SANG DEWI PENAKLUK

SANG DEWI PENAKLUK
Keracunan


__ADS_3

saat semua orang sibuk membahas bunga embun tiba tiba aqila mengejang mulutnya mengeluarkan banyak darah berwarna hitam pekat.


mereka kembali di buat khawatir tabib istana langsung mengecek kondisi gadis itu lagi.


"tuan sebaiknya kita harus cepat membawa penawarnya, racun sudah mulai menyebar keseluruhan tubuh nona Aqila"


ucap tabib itu yang ikut khawatir setelah mengecek ulah racun yang ada di tubuh Aqila.


"sampai kapan dia biasa bertahan tebing hutan barat tidaklah mudah untuk di tempuh dengan waktu singkat"


tuan Han merasa frustasi dia tidak ingin kehilangan putri tersayangnya.


"satu hari satu malam"


tabib hanya bisa memperkirakan kemungkinan itu saat ini.


"itu artinya saya harus pergi sekarang juga"


Lin Shan kembali mengkonfirmasi sebelum dia pergi ke hutan barat


"benar"


tabib membenarkan pertanyaan Lin Shan melihat kondisi Aqila semakin memburuk


"pergilah saya percayakan tugas ini pada mu Lin Shan"


tuan Han kali ini hanya bisa menggantungkan harapannya pada pemuda itu karena dialah yang selama ini dekat dengan putrinya.


"baik saya akan berusaha sebaik mungkin untuk mendapatkan bunga embun, saya juga tidak ingin kehilangan nona Aqila dia begitu berarti dalam hidup saya"


setelah mengatakan hal itu Lin Shan langsung bergegas pergi dari sanah.


di sisi lain di kediaman teratai selir Han mondar mandir di dalam kamarnya merasa gelisah dengan kabar yang dia dapat dari pelayan pribadinya.


"kenapa bisa jadi begini"


selir huranran tidak menyangka bahwa rencananya akan sedikit berbeda meskipun itu juga bisa di bilang berhasil.


"ibu apa ibu mengganti rencana"


ucap Lin Lin bertanya ketika dia sudah masuk ke dalam kamar tersebut


"tidak Lin Lin ibu hanya menyuruh pembunuhan bayaran untuk menghabisi gadis itu bukan malah meracuninya"


jawab selir huranran dengan jujur dia juga tidak menyangka bahwa semuanya akan jadi seperti itu meskipun dalam hati sedikit senang.


"jika ibu tidak, lalu siapa yang melakukannya"


ucap Lin Lin kebingungan dia sedikit merasa takut dengan kemungkinan yang akan terjadi jika sampai mereka ketahuan.


"apa ada orang lain selain kita yang membencinya"


tanya weilin yang tiba tiba masuk dan itu berhasil mengejutkan keduanya.


"itu bisa saja terjadi dengan sikapnya yang seperti itu mungkin dia sudah menyinggung orang yang salah"


Lin Lin terus berargumen sendiri dengan segala hal Yang melintas di kepalanya.

__ADS_1


"kau benar, tapi bagus juga aku dengar anak sialan itu sedang kritis, bunga embun bukanlah barang yang mudah di dapat"


senyum licik penuh kepuasan yang selir huranran tampilkan saat ini.


"bagaimana jika Lin Shan mendapatkannya"


"kita bisa menyuruh pembunuhan bayaran lagi untuk menghadang jalannya"


selir huranran kembali mengatur rencana agar Aqila tidak bisa mendapatkan penawar racun tersebut.


"rencana bagus"


"ayo kita kunjungi gadis sialan itu agar ayah mu tidak curiga"


setelahnya mereka bertiga melangkah pergi menuju paviliun lavender.


sesampainya di sana mereka bertiga memasang ekspresi sedih.


"bagaimana kondisi putri ku aqila, kasihan sekali padahal dia anak yang baik kenapa ada orang yang tega melakukan hal ini padanya "


ucap selir huranran pelan seolah ingin menangis melihat keadaan Aqila


"bagaimana kondisi adik ayah"


Lin Lin tidak mau kalah dari ibunya dia bertanya sambil menyentuh tubuh Aqila yang terasa sangat panas.


"dia kritis, Lin Shan sedang mencari penawarnya semoga saja pemuda itu bisa membawa bunga embun tepat waktu"


tuan Han mengatakannya dengan ekspresi murung dia terlihat sangat kelelahan karena sejak tadi terus menjaga Aqila di tambah lagi ia tidak tidur semalam.


