SANG DEWI PENAKLUK

SANG DEWI PENAKLUK
Memulai Perjalanan


__ADS_3

keesokan harinya aqila dan yang lain mulai bersiap mereka bertiga tidak membawa banyak barang karena Aqila berfikir itu sangat merepotkan.


apalagi mereka akan menunggangi kuda, gadis itu tidak ingin perjalanannya terlalu banyak hambatan.


"kalian sudah siap"


ucap Aqila sambil menatap ke arah Lila dan Lin Shan, mereka berada di kamar gadis itu.


"sudah nona"


jawab keduanya dengan serempak kemudian saling membuang muka, itu membuat Aqila geleng kepala dengan tingkah konyol mereka berdua yang tidak pernah akur.


setelahnya Aqila melangkah pergi dari paviliun Linhua di ikuti oleh Lila dan Lin Shan, mereka pergi menuju ruang kerja raja Han Zain untuk berpamitan.


setelah berjalan untuk beberapa waktu ketiganya sampai di depan pintu ruangan tersebut.


tok tok tok


Lila mengetuk pelan pintu itu atas permintaan Aqila, mereka masih menunggu jawaban dari orang yang ada di dalam sanah.


krett


pintu besar terbuka, seorang Kasim muda membungkuk hormat di hadapan Aqila dengan sangat sopan.


"salam nona besar tuan sudah menunggu anda di dalam"


ucap Kasim, yang menurut aqila dia adalah orang baru di istana ini.


"lain kali tidak perlu seperti itu cukup tundukkan kepala mu"


Aqila menjawab dengan datar dan tanpa ekspresi apa pun membuat Kasim muda itu sedikit was-was.


Kasim itu berpikir bahwa dia telah menyinggung perasaan gadis yang ada di hadapannya ia pernah mendengar orang seperti apa Aqila.


gadis yang mendapat julukan pembunuh berdarah dingin dia tidak segan membunuh orang yang berani mengusik ketenangan hidupnya membuat tubuh kasim pemuda itu gemetar ketakutan.


"baik nona besar"


ucap Kasim terbata dia masih menundukkan kepala tidak berani menatap ke arah Aqila


setelah menegur, Aqila melangkah masuk bersama yang lain.


"salam ayah"


Aqila memberi salam dengan hormat Han Zain adalah orang kedua yang mampu membuat gadis itu tertunduk untuk waktu yang sedikit lebih lama dari biasanya.


"salam yang mulia raja"


Lila dan Lin Shan juga memberi salam secara bersamaan.


"salam kalian saya terima, apa kalian akan berangkat sekarang"


ucap Han zain sambil menatap ke arah ketiganya.


"ya"

__ADS_1


jawab Aqila membuat Han Zain sedikit murung


"tidak bisakah kau sarapan dulu bersama ayah Aqila"


keluh Han zain, menatap aqila dengan perasaan tidak rela


"ayah"


"baiklah ayah tidak akan memaksa, bawa ini untuk bekal di perjalanan"


ucap pria paruh baya itu pasrah meski tidak rela dia tetap harus mengikhlaskan kepergian putrinya, Han Zain juga menyerahkan sekantong besar koin emas untuk bekal perjalanan mereka.


"aku masih memilikinya"


Aqila menolak secara halus koin emas tersebut karena sejujurnya dia tidak kekurangan uang sama sekali.


"ambilah Aqila mungkin ini akan berguna untuk mu nanti"


Han zain tetep memaksa untuk memberikan koin emas tersebut ia tidak ingin putrinya hidup terlunta-lunta di negeri orang.


"baik, terimakasih ayah"


aqila terpaksa mengambil uang itu dia tidak ingin membuat sang ayah kecewa.


"hm"


"aku pamit, jaga kesehatan ayah selama aku pergi"


Aqila akhirnya harus menyudahi acara perpisahan tersebut karena Han Zain akan terus menahannya untuk tidak pergi jika mereka berada di sanah terlalu lama.


Ucap Han Zain dengan senyum getir di wajahnya pria itu benar benar tidak rela Melepas kepergian Aqila.


"selamat tinggal ayah"


aqila memeluk Han Zain sebentar untuk menenangkan hati pria paruh baya tersebut, dan Han Zain juga membalas pelukan itu dengan erat.


