
Tanpa terasa mereka sudah tiba di istana putri sebelum kembali ke istana pangeran minghao lebih dulu mengucapkan salam perpisahan pada Aqila.
"selamat beristirahat nona Aqila"
Minghao mengatakannya dengan senyuman manis sebenarnya pemuda itu masih ingin lebih lama bersama Aqila.
"hm"
minghao hanya bisa tersenyum getir melihat sikap Aqila yang terlampau acuh tapi sikap itulah yang membuatnya semakin menyukai gadis tersebut.
minghao berjalan keluar dari istana putri Liu Wei kembali berulah.
"nona Aqila anda setuju menjadi teman saya bukan"
Liu Wei mengatakannya dengan nada memohon matanya terlihat berkaca-kaca.
"hm"
"baiklah saya anggap anda setuju"
Aqila hanya diam tidak menolak atau mengiyakan membuat Liu Wei berasumsi sendiri bahwa gadis itu menyetujuinya.
setelahnya mereka kembali ke kamar masing masing karena hari sudah semakin malam.
....
ke esok pagi Aqila dan yang lain sudah bersiap untuk melanjutkan kembali perjalanan menuju wilayah selanjutnya.
mereka akan pergi ke kerajaan canghai di wilayah Selatan, karena hanya itu jalan satu-satunya menuju daerah Utara.
"kalian sudah siap"
ucap Aqila setelah Lila dan Lin Shan tiba di hadapannya, mereka sedang berada di luar istana putri.
"sudah nona"
keduanya menjawab secara bersamaan, setelah tadi mereka menyiapkan bekal untuk di perjalanan nanti.
begitu siap aqila dan yang lain kembali mengayun langkah menuju ruangan kerja raja Liu yaoshan.
saat itu suasana masih benar benar pagi matahari belum nampak sempurna di atas sanah.
tok tok tok
Lila mengetuk pintu besar tersebut berharap ada orang di dalamnya karena mereka datang di waktu yang masih pagi sekali.
Aqila juga tidak tau raja Liu yaoshan ada di mana dia tidak mungkin pergi ke kamarnya karena itu tidak sopan.
hening tidak ada tanggapan sama sekali dari dalam sanah.
"nona sepertinya tidak ada orang apa kita datang terlalu pagi"
Lila mulai lelah mengetuk pintu secara berulang tapi hasilnya masih tetap sama, sedangkan Aqila hanya menatap datar keluhan gadis itu.
"apa kalian mencari saya"
dari arah belakang terdengar suara bariton yang penuh wibawa dan ketegasan, ketiganya langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut.
__ADS_1
"benar"
Aqila menjawab setelah ketiganya memberi salam, begitu tau siapa orang tersebut.
"apa anda akan pergi sekarang nona Aqila"
Liu yaoshan bertanya dengan raut kebingungan
"ya, saya tidak punya banyak waktu"
Aqila menjawab datar pertanyaan sang raja tersebut karena memang dia punya banyak waktu.
bunga anggrek hitam seribu kelopak akan mekar dalam tiga Minggu lagi sedangkan dirinya masih jauh dari tempat tersebut.
"apa anda tidak bisa ikut sarapan bersama kami lebih dulu"
ucap Liu yaoshan yang ingin mengajak Aqila sarapan bersama keluarganya
"tidak terimakasih"
Aqila menolak ajakan tersebut dengan halus agar tidak menyinggung perasaan pria paruh baya itu.
"baiklah saya tidak akan memaksa lagi"
Liu yaoshan mengatakannya dengan pasrah karena dia berpikir dia tidak punya hak apa pun untuk memaksa Aqila tetap tinggal di istananya.
"kami pamit"
Aqila hendak melangkah namun Liu yaoshan menghentikannya membuat gadis itu kembali memutar tubuhnya menghadap ke arah pria tersebut.
Liu yaoshan masuk ke ruang kerjanya setelah orang kepercayaannya membuka pintu besar itu, aqila menunggu hampir lima belas menit.
"apa ini"
Aqila bertanya ketika Liu yaoshan menyerahkan kotak berukuran sedang ke hadapannya.
"itu lencana khusus anda bisa menggunakannya jika anda membutuhkan bantuan kami"
jelas Liu yaoshan, lencana itu adalah bukti identitas untuk mengerahkan sebagian pasukan kerajaan xingsheng.
