
lima belas menit berlalu perlahan dua orang tersebut mulai tersebar kembali.
"lepaskan kami"
mereka berdua terus meronta berharap bisa lepas dari ikatan tersebut.
"kau pikir kami bodoh setelah apa yang kau coba Lakukan pada nona ku barusan"
Lin Shan menatap mereka dengan penuh amarah dia ingin sekali menghabisi mereka berdua saat itu juga jika saja aqila mengijinkannya.
"kami hanya di suruh untuk membunuh gadis itu"
jawab salah satu di antara mereka sambil menatap ke arah Lin Shan dan Aqila
"siapa yang menyuruh kalian"
Aqila sebenarnya sudah menebak siap pelakunya tapi dia butuh konfirmasi dari mereka untuk membenarkan dugaannya.
"meski kami mati sekalipun kami tidak akan mengatakan siapa yang membayar kami untuk membunuh mu"
jawab lainnya dengan ketus sambil terus mencoba melepaskan diri.
"oh benarkan"
Aqila melangkah mendekati mereka berdua, dia berdiri tenang dan terus menatap tajam ke arah lawannya.
"cuih lepaskan kami"
pria tersebut meludah tepat di bawah kaki Aqila, dan itu berhasil memancing emosi gadis itu.
"aku punya seribu cara untuk membuat Kalian mengatakan yang sebenarnya"
Aqila menatap mereka dengan tajam perlahan aura mencekam terasa di ruangan itu membuat kedua pria tersebut bergidik ketakutan.
"coba saja jika anda berani"
salah satu di antara mereka mencoba untuk bersikap berani dan menantang Aqila.
"kalian menantang ku"
Aqila menatap keduanya dengan dalam bibirnya tersenyum licik untuk seperkian detik, lalu setelahnya dia melemparkan tiga jarum perak pada pria yang menantangnya barusan.
ahhh
pria itu mengejang kesakitan tubuhnya terasa di tusuk oleh ribuan belati rasa panas juga menjalar ke seluruh organ tubuh.
perlahan tapi pasti kulitnya mengeluarkan bintik bintik merah yang berisi nanah dan darah, baunya sangat menyengat.
"apa yang kau lakukan pada teman ku gadis iblis"
pria di sebelahnya membelakan mata begitu melihat pemandangan mengerikan tersebut.
"memberinya pelajaran bukan kah tadi dia menantang ku"
Aqila menjawab santai seolah dia tidak melakukan hal besar
"kau adalah gadis kejam yang pernah aku temui"
umpat pria itu dengan tubuh bergetar dia ketakutan saat melihat kekejaman Aqila.
__ADS_1
"aku tidak perduli"
ucap Aqila acuh tak acuh dia memang seperti itu tidak akan memberikan ampun pada mereka yang berani mengusik ketenangan hidupnya.
"sialan kau aku akan membunuhmu dan mencincangnya menjadi beberapa bagian"
amarah bercampur benci yang terus di layangkan pada Aqila tidak mempengaruhi hati gadis itu sedikit pun.
"jika kau mampu melepaskan diri dari sinih"
Aqila berucap dengan begitu dingin tersirat rasa ingin membunuh di dalamnya tapi dia tidak akan melakukan hal itu karena Aqila masih membutuhkan pria tersebut untuk di jadikan saksi kejahatan Selir huranran nantinya.
pria itu diam seribu bahasa setelah aqila mengatakan hal barusan.
"aku akan membiarkan mu hidup jika kau bersedia menjadi saksi kejahatan orang itu di hadapan ayah ku"
setelah di pikir pria itu cukup berguna juga jadi Aqila akan memanfaatkannya.
"bagaimana jika aku tidak mau"
"kau akan merasakan hal yang sama seperti yang teman mu rasakan mungkin bisa lebih dari itu"
ucap Aqila serius dia tidak main main dengan ucapannya.
"dasar iblis"
"anggap saja seperti itu"
"baiklah aku setuju untuk membantu mu tapi apa jaminan yang kau berikan pada ku"
pria itu memilih setuju dari pada berakhir buruk seperti temanya.
