
setelah beberapa saat berkeliling ketiganya berhenti di sebuah restoran untuk menghilangkan rasa lapar.
"nona kita akan memulainya darimana"
ucap Lila pada Aqila, mereka sedang duduk menunggu pesanan.
"telusuri saja setiap tempat yang ada di disini"
Aqila menjawab dengan santai sambil meminum air yang ada di hadapannya.
air itu sudah ada sejak restoran di buka, pemilik toko sengaja menyediakannya untuk para pengunjung yang mampir ke tempatnya.
"bukankah itu akan terlalu memakan banyak waktu"
ucap Lin Shan sambil menatap ke arah Aqila, sedangkan gadis kitu masih duduk tenang tidak terusik sama sekali.
"mau bagaimana lagi kita tidak punya pilihan selain menggeledah wilayah ini"
kali ini Lila yang menjawab gadis itu sedang menopang kepalanya dengan kedua tangan dan terus membuang nafas kasar.
"saya tidak bertanya pada mu Lila"
Lin Shan merasa kesal karena setiap kali dia mengajak Aqila berbicara maka selalu saja Lila yang menjawab perkataannya.
"oh, terserah kau saja saya sedang malas berdebat"
Lila menjawab dengan acuh, sambil memutar bola mata malas
"dasar gadis gila"
"kau yang gila"
jawab Lila emosi saat Lin Shan mengatainya gila, gadis itu hampir saja mengamuk di sanah.
"sudah diam"
keduanya langsung bungkam saat Aqila menegurnya.
Aqila tidak habis pikir dengan sikap keduanya mereka seperti kucing dan tikus yang tidak pernah akur.
setelah menunggu hampir lima belas menit semua pesanan mulai di hidangkan di hadapan mereka bertiga.
tanpa menunggu lama ketiganya langsung menikmati makanan tersebut dengan tenang.
di sela makan Aqila tidak sengaja mendengar pembicaraan dua orang pria yang sedang duduk di sudut ruangan.
Aqila mulai menajamkan Indra pendengarannya, supaya bisa mendengar lebih jelas pembicaraan tersebut.
"apa kau tau dalam satu bulan lagi bunga anggrek hitam seribu kelopak akan segera mekar"
"ya aku tau itu"
"apa kau akan pergi ke sanah"
"tentu saja, aku harus mendapatkan bunga anggrek hitam itu, untuk menyempurnakan kekuatan sihir dalam tubuh ku ini"
"aku akan ikut dengan mu kita bisa membaginya secara rata karena yang aku dengar bunga tersebut di jaga oleh bintang buas yang sangat mengerikan"
"kau benar jika kita melakukannya secara bersama pasti kita bisa mendapatkan bunga tersebut"
"apa kau tau dimana letak bunga itu"
"sesuai informasi yang aku dapatkan bunga itu tumbuh di wilayah Utara tepatnya di kerajaan bingjie"
"apa kau yakin informasi itu benar"
"tentu saja, memangnya kenapa"
__ADS_1
"wilayah Utara bukanlah tempat yang mudah untuk di masuki, cuaca disana juga sangat dingin, itu karena hujan salju turun setiap hari di kerajaan bingjie"
"kau benar siapa yang tidak tau tentang tempat itu apalagi jalannya tidak mudah untuk di lewati"
"ya, meski begitu aku akan tetap pergi ke sanah, akan sangat di sayangkan jika kita melewatkan kesempatan bagus ini"
setelah mendapat informasi yang cukup Aqila kembali melanjutkan acara makannya.
kini dia tau dimana lokasi tempat bunga anggrek hitam seribu kelopak itu tumbuh.
begitu selesai mengisi perut ketiganya langsung pergi dari restoran itu setelah membayar pesanan.
"nona ap..."
belum selesai Lila berbicara beberapa orang datang mendekat ke arah mereka bertiga.
"salam nona Aqila, maaf mengganggu perjalanan anda, saya panglima Jiao di utus yang mulia raja untuk meminta nona datang ke istana"
orang yang di sebut Jiao itu menunduk dengan hormat di hadapan aqila setelahnya dia baru menjelaskan tujuan pemuda itu menghadang perjalanan mereka.
"apa kita akan pergi ke istana"
tanya Lila dengan bingung, gadis itu berpikir untuk tujuan apa yang mulia raja Liu yaoshan meminta Aqila datang ke sanah.
"hm"
Aqila hanya menjawab dengan deheman kecil kemudian kembali memacu kuda hitamnya dengan cepat, tanpa menunggu lama panglima dan yang lain langsung menyusul kepergian gadis itu.
setelah menempuh perjalanan hampir satu jam mereka tiba di depan gerbang istana,
"salam panglima, salam nona besar Aqila"
ucap prajurit penjaga pintu gerbang dengan membungkuk hormat kemudian langsung membukakan pintu besar tersebut.
para prajurit lain yang berjaga di sanah juga tidak berani menghambat rombongan tersebut, mereka langsung mempersilahkan rombongan itu untuk segera masuk.
empat orang manusia langsung turun dari atas kudanya setelah mereka berada di dalam istana.
"mari nona saya akan membawa anda ke hadapan yang mulia raja Liu yaoshan"
setelah turun dari atas kuda, Jiao mengajak ketiganya untuk bertemu dengan sang raja kerajaan xingsheng.
