
Lila menghampiri Aqila untuk membalut luka gadis itu, ia merobek bagian bawah bajunya kemudian mengikatkannya di tangan Aqila.
"nona.."
belum sempat Lila melanjutkan kata-katanya Aqila sudah lebih dulu memotong perkataan tersebut.
"tidak apa Lila aku baik baik saja"
aqila tampak biasa saja seperti tidak merasakan rasa sakit apa pun.
"cepat panggil tabib istana untuk mengobati luka nona Aqila"
raja Liu yaoshan yang sudah tersadar dari keterkejutannya langsung memberi perintah dengan nada membentak.
"anda tidak terluka bukan"
semua orang kembali di buat tidak percaya oleh pertanyaan yang Aqila berikan pada raja Liu yaoshan.
jelas-jelas dia yang terluka tapi dengan santainya Aqila malah bertanya keadaan pria itu.
"tidak nona Aqila, terimakasih nona Sudah menyelamatkan nyawa saya"
Liu yaoshan merasa berhutang Budi pada Aqila karena gadis itu telah menyelamatkan nyawanya.
"hm"
jawab Aqila tenang di barengi anggukan kecil, Liu yaoshan yang sejak tadi gelisah kembali meluapkan emosinya pada sang tabib karena pria itu datang terlambat.
"kenapa lama sekali"
Liu yaoshan menatap tajam tabib tersebut membuat yang di tatap bergetar ketakutan.
"mohon ampuni keterlambatan saya yang mulia raja saya.."
ucap tabib sambil bersujud dia juga memiliki alasan tersendiri kenapa datang terlambat, belum juga menjelaskan alasannya Liu yaoshan Sudah lebih dulu mencegat perkataan tersebut.
"sudahlah cepat obati Luka nona Aqila"
Liu yaoshan tidak punya banyak waktu untuk memperpanjang masalah ini dia lebih mencemaskan keadaan Aqila yang masih terus mengeluarkan banyak darah dari telapak tangan kirinya.
"yang mulia sepertinya panah ini beracun"
setelah membuka perban tersebut tabib menatap syok luka itu, membuat semua orang penasaran begitu dia mengatakan hal berbau racun semua orang menatap kasihan ke Aqila.
"apa maksud mu tabib"
Liu yaoshan merasa bersalah begitu mendengar perkataan tabib barusan dia juga menatap bingung ke arah tabib itu.
"panah ini sudah di olesi racun ampedu ular putih"
__ADS_1
"apa itu berbahaya tabib"
Lila yang berada di samping gadis itu menatap sendu dia terus merasa khawatir dengan kondisi Aqila selanjutnya.
"tentu saja orang yang terkena racun ini akan merasa tubuhnya membeku kemudian nafasnya seolah tercekik hingga iya kehilangan kesadaran, kita hanya punya waktu satu kali dua puluh empat jam sebelum racun ini menyerang jantung"
papar tabib Secara rinci dan jelas Lila sudah ingin menangis mendengarnya sedangkan Aqila terlihat biasa saja.
"apa ada penawarnya saya akan mencari penawar itu kemanapun"
Minghao mengatakannya dengan penuh keyakinan dia Merasa berhutang Budi karena Aqila telah menyelamatkan nyawa ayahnya.
"tidak ada yang tau tentang penawaran racun ini, bahkan para tabib hebat sekalipun belum berhasil menciptakan penawar tersebut"
tabib mengatakan hal itu dengan sendu membuat semua orang menatap kasihan ke arah Aqila
"apa ada cara lain untuk mengobati nona Aqila"
minghao tidak mau putus asa dia akan melakukan apapun asalkan bisa menyembuhkan Aqila.
"saya dengar air suci bisa menetralkan racun ini"
setelah berpikir cukup keras akhirnya tabib itu menemukan jalan keluarnya tapi dia merasa sedikit ragu, namun tetap ia katakan di hadapan semua orang karena tidak punya pilihan lain lagi.
semua orang kembali di buat khawatir dengan perkataan tabib barusan, begitu pun dengan minghao.
ucap minghao yang tau betul informasi tentang air suci karena dia sering mendengar hal itu dari teman-temannya.
"saya memilikinya"
semua orang menjatuhkan rahang ketika mendengar Aqila mengatakan hal tak terduga itu.
