
jika sudah seperti itu maka mau tidak mau Lin Shan harus mengikuti perintah tersebut meski dengan hati yang berat.
bruk
suara benturan keras menyita atensi pemuda itu dia sudah takut Aqila akan terluka namun kenyataannya berbanding terbalik.
gadis itu terlihat biasa saja setelah memukul telak binatang tersebut yang terlihat sangat kuat apalagi dia adalah salah satu hewan spirit bist yang tidak mudah untuk di taklukkan.
"nona apa anda baik-baik saja"
tanya Lin Shan penuh perhatian saat dirinya tiba di hadapan gadis itu, sedangkan singa tersebut masih tergeletak tak berdaya di bawah pohon besar tidak jauh dari lokasi Keduanya.
"hm"
Aqila menganggukkan kepala sebagai jawaban setelah itu dia menghampiri singa yang sedang terluka.
singa itu terlihat sangat lemah setelah menerima serangan darinya.
"apa yang kau inginkan"
hewan spirit bist menatap waspada ke arah Aqila takut jika gadis itu akan memberikan serangan kembali.
dia sudah tidak mampu untuk membalas lagi karena rasa sakit yang Aqila berikan tidaklah main-main.
bukan-nya menjawab Aqila malah meletakkan tangan kanannya kemudian menutup mata.
perlahan cahaya terang menyelimuti tubuh hewan tersebut rasa hangat dan nyaman menjalar keseluruhan bagian tubuh, yang tadinya terasa menyakitkan berangsur hilang dalam sekejap.
baik Lin Shan maupun sang singa di buat keheranan atas tindakan Aqila saat ini.
setelah selesai mengobati Aqila kembali bangkit dari posisi yang semula berjongkok kini berdiri tegak.
"apa kau sudah merasa lebih baik"
tanya aqila masih dengan ekspresi datar, mendengar hal itu sang singa kembali di buat terkejut oleh ulahnya.
"terimakasih"
mau tidak mau singa itu harus mengatakan hal tersebut pada orang yang telah menolongnya meski karena gadis itu jugalah alasan dirinya terluka
"siapa yang menyuruh mu"
Aqila kembali menanyakan alasan kenapa binatang itu menyerangnya meskipun dia sudah tau bahwa ada yang mengendalikan semua kejadian ini.
"tidak tau karena dia menggunakan jubah dan wajahnya tertutup topeng"
singa itu menjawab dengan jujur apa yang dia ketahui sebelumnya.
"baiklah"
setelah mendapat informasi aqila hendak pergi dari sanah namun baru saja melangkah suara binatang itu kembali menghentikan langkahnya.
"siapa kau"
tanya singa itu, dia merasa penasaran dengan sosok gadis yang ada di hadapannya.
"Aqila"
__ADS_1
gadis itu hanya mengatakan nama tanpa memberitahukan siapa identitas aslinya.
"kenapa kau menyembuhkan ku"
tanya singa itu pemasaran dengan apa yang telah di perbuat Aqila padanya.
"haya merasa kasihan"
jawab Aqila santai karena memang itu kenyataannya.
"seharusnya kau membiarkan ku mati saja"
ucap singa itu, dia marah karena merasa di permainkan oleh Aqila.
"kenapa aku harus melakukannya"
tanya aqila, dia terlihat tidak perduli dengan kekesalan binatang tersebut.
"agar aku tidak punya hutang budi pada siapa pun"
jelas singa itu, dia adalah salah satu hewan yang tidak ingin memiliki kontrak dengan manusia tapi siapa yang menduga bahwa hal ini akan terjadi.
"oh"
jawaban Aqila kali ini kembali menyulut kekesalan singa itu.
"jadilah tuan ku"
meski dengan terpaksa singa itu tetep mengatakannya, mengingat bahwa dia pernah berucap hanya akan menjalin kontak dengan orang yang bisa menyelamatkan dirinya dari kematian, terdengar mustahil tapi Aqila mampu melakukannya.
"tidak berminat"
"kau harus bertanggung jawab"
kata-kata itu terdengar seperti Aqila telah melakukan pelecehan sungguh tidak masuk akal hampir saja Aqila tertawa di buatnya.