"apa anda serius memberikannya pada saya"
Aqila sedikit terkejut dengan penjelasan yang Liu yaoshan berikan tapi Wajahnya masih tetap datar.
"tentu"
Liu yaoshan mengatakannya dengan penuh keyakinan dia merasa benda ini bisa sedikit membalas hutang budinya pada Aqila
"anda tidak takut saya salah menggunakannya"
jawab Aqila yang tidak habis pikir dengan pemikiran raja tersebut yang bertindak terlalu ceroboh dengan memberikan benda berharga pada orang yang baru di kenalnya hanya karena orang itu menyelamatkan nyawanya.
untung saja itu Aqila bagaimana jika orang lain bisa di pastikan dia akan langsung turun dari atas tahtanya karena kudeta.
"saya yakin anda bukan orang seperti itu"
Liu yaoshan memandang Aqila dengan pandangan yang tidak biasa, orang lain tidak akan tau maksud di dalamnya tapi Aqila tau apa itu.
__ADS_1
"terimakasih, ini untuk pangeran minghao dan putri Liu Wei"
Aqila menyerahkan dua benda berharga miliknya berupa pedang perak tingkat sedang dan satu set perhiasan bertahtakan batu Ruby merah muda ke hadapan pria itu.
"ini barang berharga nona dan anda memberikannya secara cuma-cuma"
liu yaoshan di buat terkejut dengan dua benda tersebut karena sejak awal dia tidak melihat Aqila membawa benda berharga apa pun.
"mereka teman saya tapi jangan coba-coba untuk memanfaatkan saya atau mengkhianati saya akibanya seluruh kerajaan ini yang menanggung"
ucap Aqila dingin di sertai sorot mata tajam gadis itu sedikit memberi ancam pada raja Liu yaoshan
"saya mengerti nona, mari saya antar Hingga ke pintu gerbang"
Liu yaoshan bisa melihat bahwa Aqila tidak sedang main-main dia sedikit merasa cemas takut jika orang kepercayaannya menyinggung gadis itu siapa yang tidak tau rumor tentang Aqila yang berhasil merebut kerajaan Cang'an hanya dalam waktu setengah hari.
"tidak perlu, salam yang mulia raja Liu yaoshan kita akan bertemu lagi nanti"
jawab Aqila datar kemudian melangkah pergi bersama yang lain.
"salam juga untuk mu nona Aqila"
"orang itu suruhan orang terdekat mu"
sebelum benar-benar jauh Aqila mengatakan hal yang sudah dia selidiki sebelumnya, membuat Liu yaoshan kembali di buat terkejut sekaligus kebingungan hingga dia terdiam untuk waktu yang cukup lama.
"apa maksud anda nona"
ucap Liu yaoshan setelah sadar dari lamunannya tapi sayang Aqila sudah sangat jauh.
"sepertinya orang yang menyerang anda kemarin adalah orang suruhan dari orang terdekat Anda yang mulia"
kasim kepercayaan pria itu mengatakan apa maksud yang di katakan Aqila barusan.
"jadi itu maksud nona Aqila mengatakan hal barusan tapi darimana dia tau"
Liu yaoshan merasa heran bagaimana cara aqila tau siapa pelakunya dan kenapa gadis itu tidak mengatakannya saja secar langsung.
"saya juga tidak tau yang mulia nona Aqila begitu misterius padahal orang orang kita sudah memaksa pria itu untuk mengatakan siapa yang menyuruhnya tapi dia hanya memilih diam bahkan dia tidak takut mati saat kita mengancam akan merenggut nyawanya"
papar Kasim tersebut secara gamblang Untungnya tidak ada banyak orang di sanah, hanya ada dia dan lima orang kepercayaannya.
"beritahu semuanya untuk tidak menyinggung nona Aqila saya tidak ingin kerajaan ini hancur seperti apa yang dia katakan"
Liu yaoshan memberikan perintah saat itu juga pria itu tidak ingin bernasib sama seperti raja Jiang nan.
"baik yang mulia raja"
"dan selidiki semuanya sampai tuntas saya ingin tau siapa orang yang berani berkhianat pada saya"
"baik yang mulia"
setelahnya raja Liu yaoshan kembali masuk ke dalam ruang kerjanya di ikuti oleh Kasim kepercayaannya.
hy ketemu lagi sama author maaf yh kalo masih ada kata yang salah mohon di maklumi
terimakasih sudah berkunjung dan selamat membaca 🙏🥰🥰
__ADS_1