SANG DEWI PENAKLUK

SANG DEWI PENAKLUK
Memberikan Izin.


__ADS_3

malam hari, Han Zain menikmati makan malam seorang diri karena Aqila menolak bergabung bersamanya.


mungkin gadis itu sedang merajuk sebab pria tersebut tidak juga mengubah keputusan.


"hah dasar keras kepala"


Han Zain menghela nafas berat di sela langkah menuju kamar Aqila setelah menyelesaikan makan malam.


para pelayan yang mengawal di belakang menahan tawa saat mendengar penuturan tersebut, mereka ingin sekali menjawab ucapan pria itu bahwa dia juga sama keras kepalanya dengan sang anak


"apa putri ku ada di dalam"


tanya Han Zain pada salah satu penjaga istana putri, tempat tinggal Aqila saat ini.


"nona seharian mengurung diri di kamar yang mulia"


mereka menjawab jujur sambil menundukkan kepala dengan sopan.


"baiklah kalian boleh pergi"


"tapi yang mulia nona besar Aqila tidak ingin di ganggu oleh siapapun termasuk anda."


penjaga yang sudah mendapat amanat dari gadis itu berusaha untuk menghentikan langkah pria tersebut meskipun dengan perasaan takut.


"saya ayah-nya apa kalian juga akan menghentikan saya sekarang"


Han Zain menatap tajam kedua penjaga yang telah berani menghentikan langkahnya itu.


"ampuni kami yang mulia, tapi nona.."


jawab kedua prajurit itu dengan tubuh bergetar hebat, mereka hanyalah prajurit biasa yang masih membutuhkan pekerjaan untuk menghidupi keluarga.


"sudah minggir, saya yang akan bertanggung jawab jika gadis itu marah pada kalian"


kesal karena terus di halangi Han Zain membentak keduanya dengan cukup keras.


"hah, silahkan yang mulia"


jika sudah begini maka kedua prajurit hanya bisa mengalah menerima nasib kedepannya seperti apa.


tok tok tok


"Aqila buka pintunya ini ayah"


Han Zain menggedor pintu kamar Aqila dengan keras tapi tidak ada jawaban dari dalam sanah.


meski sudah berulang kali mengetuk pintu tetap saja hasilnya masih sama, kini Han Zain dilanda rasa cemas memikirkan keadaan putri semata wayangnya itu.


sedangkan orang yang di pikirkan tengah sibuk melatih kekuatan sihirnya di dalam dimensi.


suara ledakan yang di hasilkan membuat ia tak mendengar bahwa pintu kamarnya di ketuk sedari tadi.


"Aqila buka pintunya jangan membuat ayah khawatir"


ucap Han Zain dengan nada tinggi berharap pintu tersebut akan segera di buka.


kembali ke dalam dimensi hei Lang yang dapat merasakan seseorang sedang memanggil Aqila langsung bergegas menghampiri gadis itu.


"nona sebaiknya anda cepat kembali"


teriak Hei Lang dengan sangat keras dan itu berhasil menghentikan latihan gadis tersebut.

__ADS_1


"kenapa"


tanya aqila setelah dirinya membereskan semua kekacauan yang tadi dia perbuat menggunakan kekuatan sihir kembali.


"seseorang ingin mendobrak pintu kamar anda"


terang hai Lang membuat aqila mengernyit bingung dengan apa yang terjadi.


"siapa yang berani"


ucap dingin gadis itu, sambil melangkah mendekati Hei Lang.


"tentu saja ayah anda nona memangnya siapa lagi"


"baiklah"


mendengar bahwa sang ayah yang melakukannya Aqila tidak jadi marah meski tadi sempat merasa kesal.


Aqila memejamkan mata untuk kembali ke kamarnya takut jika sang ayah tidak menemukannya di kamar pria itu akan membuat kehebohan, Karena berfikir dirinya kabur dari istana.


brakk


saat pintu terbuka Han Zain langsung masuk bertepatan dengan kedatangan Aqila hingga tak seorangpun menyadari kepergiannya.


"kau baik-baik saja apa kau sakit katakan sesuatu pada ayah"


cecar Han Zain sambil membolak balikan tubuh gadis itu.


"aku baik"


jawab Aqila, gadis itu sedikit tersenyum melihat kelakuan ayah-nya ketika sedang mengkhawatirkan-nya.


