
begitu penawarnya siap tabib langsung meminumkannya pada Aqila, perlahan kondisi gadis itu berangsur membaik.
wajah Aqila yang tadinya pucat pasi kini sedikit lebih segar karena darah sudah mengalir dengan lancar.
"kenapa Aqila belum juga sadar"
"kita tunggu sebentar tuan Han penawar racun masih belum bekerja sepenuhnya"
tuan Han pasrah dan akhirnya memilih diam sambil terus mengamati perubahan Aqila selanjutnya.
uhukk
Aqila terbangun sambil memuntahkan banyak darah hitam, Lila yang berada di sisi kanan langsung mengelap mulutnya karena masih ada sedikit sisa muntahan di bibir gadis itu.
"syukurlah kau sudah sadar ayah sangat mencemaskan mu kenapa kau bisa terkena racun apa ada seseorang yang mencoba menyakiti mu"
tanya tuan Han beruntun begitu Aqila tersadar pria paruh baya itu langsung memeluk putrinya
"tuan biarkan nona istirahat dulu beliau baru saja tersadar"
ucap Lin Shan yang melihat aksi tuan Han tersebut
"ah kau benar Lin Shan, maaf sayang, sekarang istirahatlah lagi"
Aqila mengedipkan mata sebagai jawaban kemudian dia kembali memejamkan mata
begitu Aqila tertidur tuan Han meminta semua orang untuk pergi dari sanah, tidak lupa juga dia memberikan bayaran yang sangat besar pada sang tabib.
"tuan ini terlalu banyak, saya hanya sedikit membantu pemuda itu lah yang sangat berjasa atas kesembuhan nona aqila"
ucap sang tabib setelah mereka berada di pintu gerbang kediaman menunjuk ke arah Lin Shan.
"saya tau tapi ambil-lah itu bayaran mu terimakasih sudah menyembuhkan putri ku"
jawab tuan Han dengan ramah dia juga akan memberikan hadiah pada Lin Shan karena Sudan membantu dalam penyembuhan putrinya.
"anda tidak perlu sungkan tuan, itu sudah kewajiban saya sebagai seorang tabib"
ucap tabib dengan rendah hati dia merasa senang bisa menyembuhkan Aqila
"baiklah"
"karena nona Aqila sudah sadar saya izin pamit tuan Han, masih banyak pasien yang harus saya tangani, dan ini resep untuk memulihkan kondisi tubuh nona berikan obat tersebut setiap pagi dan sore selama lima hari berturut-turut, dan jangan dulu biarkan nona melakukan sesuatu yang berat"
sebelum pergi tabib memberi pesan bagaimana cara menjaga kondisi tubuh gadis itu.
"baik terimakasih tabib, mari saya antar"
setelah kepergian mereka berdua Lin Shan langsung bergegas kembali ke paviliun lavender.
"nona anda membuat saya khawatir taukah anda bahwa saya sangat takut kehilangan anda, cepatlah sembuh"
ucap Lin Shan pelan terdengar lembut menyiratkan bahwa dia begitu khawatir dengan kondisi gadis itu setelah dia tiba di sanah.
Lin Shan terus memandangi Aqila yang sedang tertidur perlahan pemuda itu mencium keningnya sebentar, tanpa sengaja setitik air mata keluar.
dia buru-buru menghapus air mata tersebut untungnya tidak ada siapa pun di sanah selain dirinya.
perlahan Aqila membuka mata dan menatap pemuda tampan itu, Lin Shan dia buat gugup takut Aqila menyadari tindakannya barusan.
gadis itu menatap Lin Shan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun hal itu semakin membuat perasaan Lin Shan tidak karuan.
"ada apa nona, apa anda membutuhkan sesuatu"
"tidak"
"kalau begitu tidurlah kembali saya akan menjaga anda disini"
Aqila tidak menjawab pertanyaan tersebut dia malah melirik ke arah tangan Lin Shan
__ADS_1
"kau terluka"
"tidak apa apa ini hanya luka kecil nona"
aqila yang sudah terduduk meraih sesuatu di dalam saku bajunya dia mengambil sebotol obat dari dalam dimensi.
"buka pakaian mu"
ucap Aqila yang terus memandang ke arah luka tersebut dan itu membuat Lin shan sedikit gugup.
"untuk apa nona itu tidak pantas"
"Lin Shan cepat buka"
"tapi nona"
"tidak ada penolakan"
Lin Shan hanya bisa pasrah dia kemudian melepas pakaian atasnya itu membuat tubuh kekarnya terlihat langsung oleh aqila.
pemuda itu sedikit malu tapi tidak dengan Aqila gadis itu terlihat biasa saja seolah dia sudah sering melihat pemandangan tersebut.
perlahan Aqila mendekatkan tubuh dan meraih tangan Lin Shan yang terluka lalu menaburkan obatnya.
