SANG DEWI PENAKLUK

SANG DEWI PENAKLUK
Keanehan di wilayah kerajaan Changhai


__ADS_3

Setelah sedikit drama perpisahan kini Aqila tengah memacu kuda hitam miliknya dengan kecepatan tinggi menuju Wilayah kerjaan changhai.


Sesekali dia akan mengistirahatkan diri di berbagai wilayah yang dia singgahi seperti hutan, pedesaan dan pandang rumput.


Butuh waktu seminggu bagi pejalan kaki untuk sampai ke kerajaan tersebut, bila menggunakan kereta dapat di tempuh selama tiga hari dari kerajaan Xingsheng tapi Aqila hanya butuh waktu dua jam untuk tiba di sanah.


saat ini gadis itu tengah menatap papan nama yang di gantung tinggi di depan pintu masuk bertuliskan wilayah perbatasan kerajaan Changhai.


Tidak menunda waktu lagi gadis itu langsung melesat masuk ke dalam sanah.


Di sepanjang tempat yang dia lewati nampak sangat sepi seolah tidak ada kehidupan sama sekali.


Situasi ini membuat Aqila curiga dia merasa ada yang tidak benar mengingat laporan yang dia terima dari beberapa mata-mata bahwa wabah dan para monster menyerang hampir seluruh kerajaan di dunia bawah.


Tapi saat ini yang ada di hadapannya hanyalah lahan kosong tak berujung tidak ada bangunan atau semacam-nya.


padahal dia mengingat betul bahwa tempat yang dia pijak saat ini adalah pintu masuk ibu kota Kerajaan changhai.


Kerajaan Changhai yang sebelumnya adalah wilayah yang sangat subur dengan hasil panen melimpah banyak Padang rumput dan pertanian milik warga yang menghiasi setiap jalan.


Kerajaan Changhai juga memiliki banyak penduduk hingga tempat itu sangat ramai baik pribumi asli atau para pedagang dari luar wilayah untuk melakukan transaksi jual beli barang.


tapi apa yang ada di hadapannya saat ini haya tanah tandus dengan beberapa tumbuhan yang sudah mengering serta angin yang terasa panas tidak seperti pada umum-nya.


desa-desa yang dulu pernah Aqila singgahi kini tidak tampak sama sekali bahkan para penghuni-nya juga.


"kemana pergi-nya semua orang"


Kening gadis itu mengkerut kemudian menatap waspada sekeliling-nya.


Tanpa di duga di setiap sudut dari bawah tanah tiba-tiba muncul tanaman merambat yang menjalar dengan sangat cepat.


Perlahan aura dingin dan panas menguasai wilayah itu.


Aqila yang merasakan ada bahaya mendekati mereka langsung meminta helma untuk lebih waspada.

__ADS_1


Baru saja selesai berbicara tanaman merambat itu menjerat kaki binatang tersebut dengan kuat membuat kuda Hitam itu terjatuh untung saja Aqila sempat menghindar di detik terakhir.


"nona anda baik-baik saja"


Tanya helma, kuda hitam itu tampak mengkhawatirkan keadaan Aqila padahal dirinya sendiri masih terjebak oleh tanaman merambat itu.


"hm"


jawab Aqila sambil mengeluarkan pedang hitam milik-nya.


srakkkk


Gadis itu langsung memotong Tamanan merambat yang mengikat kaki Helma saat ini.


setelah bebas Aqila meminta helma untuk masuk ke dalam dimensi karena dia ingin menghadapi-nya sendiri.


awalnya Helma menolak takut terjadi sesuatu pada gadis itu, tetapi tatap tajam yang Aqila berikan menyiratkan tanda untuk tidak membantah keputusannya.


Dengan terpaksa helma masuk ke dalam dimensi, saat tiba dia mendapat tatapan tajam dari para penghuni lain.


Itu karena mereka kesal dengan helma yang keras kepala meski mereka juga mengkhawatirkan keadaan gadis itu, tapi menentangnya sama saja mencari kematian.


Dengan gerakan lihai Aqila menebas setiap tanaman merambat yang mencoba menjerat tubuh-nya


tapi sayang itu tidak berjalan dengan mudah karena semakin Aqila memberikan perlawanan semakin banyak pula tanaman merambat tersebut muncul dari balik tanah.


"sial"


Aqila mengumpat karena tanaman itu tidak pernah ada habisnya sedangkan dia sudah hampir kelelahan.


Jangan lupakan bahwa Aqila baru saja selesai melakukan pertarungan yang menghabiskan seluruh energi-nya beberapa jam lalu.


Masih dengan tangan Yang terus mengayunkan pedang Aqila tengah berfikir bagaimana cara melenyapkan mereka semua.


jika terus seperti ini maka dia hanya akan mati konyol karena kehabisan tenaga.

__ADS_1


Aqila sempat berfikir untuk menggunakan kekuatan sihirnya tetap saat ini terlalu beresiko dengan tubuh dia yang seperti itu.


Lama berfikir tetapi tidak juga menemukan solusi yang tepat, membuat kemarahan gadis itu semakin meluap.


"ahhh,kalian membuat ku kesal"


teriak Aqila menggebu, ini kali pertama gadis itu mengumpat dengan sangat keras.


karena tidak punya pilihan lain Aqila mengeluarkan sihir api miliknya untuk membakar mereka semua.


duarrrrr


Satu serangan itu berhasil membakar separuh tanaman merambat yang sedang bergerak ke arah-nya.


duarrrr


duarrrrr


duarrrrr


setelah empat kali tembakan akhirnya semua tanaman merambat hancur tak tersisa menjadi abu.


Setelah lima belas menit menunggu tidak ada lagi pergerakan dalam tanah, kini Aqila bisa bernafas dengan lega.


Di dalam dimensi semua penghuni menatap kagum tuan mereka.


"tuan memang sangat hebat"


"ya dia sangat hebat"


"suatu keberuntungan mendapatkan tuan seperti nona Aqila"


"benar"


Kata pujian itu terus terucap dari mulut semua orang.

__ADS_1


mereka bisa mengatakan hal itu karena dulu sebelum Aqila, tuan pertama mereka tidaklah sehebat dan setangguh gadis itu juga tidak sedingin dia.


jadi wajar jika saat ini mereka begitu mengagungkan sosok Aqila.


__ADS_2