
perlahan Aqila menaiki tangga istana dengan santai bersama Lin Shan dan Shen xiaojian, penampilan gadis itu jauh berbeda dari biasanya.
hari ini Aqila sedikit merias diri dia mengenakan selembar kain untuk menutupi wajahnya yang cantik.
sejak awal masuk mereka sudah menjadi pusat perhatian, banyak yang penasaran dengan wajah di balik kain tersebut.
"selamat datang di istana tabib"
beberapa pria bertubuh kekar dengan baju Jirah datang menghampiri mereka bertiga.
"hm"
ketiganya menganggukkan kepala sebentar sebagai jawaban.
"mari kami akan mengantar anda pada yang mulia raja"
walaupun ketiganya tidak tau siapa di antara mereka yang memiliki identitas tabib misterius meski begitu rombongan tersebut tetap di sambut dengan baik.
tidak membuang waktu Aqila, Shen xiaojian dan Lin Shan melangkah pergi mengikuti ketiganya menuju aula utama istana kerajaan emerald.
di sepanjang jalan Aqila melihat banyak pelayanan mondar mandir masuk ke salah satu ruangan dengan ekspresi cemas.
"ada apa dengan mereka"
tanya aqila tanpa menjeda langkah-nya, mendengar pertanyaan tersebut salah satu panglima yang menjemput kedatangan mereka mulai menjelaskan.
"mereka sedang membantu pengobatan pangeran terakhir"
ucap pria itu sedikit mengecilkan suara, karena kabar ini tidak boleh bocor ke luar tembok istana.
"apa yang terjadi"
tanya aqila lagi, dia sedikit penasaran dengan keadaan yang terjadi di istana sebenarnya.
"satu bulan yang lalu pangeran terkena penyakit aneh saat di acara perburuan, sudah banyak tabib terkenal yang telah di undang tapi kesehatan pangeran tidak kunjung menampakkan perubahan, ini juga salah satu alasan yang mulia raja mengundang anda kemari"
pria itu menjelaskan secara rinci apa yang terjadi di istana saat ini.
"terimakasih atas penjelasannya"
setelah mengatakan hal itu Aqila berpikir untuk membuat mereka berhutang Budi padanya dengan cara menyembuhkan pangeran tersebut apalagi dia adalah anak kesayangan yang mulia raja dan permaisuri.
begitu tersadar dari segala rencana yang ada di otak kecilnya, mereka sudah tiba di depan pintu besar sebuah ruangan.
nampak beberapa prajurit menjaga di setiap sudut-nya tanpa bergerak sedikitpun.
"sampaikan pada yang mulia raja bahwa tabib misterius sudah tiba"
ucap salah satu panglima pada prajurit yang berjaga lebih dekat dengan pintu besar itu.
"baik tuan"
setelah mengatakan hal tersebut prajurit itu membuka pintu secara perlahan kemudian masuk ke dalam sanah dan menutupnya kembali.
mereka tidak membiarkan siapapun melihat apa yang terjadi di dalam tanpa seijin dari sang raja.
__ADS_1
di dalam ruangan nampak hening meskipun banyak orang yang hadir, dari ekspresi mereka tampak sebuah kecemasan yang begitu besar.
"salam yang mulia raja panglima meminta ijin masuk beliau datang bersama rombongan tabib misterius"
lapor pria itu pada junjungannya, nampak seorang pria paruh duduk dengan angkuh di atas kursi kebesaran-nya.
"persilahkan mereka untuk masuk"
dengan tegas pria itu mempersilahkan bawahannya untuk masuk.
"baik yang mulia"
perlahan pintu besar di buka secara menyeluruh, kilau cahaya matahari menutupi wajah Aqila, Shen xiaojian dan Lin Shan karena mereka berada di barisan belakang.
dengan langkah tegas mereka mulai memasuki ruangan itu, Aqila kembali menjadi pusat perhatian.
pasalnya dia di himpit oleh dua pria tampan dengan tubuh atletis, ekspresinya yang datar menampilkan tidak ada ketakutan sama sekali.
"salam yang mulia raja semoga anda di berkati umur yang panjang"
tiga orang yang menjemput kedatangan Aqila mulai menjatuhkan diri untuk bersujud, sedangkan Aqila, Shen xiaojian dan Lin Shan hanya menundukkan kepala sebentar kemudian menegakkannya kembali.
sikap ketiganya mendapatkan tatapan tidak suka dari beberapa Mentri yang hadir, sedangkan sisanya hanya bersikap acuh.
"lancang, berani sekali kalian tidak menghormati yang mulia raja"
seorang Mentri yang sudah berumur berteriak marah pada ketiganya, bukan hanya dia bahkan pria yang sedang duduk di singgasananya juga diam-diam mengepalkan tangan.