"kau ingin tawar menawar dengan ku"
"kau adalah gadis iblis bagaimana aku bisa percaya dengan kata kata mu barusan"
"baiklah aku akan menjamin keselamatan mu tapi tidak dengan dia"
"apa yang akan terjadi padanya"
"mati secara perlahan dengan tubuh membiru dan mengeluarkan banyak nanah yang sangat bau"
"dia lebih mirip seperti iblis ketimbang manusia"
pemuda itu bergidik ketakutan dia mengumpat dalam hati tentang perilaku Aqila
"kau sedang mengumpati ku"
"tidak"
elak pembunuh tersebut dia begitu terkejut ketika aqila mengatakan hal itu dan terus berpikir apakah dia bisa mendengar kata hatinya.
"kau pikir aku tidak tau"
sebenarnya Aqila tidak bisa mendengar kata hati manusia dia hanya memiliki insting yang kuat sehingga tebakannya selalu saja benar.
"apa dia juga bisa mendengar kata hati, sudahlah lebih baik aku tidak mencari masalah dengannya dia sangat mengerikan untuk di singgung"
pembunuh itu berbicara dalam hati sambil terus meyakinkan diri untuk tidak menyinggung Aqila.
__ADS_1
perlahan tubuh pembunuh yang terkena racun Aqila benar benar mati dengan kondisi seperti yang gadis itu katakan.
Lin Shan yang melihat juga bergidik ngeri semakin hari Aqila semakin mengerikan menurut pemuda tersebutm
setelah negosiasi selesai Aqila menyuruh mereka berdua pergi dari sanah sebelum benar benar keluar gadis itu meminta Lin Shan untuk membakar mayatnya.
begitu mereka sudah pergi Aqila kembali melangkah ke atas ranjang sebelum memejamkan mata dia menelan satu pil buatannya.
....
pagi harinya kediaman Han di gemparkan oleh kondisi Aqila yang tiba tiba jatuh sakit.
gadis itu terlihat sangat pucat matanya sayu tubuhnya lemas tidak bertenaga, Lila begitu syok melihat ke adaan Aqila.
Lila terus menangis di sisi Aqila yang tergeletak tidak berdaya di atas ranjang.
tiba tiba pintu kamar di buka dengan paksa pria paruh baya melangkah masuk dengan tergesa gesa.
"apa yang terjadi pada putri ku Aqila, cepat katakan kenapa dia bisa jadi seperti ini kemarin dia baik baik saja"
tuan Han berteriak marah kepada seluruh pelayan yang ada di sanah dia begitu terkejut mendengar Aqila jatuh sakit.
"cepat panggil dokter terbaik yang ada di kerajaan ini untuk menyembuhkan putri ku"
"baik tuan"
Lin Shan melangkah pergi dari sanah menuju tempat tabib istana.
setelah menunggu hampir tiga puluh menit keduanya datang dengan kondisi nafas tersengal senggal.
itu terjadi karena Lin Shan memaksa tabib tersebut untuk segera ikut dengannya
mereka menaiki kuda dengan kecepatan di luar logika itu membuat sang tabib kualahan apalagi di usianya yang hampir rentan.
"tabib cepat periksa keadaan putri ku"
"baik tuan"
perlahan sang tabib melangkah mendekati Aqila dia meraih salah satu pergelangan tangannya untuk mengecek denyut nadi gadis itu.
dia juga mengecek mata sayup Aqila setelahnya sang tabib langsung mengatakan kondisi gadis tersebut
"bagiamana kondisi putri ku tabib"
tanya tuan Han dengan cemas dia tidak bisa berhenti untuk tidak merasa khawatir.
"nona Aqila terkena racun bunga salju jika tidak segera di beri penawarnya dia tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi"
"cepat katakan apa penawarnya"
"bunga embun yang tumbuh di tebing dekat hutan barat, bunga tersebut hanya akan mekar di waktu fajar jika kita mengambilnya di pagi hari maka itu hanya akan sia sia karena bunga itu tidak akan berguna lagi"
"kalau begitu saya akan pergi untuk memetiknya"
"tidak tuan biar saya yang mengambilnya anda temani saja nona di sinih, biar saya yang akan mencarinya"
pemuda itu juga ikut merasa khawatir dengan kondisi Aqila yang tiba tiba berubah dia tidak tau sama sekali apa yang gadis itu sedang rencanakan.
hey ketemu lagi sama author maaf yh author up-nya agak lama.
__ADS_1
semoga kalian tidak bosan membaca karya author mohon di maklumi kalo masih ada tulisan yang salah.
selamat membaca 🙏😊😊