SANG DEWI PENAKLUK

SANG DEWI PENAKLUK
Siluman Rubah


__ADS_3

Jadi mereka sudah mempersiapkan diri jika terjadi masalah nantinya.


"nona Aqila maaf atas ketidak nyamanan yang anda rasakan di tempat kami tapi jika boleh saya katakan masalah ini tidak akan selesai sampai di sinih anda harus berhati-hati"


tuan besar Lin menatap cemas ke arah gadis itu dia adalah salah satu orang yang tau betul seperti apa karakter Jun Hui.


"saya tau terimakasih sudah mengkhawatirkan saya"


jawab Aqila datar tapi masih terkesan sopan, keluarga Lin kini sudah terbiasa dengan kepribadian aneh gadis itu.


"anda tidak perlu sungkan nona anda sudah seperti putri kami sendiri dan terimakasih sudah bersedia menjadi ibu bagi Lin Bao"


nyonya besar Wang ikut menimpali pembicaraan tersebut.


"sebaiknya kami pergi dari sinih secepatnya"


Aqila berpikir akan lebih baik masalah ini tidak melibatkan keluarga Lin jadi dia memutuskan untuk segera pergi dari sanah.


"apa anda tidak ingin berpamitan terlebih dulu pada Lin Bao"


tanya tuan besar Lin yang sudah mengerti masalah yang sedang di pikirkan gadis itu.


"sepertinya tidak, saya akan mengunjunginya lagi nanti setelah semua urusan saya selesai"


ucap Aqila setelahnya gadis itu melangkah pergi menuju pintu gerbang kediaman Lin, Lin bao dan Lin zhang yang masih bersembunyi berubah murung melihat kepergian sosok itu.


karena dalam waktu singkat ini Aqila sudah memiliki tempat tersendiri di hati keduanya.


"ayah ibu pergi"


lin Bao mendongakkan kepala menatap wajah datar sang ayah dengan mata yang penuh cairan bening yang siap tumpah kapan saja.


"jangan menangis Lin kau sudah berjanji bukan, kau dengar yang di katakan nona Aqila barusan dia akan menemui mu lagi nanti setelah urusannya selesai"


Lin zhang juga merasakan sakit sama seperti yang putranya rasakan, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang.


"ibu cepat kembali"


cicit bocah menggemaskan itu sambil berusaha menyeka air matanya dengan kedua tangan mungilnya.


kedua orang itu mulai hanyut dalam kesedihan mereka masing-masing.


"baiklah, kami tidak akan lagi memaksa anda untuk tetap tinggal di sinih, jaga diri anda dan hati-hati"


ucap tuan besar Lin yang kini berdiri di depan pintu gerbang kediaman, untuk mengantar kepergian Aqila, Lila dan Lin Shan.


"terimakasih selamat tinggal semua"


lila mulai bersuara sambil melambaikan tangan ke arah tuan besar Lin, nyonya besar Wang dan juga para pelayan yang ikut mengantar kepergian mereka.


Aqila dan Lin Shan juga ikut melambaikan tangan sebagai bentuk perpisahan

__ADS_1


"sampai jumpa"


jawab tuan besar Lin dan yang lain membalas lambaian tersebut.


setelah selesai mengatakan apa yang perlu di sampaikan kini Aqila, Lila dan Lin Shan mulai memacu kuda mereka masing-masing menuju lokasi bunga anggrek hitam.


....


di istana, rombongan Kasim Bei sudah tiba di aula dan sepertinya sudah siap mengatakan semua yang terjadi di kediaman Lin.


"salam yang mulia raja semoga anda panjang umur dan di berkahi banyak keturunan"


Kasim Bei dan beberapa pelayan membungkuk hormat di hadapan pria paruh baya yang sedang duduk di kursi kebesarannya.


"salam di terima, jelaskan apa maksud semua ini"


raja Jun Gong fai menatap tajam ke arah sekelompok orang tersebut ketika melihat mas kawin pemberiannya di bawah pulang kembali.


"yang mulia maaf atas ke tidak mampu-an hamba nona Aqila menolak lamaran dari pangeran Jun hui, dia juga mengatakan bahwa dirinya tidak tertarik dengan mas kawin yang di tawarkan karena itu belum sebanding dengan harta yang dimilikinya"


Kasim Bei benar-benar menjelaskan kembali pembicaraannya dengan Aqila saat berada di kediaman Lin.


"kurang ajar beraninya gadis itu berbicara demikian di wilayah ku"


Jun gong fai berteriak sambil melempar barang yang berada di sampingnya ekspresi wajah pria paruh baya tersebut sudah nampak memerah karena menahan amarah yang siap meledak kapan saja.