"jangan memancing amarah ku"
tekan Aqila dengan sorot mata tajam namun dalam hati dia sangat senang karena berhasil menaklukan-nya.
"aku tidak perduli gadis kecil kau harus menjadi tuan ku"
ucap singa itu, nada bicaranya terdengar memaksa.
"bagaimana jika aku tidak mau"
tolak Aqila, saat ini dia sedang dalam mode jahil namun sayangnya di ucapkan dengan wajah tanpa ekspresi.
"maka aku memaksa"
seekor binatang ingin memaksa Aqila itu adalah hal yang tidak mungkin kecuali jika gadis tersebut menginginkan-nya sendiri.
"kalau begitu bersiaplah untuk menemui dewa kematian lagi"
Aqila mencoba untuk menakut-nakutinya bukanya menyerah binatang itu malah semakin kekeh dengan keinginannya.
"aku tidak takut"
__ADS_1
"dasar keras kepala"
"aku tidak perduli apa yang kau katakan gadis kecil"
"berhenti memanggil ku dengan sebutan gadis kecil"
dengan tegas Aqila menolak panggilan itu dia tidak menyukai saat dirinya di anggap sebagai anak kecil.
"maka penuhi dulu keinginan ku"
"baiklah"
"sungguh"
"hm"
Aqila yang sejak awal menginginkan singa itu akhirnya setuju menjalin kontrak dengan bintang tersebut.
dia sengaja melakukan semua ini agar singa putih itu sendiri yang menjadikannya tuan tanpa paksaan dari-nya, siasat yang licik bukan.
apa gadis itu perduli tentu saja tidak, yang dia inginkan haruslah dia dapatkan dengan usahanya sendiri jadi itu masih bisa di anggap wajar.
"aku akan memanggil nama mu dengan sebutan Bai shizi"
"terimakasih tuan"
setelah menyelesaikan kontrak hidup dan mati Aqila memasukkan singa putih itu ke dalam dimensi miliknya, karena dia harus segera melanjutkan perjalanan sebelum malam tiba.
Lin Shan tidak lagi terkejut dengan hilangnya binatang tersebut karena dia sudah sering melihat Aqila melakukan semua itu.
meski pemasaran dengan kemana hilangnya semua bintang pengikut Aqila namun dia enggan untuk bertanya karena itu adalah privasi tuannya.
begitu selesai mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju wilayah kerajaan emerald beranda.
dengan kecepatan penuh akhirnya mereka tiba di perbatasan kerajaan.
kedatangan mereka di sambut tidak baik oleh penjaga gerbang perbatasan karena Aqila dan Lin Shan tampak asing di mata mereka.
"tolong tunjukkan token identitas kalian jika tidak kalian tidak bisa masuk ke dalam kerajaan ini"
sesuai perkiraan bahwa memasuki dunia atas tidaklah mudah Aqila harus mencari cara agar Keduanya bisa masuk ke dalam sanah tanpa harus menimbulkan kekacauan.
"saya adalah utusan dari kerajaan tetangga dan tujuan saya datang kemari ingin bertemu dengan yang mulia raja, seperti ini-kah cara kalian menyambut seorang tamu"
jelas Aqila dengan ekspektasi dingin, setiap kata yang di keluarkan penuh dengan kebohongan, tapi sayangnya mereka malah percaya begitu saja.
"apakah kalian dari kerajaan bulan"
tanya salah satu penjaga gerbang pada Aqila karena sebelumnya dia sempat mendengar pembicaraan jendral dan raja mereka tentang tamu istimewa dari kerajaan bulan.
mendengar itu semua Aqila diam-diam tersenyum puas tidak sia-sia di membuat kebohongan kalo pada akhirnya mereka sendiri yang memuluskan jalannya.
"jika sudah tau kenapa tidak segera di buka-kan"
kali ini lin Shan yang berbicara, pemuda itu mengikuti rencana Aqila membohongi keduanya demi bisa masuk ke dalam tanpa harus menunjukkan token identitas.
...maaf yh gak bisa up banyak karena otak author lagi tidak bersahabat....
__ADS_1
...next di episode berikutnya 👋😊...