
Mentri Jun dan Jun Jia menatap yang lain dengan perasaan was-was mereka takut jika kebusukan Keduanya terbongkar.
"anda tidak bisa menuduh kami sembarangan tanpa ada bukti, nona Aqila!"
"bukti?"
Aqila menyeringai kemudian melemparkan berbagai bukti ke hadapan mereka semua.
salah satu mentri mengambil bukti tersebut kemudian membacanya detik berikutnya dia menggeram marah karena isi buku tersebut asli tanpa manipulasi sedikitpun.
Di sanah tersusun rapi setiap kejahatan yang di lakukan oleh bangsawan Jun tanpa ada seorangpun yang tau.
"brengsek dasar tidak tau diri"
pria itu menggeram marah dia menatap tajam pasangan ayah dan anak tersebut begitupun dengan yang lain.
Sedangkan Lin Zhang menggelengkan kepala berulang kali berusaha menepis kenyataan di depannya, dia begitu syok dengan kenyataan yang ada.
Melihat tingkah Lin Zhang Aqila berjalan mendekati pemuda tersebut kemudian mensejajarkan tubuhnya.
"aku pikir kau adalah pria yang cerdas dan berkompeten tetapi nyatanya kau hanya pria bodoh yang mampu di bodohi oleh seorang wanita cantik"
"apa otak mu tidak di gunakan saat kejadian waktu itu jelas-jelas semuanya sudah di rencanakan dan dengan bodohnya kau percaya begitu saja"
"bagaimana mungkin Jun Jia bisa datang di waktu yang tepat ketika anak panah di Lesatkan ke arah mu, apa kau tidak curiga dengan kehadirannya"
__ADS_1
Aqila berbicara dengan nada sinis tak sedikit dia memandang remeh ke arah Lin Zhang.
"dia mengatakan bahwa baru kembali dari kuil setelah berdoa untuk keselamatan keluarganya"
Lin Zhang menatap Aqila dalam dia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua yang di dengarnya tidak benar.
"bodoh, kuil terletak di arah Utara sedangkan kau berada di jalan timur bagaimana mungkin dia bisa sampai secepat itu dan untuk apa pula seorang gadis ikut campur dalam pertarungan kecuali dia bisa beladiri"
Aqila memaki Lin Zhang karena sikap keras kepala yang tidak ingin mengakui kebodohannya.
Deg
Lin Zhang tertegun mendengar semua penuturan Aqila dia benar-benar tidak berfikir sejauh itu.
"Kenapa? Menyesal!, tapi sayang sudah terlambat"
"berani menyentuh orang ku, kehancuran adalah hukumannya"
setelah mengatakan hal itu Aqila menghilangkan Lin Zhang dari pandangan semua orang, mereka kembali di buat terkejut dangan apa yang di disaksikannya.
"ayo Lin"
Keduanya berjalan meninggalkan ruangan tersebut sebulan melewati pintu keluar Aqila melemparkan sihir api yang membuat ruangan itu terbakar.
seketika kericuhan mulai terjadi mereka berbondong-bondong keluar untuk menyelamatkan diri tapi tak semua orang berhasil keluar.
__ADS_1
Karena selain membakar tempat itu Aqila juga memasang sihir yang mana hanya orang-orang berhati bersih yang dapat melaluinya.
Mereka yang terjebak di dalam berusaha memandangkan api dengan apa saja tetapi kobaran tersebut tidak mudah padam.
Mereka menjerit, berteriak, menangis bahkan mengumpat dan masih banyak lagi yang terdengar di telinga Aqila.
Mentri Jun dan putrinya berusaha menembus sihir Aqila tetapi mereka gagal meski mencobanya berulang kali.
"lepaskan kami berdua keparat, aku akan membunuh mu sekarang juga"
Mentri Jun berteriak kesetanan dia memandang Aqila tajam penuh kebencian saat gadis itu membalikkan tubuhnya untuk melihat kedatangan mereka semua.
Ini adalah hukuman yang pantas bagi mereka yang telah berani berniat menyakiti orang yang dia sayang.
Kobaran api semakin membesar dan sudah melahap sebagian bangunan istana, keadaan di sanah benar-benar sangat kacau.
Para penduduk ibu kota yang mendengar terbakarnya istana menjadi cemas mereka memikirkan Nasib mereka selanjutnya akan seperti apa.
Kebanyakan dari mereka juga berfikir apa alasan terbakarnya istana dan beberapa dari mereka menduga bahwa sang raja telah menyinggung orang Yang hebat karena apa yang membakar istana bukan sembarang api.
Jika api pada umumnya akan berwarna merah bercampur oren dan kuning maka api kali ini berwarna biru dan hitam.
para prajurit dan pelayan juga yang selamat berusaha memadamkan api sesuai komando jendral dan panglima kerajaan.
Sedangkan seluruh Mentri yang menyaksikan asal kejadian sejak awal hanya diam membatu pikiran mereka masih tak karuan untuk sekedar Merespon apa yang terjadi sekarang.
__ADS_1
Aqila tersenyum puas sepersekian detik karena telah memberikan hukuman yang setimpal bagi mereka yang berani memberontak padanya