecut"
Aqila mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru tetapi nihil dia tidak menemukan siapa yang berbicara padanya.
"hahahaha...belum saat-nya kita bertemu Aqila"
Setelah mengatakan hal itu tidak ada lagi yang Aqila dengar.
Aqila terdiam diam beberapa saat kemudian berfikir dia pernah mendengar suara tersebut tapi dia lupa dimana dan siapa, meski begitu Aqila terus berusaha mengingatnya namun hasilnya nihil.
Dia kecewa pada dirinya sendiri karena melupakan hal sepenting itu.
Kini Aqila menangis dalam diam Jujur dia sangat lelah menghadapi takdirnya yang berat.
Gadis itu menghembuskan nafas berat kemudian bangkit dari posisinya dan berjalan ke arah jendela yang menghadap ke arah taman istana.
bisa Aqila lihat bahwa Langit masih nampak gelap dengan sisa-sisa rintikan hujan yang membasahi permukaan bumi.
Gadis itu memandang lurus ke depan sambil terus berfikir tentang siapa musuh terbesarnya padahal selama dia hidup di tubuh sang adik, dia tidak pernah mencari masalah dengan siapapun kecuali orang tersebut yang mencari masalah dengannya.
waktu berlalu begitu saja hingga pagi tiba, sejak terbangun dari mimpi Aqila tidak bisa memejamkan mata hingga dia memutuskan untuk berlatih kekuatan sihir di dalam dimensi sepanjang malam.
Suasana pagi kali ini terasa sangat sejuk mungkin karena habis di guyur hujan.
beberapa penghuni kerajaan sudah memulai aktivitas mereka masing-masing sejak matahari terbit.
"nona apa anda sudah bangun"
__ADS_1
Terdengar suara bariton dari luar pintu kamar aqila yang tidak lain adalah Lin Shan bertepatan dengan kembalinya dia dari ruang dimensi.
"ya, masuklah"
Setelah mengatakan hal itu Aqila duduk di tempat yang bisa dia gunakan untuk membaca buku.
begitu mendapat ijin Lin Shan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Aqila sambil membawa senapan makanan.
Tuk
Lin Shan meletakkan nampan berisi makanan tersebut di hadapan Aqila yang membuat gadis itu menoleh ke arah-nya.
"sarapan untuk anda nona"
"terimakasih"
"anda tidak perlu berterimakasih itu sudah menjadi kewajiban saya"
Tanpa banyak bicara lagi Aqila mulai menikmati sarapan yang di bawakan oleh Lin Shan berupa semangkuk nasi, sayuran dan daging panggang.
"duduk dan makanlah"
Ucap Aqila di sela acara makan saat melihat Lin Shan berdiri di depan dengan ekspresi tersenyum menatap ke arahnya.
"tapi"
meski sering makan bersama tetap saja Lin Shan masih merasa sungkan mengingat identitas dirinya yang hanya seorang bawahan.
"tidak ada penolakan"
ucap Aqila lagi seakan tau apa yang ada di pikiran pemuda tampan tersebut.
__ADS_1