Lin Shan sedikit meringis karena merasa perih begitu luka itu terkena obat, Aqila yang mendengarnya meniup pelan luka tersebut.
kini jarak mereka semakin dekat sejak tadi pemuda itu terus memandang ke arah Aqila yang sedang meniup lukanya.
ketika Aqila mendongak tanpa sengaja bibir mereka bersentuhan gadis itu masih belum sadar dengan apa yang terjadi sedangkan Lin Shan yang tidak bisa menahan diri langsung ******* kecil bibir pucat itu dia juga menghisapnya pelan kemudian menjelajahi setiap bagian mulut Aqila.
rasanya manis membuat Lin Shan ketagihan dia tidak bisa mengontrol dirinya saat itu.
setelah hampir lima belas menit Aqila baru sadar dengan apa yang Lin Shan lakukan padanya, gadis itu langsung mendorong tubuh pemuda tersebut.
"maaf nona saya tidak bisa menahan diri anda boleh menghukum saya nanti, maaf atas kelancangan saya sekali lagi"
Aqila hendak marah pada pemuda itu tapi dia tidak bisa melakukannya Lin Shan sudah menyelamatkan hidupnya bagaimana ia bisa membenci pemuda tersebut
ini untuk kedua kali Lin Shan menciumnya meski begitu hatinya tidak bergetar sama sekali.
Aqila membuang nafas pelan kemudian mengikat luka itu dengan sapu tangan miliknya
Lin Shan yang awalnya menunduk kini kembali menatap gadis itu dia masih menunggu jawaban Aqila yang sejak tadi diam.
"kenakan kembali pakaian mu"
ucap aqila dengan datar dia mengatakannya tapa melihat ke arah Lin Shan
Lin Shan yang melihatnya merasa bersalah dia mengutuk dirinya sendiri karena berprilaku tidak pantas pada Aqila.
setelah memakai pakaiannya kembali Lin Shan melangkah pergi dari sanah, sebelum benar-benar keluar Aqila kembali mengatakan sesuatu.
"suruh orang itu menemui ku nanti malam"
"baik nona"
begitu selesai Aqila langsung memejamkan mata Lin Shan yang melihatnya kembali melangkah keluar dari kamar tersebut.
"apa yang sedang kau lakukan di kamar nona"
tanya Lila ketika mereka tidak sengaja berpapasan.
"mengunjunginya apa tidak boleh"
"tidak juga hanya saja kau terlihat mencurigakan"
"saya tidak akan melakukan sesuatu yang buruk pada nona"
"jika kau berani maka aku akan menguliti mu hidup hidup dan memberikan mayat mu pada sekawanan binatang buas"
__ADS_1
Lin Shan memutar bola mata jengah dengan ancaman tersebut dia tidak takut sama sekali meski begitu Lin Shan tidak akan pernah menyakiti Aqila karena ia sangat menyayanginya.
setelah perdebatan itu selesai mereka berdua melangkah pergi ke arah yang berlawanan.
di dalam kamar Aqila tidak bisa memejamkan mata dia masih mengingat kejadian barusan itu membuatnya sedikit tidak nyaman.
krett
suara pintu terbuka perlahan sosok Lila berjalan masuk ke arahnya sambil membawa semangkuk obat dan sepiring kue kering sebagai cuci mulut.
"nona anda sudah bangun, syukurlah apa masih ada yang sakit perlu saya panggil tabib"
tanya Lila dengan senang begitu dia tiba di hadapan Aqila
"tidak perlu"
Aqila menolak karena merasa tubuhnya sudah baikan
"kalau begitu minum dulu obat anda"
ucap Lila sambil menyerahkan semangkuk obat yang sudah dia rebus sebelumnya
"tidak itu pahit"
"anda seperti anak kecil yang takut dengan obat"
Lila terkekeh kecil melihat sikap Aqila barusan yang menolak untuk minum obat.
tapi kemudian dia kembali memaksa aqila untuk meminumnya agar gadis itu cepat sembuh.
Aqila pasrah dan langsung menghabiskan obat itu dengan satu kali teguk kemudian dia mengambil sepotong kue untuk menghilangkan rasa pahitnya.
"nona apa yang terjadi kenapa anda bisa keracunan"
tanya Lila lagi begitu Aqila selesai meminum obat yang dia bawa barusan.
"sandiwara"
"bagaimana bisa, kenapa anda melakukan hal senekat itu semua orang jadi cemas, tapi tunggu maksud anda tabib itu juga bagian dari rencana anda nona"
Lila di buat terkejut sekaligus bingung dengan maksud aqila, kenapa dia melakukan semua ini pikir gadis itu
"tidak"
"jadi anda benar-benar keracunan"
Lila kembali mengkonfirmasi keadaan Aqila sebelumnya
"Hm"
"bagaimana bisa"
"aku meminum racunnya sendiri"
Aqila langsung mengatakan kebenarannya secara gamblang pada gadis tersebut.
"Astaga nona kenapa anda melakukan hal itu bagaimana jika anda tidak selamat"
"aku akan baik baik saja"
"nona jangan lakukan hal ini lagi jika tidak saya akan marah dan tidak akan lagi berbicara pada anda"
"hm"
Lila menghela nafas kasar dengan kelakuan Aqila entah apa yang sedang gadis itu rencanakan sehingga berani mengambil resiko sebesar ini.
hey ketemu lagi sama author gmnh bosen gak sama up terbarunya semoga aja enggak yah hehe
terimakasih sudah berkunjung dan selamat membaca 🙏😊🥰
__ADS_1