"Lin shan jaga tuan mu dengan baik jika Aqila sampai terluka saya tidak akan memaafkan mu"


Han zain menatap ke arah Lin Shan dengan sangat tajam mencoba memperingatkan pemuda itu untuk menjaga putrinya dengan baik.


"anda tentang saja tuan saya akan menjaga nona Aqila dengan nyawa saya sendiri sebagai jaminannya"


ucap Lin Shan penuh ketegasan ada ketulusan di setiap kata-katanya.


"bagus jika tidak saya sendiri yang akan menghabisi nyawa mu"


ancam Han Zain pada pemuda itu, dia benar-benar akan melakukannya jika Aqila sampai kenapa-napa.


"sesuai dengan keinginan anda yang mulia raja"


Lin Shan menjawab dengan penuh keyakinan sambil menunduk hormat ke arah pria paruh baya itu.


"Lila jaga putri ku dengan baik"


kini Han Zain berbalik ke arah Lila untuk memberikan pesannya pada gadis tersebut.

__ADS_1


"anda tidak perlu khawatir saya akan menjaga nona dengan sangat baik yang mulia"


jawab Lila tegas membuat perasaan Han Zain sedikit tenang.


setelah selesai ketiganya langsung meninggalkan ruangan, sebelum melakukan perjalanan mereka lebih dulu pergi ke peternakan kuda untuk mengambil kuda kesayangan mereka.


....


di depan gerbang istana ketiga orang itu menjadi pusat perhatian semua orang.


mereka terlihat sangat gagah seperti seorang kesatria besar, Aqila menaiki kuda hitamnya Lin Shan dengan kuda coklatnya dan Lila dengan kuda putihnya.


ketiganya terlihat sangat mempesona membuat semua orang tidak fokus di buatnya hingga beberapa dari mereka saling menabrak satu sama lain.


"shuwan, tianzhi keluarlah"


panggil Aqila pada dua jendral dari pasukan khususnya yang ada di dalam ruang dimensi.


"salam nona besar Aqila"


ucap mereka dengan hormat setelah tiba di hadapan gadis itu.


"tolong jaga istana ini selama saya pergi dan latih para prajurit juga yang lain seperti saya melatih kalian, apa kalian berdua mengerti"


ucap Aqila memberi perintah pada jendral kepercayaannya dia yakin dua orang itu mampu menjalankan tugas darinya.


"baik nona besar kami mengerti semoga perjalanan anda menyenangkan"


jawab mereka berdua dengan serempak sambil membungkuk hormat


"hm"


Aqila langsung memacu kuda hitamnya dengan sangat cepat di ikuti oleh Lila dan Lin Shan di belakang.


mereka bertiga pergi ke arah barat karena letak kerajaan Cang'an berada di wilayah timur, itu artinya Aqila akan kembali masuki hutan barat tempat pertemuan pertanyaan dengan hei Ling.


Aqila akan mencari bunga anggrek hitam di wilayah barat terlebih dulu jika tidak menemukannya di akan kembali mencari ke wilayah selanjutnya yaitu daerah selatan dan Utara.


ketiganya terus memacu kuda dengan sangat cepat hingga hari ke lima mereka tiba di luar Hutan barat.


wilayah barat di tempati oleh kerajaan xingsheng yang di perintah oleh raja Liu yaoshan.


kerajaan xingsheng begitu makmur sumber daya alamnya melimpah ruah pasukannya juga tidak bisa di remehkan.


itulah sebabnya kerajaan Cang'an memilih menjalan pertemanan dari pada bermusuhan


kerajaan Cang'an tidak sebesar kerajaan xingsheng namun jika di bandingkan keduanya sama unggulnya.


kerajaan xingsheng unggul dalam sumber penghasil bahan pokok sedangkan kerajaan Cang'an unggul dalam penghasil bahan sandang seperti perhiasan pakai dan masih banyak lagi.


Hay ketemu lagi sama author terimakasih sudah mampir semoga kalian tidak bisa dengan cerita yang author sajikan 😊🥰


maaf kalau masih ada kekurangan dan tidak sesuai dengan keinginan kalian Karena author masih belajar 🙏


terimakasih atas waktu dan kunjungannya dan selamat membaca 🙏 🥰😊

__ADS_1


__ADS_2