"apa mantan jenderal agung diam saja"


Jun gong fai bertanya dengan nada menekan mata tajamnya masih menatap lurus sekumpulan orang yang kini sudah bersujud di hadapannya.


Kasim Bei berbicara dengan terbata-bata karena dia takut menjadi sasaran kemarahan pria tersebut.


siapa yang tidak tau kekejaman raja Jun Gong fai dan pangeran Jun hui mereka berdua adalah jelmaan manusia berhati iblis.


siapa pun yang berani bermain-main dengan keduanya tidak akan berakhir baik, itulah sebabnya wilayah Utara begitu tertutup dan tidak mudah untuk di masuki oleh sembarang orang.


"bawa orang-orang terkuat kita untuk menangkap gadis itu, berani sekali dia menolak anak kesayangan ku"


ucap Jun gong fai sambil menatap ke arah orang kepercayaannya, orang itu memiliki postur tubuh yang tegap wajahnya di tutupi topeng perak dia juga memiliki bola mata berwarna merah auranya yang terkesan misterius dan mematikan, tapi itu masih tidak sebanding dengan wujud asli Aqila.


kembali ke rombongan aqila, mereka bertiga hampir sampai di hutan Selatan tapi sebelum itu benar-benar terjadi sekelompok orang menghadang jalan ketiganya.


"berhenti"


ucap salah satu dari mereka, terpaksa Aqila dan yang lain menghentikan laju kuda secara mendadak.


"pergilah dan katakan pada tuan kalian aku akan datang menemuinya setelah urusan ku selesai"


ucap Aqila dingin di sertai tatapan mata tajam ekspresinya masih sama seperti biasa yaitu datar, sekelompok orang tersebut terkejut mendengar perkataan barusan.


"bagus jika anda sudah tau sebaiknya kalian menyerah saja dan ikut kami dengan patuh"

__ADS_1


seorang pria bertopeng perak muncul dari atas langit sepertinya sejak tadi dia bersembunyi di balik pepohonan mengawasi setiap pergerakan Aqila.


"mimpi, kami tidak akan membiarkan anda membawa nona kami pergi begitu saja"


Jawab Lin Shan pemuda itu sudah siap membunuh mereka dengan pedang kesayangannya.


begitu-pun Lila, dia terlihat sangat bersemangat ketika menatap ke arah sekelompok orang itu.


pria bertopeng perak memberi kode menggunakan salah satu tangannya untuk segera menyerang ke arah mereka bertiga.


Lin Shan dan Lila meloncat dari atas kuda untuk membalas serangan tersebut dan akhirnya pertarungan tak terelakkan.


suara dentingan adu pedang menggema di luar hutan itu, Aqila dan pria bertopeng saling berhadapan namun tiada melakukan pergerakan apapun.


mereka Hanya saling menatap tajam dua pasang mata berwarna warna salin menarik perhatian satu sama lain.


"kembalilah ke asal mu jangan buat kekacauan lagi"


ucap Aqila secara tiba-tiba pria bertopeng terkejut untuk beberapa waktu sebelum menjawab perkataan itu.


"siapa kau"


tanyanya dengan penasaran ekspresi wajah pria tersebut mulai berubah gelisah tidak seperti sebelumnya.


"kau tidak perlu tau siapa aku, selagi aku masih memintanya secara baik-baik"


jawab Aqila datar, dia masih terlihat tenang di posisi awal seolah tidak terganggu oleh kebisingan yang sedang terjadi di sekitarnya.


"gadis tengik kau mengancam ku"


pria bertopeng perak dengan mata merahnya menggeram marah bahkan tanpa sadar kuku lengannya memanjang membentuk cakar.


"menurut mu, siluman rubah"


ucap Aqila menekan kata siluman di akhir kalimat yang semakin menyulut emosi pria tersebut.


"kau"


siluman itu masih berusaha menahan diri agar tidak menunjukkan wujud aslinya di hadapan semua orang.


"kenapa kau terkejut"


"diam atau kau akan mati sekarang juga"


"oh, coba saja jika kau mampu"


Aqila memang sengaja menyulut kemarahan siluman itu dia ingin tau seperti apa wujud aslinya.


gadis itu juga penasaran bagaimana bisa dia ada di dunia bawah dan bagaimana raja Jun Gong fai berhubungan dengannya.


hey ketemu lagi sama author maaf yh kemaren author GK up karena author ketiduran capek abis kerja jadi lupa mohon di maklumi.

__ADS_1


terimakasih buat yang sudah pantengin dan stay di karya author semoga Kalian masih suka dengan ceritanya


selamat membaca dan see you next time 👋🙏😊


__ADS_2