Aqila mengangguk setuju kemudian mengikuti panglima itu, Lila dan Lin Shan juga ikut bersama mereka.
di sepanjang koridor istana mereka berempat menjadi pusat perhatian apalagi Aqila, kecantikan gadis itu mampu menarik perhatian semua orang yang di lewatinya.
"hey lihatlah siapa gadis cantik yang di bawa oleh panglima Jiao itu"
salah satu pelayan berbicara menunjuk ke arah Aqila, mereka sedang berada di sisi lain koridor istana.
"aku tidak tau, tapi dia terlihat sangat cantik dan anggun persis seperti seorang Dewi"
ucap yang lain dengan pandangan berbinar orang itu terpesona melihat kecantikan Aqila.
"kau benar tapi sayang wajahnya terlihat datar"
yang lain juga ikut menimpali pembicaraan tersebut, sambil terus menebak siapa sosok gadis cantik yang di bawa oleh panglima kerajaan itu.
"aku merasa penasaran bagaimana saat dia tersenyum"
"yah aku juga berpikir begitu, sudahlah ayo cepat jalan pekerjaan kita masih banyak"
mereka berlima langsung membubarkan diri untuk kembali ke pekerjaan mereka masing masing.
Aqila yang mendengar pembicaraan tersebut tidak perduli sama sekali jika itu gadis lain mungkin dia akan besar kepala dan bersikap angkuh.
setelah tiga puluh menit berjalan ke empat orang itu tiba di depan pintu aula istana kerajaan xingsheng.
__ADS_1
"nona besar Aqila beserta yang lain akan memasuki aula"
teriak salah satu prajurit penjaga pintu dengan suara lantang kemudian mereka berdua membuka pintu besar tersebut.
panglima Jiao, Aqila, Lila dan Lin Shan melangkah masuk, kedua prajurit itu langsung membungkuk hormat saat keempat orang itu melewatinya.
Aqila berjalan dengan santai namun tetap saja terlihat anggun dan berwibawa, semua orang menatap ke arah gadis itu tanpa berkedip.
aula terlihat ramai sepertinya mereka sedang mengadakan rapat pikir gadis itu.
"salam yang mulia raja Liu yaoshan semoga anda di berkahi umur panjang"
panglima Jiao langsung mengucap salam dan membungkuk hormat di hadapan pria paruh itu yang sedang duduk di atas singgasananya.
"salam yang mulia raja Liu yaoshan"
Aqila, Lila dan Lin Shan memberi salam seperti biasa Yang selalu mereka lakukan di kerajaan Cang'an.
awalnya semua orang merasa terkejut dan hendak memprotes namun begitu mengingat kembali rumor yang beredar tentang gadis itu semua orang mengurungkan niatnya.
raja Liu yaoshan sendiri tidak keberatan dengan sikap itu, dia juga sudah mendengar tentang Aqila dari orang kepercayaannya.
Liu yaoshan juga tidak ingin berselisih faham dengan gadis itu hanya karena masalah sepele akan lebih baik jika dia menjalin persahabatan dengan Aqila pikir pria paruh baya tersebut.
"salam kalian saya terima silahkan duduk"
Liu yaoshan menjawab dengan ramah dan penuh wibawa salam dari mereka berempat.
"terimakasih yang mulia"
ke empat orang itu menjawab secara bersamaan kemudian berjalan ke arah tempat duduk yang sudah di sediakan.
"selamat datang di kerajaan xingsheng nona han Aqila"
setelah melihat Aqila sudah duduk di tempatnya Liu yaoshan kembali membuka suara sedangkan yang lain sejak tadi diam dan menyimak.
"hm, terimakasih atas penyambutannya"
Aqila menjawab datar perkataan tersebut tapi masih terdengar sopan.
"maaf mengganggu waktu perjalanan anda nona Aqila, saya ingin mengundang anda secara langsung untuk berpartisipasi dalam acara perayaan festival tahunan di kerajaan ini"
Liu yaoshan tidak mengambil hati sikap acuh Aqila dia malah memberinya undangan untuk ikut serta dalam perayaan festival nanti.
"terimakasih atas undangannya tapi saya tidak bisa berjanji, karena kami akan pergi ke wilayah Utara"
"apa anda tau tentang wilayah tersebut"
Liu yaoshan terkejut dengan jawaban yang aqila berikan semua orang tau betul tentang rumor wilayah Utara.
"saya tau"
Aqila menjawab dengan tenang semua orang hanya bisa menghela nafas panjang tidak habis pikir dengan jalan pikiran gadis itu yang terlampau berani.
"baiklah tidak masalah saya juga tidak akan memaksa tapi ijinkan saya menjamu anda malam ini saja, apa anda bersedia"
"hm"
"kalau begitu anda bisa tinggal disini terlebih dulu, pangeran minghao antar nona besar Aqila ke istana putri untuk beristirahat"
Liu yaoshan meminta salah satu putranya untuk menjadi pemandu jalan Aqila menuju istana putri.
"baik ayah handa"
Minghao langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Aqila, kemudian mengajak ketiga orang itu untuk mengikutinya.
hey ketemu lagi sama author maaf yh dua hari ini author GK up karena author sibuk banget sama kerjaan di dunia nyata semoga kalian memakluminya.
__ADS_1
terimakasih sudah berkunjung ke karya author sehat selalu untuk kalian semua 😊😊😊
selamat membaca 🙏🥰🥰