SANG DEWI PENAKLUK

SANG DEWI PENAKLUK
Berpamitan


__ADS_3

Setelah satu jam beristirahat Aqila memutuskan untuk pergi dari kerajaan Xingsheng, sebelum pergi dia akan menemui raja Liu yaoshan terlebih dahulu untuk berpamitan.


"salam raja"


Aqila menundukkan kepala sebentar setelah tiba di hadapan pria paruh baya itu.


"salam untuk mu nona Aqila, apa anda sudah merasa lebih baik"


Liu yaoshan yang awal-nya sibuk membaca beberapa dokumen penting sejenak menghentikan pergerakan tangan-nya.


Pria itu langsung mempersilahkan Aqila untuk duduk di tempat yang sudah di sediakan.


"hm"


Setelah menjawab Aqila mendudukkan tubuh-nya di sanah.


"apa anda membutuhkan sesuatu"


Liu yaoshan menatap Aqila penuh tanya pria itu merasa Aqila akan membicarakan hal penting dengan-nya.


"tidak, aku akan pergi"


dan benar saja perkataan Aqila kali ni membuat pria itu sedikit terkejut pasal-nya gadis itu baru beberapa jam menetap di sanah.


"kenapa terburu-buru nona saya baru saja berniat mengadakan jamuan sebagai ucapan terimakasih atas bantuan yang anda berikan hari ini"


jelas Liu yaoshan dia sudah menyuruh para pelayan untuk mengatur semua persiapan setelah mendapat kabar bahwa pangeran minghao telah sadarkan diri.


"tidak perlu"


Aqila menolak ajakan tersebut karena menurut-nya itu hanya membuang-buang waktu.


"tapi nona Aqila saya sudah terlalu banyak berhutang Budi tolong mintalah sesuatu sebagai ganti-nya"


ada sedikit rasa kecewa karena ajakan-nya di tolak tetapi Pria itu juga tidak bisa memaksakan kehendak-nya, Jika hal itu terjadi maka bencana yang akan dia dapatkan.


"saya tidak menginginkan apapun"


Aqila berucap seperti itu karena memang dia tidak menginginkan apapun dia sudah punya segalanya apalagi yang harus dia minta.


"kalau begitu sebagian rasa terimakasih saya, saya memberikan tiga wilayah untuk anda bisakah anda menerimanya nona"


Liu yaoshan kali mengajukan sebuah saran dia berharap gadis yang ada di hadapannya mau menerima tawaran tersebut meski kecil kemungkinan.

__ADS_1


Pria itu jelas tau bahwa Aqila memiliki segalanya, uang, kedudukan, keternaran semuanya sudah dia dapatkan.


Tetapi meski begitu dia masih berharap Aqila mau menerima pemberian-nya sebagai bentuk balas budi.


"baiklah"


Tidak ingin memperpanjang obrolan gadis itu akhirnya memilih menerima pemberian tersebut.


"selamat tinggal sampaikan salam saya pada pangeran minghao jika dia sudah sadar"


"tentu nona"


setelah selesai berpamitan Aqila melangkah pergi dari sanah.


Saat baru beberapa langkah meninggalkan ruang kerja Liu yaoshan seseorang memanggil nama gadis itu.


"Aqila tunggu"


Gadis itu berbalik untuk melihat siapa yang memanggil dirinya.


Dengan sedikit berlari sosok Tersebut menghampiri Aqila.


"kau akan pergi sekarang"


"hm"


melihat raut kesal itu Aqila tidak berniat untuk menghiburnya sama sekali.


"kita baru saja bertemu, bisakah kau tinggal lebih lama"


Orang yang berbicara dengan Aqila saat ini adalah putri Liu Wei adik kandung dari pangeran minghao putri kedua raja Liu yaoshan dan permaisuri xiuying.


"aku tidak bisa"


meski sudah lama tidak bertemu Aqila masih saja bersikap dingin dan datar terhadap gadis yang menjadi teman-nya itu.


"hah kau masih saja seperti dulu"


Helaan nafas kasar keluar begitu saja dari mulut putri Liu Wei, dia kesal dengan sikap dingin Aqila tetapi tidak bisa marah atau membenci gadis itu.


Dia adalah satu-satunya teman yang Liu Wei milik bagaimana mungkin dia membencinya tanpa alasan yang jelas.


Liu Wei adalah tipe gadis yang selalu menutup diri dia tidak suka berkumpul dengan para nona bangsawan di Kerajaan-nya karena setiap kali mereka berkumpul ada saja kejelekan seseorang yang mereka bicarakan.

__ADS_1


seolah menggosip menjadi kesenangan tersendiri bagi mereka, itu sebab nya dia tidak memiliki banyak teman


Liu Wei juga sangat pemilih dalam menjalin pertemanan dia haya akan berteman dengan mereka yang mampu membuat-nya merasa nyaman.


Jika tidak maka ajakan pertemanan itu akan di tolak mentah-mentah.


"boleh aku memeluk mu"


tanpa menunggu jawaban selanjut-nya Liu Wei langsung memeluk Aqila dengan erat, sedangkan gadis itu hanya berdiri kaku tanpa berniat melakukan apapun.


Setelah beberapa saat dan tidak ada balasan putri Liu Wei melepas pelukan tersebut.


gadis itu sedikit mendesah kasar dengan sikap dingin yang selalu Aqila tampilkan di depan dirinya Padahal mereka sudah bertemu untuk waktu yang lama.


"sudah selesai"


tanya aqila, dia menunggu apalagi yang di inginkan oleh teman-nya itu.


"ya"


Liu Wei sadar bahwa dia tidak bisa bersikap egois ia memilih mengikhlaskan kepergian Aqila, karena dia tau Aqila memiliki kesibukan melebihi dirinya.


"selamat tinggal"


Karena tidak ada lagi yang di inginkan oleh Liu Wei Aqila langsung berpamitan.


"aku akan mengantar mu"


"hm"


Mereka berdua berjalan beriringan menuju pintu gerbang istana di sisi lain seseorang mengepalkan tangan melihat kedekatan Kedua-nya.


"putri sepertinya hubungan mereka sangat baik, terbukti nona Aqila membiarkan putri Liu Wei memeluk-nya begitu saja tan..."


"diam, apa aku menyuruh mu untuk berbicara"


"maaf atas kelancangan saya putri"


"sepertinya kau sudah semakin berani, aku rasa seratus cambukan cukup untuk membuat mu diam"


"tidak putri saya mohon ampuni kesalahan saya tidak akan melakukan-nya lagi"


Pelayan wanita tersebut terus bersujud dibawah kaki gadis cantik itu sambil membenturkan kening ke lantai dengan air mata berjatuhan berharap nyawa-nya akan di ampuni.

__ADS_1


siapa yang tidak takut seratus cambukan mampu mematahkan seluruh tulang-nya apalagi dia hanyalah gadis lemah, Yang mengandalkan kerja keras dan ketekunan agar bisa bertahan hidup.


__ADS_2