"hah"
mereka mengatakannya secara serempak dengan berbagai ekspresi, sedangkan Aqila terlihat acuh.
"dari mana anda mendapatkan air suci itu nona Aqila"
ucap sang tabib dengan pandangan tak biasa, berbagai banyak pertanyaan terus di lontarkan ke arah gadis itu.
"pasar gelap
Aqila mengatakannya dengan sedikit kebohongan dia tidak mungkin mengungkapkan yang sebenarnya bahwa ia memiliki sumber mata air suci itu sendiri.
"bisa anda tunjukan pada saya"
Aqila merogoh saku bajunya dan mengeluarkan satu botol porselen kecil ke hadapan semua orang.
tabib mengambil botol itu dan langsung memeriksanya, setelah lama mengamati sang tabib terus menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"ini benar benar air suci bahkan kemurniannya mencapai seratus persen"
tabib mengatakannya dengan penuh keyakinan matanya berbinar menatap benda berharga tersebut.
"benarkah yang kau katakan barusan tabib"
tanya salah satu pangeran, banyak tanggapan yang terus mereka ajukan pada sang tabib membuat raja Liu yaoshan geram.
"kenapa kalian meributkan ini semua, nona Aqila cepat minum air suci itu agar racunnya tidak menyebar ke jantung"
meskipun Liu yaoshan juga merasa penasaran tapi dia mengesampingkan rasa itu Karena saat ini keselamatan aqila jauh lebih penting baginya.
bukan tanpa sebab Liu yaoshan bersikap seperti itu dia tidak ingin Aqila terluka di kerajaannya karena bisa saja itu akan menimbulkan perang besar antar kerajaan xingsheng dan Cang'an.
tanpa perintah sekalipun Aqila akan tetap meminum air suci itu, sebenarnya dia sudah kebal akan racun karena dirinya sering menguji coba obat buatannya sendiri termasuk racun mematikan.
dia akan selalu berakhir baik baik saja karena meminum air suci sebagai penetralisir racunnya, itulah sebabnya sejak tadi Aqila terlihat tenang.
uhuk
darah pekat keluar dari mulut Aqila semua orang merasa lega karena gadis itu sudah selamat dari bahaya.
"nona sebaiknya anda beristirahat saja, saya sendiri yang akan mencari pelakunya dan menghukum orang itu dengan berat"
"tidak perlu"
suara bariton terdengar dingin dari arah pintu masuk, tampak seorang pemuda tampan berjalan mendekat ke arah mereka sambi menyerat sesosok manusia berpakaian hitam dengan tubuh yang terdapat banyak luka sayatan.
di wajah pria tampan itu juga terdapat banyak cipratan darah segar yang bisa di tebak dari aman asal darah itu.
setelah sampai di hadapan semua orang Lin Shan langsung melemparkan sosok pria berpakaian hitam itu kehadapan Aqila dan yang lain.
mereka menatap ngeri seonggok tubuh yang penuh luka itu, pasalnya orang tersebut sudah hampir kehabisan darah wajahnya saja sudah memucat.
Aqila biasa melihat masih ada kemarahan dalam tubuh Lin Shan langsung berjalan mendekat ke arah pemuda tersebut.
dia mengambil sapu tangan kesayangan untuk menyeka darah yang ada di wajah Lin Shan Aqila melakukannya tanpa bicara sepatah katapun.
Lin Shan begitu terkejut dengan tindakan Aqila saat ini tapi tidak bisa di pungkiri hatinya sedang berbunga bunga dengan perhatian kecil yang aqila berikan.
semua orang hampir kehilangan akal melihat perubahan wajah Lin Shan ya awalnya sedingin es kini secerah mentari pagi.
Lila yang juga menyaksikan adegan tersebut hatinya sedikit merasa bedenyut entah kenapa dia tidak rela melihat kedekatan keduanya saat ini, pikir gadis itu.
hey ketemu lagi sama author maaf yh karena ada sedikit kesalahan kemarin author gak bisa up jadi mohon di maklum๐๐๐๐
semoga kalian sehat selalu dan jangan pernah bosan mampir ke karya author yah hehehe๐
terimakasih atas waktunya dan selamat membaca ๐๐ฅฐ๐ฅฐ
__ADS_1