"apa maksud anda Mentri"
kali ini Aqila memilih membuka suara sendiri dia ingin tau kenapa pria berumur itu tampak sangat marah pada mereka bertiga.
dengan kesombongan dan keangkuhan pria berumur itu menunjuk ke arah para panglima yang masih bersujud.
"kenapa aku harus melakukannya"
tanya aqila, dia tidak akan merendahkan diri-nya pada siapapun kecuali kedua orang tua dan sang pencipta.
"kurang ajar tunjukkan sikap sopan santun anda nona"
sahut Mentri lainnya dia juga tidak kalah emosi, namun dari sorot mata pria itu nampak sebuah rencana licik yang sedang dia mainkan.
"jadi begini cara kalian menyambut tamu"
tidak suka Aqila di bentak Lin Shan dan Shen xiaojian mulai pasang badan.
"tutup mulut busuk mu itu pemuda rendahan"
pria itu mulai mengeluarkan hinaan demi hinaan yang di tujukan pada Lin Shan karena pakaian yang pemuda itu kenakan nampak seperti seorang pelayan.
"ayo kita pergi"
bersamaan dengan di keluarkannya kata-kata tersebut Aqila menarik tangan Lin Shan dan Shen xiaojian untuk pergi dari sanah.
"siapa anda berani keluar masuk istana sesuka hati"
__ADS_1
seorang jendral dan beberapa prajurit yang berjaga langsung menodongkan senjata pada ketiganya.
"anda lupa atau perlu saya ingatkan kembali bahwa kedatangan kami kemari karena undangan dari anda"
Aqila memutar tubuh menatap tajam pria yang sedang duduk di atas kursi kebesaran-nya itu, tidak lupa dia juga mengeluarkan Aura intimidasi lewat sorot matanya.
"itu benar tapi bukan berarti kalian bisa bertindak sesuka hati di istana ku"
pria itu gelisah saat menatap ke arah Aqila, ada sedikit perasaan takut yang terselip di relung hati.
"kami tidak merasa melakukan kesalahan yang besar, jadi anda tidak punya alasan untuk menahan kami di sinih kecuali anda seorang tirani"
Aqila kembali mengatakan sesuatu yang memancing amarah pria paruh baya itu.
"kurang aja tangkap mereka dan jebloskan ke penjara bawah tanah"
dan benar saja pria itu mulai mengeluarkan titah dengan kemarahan yang sudah mengambil alih akal sehatnya.
"jika anda berani menyentuh-nya akan kami ratakan istana ini"
Shen xiaojian dan Lin Shan berteriak marah mereka dengan cepat mengacungkan pedang ke arah jendela dan bawahannya.
"hahaha"
beberapa mentri tertawa terbahak-bahak saat mendengar penuturan barusan.
"bualan mu terlalu besar anak muda hati-hati saat berbicara atau kau akan kehilangan lidah mu saat itu juga"
ingat salah seorang Kasim yang berdiri tidak jauh dari sang raja.
"jangan berpikir kami akan takut, kalian sudah menguji kesabaran kami sejak tadi"
dengan dingin Shen xiaojian membalas kata-kata Kasim tadi membuat pria setengah jadi itu bungkam kembali.
"tunggu apa lagi cepat tangkap mereka"
merasa situasi sudah kacau sang raja kembali mengeluarkan perintah.
"lapor yang mulia keadaan pangeran semakin memburuk para tabib yang sejak tadi mengobati pangeran menyatakan menyerah"
seorang pelayan berlari dengan tergesa-gesa dan langsung menyampaikan kabar yang dia terima dari kamar pangeran terakhir.
"kurang ajar aku membayar mereka dengan mahal bukan untuk mendengar hal itu, penggal kepala mereka semua"
mendengar laporan tersebut membuat raja itu marah bukan main dia menjatuhkan perintah sambil melemparkan beberapa barang yang ada di dekatnya.
hingga bunyi yang di hasilkan terdengar begitu nyaring di ruangan tersebut.
"baik yang mulia"
pelayan itu kembali pergi dengan tergesa-gesa untuk menyampaikan titah raja itu.
diam-diam Aqila tersenyum licik, kali ini dia yakin pria paruh baya itu akan memohon padanya untuk kesembuhan anak kesayangannya.
...maaf yh author beberapa hari ini GK update di karena sibuk nyiapin buat hari eid Mubarak 🙏...
__ADS_1
...minal aidzin wal Faidzin mohon maaf lahir dan batin 🙏😊...
...terimakasih sudah berkunjung ke karya author sehat selalu untuk kalian semua dan see you next time di episode berikutnya. ...