"syukurlah kau mengagetkan ku saja, kenapa tidak langsung membuka pintu"


"aku sedang membersihkan diri"


kali ini Aqila terpaksa berbohong dia belum bisa menceritakan tentang ruang dimensi miliknya pada pria paruh baya itu.


"hah"


Han Zain menghela nafas lega setelah mendengar jawaban putrinya.


"ayo ikut ayah"


setelah melepaskan pelukan Han Zain kembali membawa Aqila duduk di sampingnya.


"ada apa ayah"


taya Aqila heran melihat perubahan sikap ayahnya saat ini.


"apa kau marah pada ku"


Han Zain bertanya sambil menatap dalam wajah putri kesayangannya itu.


"tidak"


jawab Aqila jujur, gadis itu tidak pernah marah dengan apa yang pria itu lakukan saat ini sebab dia tau betul alasannya apa.


"apa kau tidak bisa untuk tidak pergi ke sanah"


Han Zain kembali bertanya untuk memastikan apakah Aqila akan benar-benar pergi meninggalkannya.

__ADS_1


"ayah"


sekarang Aqila bingung harus menjawab apa dia merasa bersalah terhadap pria itu.


"baiklah ayah akan mengijinkan mu pergi tapi berjanjilah pada ayah kau akan kembali dengan selamat tanpa terluka sedikitpun"


kali ini Han Zain terpaksa harus mengalah dia tidak bisa egois dan menghalangi takdir yang sudah tertulis untuk putrinya.


"aku berjanji, terimakasih ayah"


Aqila senang karena akhirnya sang ayah mau merubah keputusannya tanpa dia harus melawan perintah pria tersebut.


Aqila tidak ingin menjadi anak pembangkang kasih sayang pria itu sangat berarti baginya.


"ayah sangat menyayangi mu dan ayah tidak ingin kehilangan mu Aqila itulah sebabnya ayah tidak rela kau pergi"


jelas Han Zain tentang alasan kenapa dia tidak mengizinkan gadis itu pergi.


"aku tau dan aku juga sangat menyayangi ayah"


Aqila memeluk erat tubuh Han Zain mencari kehangatan yang jarang sekali ia rasakan, bukan Han Zain tidak mau memberikan tapi


dirinya yang selalu sibuk hingga tak punya waktu untuk sekedar mengobrol bersama.


mereka berpelukan untuk waktu yang cukup lama, Han Zain tidak membiarkan Aqila pergi sebentar saja dari hadapannya.


tapi karena waktu sudah hampir larut malam terpaksa Han Zain pergi meninggalkan gadis itu dan kembali ke kamarnya sendiri.


....


esok paginya, Aqila dan Han Zain menikmati sarapan pagi bersama sebelum nanti dia melakukan perjalanan ke dunia atas.


gadis itu juga berniat untuk memberitahukan semua ini pada temanya Lila dan pasukan bayangan yang sudah beberapa Minggu ini dia latih sendiri, kekuatan prajurit bayangan hampir setara dengan pasukan khusus miliknya.


setelah menikmati sarapan Aqila mengajak Lila dan Lin Shan mengunjungi markas sekaligus gedung baihe untuk berpamitan.


"jika ayah bertanya Katakan saja aku sedang ada urusan"


ucap Aqila tegas, saat ini dia, dan kedua temannya berada di depan pintu gerbang istana.


"baik nona besar"


jawab para penjaga dengan patuh, Mereka sangat menghormati gadis itu lebih dari raja mereka sendiri.


begitu selesai Aqila dan yang lain kembali memacu kuda dengan kecepatan tinggi melewati gerbang istana.


mereka terlihat seperti sedang terburu-buru padahal tidak sama sekali.


para penjaga menatap heran ke arah perginya mereka bertiga, akhir-akhir ini Aqila sering keluar istana entah seorang diri atau di temani oleh Lin Shan.


"sepertinya nona sangat sibuk"


ucap salah satu dari mereka sambil memandang ke arah perginya orang yang di maksud.


"biarkan saja jangan suka mencampuri urusan orang lain"


jawab prajurit lainnya mengingatkan pria tersebut untuk tidak melampaui batas.


"aku hanya penasaran saja tidak ada salahnya bukan"


ucap prajurit tadi mencoba membela diri, kemudian dia melangkah kembali ke tempat semula di susul yang lain.

__ADS_1


terimakasih sudah berkunjung,🙏 semoga kalian masih suka dengan lanjutan ceritanya 😊😊


selamat membaca dan see you next time di episode berikutnya 👋😊


__ADS_2