....


setelah menempuh perjalanan hampir setengah hari pemuda itu sampai di perbatasan hutan.


dia langsung masuk tanpa pikir panjang lagi apa yang akan terjadi nantinya yang ada dalam otaknya ia harus cepat mengambil bunga embun tersebut.


awalnya Lin Shan tak mengalami masalah apa pun tapi tiba di tengah hutan dia di hadang oleh sekelompok kawanan serigala yang sedang kelaparan.


karena tidak ada pilihan lain lagi terpaksa ia harus melawan mereka semua.


auuu


serigala terus menggonggong menatap lapar ke arah Lin Shan dengan gerakan cepat sekawanan itu menyerang secara bersamaan.


pemuda itu sedikit kewalahan karena jumlah mereka yang tidak sedikit apalagi energinya sudah terkuras banyak di perjalanan menuju kemari.


"sialan"


Lin Shan mengumpat ketika tangan kanannya terkena cakar salah satu serigala yang menyerangnya.


luka itu cukup dalam dan mengeluarkan banyak darah sehingga Lin Shan kesulitan memegang pedangnya.


namun niat yang besar mengalahkan itu semua dia berhasil melenyapkan sebagian dari mereka.


Lin Shan menatap serigala yang tersisa dengan sangat tajam karena merekalah dia hampir telat mencapai tujuan.


serigala yang di tatap seperti itu melarikan diri karena hawa mengerikan yang Lin Shan keluarkan.

__ADS_1


setelah semua serigala pergi Lin Shan membuang nafas kasar kemudian melanjutkan kembali perjalanan.


dengan usaha yang gigih akhirnya pemuda itu sampai di tempat di mana bunga embun berada.


sebuah tebing yang menjulang tinggi dengan beberapa tanaman yang tumbuh di sekitarnya


Lin Shan langsung mengitari tempat tersebut untuk mencari bunga itu karena fajar akan segera tiba.


setelah berjalan cukup lama dia menemukan setangkai bunga yang berbeda dari lainya, bunga itu berwarna putih kebiruan dengan lima kelopak bunga yang belum mekar serta beberapa embun yang menempel di setiap kelopaknya itulah sebabnya bunga tersebut di sebut bunga embun.


bunga itu tumbuh di atas tebing satu kesalahan saja bisa merenggut nyawanya.


dia harus menunggu sebentar lagi karena fajar belum menyingsing ia tidak boleh gegabah dalam hal ini.


tepat ketika fajar tiba perlahan Lin Shan meraih bunga tersebut yang sudah mekar dan langsung menyimpannya di wadah berukuran sedang yang terbuat dari kayu.


setelahnya dia memasukkan kotak itu kedalam saku bajunya kemudian pergi dari sanah.


....


di kediaman lavender tuan Han dan lila mengharap cemas kedatangan Lin Shan karena matahari sudah terbit kondisi Aqila semakin memburuk setiap waktu.


sedangkan orang yang di tunggu-tunggu masih dalam perjalanan dia memacu kuda dengan sangat cepat.


di tengah perjalanan beberapa orang berpakaian hitam dengan wajah di tutupi topeng menghadang jalannya.


Lin Shan sangat marah sampai dia tidak memberikan mereka celah untuk memulai penyerangan karena waktu semakin mepet.


pemuda itu langsung menghabisi mereka dengan satu kali ayunan pedang dan semuanya tumbang tidak lagi bernyawa.


begitu selesai dia melanjutkan kembali perjalanan karena waktunya semakin menipis.


setelah menempuh perjalanan selama dua jam Lin Shan akhirnya tiba di depan pintu gerbang kediaman menteri Han.


pemuda itu langsung turun dari kudanya dan berlari menunju kediaman lavender.


sedangkan di kediaman lavender semua orang menatap cemas kondisi Aqila yang tadi sempat memuntahkan darah kembali.


bruk


Lin Shan mendorong pintu dengan sangat keras sehingga mereka yang ada di dalam merasa terkejut.


"ini tabib, apa saya terlambat"


begitu tiba dia langsung menyerahkan bunga embun yang berhasil ia bawa pada sang tabib.


"tidak, masih ada beberapa menit lagi"


jawab tabib istana, setelahnya dia mengolah bunga embun tersebut dengan beberapa rempah lainnya untuk di jadikan penawar racun bunga salju.


Ketemu lagi sama author hehehe, kalian bosen gak??? semoga aja enggak yah😅😅


maaf klo masih ada kata yang salah author masih belajar untuk memperbaikinya


terimakasih buat yang udah pantengin karya author sehat selalu kalian semua


terimakasih atas waktunya dan selamat membaca 🙏😊😊

__ADS_1


__ADS_2